Sabtu, 31 Desember 2011

Twitter Ngambek di Detik-Detik Terakhir 2011

Sedikit Out-of-Concept pembaca. Posting terakhir, posting penutup ujung tahun 2011. Ini info penting bagi pengguna twitter. Twitter sedang tidak mau menerima tweet. Twitter lagi marah sama penggunanya, twitter lagi galat.

Ulang Tahun: 31, 11, 1, 2011

Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to my blog.

Hari ini, 31 Desember 2011 tepat satu tahun blog ini berdiri. Tepat dimana saya mulai masuk ke blogsphere, tempat saya berbagi dan belajar banyak hal, mulai dari teman sebaya yang sesama SMA sampai setingkat pekerja profesional. Disini saya menemukan banyak koneksi dan relasi. Mulai pelajar sampai dokter, dari mahasiswa sampai broadcaster semua ada di blog. Mungkin perjalanan saya ini tak menarik untuk diulas balik. Satu tahun yang lalu mungkin adalah titik balik dimana saya yang dulunya adalah seorang yang sangat pemalu untuk menyebar-luaskan karya sastra dan setelah masuk di blog saya tidak lagi malu.

Bulan Juni 2011 adalah awal transformasi saya menjadi benar-benar blogger, yang melakukan blogwalking, saling komen, saling tukar banner, bahkan lebih. Dari awal saya ngeblog sampai sekarang yang sudah banyak menjadi anggota grup blogger, saya mempunyai beberapa relasi yang sangat mendukung atas kinerja saya di blog. Tak perlu panjang lebar lagi, saya punya sedikit hadiah untuk mereka yang telah menjadi bagian dari blog ini.

Berhubung ini adalah ultah blog saya yang ke satu di tahun 2011, dan di hari ini banyak bertebaran angka satu. Berikut adalah award yang bisa kalian ambil.

Award dibuat oleh Andaka di CorelDraw X5 | Grab This!!!

Dan inilah mereka:

1.       Riska Mbem: Journal of Dreamer Girl

Riska bisa dibilang guru saya di blog. Ia yang memberikan tutor-tutor vital dalam blog. Ia adalah teman sekelas saya waktu kelas X, sekarang kami tidak sekelas lagi dan akhir-akhir ia vakum di blog. Tapi meskipun begitu, ia sangat berpengaruh di blog ini.

2.       Tante Hani: Honeylizious

Tante Hani, blogger kedua yang saya temukan setelah Riska, dan dari tante Hani saya banyak belajar tentang tata bahasa yang baik dan benar. Tante Hani juga seorang broadcaster dan yang terpenting tante Hani adalah inspirator pertama saya untuk memulai debut cerbung (cerita bersambung) di dalam blog baru-baru ini.

3.       Mbak Rakyan: Seribu Lambaian Puisi

Mbak Rakyan, blogger dengan blog yang sangat terkonsep. Ia adalah blogger yang membuat saya termotivasi untuk lebih mengkonsepkan blog saya dan karena Ia juga blog saya kini memiliki konsep sastra bukan campur aduk lagi.

4.       Inggit Puspita Riani: Inggit Inggit Semut

Inggit, sosok kakak sekaligus sahabat pertama saya di blog. Beberapa waktu yang lalu, saat Inggit ulang tahun saya juga memberikan sebuah fiksi mini untuknya [KLIK DISINI]. Ya banyak hal menarik tentang Inggit yang nggak bisa saya ceritakan disini. Kunjungilah kalau kalian tertarik dengannya.

5.       Dokter Gigi Gaul: Magahaya

Dokter gigi gaul adalah dokter yang sangat baik hati. Kenapa? Ya beliau adalah dokter yang berkenan apabila kita ingin berkonsultasi, blogger yang easy-going juga. Yap, mungkin ini belum cukup membalas semua jasanya. Dan terakhir ia adalah kritikus yang selalu membuat saya ingin menjadi lebih baik.

6.       Mbak Indah: Rujak

Mbak Indah adalah sosok motivator saat blog ini masih berkonsep sarkasme. Ya, ia adalah komentator pertama dari blog ini yang selalu memberikan masukan dan kritikan yang hebat.

7.       Bang Dian: Dian Blog, I Like, I Hate

You know lah, Bang Dian, sosok absurd yang dulu pernah memberikan komen-komen terhadap foto-foto ilustrasi blog saya. Saling tukar pengalaman di desain dan banyaklah.

8.       Mbak Eiz: Adateiz

Mbak Eiz adalah sosok kakak imut nan unyu yang pernah saya kenal di blog *ups. Kenapa Mbak Eiz? Karena  ia adalah blogger yang saya kenal saat blog ini belum punya banyak followers dan belum eksis. Oleh karena itu ia berhak.

9.       Mbak Tarry: Tarry Kitty’s Blog

Mbak Tarry juga adalah blogger yang aktif mengomentari konten blog ini saat blog ini masih berkonsep sindiran. Ya, seperti halnya mbak Indah, mbak Tarry juga pembangun motivasi blog ini dan juga saya.

10.   Hanif Abdul Halim: Bukan Coretan Biasa

Hanif, my bro. Mungkin Hanif cocok menerima award ini karena saya menemukan ide memberikan award saat ultah blog juga karena dia. Ya dia membantu saya menemukan ide. Terima kasih.

11.   Bang Basith: Arti Sebuah Tulisan

Bang Basith pembaca setia cerbung saya. Mungkin banyak pembaca setia lainnya tapi bukan berarti yang lain tidak berarti. Yang lain juga pendukung blog ini tetap eksis, tapi saya memilih perwakilan. Ya Bang Basith.

Jumat, 30 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 4

Spine | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Sudah kesekian kali Abi selalu menanyakan tentang pemberhentian terapinya dan kesekian kali juga aku tak bisa menjawab “Iya”. Aku lebih suka mengalihkan perhatiannya dengan membicarakan hal-hal yang Abi suka. Tentang kismis, tentang rel kereta api yang bising, tentang Umi. Sayang beberapa waktu terakhir Abi tak suka lagi membicarakan hal-hal tentang Umi.

“Apakah kamu tahu Gilang. Apa yang sangat Abi sukai saat ini?” tanyanya, senyumnya sengit.

Aku terlalu sibuk dengan kepulan asap dari kopi tubrukku, aku hanya mengangkat bahuku. Lalu kami sama-sama diam, beku dalam remang lampu lima watt di ruang tengah.

Abi menengadah dan merebahkan tubuhnya ke kursi goyang sedikit. Mengayun-ayunkannya. Perlahan.

“Abi sangat suka masakan Umimu,” Aku tersenyum mendengarnya. “Tapi sekarang tidak.”

Kaget memang ucapan Abi itu. Aku hanya dapat menelan ludah. Mengapa Abi? Bukankah Umi

Aku tak berani melanjutkan gumamanku. Abi begitu serius mengatakannya. Benarkah Abi sudah melupakan Umi?

“Tapi Bi, mengapa bisa begitu?” tanyaku, kini aku serius menatapnya.

Ia mengganjal kaki kursinya agar berhenti, lalu melepas kaca matanya dan menatapku. “Dua tahun sudah bisa membuat ingatan Abi luntur,” katanya lalu menggoyangkan kursinya kembali.

Sudah hampir tengah malam, gerimis mulai mengalunkan gemerisiknya dan aku masih sepenuhnya terjaga. Lampu-lampu kampung tampak lebih remang daripada biasanya, mungkin karena hujan. Aku sesekali hanya menengadah melihat hamparan daun mangga yang dimainkan angin.

Kamarku memang tak berpintu, hanya kelambu batik tergerai disana. Kali ini membukanya. Abi masih melihat TV disana. Abi sudah lebih bungkuk dibanding dua tahun yang lalu. Pegelarang wayang, pikirku. Tepat. Ia menonton pementasan wayang di stasiun TV lokal. Rama dan Shinta, favorit kita, Abi.

Aku berpaling dari Abi menghadap jendela lagi. Gerimis sudah berganti dengan hujan lebat. Cipratan air sudah cukup membuat kasurku menangis, menimbulkan bunyi decitan yang keras.

“Gilang?” Ups.

“Ya, Bi?”

“Belum tidur?” tanyanya. Marah, Abi Marah.

Aku melingkarkan telunjuk dan jari tengahku. Taruhan, Abi marah.

“Kemarilah.”

Aku melangkah ragu-ragu. Abi marah dan aku takut meskipun sudah berumur seperti ini aku masih saja mengalami ketakutan sendiri ketika Abi marah.

“Duduklah disini,” katanya sambil membersihkan sofa motif kawung berwarna cokelat di sebelahnya.

“Ya, Abi, ada apa?” jawabku gemetar.

Abi tersenyum lalu berkata, “Lihatlah, di televisi itu.”

Aku mengangguk tak yakin, “Wayang Abi, kesukaan Abi.” Kesukaanku juga.

“Ya, kau benar. Wayang Rama dan Shinta, kesukaan Abi dan Um—“ Ia seperti tak mau melanjutkan kata-katanya.

Abi meletakkan kedua tangannya di muka lalu menengadah, melihat langit-langit yang hampir jebol. Sepertinya Abi sudah lupa dengan permintaannya untuk menghentikan terapi, pikirku. Aku tetap melihat ke tayangan wayang tersebut sambil sesekali melirik Abi dari sudut mataku. Abi tak benar-benar memperhatikan tayangan TV. Pandagannya kosong. Sedih. Kecewa?

Dua jam berlalu dan wayang sudah memasuki bagian akhir. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi. Tidur. Aku melihat Abi sudah tersandar di kursi goyangnya sambil memegang album foto. Tanganku mengucek muka untuk membuatnya tetap terbuka, aku mengambil sarung di kamar lalu menyelimutkan ke tubuh Abi. Aku tak ingin membangunkannya, mungkin ia bermimpi indah—bertemu Umi, mungkin.

Aku terlelap dan tidak bermimpi apapun.

Mentari sudah cukup membuat kuliku panas, aku tahu sudah terlalu siang harusnya aku bangun. Aku terperanjat dari ranjang lalu bergegas mandi. Lima belas menit kemudian, setelah semua selesai, Abi menepuk punggungku dari belakang.

“Ada apa Abi?” tanyaku lalu berbalik.

“Bagaimana dengan permintaan Abi, Gilang?”

Deg. Beberapa detik aku tak bisa menjawab, diam. “Abi sudah yakin dengan permintaan Abi?” tanyaku memastikan.

Ia menggumam, aku tahu Abi tak sepenuhnya yakin. “I..Iya Lang,” jawabnya terbata-bata.

“Maaf, Abi Gilang tidak bisa—“ kalimatku terdengar menggantung.

Abi tak menjawab, ia sepertinya acuh dan tak menggubris. Mukanya ditekuk lalu berjalan pincang menuju kamar. Braak. Pintu kamarnya dibanting keras-keras. Aku mematung di depan kamarku lalu menghela nafas panjang-panjang. Aku harus bisa lebih sabar menghadapi Abi yang sekarang ini.

Pintu depan diketuk seseorang. Pasti dokter, pikirku. Benar saja, Dokter Mirza sudah datang.

“Bagaimana dengan keadaan Abi, Gilang?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

Aku tersenyum. “Abi baik dokter, silahkan masuk. Abi ada di kamar.”

Dokter Mirza mengangguk lalu membungkuk masuk. Ia masuk ke kamar Abi. Aku tak mau masuk ke kamarnya, aku takut ia masih kecewa dengan penolakanku tadi. Aku lebih memilih duduk di teras depan kamar Abi daripada harus melihat raut muka Abi yang ditekuk lesu.

Tak lama setelah itu, suara barang pecah dari kamar Abi menyeruak keluar. Aku bangkit, kaget. Apa yang terjadi? Aku berlari masuk kamar Abi dan lampu kamar Abi sudah tak berbentuk di depan pintu.
“Dokter apa yang terjadi?” tanyaku sambil melangkah meloncat menghindari pecahan kaca.

Dokter Mirza memijat pelipisnya, pusing. “Abi menolak untuk diterapi, Gilang.”

Aku sudah menebak hal ini bakal terjadi. Aku diam menatap Abi yang tampak marah, aku tak takut lagi. Kamar Abi yang suram itu kini semakin suram tanpa lampu yang pecah tadi.

“Dokter sudahlah terapi minggu ini ditunda saja,” kataku menjelaskan.

“Kalau itu mau kamu, baiklah,” jawab dokter Mirza dan membereskan peralatan terapinya yang terlanjur di gelar.

Kami berdua keluar dari kamar Abi. Kami berdua sama-sama penat. Malu, aku sangat malu dengan sikap Abi yang begitu, kekanakan. Aku meminta maaf kepada Dokter Mirza atas semua kekacauan yang terjadi.

“Saya bisa memaklumi keadaan psikologis Abi, Gilang.”

“Tapi dokter, itu semua untuk Abi juga nantinya.”

Ia memanggut-manggut mengerti. “Saya tahu, tapi Abi juga butuh penyesuaian, lagi.”

Penyesuaian? Apa tak cukup dua tahun ini sebagai penyesuaian. Aku saja tak sampai dua tahun sudah bisa menerima ini semua.

“Baiklah dokter, sekali lagi maaf.”

“Ya, kalau begitu saya pamit,” kata dokter mengakhiri percakapan kami.

Dokter Mirza pergi dengan motor vespa butut. Bunyinya nyaring dan terlihat sangat tua. Siluet tubuhnya yang oranya terkena terpaan senja menghilang di belokan depan kampung. Aku berkali-kali menghela nafas di depan teras. Relaksasi. Berusaha memaklumi apa yang telah Abi perbuat. Tidak bisa. Sungguh, sulit untuk dimaklumi.

Decit pintu kamar Abi berbunyi dan Abi keluar dengan tubuh yang lemah.

“Abi.”

“Maafkan Abi, Gilang,” tukasnya memelas.

Aku menggerutu dalam hati. Tetapi aku diam di depan Abi.

“Abi tahu sikap Abi salah, Gilang, tapi salahkah Abi bila Abi ingin menghentikan semua?”

Salah. Salah besar. Aku tak ingin kehilangan lagi, apalagi Abi. “Sudahlah Bi, lupakan,” nadaku tinggi menjawab alasan Abi yang tak rasional itu.

Abi menjawab dengan berteriak, “Baiklah kalau itu maumu, Gilang. Kenapa Tuhan tidak mengambil saja Abi bersama Umi dua tahun yang lalu?”

Sial. Aku selalu kalah dengan perkataan itu. Takut akan kehilangan seseorang lagi. Takut kehilangan Abi. Tanganku gemetar sambil mengepal. Aku tak segampang itu bisa menangis dan aku juga tak semudah itu berpindah prinsip. Maaf, Abi, aku tak ingin melihat Umi disana sedih karena aku tak bia menjagamu disini.

Kamis, 29 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 3

Kau membuatku mengerti hidup ini,
Kita terlahir bagai selembar kertas putih.
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai,
dan terwujud harmoni
Harmoni – Padi

Sudah lebih dari tiga hari Abi selalu keluar saat senja, entah kemana. Beberapa hari belakangan aku memang terlalu sibuk dengan proyek besar dan sketsaku (lagi). Memang sesekali aku bertanya tentang keadaan Abi tapi jujur aku lebih memperhatikan pekerjaanku, toh nanti uang dari kerja kerasku untuk Abi juga. Pikirku sebagai pembelaan.

Aku beberapa kali mengintip dari sudut mataku, Abi duduk memperhatikanku menggambar. Aku tak bisa melihat raut mukanya, hanya beberapa menit ia melakukannya lalu berbalik menuju kamarnya. Aku tak tahu sebenarnya ia kecewakah?

“Gilang, bagaimana kalau terapi Abi dihentikan saja?” celetuknya tiba-tiba.

Aku masih sibuk membetulkan letak kacamata sambil menggoreskan pensil diatas kertas gambar.

Abi bertanya lagi, “Bagaimana Lang, dihentikan saja. Abi sudah cukup sehat.”

Kali ini aku sedikit mendengarkan, “Apa Bi? Apanya yang dihentikan?” tanyaku sembari menatapnya.

Matanya memancarkan kekecewaan, aku bisa melihatnya—tapi ia berusaha menutupinya. Abi mengambil nafas dan mengumpulkan keberanian sebelum mengucapkannya, “Bagaimana kalau terapi Abi dihentikan saja?”

Aku sedikit kaget mendengarnya. “Kenapa Bi? Kan sudah setengah jalan?”

Abi menggelengkan kepalanya, mengurut jamban putihnya dan meletakkan kopi pahit yang tak jadi diminumnya. “Abi ingin kamu hentikan saja, Abi sudah cukup sehat.”

Intonasinya meninggi sangat mengucapkannya, lalu menyeruput kopinya sebagai penetralisir. Aku sangat takut ketika Abi memakai oktaf tinggi saat berbicara. Dari kecil Abi membiasakan anaknya untuk tidak membantah perkataan orang tua, terlebih perkataan Abi dengan intonasi yang tinggi yang khas, aku sangat takut.

“Tapi Abi—“ tukasku terbata dan dipotong olehnya.

“Sudahlah Gilang, lihat Abi tidak mau kau kerja banting tulang demi Abi.”

Ini kewajibanku Bi sebagai anak, ini karena aku sangat menyayangimu. Ingin ku katakan kata-kata itu, tapi ketakukanku mencegahnya keluar dari faring. Mendung yang menyelimuti sekitar rumah kami membawa esensi situasi yang mendukung. Aku tertunduk tak berani menatapnya, ia mungkin marah dengan wajah yang sangat kutakuti, tapi entahlah aku tak berani menatap muka Abi.

Ia meletakkan cangkir kopinya di meja dengan sembarangan. Aku terperanjat, lalu ia berkata lagi, “Baiklah Abi memberikanmu waktu untuk berfikir. Tapi Abi harap kau bisa menghargai keputusan Abi.”

Aku mengangguk takut. Abi membanting pintu kamarnya cukup keras. Aku mulai berani mengangkat muka sambil membereskan cangkir kopi Abi.

Aku duduk di depan teras siang itu. Mendung masih bercengkrama diatas rumah kami. Aku mencoba melupakan yang baru saja diucapkan Abi. Ingin sekali menolaknya, tapi hati kecil ini sudah di doktrin oleh Abi untuk menuruti perintahnya, terlebih ia adalah orang tua satu-satu yang kumiliki saat ini.

Aku penat, aku memijat kepalaku beberapa kali hanya ingin masalah ini tak terjadi. Tapi, mengapa malah bayangan Umi yang menyapu halaman muncul. Disana ada aku yang bermain mobil-mobilan sendirian kemdian segerombol anak-anak lain datang dan melempariku dengan batu. Aku menangis. Umi melemparkan sapunya ke halaman kemudian berlari ke arahku. Ia memarahi anak-anak itu.

“Kamu tidak apa-apa Gilang?” tanyanya sambil mengusap air mataku dengan dasternya.

Aku hanya terisak tak menjawab, memeluknya erat. Takut. Umi menggandengku dan memangkuku di depan teras rumah. Umi mulai bercerita, tentang masa kecilnya, tentang rumah kami, tentang kampung kami. Cerita yang paling kusuka dari Umi adalah tentang masa kecilnya yang mirip denganku. Selalu sendirian.

Aku berhenti menangis, lalu merebahkan kepala diatas pangkuan tangannya. Kali ini ia bercerita tentang masa kecilnya (lagi) dan aku tak pernah bosan mendengarnya. Umi bercerita dan aku menyahutinya—karena memang aku sudah hafal jalan cerita ini.

Lalu kami tertawa bersama saat Umi menirukan gaya teman kecilnya yang gendut. Pipinya dikembungkan lalu matanya agak dijulingkan. Aku selalu terbahak melihat Umi menirukan itu.

“Nah, Gilang, sekarang kamu mengerti tak salah kan menjadi penyendiri. Lihat Umi, toh Umi akhirnya tetap bisa bergaul, punya teman,” katanya lembut sembari menyentil hidung kecilku.

Aku tersenyum kecil, mengangguk polos. Umi menunjuk kearah anak-anak yang mengangguku tadi. “Lihat mereka, mereka kan yang mengganggumu?”

Aku mengangguk takut, lalu bersembunyi menenggelamkan muka di daster ungunya.

“Ya percaya pada Umi. Meskipun kau diejek mereka, mereka tidak akan menjadi kau nantinya,” jelasnya sambil mengangkat tanganku, menguatkan.

“Memangnya Gilang menjadi apa Umi?” tanyaku lalu menyedot ingus yang keluar.

Umi tersenyum dan mencium keningku hangat. “Itu yang harus Gilang cari, Gilang mau jadi apa nanti kalau besar. Umi percaya Gilang pasti sukses.”

Aku berfikir sebentar. “Gilang ingin jadi pelukis Umi,” kataku dan melompat dari pangkuannya, “Gilang ingin buatkan gambar rumah yang besar buat Umi dan Abi.”

Umi tertawa lalu menjelaskan, “Gilang, itu bukan pelukis namanya. Itu namanya arsitek, orang yang kerjanya membaut bangunan seperti rumah, gedung tinggi, dan banyak lagi.”

Aku menggumam dan mengangguk lagi. “Ya ya, Gilang mau jadi arsitek hebat. Biar Umi bangga.”

“Gilang hebat, sekarang waktunya tidur siang,” katanya semangat lalu menggedongku ke pangkuannya lagi.
Aku mengangguk dan memasukkan ibu jariku ke mulut. Kebiasaanku memang melakukan itu padahal Umi sudah berkali-kali melarang dan kali ini ia membiarkanku melakukannya.

Umi mengayun-ayunkan pangkuannya dan bersenandung. “Tak lelo lelo lelolegung...” itu lagu nina bobok favorit Gilang Umi.

Bunyi cerobong kereta api di belakang rumah mengagetkanku dan menghilangkan bayangan-bayangan indah itu. Rumahku memang tak seberapa besar, tetapi banyak space kosong di rumah yang belum terisi. Rumah ini memang terlalu besar untuk kami bertiga, lebih-lebih sekarang untuk kami berdua. Pintu dan jendela rumah yang masih beraksitektur Belanda dengan ciri pintu yang tinggi sangat aku sukai. Pintu jati dengan warna krem itu sangat rajin dibersihkan Umi. Di lap sangat mendetail. Aku sering memperhatikannya walau ia tak pernah tahu.

Suara tongkat besi Abi terdengar berdecit dengan lantai keramik rumah. Aku mendongak, melihatnya berdiri diatas teras menerawang ke depan, kosong.  Ia meliaptkan satu tangannya ke punggung, lalu menghela nafas. Aku tahu Abi belum bisa merelakan Umi, tapi bagaimana pun adanya nanti, Abi harus bisa.

Aku mendekat dan berdiri di sebelahnya. Aku ingin menguatkannya berdiri berdampingan, berdiri sama tinggi di sebelahnya sebagai sosok sahabat bukan sosok anak kecil yang ia tuntun.

“Abi, Umi disana sudah tenang.”

Angin berhembus menerpa kami berdua. Mataku agak gelagapan di terpa angin itu. Di lirik mataku Abi masih menghela nafas panjang.

“Umimu rindu dengan Abi?” tanyanya.

Aku tak tahu, apakah itu pertanyaan atau pernyataan, bagiku itu pernyataan.

“Pasti Abi.”

“Lalu bagaimanakah dengan permintaan Abi tadi?” tanyanya lagi.

Pertanyaan Abi membekukan, aku hanya bisa menelan ludah tak menjawab. Jujur, aku tak mau, Bi.

Rabu, 28 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 2

Nail | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Tepat hari ini, di senja gerimis seperti ini. Dua tahun lalu kejadian itu berlangsung. Saat Abi dengan percaya diri mengenakan batik buatan Umi dengan bangga. Batik madura warna biru dengan motif merak dan bunga.
“Indah, Umi,” katanya kepada Umi yang sedang mengancingkan batik Abi.

“Iya Abi, Umi tahu. Makanya jangan lupa di pakai terus ya,” jawab Umi, terlihat senyumnya mengembang dari wajahnya yang sudah terlipat.

Radio masih melagukan lagu-lagu keroncong yang hangat sore itu. Hujan gerimis menambah syahdu rumah kecil kami. Kami sedang ingin menuju acara kawinan saudara kami di kampung seberang. Bagi kami cukup jauh apalagi dengan vespa buutu milik Abi yang terkadang mogok dan batuk-batuk.

“Abi sudah jam berapa, Gilang nggak bisa ikut ya, masih ada setumpuk sketsa yang harus gilang setorin malam ini.”

“Abi bisa ngerti, tapi seenggaknya jangan terlalu pulang malam ya.”

“Iya Lang. Jaga rumah baik-baik,” tambah Umi sambil membelai rambutku yang sudah memanjang.

Aku hanya mengangguk sambil membetulkan letak kacamataku yang agak jatuh. Tak menatap mereka memang, aku terlalu sibuk menggambar dan menumpuk sketsa itu di meja tengah. Entah aku tak bisa menatap wajah mereka kala itu, kecewakah? Aku sama sekali tak perduli.

Pukul empat lewat dua puluh lima, aku sudah selesai dengan sketsa terakhir. Disini aku baru sadar mereka sudah pergi. Aku hanya mengangkat bahu, masih ada ini yang harus aku prioritasin, kataku sambil membawa tumpukan sketsa itu ke meja komputer.

Hujan terdengar semakin intens turun. Petir juga menggelegar sahut-menyahut. Kacamata yang kukenakan terasa buram karena perbedaan suhu di luar dan di dalam. Di speaker radio terdengar lagu Sepasang Mata Bola mendayu-dayu. Aku selalu takut akan lagu itu. Dulu, waktu kecil ketika lagu favorit Umi itu terputar di tape, aku selalu bersembunyi di balik sarung Abi. Mencengkeram sarung itu erat sambil menenggelamkan muka di balik sarungnya.

Abi selalu tertawa geli saat itu. “Umi sudahlah nih Gilangnya takut,” katanya sambil mengucek rambutku perlahan.

Umi tertawa kecil, lalu jongkok dan melihatku. “Gilang kenapa takut?” tanya Umi lembut.

Aku mulai berani muncul dari belakang sarung dan menjawab, “Gilang takut dengan suaranya ibu-ibu yang nyanyi, Umi.”

“Gilang, ini namanya lagu keroncong. Jangan takut, memang lagu-lagunya seperti ini.”

Sejak saat itulah aku mengerti akan lagu keroncong dan sejak itulah di ruang dengarku mulai akrab dengan lagu-lagu jenis ini. Tapi entah mengapa, sampai saat ini lagu Sepasang Mata Bola memunculkan ketakutan sendiri. Tak terkecuali sore itu.

Aku memang bisa mengontrol ketakutan itu muncul berlebihan tapi tak bisa benar-benar menyembunyikannya. Lagu itu mengingatkanku pada Abi dan Umi. Sketsa-sketsa itu kuletakkan sembarangan diatas ranjang. Aku memijat sedikit keningku lalu pergi ke teras untuk sekedar relaksasi.

Aku tak melihat motor Abi terparkir. Mengapa mereka masih saja memaksa untuk berangkat di hujan lebat seperti ini? Kepalaku masih pusing. Khawatir, entah apa yang aku khawatirkan. Aku hanya khawatir.

Langit senja mulai berganti hitam kemerah-merahan. Hujan sudah mereda kini hanya mendung yang menyelimuti kampung kami. Lagu-lagu di radio sudah berganti tema, kali ini giliran lagu-lagu cina yang diputar. Aku duduk di teras depan sambil mengaduk kopi tubruk buatanku sendirian. Menikmati pemandangan kampung kami yang begitu asri. Menyapa beberapa orang yang lewat di depan rumah kami. Tentram.

Aku menyeruput sedikit kopi hitam itu. Dahiku mengernyit, kopi yang kubuat terlalu pahit, beda sekali dengan yang disuguhkan Umi setiap sore. Aku menyapu pandang dari sudut kiri ke kanan. Mataku menangkap satu hal yang dilupakan Abi dan Umi. Sekotak besar gelas antik koleksi kakek yang ingin dihibahkan ke saudara hari ini. Mereka lupa membawanya.

Aku mengambil kotak itu dari dudukan beranda. Membawanya ke dipan teras. Sebelum berhasil ku bawa ke dipan, tiba-tiba petir menyambar mengagetkanku kala itu yang sedang melamun. Kotak itu lepas dari peganganku dan pecah. Pecah berkeping-keping. Fikiran buruk apa ini?

Aku memunguti isi kotak yang sudah tidak berwujud gelas satu-satu. Fikiranku masih melayang-layang.  Rumah kami begitu gelap, malam sudah datang aku lupa menyalakan lampu. Kubereskan pecahan gelas ini cepat-cepat lalu beranjak menuju saklar lampu.

Di tengah perjalanan, Aji tetanggaku berteriak-teriak di tengah gerimis memanggil namaku. “Gilang, Gilang!”

Aku mendengus kesal lalu berbalik menatapnya. “Ada apa sih Ji, ndak berteriak bisa kan?”

Ia mengangkat jari telunjuknya meminta istirahat sejenak. “Umi,” lalu mengambil nafas dan menlanjutkan. “Umi dan Abi kecelakaan.”

Jantungku tak bedetak, mungkin untuk beberapa detik. Kotak berisi pecahan gelas itu kujatuhkan lagi. Semakin pecah. Aku tak menjawabnya, hanya menelan beberapa ludah menenangkan diri. Aji mendekat kearahku dan menepuk-nepuk bahuku. “Dan Umimu meninggal—“ bisiknya di telingaku, pernyataannya seperti menggantung.

Dan disini pun aku tak menangis. Aku memang bukan seorang yang cengeng mendengar berita kematian. Mungkin terlalu naif untuk memunculkan kesedihan dengan tangisan. Seperti perempuan saja. Dan benar, mendengar kematian Umi pun aku tak menangis. Tanganku hanya menggenggam dan gemetar. Menunduk dan mukaku tak berekspresi.

Aku tak tahu, harus menyalahkan siapa. Tuhan? Tak etis kalau menyalahkan Tuhan. Abi mengajarkanku untuk selalu menyukuri  apa yang diberikan Tuhan, sepahit apapun kenyataan itu. Aku terkuatkan oleh kalimat Abi itu. Aji tahu harus melakukan apa lagi. Ia membereskan pecahan yang semakin terserpih itu lalu pamit pulang.

“Sabar ya Lang, di surau dulu bukankah kita selalu diajarkan untuk tabah oleh Abimu,” katanya sembari menepuk-nepuk bahuku lagi.

Gesekan pintu kamar Abi dengan lantai membuat telingaku ngilu, mengembalikan semua kilasan balik ingatan pahit itu ke hari ini, dua tahun setelah kejadian itu. Dan aku masih tak tahu harus menyalahkan siapa. Diriku? Yang terlalu mengesampingkan mereka—terlebih Umi—dan lebih memprioritaskan pekerjaan yang sekarang aku anggap sudah tak penting.

Abi berjalan gopoh menuju teras, satu kakinya memang masih sempurna. Tapi kaki kirinya lumpuh karena kecelakaan itu. Abi sudah semakin tua, terlebih sejak tangan kirinya diamputasi, ia terlihat lebih tua dari umurnya.

“Bi, mau kemana?” tanyaku dan mendekat kearahnya.

Abi mematung di teras, lalu mendengus, dengusannya sampai terdengar. “Sudahlah Lang, Abi bukan orang cacat yang harus selalu dipantai kemana-mana,” bentak Abi padaku, sangat keras.

Aku melepaskan genggamanku pada lengannya. Membiarkannya berjalan sendiri, semakin jauh hingga hilang di balik kabut. Abi, Gilang hanya khawatir bukan menganggapmu tak bisa apa-apa. Abi Gilang menyayangimu, lebih-lebih setelah Umi tidak ada, hanya kau yang Gilang punya.

Selasa, 27 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 1

Karena kau tak lihat, terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi Juaranya

Dewi Lestari – Malaikat Juga Tahu

Abi memperhatikan album kenangan itu, pandagannya kosong. Hanya bermain dengan ujung-ujungnya yang tergulung kecil. Beberapa kali ia menghela nafas panjang. Ku lihat dari sudut kacamatanya, kosong. Hanya memandangi cover motif bunga mawar berwarna merah muda yang menggantung di pojoknya.

Abi membolak-balik album itu. Kulihat, sudah tiga kali seakan ia tak pernah bosan memandanginya. Ada satu halaman penuh foto yang selalu dipandangi Abi cukup lama. Aku mengintip dari jendela kamar. Foto kami bertiga; aku, Abi dan Umi.

“Abi,” sapaku dari belakang lalu duduk di sebelahnya.

Ia tak menjawab hanya menoleh padaku sambil tersenyum hambar dan menenggelamkan ingatan pada album foto itu lagi.

“Abi, kangen Umi?” tanyaku kembali.

Abi tetap diam. Ia menengadah lalu mengambil nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam, tangan kanannya mengenggam album itu kuat-kuat.

“Sekarang yang abi punya hanya kau, Lang.”

“Gilang tahu. Tapi nggak baik juga buat kesehatan Abi, terlebih terapi Abi yang sudah setengah jalan,” tukasku panjang.

Abi mengangguk paham. Ia mengernyitkan dahinya sambil mengurut jambangnya yang sudah memutih. Nafasnya ia ambil dalam-dalam lagi. Mungkin mencoba memercayai takdir yang harus ia jalani kini. Takdirnya tanpa Umi.

“Abi tahu, Abi paham. Abi hanya butuh sedikit waktu untuk menyelaminya,” sanggahnya sambil bangkit dari kursi goyangnya.

Ia tergopoh, lupa akan tongkatnya yang menggantung di kursi. Tanganku reflek menopangnya dari belakang.
“Maafkan Abi.”

Lalu ia membenahi kuda-kudanya dan berjalan pincang ke kamar tidurnya. Aku hanya menggelengkan kepala sambil melihatnya berjalan pelan kesana. Gilang harap Abi bisa menerimanya, meskipun Gilang tahu, itu sulit bagi Abi.

Seandainya kejadian dua tahun lalu tak pernah terjadi. Seandainya saja takdir masih berpihak pada keluarga ini. Seandainya masih ada waktu untuk Abi berbagi kebahagiaan bersama Umi. Seandainya saja aku masih mempunya kesempatan mendengar bau terasi yang menyeruak dari dapur dan bau khas masakan Umi di meja makan. Dan seandainya kami masih punya waktu...

Senin, 26 Desember 2011

Kiamat

“Apa kiamat?”

“Ya, kiamat!”

“Yang benar, kiamat?”

“Ya, benar, kiamat!”

Minggu, 25 Desember 2011

Indigo Bagian 10 [THE END]

Tiga puluh menit waktuku hanya kuhabiskan berputar-putar di dalam UKS, bolak-balik gelisah. Radio sekolah masih tetap mengomel dengan obrolan yang tidak mendukung. Hujan masih deras, cukup menggenangi lantai UKS yang sudah rusak. Aku berjalan menuju jendela, berharap Tante Diana cepat datang. Maria masih terkulai lemas, nafasnya tenang tapi wajahnya pucat dan raut mukanya seperti menahan sakit.

Dari kejauhan sekolah sudah sepi, hanya beberapa anak lalu lalang di depan UKS. Radio sekolah juga sudah di penghujung acara. Aku keluar dari UKS untuk mengambil tas dan beberapa buku tulis di meja. Hujan cukup deras sedikit menghambat langkahku, aku khawatir akan Maria. Aku khawatir kejadian tempo lalu di UKS terulang, terlebih terjadi pada Maria.

Hujan cukup mereda ketika sudah kukemas semua barang-barangku dan kembali ke UKS. Di dalam sudah ada tante Diana dan beberapa guru BK.

“Tante,” sapaku dari depan pintu.

Tante Diana berbalik lalu tersenyum sedih, “Theo,” suaranya tampak mengambang.

Aku mendekat, tante Diana memelukku erat. Ia menangis lalu melepaskan pelukkannya.

“Theo, Tante minta maaf tidak memberitahumu sejak awal.”

“Jadi, selama ini?” tanyaku sedikit membentak.

“Iya Theo, tentang cerita Tante kemarin itu bohong. Tentang perceraian, tentang pisah rumah semuanya tidak benar. Maria yang menyuruh tante bohong padamu.”

“Lalu, sebenarnya ada apa, Tante?” tukasku menginterogasi.

“Jadi sebenarnya, kemarin, Tante, papanya Maria dan Maria pergi ke Singapura untuk memeriksakan penyakit Maria. Dan hasilnya tak sesuai harapan Tante. Maria sudah masuk leukimia stadium lanjut menuju akhir.”

Aku tercengang mendengar pernyataan tante Diana. Apa? Jadi? Mengapa? Pertanyaan itu memberondong lagi. Hujan di luar kembali deras dan petir menyambar di sana-sini. Tante Diana hanya dapat menangis dan memeluk dirinya sendiri. Dingin hari itu begitu menusuk dengan suasana yang mendukung di UKS ini. Aku sesekali hanya bisa menunduk tak berani menatap Maria ataupun tante Diana. Mereka sama-sama dalam suasana hati yang hampir sama. Suram.

“Em, Tante,” aku memberanikan menyapa tante Diana lagi.

Ia berbalik dalam keadaan masih menangis. “Ada apa Theo?”

“Sebenarnya, semua salah Theo. Theo nggak bisa mencegah Maria buat nggak hujan-hujanan. Theo gak bisa jaga janji Theo sendiri ke Tante. Semua salah Theo, Tante.”

Ekspresi muka tante Diana berubah, geram tetapi masih menangis. “Oh jadi kamu yang ngajak Maria hujan-hujanan sampai begini? Jadi, kamu Theo,” di ujung kalimatnya emosinya agak mereda.

Ia seperti tak mau menyalahkanku atas ini semua. Ia tahu, aku sendiri pun tak tahu akan kenyataan ini. Tante Diana hanya memunculkan rona kecewa di wajahnya ia tak mau lagi berkata-kata. Sudah cukup panjang lebar dan sudah cukup luka yang harus ia buka. Sudah cukup rentetan takdir pahit yang ia rasakan dan harus kembali diulang sekali lagi. Ia berbalik menghadap ranjang Maria lagi.

“Tante harap kamu bisa pergi dari sini, Theo,” katanya tanpa menghadapku.

Cukup datar memang nada suaranya, seperti tak beremosi. Tapi aku tahu betapa dalam kekecewaan tante Diana terhadapku. Terhadap Theo yang seharusnya bisa memegang janjinya untuk menjaga Maria. Bukankah aku sudah mengiyakan janjiku dulu? Tapi kenapa aku sendiri yang tak bisa merealisasikannya?

Aku meyakinkah tante Maria bahwa aku ingin disini menemaninya—setidaknya untuk membayar sedikit saja rasa bersalahku padanya. Ia tak mau mengerti ia tetap bersikukuh untuk menyuruh pergi.

Jika tidak pergi sama saja aku akan menambah beban tante Diana. Akhirnya aku pergi, walau berat aku harus.

Hujan masih tetap deras tetapi aku kali ini suka bergumul dengannya, berharap ia dapat melunturkan semua kesalahanku ini. Berkali-kali aku memaki diriku sendiri di tengah hujan. Tolol. Bullshit. Idiot. Aku berteriak sekencang-kencangnya di tengah lapangan. Sekali lagi berteriak dan untuk yang ketiga kalinya aku berteriak.

Seandainya ada orang di lapangan mungkin ia akan tahu betapa menyesalnya aku. Sekolah sudah sangat sepi dan banjir sudah meninggi, setinggi lutut. Aku berteriak lagi sambil menendang-nendang genangan air yang semakin tinggi.

Aku merasakan ada linangan air mata jatuh dari mataku, bercampur dengan air hujan yang intens menggempur tubuhku. Berpuluh-puluh menit aku bersimpuh di sana. Berharap Tuhan mengembalikan waktu dan tidak mempertemukan Maria padaku. Dipertemukan di panggung sandiwara sepahit ini. Tuhan jika aku kau beri satu kesempatan untuk merubah satu hal. Aku harap Maria tak pernah bertemu denganku.

Dari lapangan terdengar sayup-sayup sirine ambulans masuk ke areal sekolah. Tak cukup jelas memang dengan gempuran irama hujan yang begitu mendominasi. Tapi benar kulihat mobil berwarna putih dengan sirine merah itu masuk ke lapangan depan. Tante Diana masuk bersama Maria yang masih pingsan.

Ambulans itu segera berbalik dan pergi ketika aku ingin mengejarnya. Lariku tak cukup cepat untuk mengejar laju ambulans secepat itu, di tengah hujan pula. Lariku terhenti ketika aku tersandung teras kelas yang tergenang banjir. Sakit, tepat kearah tulang keringku. Aku meringkuh kesakitan disana sambil memegang kaki kiriku.

“Maria...” teriakku, hingga akhirnya mobil itu hilang saat berbelok di depan gerbang.

Aku meringis menahan sakit. Cukup lama aku terbaring disana sampai semuanya menjadi kabur dan gelap. Dalam gelap aku masih merasa bersalah, menyalahkan diriku sendiri ataukah menyalahkan jalan Tuhan aku tak tahu.

*****

Mataku nanar saat kucoba membukanya. Pening dan sakit hal yang pertama kali menyergapku. Aku memegang kepalaku beberapa kali untuk sugesti. Tetapi pening ini tak secepat itu hilang. Ketika pandanganku jelas aku melihat aku sudah berapa di kamarku. Dan Tian ada di sana.

“Nyenyak tidurmu, Cemen?” tanyanya mengejek lalu melancarkan bogem ringan ke arah lengah kananku.
Aku merintih sedikit lalu tertawa tapi tak lama, setelahnya aku merintih lagi. Kakiku masih sakit. Sangat sakit.
“Bukannya aku di sekolah tadi mengejar ambulans—“

Penjelasanku di potong, “Stt.. Kau tadi pingsan untung ada aku, kalau nggak, bakalan nginep di sekolah kamu.”

Kami tertawa. Tapi tak lega, sakit ini masih menggantung di kepala dan tulang keringku. Tian pamit untuk pulang karena sudah cukup larut.

“Cepat sembuh, Bro.”

Jariku membentuk huruf O pertanda mengiyakan. Kami sering menggunakan isyarat-isyarat dalam skuba yang sering kami lakukan bersama. Tian tersenyum dan menghilang di balik pintu kamarku.

Sendirian cukup mendukung untuk mengingatkanku pada kejadian tadi sore. Tante Diana, Maria dan ambulans. Aku tersentak dari kasur tetapi langsung terbanting jatuh lagi ke atas kasur. Kakiku masih sangat sakit. Warnanya biru lebam. Retak? Pikirku.

Cukup lama aku melayangkan beberapa angan diatas awan-awan kamar. Merangkai skenario indah dan bukan yang diciptakan Tuhan saat ini—yang sangat pilu. Sampai akhirnya aku tertidur dalam rasa menyesal yang teramat.

*****

Pagi, kicau burung sudah cukup membuat mataku gerah untuk tetap terpejam. Sinar sudah menyeruak masuk ke dalam kamarku. Memaksaku untuk segera bangun. Pusing dan pandangan kabur ini masih menempel hingga pagi ini. Aku meraba mencari handphone di meja ingin melihat jam. Satu sms masuk, Tante Diana, pukul 02:34 pagi tadi.

“Theo, sebelumnya Tante mau minta maaf atas sikap tante kemarin. Tante ingin menyampaikan pesan Maria, “Datanglah ke rumah jam sembilan nanti aku ingin memberikan sesautu.” Dan tante harap kamu bisa datang, Theo.”

Aku mengenggam hape erat-erat kemudian melihat kearah jam. Masih jam tujuh. Aku masih waktu dua jam untuk bersiap-siap dan mempersiapkan segalanya. Aku mencoba untuk berdiri berharap kakiku bisa berkompromi setidaknya untuk saat ini.

Sudah membaik, pikirku. Sudah bisa digunakan untuk berjalan walau cukup sakit dan harus sedikit pincang.
Saju jam yang kubutuhkan untuk bersiap-siap. Aku mengambil satu kemeja lengan panjang polos warna hitam dan jeans hitam. Aku tak ingin membuang waktu, kutancap gas dari bagasi menuju jalanan. Pagi ini tak cukup ramai. Hanya beberapa mobil-mobil berwarna hitam yang lewat bersamaan denganku.

Di depan rumah Maria mendung dengan petir-petir yang mengambang untuk menggelegar. Cukup banyak orang yang keluar dari sana. Ada arisankah di sini? Tanyaku dalam hati. Aku celingak-celinguk sambil memarkirkan motor di depan pagar. Aku melihat Tante Diana berdiri di depan pintu. Disini aku cukup ragu untuk melangkah lagi, aku takut ia masih marah dan kecewa padaku terlebih menyalahkanku. Ekspesinya tak berubah, tetap datar seperti kemarin.

“Tante,” sapaku lirih.

Ia melamun dan kaget waktu kusapa. “Iya, Theo. Masuklah. Maria ada di kebun belakang.”

Aku mengiyakan. Rumah Maria memang cukup besar dan memiliki kebun yang besar pula. Ornamen-ornamen di rumahnya cukup indah—yang kemarin-kemarin tak pernah kuperhatikan—dengan aksen-aksen peri kecil di setiap sudut ruangan. Ala eropa dan setuhan tradisional dengan ukitan-ukiran di pintu dan perabot lainnya.

Tante Diana menuntunku ke kebun belakang. Jalannya sangat pelan memberikanku kesempatan untuk memperhatikan rumah ini secara lebih mendetail. Banyak lukisan-lukisan impresionis termampang di dinding, dari seukuran  pigora kecil sampai sebesar pintu semuanya indah dan terkesan mewah.

Tante Diana berhenti di berhenti di sebuah taman yang cukup luas. Taman dengan ayunan putih yang tiang-tiangnya dililiti batang anggur yang melengkung indah. Di sudutnya ada kolam ikan dari batu dengan pancuran kecil yang menenangkan ketika dilihat. Tapi, aku tak melihat Maria.

“Tante, Maria dimana?” tanyaku memastikan.

Tante Diana tak menjawab hanya menunjuk ke arah ayunan, bukan, ke arah semak yang terpotong rapih di sebelah ayunan mewah itu. Apakah Maria menungguku disana? Maria memang selalu bisa membuatku penasaran.

Aku mendekati semak itu  dan memegang ayunan yang masih basah terkena hujan kemarin. Indah, pikirku. Petir menyambar sangat keras ketika tidak ada yang kutemukan disana. Aku hanya melihat gundukan tanah dan ada nama diatasnya. Maria. Nisan?

Petir menyambar sekali lagi. Aku masih tak percaya. “Tante, apakah, apakah ini...”

“Iya, ini Maria, Theo.”

Aku menangis dan menggeleng tak percaya. “Bukan ini bukan Maria. Maria masih tidur Tante. Maria belum mati Tante.”

Tangisku sudah tak bisa dibendung detik ini. Aku berlutut di depan makamnya sambil menghantam hantap gundukan tanah itu. Ini bukan Maria dan bukan makam untuk Maria. Aku berteriak panjang dan keras.
Tante Diana memelukku dari belakang, tangisnya terdengar perlahan dari telingaku. Isaknya semakin keras bersama isakku yang juga tak bisa kutahan.

“Maafkan Tante, kau harus bisa merelakannya, Theo.”

Aku tak menjawab hanya melayangkan tinju-tinju keras di makamnya. Sampai detik ini aku belum percaya, sama sekali tak bisa percaya. Ia masih ada, ia belum pergi. Maria masih ada di UKS, ia masih tertidur disana. Bukan mati. Semua salah. Tuhan, kau salah Tuhan.

“Maria...” teriakku keras, sangat keras.

Seandainya aku bisa mengulang dan Tuhan memberikanku satu kesempatan untuk mengulangi ini sekali lagi. Aku ingin Tuhan. Aku ingin mengubah pilihanku saat itu; untuk tak membaca pikirannya dan akhirnya seperti ini. Dan saat kau masih memberikan waktu untukku merubahnya aku tak mau. Bodohnya aku, Tuhan.

Dan kini aku percaya, di dalam hidup ini kita selalu punya pilihan. Sampai eksekusi itu datang kita tak akan tahu pilihan mana yang benar. Tapi percayalah Tuhan akan memberikanmu petunjuk untuk memilih, mana yang terbaik dan mana yang benar. Dan aku, dan aku memilih pilihan yang salah saat ini. Aku harus bisa menerimanya. Harus.

- T H E  E N D -

Sabtu, 24 Desember 2011

Indigo Bagian 9

Tak Terdefinisikan
Dentuman bola basket menggema dari balik telingaku. Sorak sorai, teriakan, guyonan semua beradu di pandanganku. Aku menggenggam erat novel “Never Let Me Go” yang di lempar Maria ke pangkuanku tadi. Aku membuka satu halaman yang dilipatnya dan kulihat ia memberikan garis bawah pada satu kalimat. “Jangan lepaskan aku, sungguh aku butuh kamu”. Di akhir kaliamat dalam novel itu ia menuliskan namaku? Namaku? Theo.


Aku tercengang beberapa detik setelah melihat namaku ada disana, ditulis olehnya. Maria membutuhkanku? Membutuhkanku dalam konteks apa? Teman, sahabat atau terlebih kekasih? Aku juga tak pernah mengerti dengan isi hatinya. Begitu dalam dan dingin.

Di sela-sela istirahat aku lebih memilih untuk duduk di teras kelas daripada harus bersosialisasi. Kusobek sedikit bungkus permen karet warna merah muda yang daritadi kugenggam. Udara hari ini begitu dingin dengan gerimis. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tralis besi yang membatasi lantai atas dengan bagian luar. Aku menghirup udara kuat-kuat lalu terpejam, kugenggam tralis itu kuat lalu sayup-sayup seseorang memanggil namaku dari bawah. Maria.

“Theo, Theo,” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Ia menunjuk kearah taman belakang sambil tersenyum manis. Aku tahu maksudnya. Aku bergegas turun dan berlari ke arah taman. Aku khawatir, Maria adalah seorang yang selalu berusaha menghindari hujan (meskipun gerimis) tapi saat ini ia lebih memilih untuk bercengkrama dengannya?

“Maria,” teriakku dari belakang.

Ia menoleh. “Iya?” Ia menepuk rerumputan di sebelahnya menyuruhku duduk. “Sini.”

Aku mendekat ke sebelahnya. Mengusap rambutnya perlahan. “Hey, ini gerimis. Nanti kamu sakit.”

“Aku tak apa,” katanya sambil menengadahkan kepalanya ke arah langit.

Ia terseyum dan akupun juga. Kuperhatikan wajahnya lekat, matanya masih tetap hitam dan dalam, misterius. Tapi, bibirnya begitu putih dan mukanya pucat. Angin berhembus cukup kencang saat itu. Ia memejamkan matanya. Nafasnya ia tarik panjang-panjang lalu dihembuskannya perlahan. Dari sudut matanya kulihat air mata menetes, satu, dua terus menetes bersama tetesan hujan yang intensitasnya semakin deras.

Di sela-sela tangisnya ia berkata, “Theo, aku ingin jujur.”

Aku diam memperhatikannya menangis, aku ingin berbicara tapi bibirku kelu.  Tubuhku mematung di sebelahnya. Ia tak menghiraukanku yang diam, Ia tetap melanjutkan kata-katanya.

“Theo, semua berjalan salah.”

Aku tersentak, “Apanya?”

“Semua salah, keluargaku, diriku.”

“Kamu tak bisa selalu menyalahkan keadaan, Maria.”

“Aku tak menyalahkannya, aku tak menyalahkan Mama dan Papa yang bercerai aku juga tak menyalahkan—“

“Menyalahkan apa?”

“Tak apa,” sahutnya pelan.

Maria mendekap kedua lututnya erat. Ia seperti mengisyaratkan sesuatu, sesautu yang buruk. Seburuk apa aku tak dapat mengukurnya. Maria menangis lagi kali ini sampai terdengar isakan yang cukup kuat. Aku memberanikan diri untuk memeluknya dan kali ini aku berhasil, aku memeluknya. Erat. Ia membalas pelukanku, ia menangis di pundakku. Cukup lama kami dalam keadaan seperti ini, dalam hujan ia menangis. Aku membelai rambutnya perlahan. Ia mencengkeram seragamku kuat dan aku bahagia bisa seperti ini.

“Sudahlah, tak usah menyalahkan keadaan aku bisa membantu,” kataku.

“Aku tak tahu.”

“Maria, jangan berikan aku potong demi potong puzzle begini, aku butuh kejelasan dari semua ini, bukan petunjuk-petunjuk yang selalu ada di dalamnya.”

“Maaf—“ katanya, mengambang.

Kami melepaskan pelukan kami yang hangat dan Maria mengusap kedua matanya yang basah karena air matanya dan hujan. Ia tersenyum dan begitu juga aku. Kami tersenyum dalam pandangan yang kabur karena hujan turun cukup deras, tetapi senyuman itu tak begitu lama. Kulihat tubuhnya lemas hingga akhirnya pingsan.
Aku menggendongnya dari taman menuju ke UKS. Maria, kenapa kau?

Telepon yang dari tadi menempel di telingaku membuatku gerah. Tante Diana tak menjawab teleponku. Satu kali dua kali dan yang ketiga,

“Halo?”

“Halo, Tante. Maria, Tante.”

“Kenapa Theo? Ada apa dengannya?”

“Maria pingsan dan sekarang masih belum sadar.”

Diam beberapa detik lalu terdengar hembusan nafas yang cukup kencang dari ujung telepon. “Theo, apakah Tante belum pernah bilang tentang Leukimia stadium lanjut yang di derita Maria?”

Jantungku berhenti berdetak satu detik. Leukimia? Maria mengidap leukimia? Sejak kapan? Mengapa dia diam saja? Begitu banyak pertanyaan yang memberondong dalam benakku.

“Halo, halo Theo. Apakah Maria pingsan setelah ia hujan-hujanan?” Tebakannya tepat.

“I..Iya Tante.”

“Bukankah ia selama ini menghindari hujan. Karena imunitas di tubuhnya lemah, ia anti terhadap hujan tapi bagaimana bisa sekarang ia hujan-hujanan?”

Aku tak menjawab, diam. Aku semakin tak percaya dengan semua kenyataan ini, bahwa Maria memiliki sixsence dan sekarang ia sakit, sakit parah. Tuhan, aku memang berharap tak kau berikan puzzle seperti ini, tapi mengapa harus kenyataan yang begitu pahit muncul ketika semuanya berangsur jelas. Tuhan, apa ini skenario yang kau rencanakan dalam hidupku? Puaskah kau Tuhan? Puas kau buat Ia begini. Tak puaskah kau dengan hanya memberikanku ‘hadiah’ pahit. Sekarang kau memberikannya sakit Tuhan.

Telepon masih aktif. “Ya sudah, Tante akan ke sana menjemput Maria.” Telepon ditutup.

Di sudut UKS Ia masih pingsan. Wajahnya masih pucat dan tangannya begitu dingin. Kusentuh wajahnya yang kalem itu dan kusibakkan sedikit rambut keriting gantungnya yang basah. Ia begitu cantik dan baik tapi kenapa Ia harus menanggung beban sebesar ini?

Aku menggenggam tangannya kuat-kuat, berharap bisa menghangatkan tangannya yang dingin. Berharap ia bisa bangun dan tersenyum padaku lagi saat itu juga. Tapi memang Tuhan tak pernah seirama denganku, ia masih tertidur pulas.

Aku melemparkan tinju keras ke arah dinding UKS dan melakukannya lagi, berulang-ulang. Tanganku berdarah, lecet tetapi aku tak perduli. Aku tak pernah perduli dengan diriku sendiri, aku hanya memperdulikan Maria. Rasa sakit di tanganku saat ini tak sebanding dengan rasa bersalahku kepadanya. Tak mencegahnya waktu hujan turun dan sekarang ia pingsan dan itu semua salahku. Semua karena ketidakberdayaanku, karena kebodohanku, karena kelemahanku, semua karena aku. Shit.

Jumat, 23 Desember 2011

Indigo Bagian 8

Ia, Maria. Ia masih tetap buram

Sudah cukup lama aku merenung disana. Untuk beberapa saat aku ingin mengingkari janji yang kubuat sendiri, tapi masih ada satu kesabaran menghadapi semua ini. Jam sekolah sudah berdentang lima kali, sekolah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa anak basket yang lagi sparring. Aku berdiri dari tempatku duduk, tegak. Mencoba menghirup oksigen sekuat-kuatnya disana. Menenangkan diri.

Langit mulai mengoranye tetapi aku masih enggan beranjak dari sekolah, hanya duduk-duduk di depan gerbang. Di tempat kami berpegangan tangan tempo itu. Aku rindu, benar-benar rindu sore itu. Ketika semua masih ada dalam kendali. Ketika aku dan Maria duduk disana, menikmati angin sore yang cukup dingin. Ketika merasakan sentuhan tangan Maria yang hangatnya belum  hilang sempurna dari tangan kananku.

Sungguh ini rumit.

“Hey, bro, nggak pulang?” tanya Tian, teman sekelasku. Dia indigo juga.

“Kamu tahu lah,” jawabku, malas.

Diam sejenak. “Iya, Maria itu bukan tipe cewek yang cengeng dan mudah menyerah, Bro.”

“Aku tahu, tapi aku masih pusing dengan puzzle ini, aku bosan menjadi begini, Yan.”

Tian menepuk-nepuk punggungku, kemudian mengambil duduk di sebelahku. “Sabar Bro. Ini sudah garis takdir. Ini anugerah jangan kau buat ini sebagai beban.”

Aku membenamkan kepalaku. “Hmm...” Tapi aku punya janji. Seandainya aku tak membuat janji ini, kawan.

“Aku tahu, hidup selalu memiliki pilihan bukan. Menginkarinya pun bukan suatu kesalahan.”

Kau tak tahu,ini komitmen. Aku menghela nafas panjang, Frustasi.

Ia beranjak, berpamitan. “Aku balik dulu, Bro. Pesanku sih, take care of her dan jangan sampai menyesal karena pilihan yang kau pilih itu ternyata salah.”

Aku mengangguk mengerti. Kau benar kawan. Ia pergi dan hilang di belokan gang depan. Aku masih disitu, memikirkan pesan Tian. Dia benar akan hal itu. Aku harus pergi mencari Maria dan mencari tahu kenapa dia dengan atau tanpa membacanya.

Aku berdiri dan menancap gas dari gerbang sekolah ke rumah Maria. Masih berharap ia ada di rumah saat ini. Lima belas menit akhirnya aku sampai ke rumah Maria. Aku dipersilahkan masuk oleh Tante Diana. Maria ada di rumah, syukurlah.

“Maria ada di kamar Theo. Dia dari pulang sekolah nggak mau makan,” keluh mamanya.

“Iya tante, bakalan Theo ajak buat makan.”

Aku meminta izin untuk masuk ke kamar Maria. Aku mengetuk pintu kamarnya sekali, tidak ada jawaban. Dua, tiga kali, nihil. Untuk yang keempat kali kuketuk kamarnya dan berkata. “Mana Maria yang aku kenal, yang brilian yang kalem dan pemberani. Aku tak mengenal Maria yang sekarang, yang tak bisa menerima kenyataan dan bisanya lari.”

Aku mengengar langkah kaki mendekat ke arah pintu dan pintu kamar berbunyi klik dua kali. “Masuklah,” katanya terbata, seperti habis menangis.

Pintunya berdecit keras ketika aku buka. Ia duduk diatas kasur sambil melingkarkan kedua tangannya ke lutut. Aku masuk sambil membujuknya untuk makan.

“Tidak, aku tak mau makan,” tolaknya.

“Oh jadi ini ya yang di kau inginkan? Menambah beban Mamamu?” sanggahku.

Ia menoleh. Mukanya bengkak, sembab dan matanya merah. Kali ini ia memalingkan tubuhnya ke arahku, ia mulai nyaman denganku. “Makanlah.”

Ia meraih piring perlahan, tangannya gemetar. Ia tersenyum padaku, senyum yang jarang sekali ku lihat beberapa waktu belakangan. Aku membalas senyumnya. Manis. Aku memperhatikannya dan aku baru sadar bahwa ia memiliki mata yang bulat sempurna. Irisnya juga cokelat, begitu sempurna di mataku. Walaupun ia intovert tapi bagaimanapun tetap ada ruang di hatiku untuknya.

“The..o,” panggilnya terbata.

Aku tersentak, terbangun dari lamunan. “I..Iya? Kenapa Maria?”

“Maafkan aku—“ suaranya menggantung, seperti ada yang akan ia bicarakan tapi tak jadi.

“Untuk apa? Seharusnya aku yang harus minta maaf ke kamu. Bukannya kamu,” tukasku.

“Untuk semuanya, terutama untukmu yang sudah aku bawa masuk ke lingkar hidupku yang kalut ini.”

“Hush, kamu itu ngomong apa Maria. Sudahlah makan, habiskan dulu,” jawabku. Aku tak mempermasalahkan itu saat ini Maria. Seandainya kau tahu perasaanku.

“Perasaan? Perasaan seperti apa Theo?” Aku tercengang. Kaget. Bagaimana bisa ia mengetahuinya?

“Mengetahui apa?” Stop.

“Ah, tak apa Maria.”

Aku berpura-pura melihat jam tangan, jam enam lewat dua puluh lima. Aku berpamitan kepada Maria untuk pulang. Motor aku gas sekencang-kencangnya. Bagaimana bisa ia mengetahuinya?

Semalaman aku hanya bisa membolak-balikkan badan di atas kasur. Melihat ke arah langit-langit. Melamun dan akhirnya tertidur, cukup pulas. Maria...

Pagi yang cukup cerah untukku tidak malas sekolah, ini Selasa. Hari kita, hari dimana ada olahraga dan kelasku dan Maria olahraga pada jam yang sama.

Maria ada disana, tetap berada di sudut di saat teman-temannya asik bercengkrama ia diam. Ia membacanya, novel Kazuo Isighuro yang baru ia pinjam dari perpus.

“Hai,” sapaku.

Ia menyibakkan rambutnya yang menjuntai dan menoleh. Ia tersenyum sumingrah. “Halo, duduk,” katanya sambil menepuk-nepuk lantai di sebelahnya.

“Mood lagi bagus?” tanyaku sambil menyentil hidungnya lembut.

Mukanya memerah. “Nakal,” jawabnya lalu kami tertawa. Sungguh ini momen yang kutunggu.

“Kamu ngomong apa sih, momen apa?” katanya lagi.

Hei, dia membaca fikiranku? “Hei, kamu indigo?” Ups, apakah aku terlalu frontal?

Maria tertawa, lalu diam. “Aku sixsence, agak sedikit berbeda denganmu.” Astaga.

Aku mengernyitkan dahi sambil menggaruk kepala, “Dan kenapa aku baru tahu? Bukannya dengan sesama kita bisa saling berbicara dalam tanda kutip?”

“Karena sixsence-ku muncul baru-baru ini, muncul dalam arti sempurna Theo,” jelasnya dengan menyenggol badanku.

Ia tertawa mungkin melihat ekspresi bingungku. Ia melemparkan novelnya ke pangkuanku lalu bangkit, ia menguap. “Sudahlah, ini berkah bukan?”

“Emmm, menurutmu begitu?” Tapi, menurutku tidak.

“Kenapa tidak?”

“Kau akan tahu, nanti.”

Kali ini aku yang menguap, bosan. Hidupku yang seperti ini monoton. Mungkin tidak lagi, karena ada Ia. Yang ternyata hampir sama denganku.

Aku ingat sesuatu. “Maria, bagaimana dengan keluargamu, maaf.”

Rona mukanya berubah murung. “Oh masalah itu, biarkan.” Aku tahu itu bukan ekspresi asli, palsu jangan berbohong, Maria.

“Maaf,” katanya lagi.

“Aku tahu, kau belum siap untuk menceritakannya.”

“Bukan untuk itu. Untuk...” kata-katanya tak dilanjutkan, ia terisak.

“Kenapa?”

Ia tak menjawab sembari membersihkan air mata di pipi sempurnanya. Aku ingin menyentuhnya, memberikan pundakku untuknya, untuk menjadi tempat air matanya jatuh, bukan malah diam mematung melihatnya menangis. Ironis.

Maria berdiri lalu pergi. Masih dalam diam, semuanya akan semakin jelas, tetapi Maria masih menjadi misteri di sosoknya yang sudah nyata. Ada sesautu yang berusaha ia sembunyikan. Tapi apa? Itu masih menjadi tanda tanya.