Minggu, 29 Januari 2012

Kesempurnaan?

Inikah kesempurnaan?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoscape creative editing

mainkan simfoni, rasakan ironi

Seorang kepala polisi membeberkan beberapa foto-foto korban penganiayaan sadis, nampak. Yang paling kiri, satu matanya tercongkel dengan darah yang sudah membekas hitam. Disebelahnya seorang peremuan dengan jari lentik tapi salah satunya hilang terpotong. Foto ketiga, lelaki tua dengan sisa rambut pirang, dipenuhi darah. Tengkoraknya terlihat, putih, kulit kepalanya hilang. Yang kedua dari kanan, seorang gadis berumur lima tahun dengan kontur gigi rata, tapi bagian atasnya diambil paksa, mengerikan.

Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat satu wanita cacat duduk di depan meja interogasi sambil terkekeh. Ia, Jessica Dalton, pembunuh satu keluarga, lima orang yang fotonya sedang dipandangi oleh polisi tersebut.
Wajah kirinya cacat, seperti bekas luka bakar. Tak jelas. Ia memandang polisi itu kosong tapi menyiratkan suatu dendam. Irisnya yang hitam pekat memancarkan ironi yang tak terkatakan.

Polisi itu bangkit dan mulai bertanya, “Untuk apa kau melakukan ini?” sambil mengayun-ayunkan kelima foto dan membuangnya tepat diatas meja interogasi.

“Mereka, haha,” katanya sembari terkekeh parau. “Mereka, mereka, keluargaku,” lanjutnya dengan tetap terkekeh.

“Kami tahu, lalu mengapa kau membunuh mereka?” tanya polisi itu sambil menyisir rambut dengan tangan, frustrasi.

Raut muka Jessica berubah resah, seperti ketakutan tetapi sambil terkekeh. Ia gila. “Mereka, aku tak membunuhnya aku menyayangi mereka,” teriaknya, keempat kuku jarinya Ia gigit, gemertak.

“Lalu, jika kau menyayangi mereka, kenapa kau lakukan ini pada mereka?” Ia menggebrak meja interogasi.

Suasana hening sesaat, Jessica mundur beberapa jengkal, sampai ia tertawa lirih, semakin keras dank eras. Tak ada gunanya memang, menginterogasi orang gila seperti dia. Tapi polisi berusaha mengorek satu titik temu dari motif pembunuhan ini, saksi kunci sekaligus tersangka hanya Jessica. Ia membunuh keluarganya sendiri, miris.

Waktu polisi menerima laporan ada suara gaduh di Oaks Street, beberapa menit kemudian mereka datang dengan revolver di tangan-tangan mereka. Disana mereka menemukan Jessica sedang menyayat-nyayat kulit kepala seseorang. Darah sudah menggenang di lantai dapur. Saat polisi datang Jessica tetap melanjutkan aksinya, tak perduli ia sekarang dikepung.

Jessica mengacungkan pisau daging ukuran besar yang ia pegang. “Jangan mendekat, atau ini akan mengoyak mata kalian satu-satu.”

Polisi tak mau ambil pusing, mereka melumpuhkan Jessica yang kalap itu dengan obat bius, tepat mengenai punggungnya. Menyadari hal itu, Jessica berbalik dan dengan cepat melempar pisau itu kearah segerombol polisi di depan kaca. Pisau itu melayang dan sempat menggores lengan kanan salah seorang polisi yang gagal menghindar, hingga akhirnya berhenti menancap dalam di kusen jendela.

Beberapa detik Jessica limbung, gopoh dan jatuh tengkurap menimpa tubuh wanita dengan iris biru yang hilang mata kirinya dicongkel Jessica sebelum polisi datang. Jessica pingsan beberapa jam hingga akhirnya bangun dengan tangan terikat di ruang interogasi. Ruang dengan lampu kuning lima watt yang bergoyang-goyang.

“Aku hanya ingin kesempurnaan, aku tak ingin selama cacat sedangkan mereka memiliki hal yang bisa dibanggakan,” ucap Jessica setelah beberapa saat tertunduk dengan kekehan lirih.

“Tapi dengan beginipun kau tidak akan memilikinya, coba nikmati hidupmu dengan apa yang ada pada dirimu. Bukannya murka dan mencari kesempurnaan yang salah seperti ini.”

Jessica bangkit, pandangannya sarat akan kemarahan. “Tahu apa kau tentang hidup, tahu apa kau tentang hidupku,” teriaknya lalu tangisnya pecah disela-sela kesunyian.

“Aku memang tak tahu apa arti hidup, aku juga sedang mencarinya. Yang aku tahu, hidupmu dan hidupku akan tetap seperti ini, takkan berubah tanpa usaha yang keras untuk merubahnya. Takdir itu ada.”

“Takdir, huh? Ini takdir?” intonasinya jelas, lantang, Ia menunjuk sebelah kiri mukanya yang lebih hitam dari kulit mukanya yang putih pucat.

Kepala polisi itu berbalik, ia menyadari sesungguhnya Jessica tak gila, ia hanya depresi karena tak bisa menerima keadaannya saat ini. Cacat karena kebakaran dua tahun lalu di apartemen milik saudarinya.

Untuk beberapa menit di dalam ruangan itu hening, hanya beberapa kekehan kecil yang bergaung bersama cicitan tikus beberapa kali memecah kebekuan. Lalu, sebuah benda keras menghantam kepala bagian kiri polisi itu hingga pingsan. Tergeletak dengan pelipis yang mengucurkan darah.

Ikatan tangan pada kursi yang diduduki Jessica lepas hingga ia bisa menghantamkan kursi besi itu ke muka polisi bertubuh gendut itu. Jessica melompat dari meja dan segera mencari pistol saku yang menggantung di pinggul kiri polisi tersebut.

“Inilah takdirmu, polisi bodoh.”

Pelatuk revolver itu ditarik Jessica lekas, tepat mengenai mata kanannya yang seketika itu hancur. Cipratan darah mengenai muka Jessica sedikit.

Jika aku tak mendapatkan kesempurnaan yang aku idamkan, pasti ada kesempurnaan di kehidupan yang lain. Katanya dalam batin. Gadis itu mengarahkan revolver berbercak darah itu kearah pelipis kanannya. Tangannya gemetar beberapa detik. Bimbang, tapi ia yakin atas pilihannya ini.

Dor. Desing senjata kedua kali terdengar, memecah sunyi sampai suara tubuh yang membentur sesautu yang keras muncul. Jessica mati diatas tangannya sendiri. Ia mati dalam keputus-asaan, dalam kesempurnaan yang tak pernah ia dapatkan wujudnya.

35 komentar:

  1. maknanya dalem , tapi apa kak daka nulisnya gak sambil kejer kejer ? aku aja yang mbaca uda kekejangan sendiri ;_;

    "kadang kita memang perlu mensyukuri hidup , meskipun kita berbeda tapi dari perrbedaan itu harusnya kita belajar bahwa kita SPESIAL" ~(^^)~

    BalasHapus
    Balasan
    1. ^ keliatan banget nggak pake soundcloudnya bwahahaha.

      nah itu pesannya nyampe kan dek :D

      Hapus
    2. ^ laporin KOMNAS Perlindungan Anak -o-
      iyaaa :D

      Hapus
    3. situ anak ya? bukannya situ udah tua?

      Hapus
    4. ah aku remaja bukan tua, situ aja yang merasa muda selalu, padahal udah tua

      Hapus
    5. aku juga remaja , hanya lebih muda beberapa tahun dari anda ..

      Hapus
    6. berarti bukan anak-anak lagi sekarang Kartika?

      Hapus
  2. Keren pak! bener2 kereennnn!!!
    tulisanmu yang tentang pembunuhan semuanya keren. Kau bakat nulis cerpen thriller teman.

    oalah tadi pagi kamu nulis ini toh? makae tak ajak ke hi-tech ga mau -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan tadi pagi aku nulis artikel nak tentang amerika. ini barusan tak tulis sekitar jam dua-an tadi. :o

      Hapus
  3. gila lu sob kerennn amat ceritanya mirp cerita di novel2 luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalo ada punya anggapan seperti itu sob. emang karya thriller saya ini agak westernisasi

      Hapus
  4. Balasan
    1. coba baca, sambil nyetel souncloudnya. itu lagu gloomy sunday kan suicide song

      Hapus
  5. <<baca sambil nyetel soundcloud nya._.

    keren banget kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut kabar burung itu lagu GLOOMY SUNDAY adalah SUICIDE SONG

      Hapus
  6. Genre thriller memang bakatmu bang :) Memang setiap hal yg menyinggung kematian punya arti sendiri dan bermakna dalam. Tampaknya mulai menggunakan backsound nih, lanjutkan! Pake backsound emang terkesan lebih wah pas baca :D eh eh, kali ini lagunya gak mengejutkanku ngahahaha :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. maunya sih nggak ngejutin cuman nyeret masuk ke cerita pake lagu gloomy sunday

      Hapus
  7. Wah, semoga gue gak jadi orang yang putus asa kayak si Jessica.. hiiii. Oh iya, kenapa gak panggil detektif Ujang aja untuk interogasi tuh orang? wkwkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahaha jangan-jangan panggil detektid Ujang. Ntar nasibnya kek kepala polisi itu gmn? Terus yang ngisi sekuelnya Detektif Ujang di febstories siapa #plak :o

      Hapus
  8. itu fotonya tinta merk swallow ya? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. eit, salah kalo kata orang jawa itu namanya "Sumbo", bahasa Indonesianya sih pewarna makanan sih. Dan warna merah di tangan itu ga ilang-ilang sampe sekarang aaaaah :o

      Hapus
  9. Enak banget dengerin soundcloudnya sambil baca :)
    like this

    BalasHapus
  10. Sadis bgt. Saiko dia u.u
    semoga tak ada org seperti dia di dunia nyata

    BalasHapus
  11. em, under 17 kali ya bang._. otakku terkontaminasi._. psiko sekali._.

    BalasHapus
  12. wah ternyata bisa juga yah lo bikin cerita misteri.... :)

    BalasHapus
  13. tadi mikirnya jessica ini nenek2, -dalam imajinasi saya gitu- haha, soalnya kalo pilem2 misteri nenek2 tuh perannya suka angker.

    BalasHapus
  14. Jessica psikopat ini ceritanya...
    Kesempurnaan itu bukan sesuatu yang "sempurna"

    Keren daka... Westernisasinya dapet x)

    BalasHapus
  15. keren. gua suka cerpen thriller kaya gini :D

    BalasHapus
  16. keren banget kak .. Ini dapet sendiri ? keren lahh .. :D

    BalasHapus
  17. iisshh keren bang daka, aku ngebayangin yang mata kecongkel itu ngeri bangetlah._.

    bang daka, bikin cerpen yg ttg psikopat dooong :3

    BalasHapus
  18. di paragraf awal, pas baca bikin aku ngerutin dahi gara2 bayangin apa yang kamu ceritakan.

    gaya penulisanmu ini mirip penulis luar deh daka. aku lupa siapa namanya (-_-")

    pas SMA sering baca bukunya aku :3

    kereen! aku sampe bisa ngerasain suasananya!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: