Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Tuhan

Tanah Tuhan; disana kami ada, berdampingan dalam dua petak Tanah Tuhan
Taken With SONY DSC W220 CyberShot | No Editing

“Dua puluh tahun lalu, Nak,” kata seorang pengemis renta kepada anaknya.

Anaknya hanya merana menahan perutnya, meraung. Ia mengangguk tapi tak memperhatikan. Bapaknya bersilat lidah mempekenalkan keadaan yang lama telah ia jalani. Dua puluh tahun lalu.

“Lalu, jadi apakah aku, Bapak?” tanya anaknya sambil tetap meringkih kelaparan.

Bapaknya tersenyum pahit, ia mengangkat kedua bahunya tak yakin. “Mungkin sama dengan dua puluh tahun lalu, Nak,” Ia merangkul anaknya yang lemas.

Di biasan langit sore, mengoranye. Mereka dan sampah-sampah yang mereka kumpulkan dua tahun ini memandangi satu kotak yang kontras. Gedung dan tempat pembuangan. Mereka dan pejabat-pejabat itu.

Dua puluh tahun yang lalu, Ayahnya masih jadi pemulung muda. Yang belum bosan bergelut dengan sampah. Masih giat mengais emas diantaranya. Ia menangkap satu momen yang sama. Dua petak tanah Tuhan yang kontras. Berbeda. Gedung berlantai dua dan kubangan lumpur dengan sampah-sampah pagarnya.

“Ini masih sama, nak. Mungkin... Hampir sama.”

Bapaknya mengelus rambut anaknya yang kasar tak terawat. Ia dan anaknya masih sama kumpulan pemulung terbuang. Dan mereka juga masih tetap sama. Eksekutif-eksekutif muda dengan tender-tender besar. Mereka berbeda, walau tinggal dalam dua petak tanah Tuhan.

15 komentar:

  1. dan, mungkin 20 puluh tahun lagi nasib mereka tak berubah. Ah, itukah lingkaran kemiskinan?

    blogwalking sore

    BalasHapus
  2. Inspiratif sekali ini. Memang kasian liat sekumpulan pengemis, mereka dianggap sampah sama sebagian masyarakat. Pdahal para koruptor itulah yang lebih sampah sbenernya.

    BalasHapus
  3. Dua puluh tahun tanpa keluhan...

    Dua puluh tahun waktu yang lama untuk sebuah penantian...

    Dua puluh tahun berharap adanya perubahan...

    Nice... )

    BalasHapus
  4. simply inspirative :'D
    nyentuh banget dakaa

    BalasHapus
  5. Dulu pas tahun baru bang daka pernah posting tentang pengemis yang mati saat melihat kembang api, menikmati sisa hidupnya, nunggu masak batu :) idenya hampir sama ya bang, tapi emang bener sih perbedaan di Indonesia miris banget --"

    BalasHapus
  6. ga salah emang saya follow ni blog, gambarnya bagus, ceritanya bagus dan cerdas.
    Yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya, itulah Indonesia

    BalasHapus
  7. fakta yang menyayat hati,itulah negeri kita,kaya namun miskin,suatu majas yang menggambarkan kehidpan yang ada didalamnya

    BalasHapus
  8. Hanya manusia yang mau berubah yang akan merubah jalan hidupnya sendiri, bukan orang lain :)

    BalasHapus
  9. nice :) 20 tahun lagi sang anak tumbuh besar dan mungkin akan mengatakan hal yang sama ke anaknya kelak :')

    BalasHapus
  10. #usahakan (kata para wakil rakyat kita) males ah hastag gituan kalau begini dah :(

    BalasHapus
  11. wah wah... bener2 waaw sekali andaka :D nice !!

    BalasHapus
  12. gimana kalo kita tunjukin ini postingan ke pemerintah ??
    disaat pejabat bersenang2 mereka malah ngebiarin sebagian besar "cerita" masyarakatnya tetap memiliki alur yang sama.

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: