Senin, 29 Agustus 2011

Ramadan Suram, Ramadan Kelam

Halo pembaca dan sahabat blogger semua, tarawih terakhir nih, rasanya miris ya ramadan udah pergi lagi, rasa-rasanya baru kemarin ramadan datang dan puasa serasa baru tiga hari, ya beginilah hidup ada yang datang dan ada pula yang pergi.

Ramadan, bagi seluruh umat Islam merupakan bulan penuh berkah dan penuh pengampunan. Semua umat Islam menyikapinya dengan bertadarus, melakukan ibadah-ibadah sunah, meningkatkan kekusyukan saat beribadah, bertarawih, beriktikaf di malam-malam terakhir bulan ramadan. Tetapi Ramadan kali ini adalah ramadan paling kelam yang pernah saya alami, saya sama sekali tidak memanfaatkan berkah dan ampunan di bulan ini. Perilaku saya sama saja seperti bulan-bulan sebelum ramadan, bahkan bulan ini lebih buruk.

Ramadan kali ini, ramadan yang paling tidak saya manfaatkan, mulai dari awal menginjak bulan ramadan saya tidak pernah mengikuti tadarus bersama seperti tahun-tahun lalu, saya lebih sering berkutat dengan buku-buku pelajaran dan novel-novel yang menumpuk di atas meja belajar. Saya juga lebih sering menghabiskan waktu luang di siang hari saat semua orang berlomba-lomba mengumpulkan pahala demi mendapatkan kemenangan di bulan ini, tetapi saya lebih intens memperhatikan check list tugas yang ditempel di depan cermin di kamar saya, saya lebih sering memegang pensil dan laptop daripada memperhatikan solat-solat sunah yang banyak saya tinggalkan. Tahun ini, saya juga lebih sering melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat seperti; tidur dari pagi sampai siang, merenung tanpa tujuan dan lebih berkonstrasi pada jadwal buber (buka bersama) yang kian padat. Solat tarawih juga seringkali saya tinggalkan kalau lagi ada jadwal buber atau kalo lagi banyak tugas. Padahal tarawih adalah ritual satu tahun yang jarang saya tinggalkan dulu. Memang buruk ramadan kali ini. Sebagai seorang remaja umur 16 tahun saya masih belum bisa memenejemen waktu dengan cukup baik.

Yang paling mengerikan adalah kemarin, beberapa hari yang lalu, tetangga saya, perempuan berumur 17 tahun meninggal karena penyakit hepatitis B. Nah momentum yang membuat miris adalah ia meninggal satu hari setelah hari ulang tahunnya yang ke-17. Sampai saat ini, rasa takut akan kematian masih menggantung di juntai memori saya. Saya takut jika besok saya sudah tidak bisa membuka mata, menghembuskan nafas, melempar senyum ke dunia yang sementara ini.

Jujur, saya takut akan kematian, bukan takut apa-apa. Saya takut jika saat ajal menjemput saya, saya belum siap dan mati bukan dalam keadaan khusnul khotimah. Saya takut amal ibadah saya selama ini belum mencukupi untuk bekal saya di hari perhitungan nanti. Saya hanya takut, takut akan kematian. Saya tidak akan pernah tahu berapa panjang umur yang sudah ditentukan Allah, yang saya harus lakukan adalah mempersiapkan bekal saya setelah melewati dunia fana ini. Tetapi pertanyaannya: “Sudah cukupkah bekal anda?” dan “Sudah siapkah anda?”

Kalau boleh menjawab dua pertanyaan diatas secara frontal dan blak-blak’an: BELUM, SAMA SEKALI BELUM. Saya hanya lelaki buta yang imannya naik turun dan seringkali lupa dataran. Hanya seonggok bunga layu yang merasa kelopaknya paling indah, padahal satu tiupan kecil angin sudah bisa merobohkan tiang-tiang penopang tubuh saya.

Nah sekarang, saya ingin bertanya kepada pembaca dan sahabat blogger semua:

“Sudahkah kalian siap menghadapi kematian dengan apa yang kalian bawa sekarang?”

Wallahualam.

Minggu, 28 Agustus 2011

Kata "Maaf" dan Implementasinya

Selamat petang pembaca, ngabuburit di detik-detik terakhir bulan puasa, gimana kabar semua? Sudah terlalu lama nggak pernah posting. Sudah lama gak bisa blogwalking di tempat kalian, sudah lama nggak pernah bales komen, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Ngomongin kesalahan, kesalahan itu mungkin wajar dilakukan setiap manusia, karena memang manusia tempatnya salah. Nah, sekarang yang paling penting bagaimana kita memperbaiki kesalahan itu dan bagaimana cara mengatasi perasaan bersalah yang seringkali kita alami ketika otak kita benar-benar “ngeh”, “ngeh” disini dalam artian sadar atau waras.

Yang paling pertama dan utama yang kita ucapkan adalah kata “Maaf”. Kata maaf memang pas dilakukan di saat-saat seperti ini, momentum idul fitri memang pas untuk kita saling bermaaf-maafan. Tapi perlu ditekankan, bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan dalam momentum idul fitri seperti ini, harusnya setiap saat kita selayaknya meminta maaf. Tapi, jangan terlalu sering juga, karena jika terlalu sering kata maaf yang kita ucapkan serasa hanya angin lalu jika tidak dilakukan bersama perubahan-perubahan yang signifikan dari diri kita, perbaiki diri dari yang buruk jadi baik, dari yang baik jadi lebih baik lagi.

Terlalu banyak prolog, oke saya disini ingin mengucapkan beberapa permintaan maaf, karena saya sadar saya tidak pernah lepas dari kesalahan tutur kata, perbuatan yang saya sengaja maupun tidak. Wah formal sekali kelihatannya, ya begini saja yang pertama saya minta maaf kepada:

Rabu, 24 Agustus 2011

Fenomena "Eksis" dan Para A-list

Halo semua, saya kembali ke peraduan! Sebelum mulai berkata-kata saya mau ngucapin: SELAMAT LIBURAN, SELAMAT MUDIK.

Udah berapa hari ya nggak posting? Agak lama mungkin, tapi sudahlah yang terpenting saya sudah kembali, saya mengudara lagi dan postingan kali ini saya tidak ingin membahas sastra dan sejenisnya, sedikit intermezzo boleh kan. Penyegaran lah.

Nggak mau bertele-tele, langsung saja. Pertama-tama saya hanya ingin bertanya kepada semua blogger tentang masa SMA, "Anda termasuk seseorang yang eksis/populer dan termasuk daftar A-list atau tidak sewaktu SMA?". Pasti bervariasi, ada yang iya dan ada yang tidak. Tapi, kali ini saya kontra terhadap ke-eksis-an itu.

Nah, kemarin, kemarin Senin tepatnya. Saya bersama Isa—blogger juga—memberikan opini kami tentang ke-eksis-an di sekolah kami. Jujur, saya dan Isa berbeda pandangan dengan mereka-mereka yang terlampau eksis. Tidak salah memang menjadi anggota A-list, tidak ada yang salah, cuman saya dan Isa hanya ingin mengkritik mereka, bukankah kritik itu sejatinya membangun?

Sabtu, 20 Agustus 2011

Quote of the Day #8

"Penulis sejati adalah seorang penulis yang meng-'hidup'-kan dan hidup bersama karakter-karakter dalam setiap karyanya"

Selasa, 16 Agustus 2011

Indonesia, Tanah Air Beta..

Indonesia, tanah air beta..
Indonesia, tanah tercinta..
Indonesia, harta pusaka..
Indonesia, merdeka..

Indonesia, banggakah engkau padaku?
Pada aku yang tak pernah khidmat saat upacara
Pada aku yang hanya bisa diam ketika kau diinjak-injak
Pada aku yang belum bisa membawa namamu keatas tangga dunia

Indonesia, hanya aku, mungkin hanya aku.
Seorang anak kawakan jawa, yang kental dengan kalimat-kalimat medok yang khas.
Seorang pria perangkai kata yang terselip dalam lipatan takdir.
Seorang yang hidup dalam kamuflase-kamuflase menggelitik.
Seorang yang terburu mengejar takdir yang lari.

Indonesia,
disini, di dada ini, nyawamu dan nyawaku.
Di setiap fragmen hidupku, tersirat semburat jiwa garudamu.
Dalam gores demi gores kata yang lama kuukir, terjejal semangat merah putihmu.
Diatas debu dalam takdirku, terpatri manis, lembut, bahasa kalbumu.

Indonesia,
dulu, sekarang atau selamanya,
aku, kami dan kita semua,
adalah anak-cucumu dan tak akan lepas,
dari semua napak tilasmu.

Indonesia,
diatas lekuk indah gunung Rinjani,
di alur-alur sungai Musi,
dalam setiap kelopak Raflesia Arnoldi,
di meja-meja jati politisi,
di semua celoteh anak pinggir kali,
kau HIDUP, kau ADA, kau ABADI.

Indonesia,
cuma Indonesia,
tempat dimana aku membuka mata,
dan akan menjadi tempat dimana aku menutupnya pula.

Indonesia, simbolisasi ini
kupersembahkan 'tuk setiap originalitas
'tuk semua kreatifitas
'tuk satu nama, INDONESIA

Surabaya, 16 Agustus 2011

Saat lantunan doa mengambang di udara
Saat pekikan kata MERDEKA menggetarkan lidah
66 tahun lalu, seribu satu insan bersatu
membela, merebutmu dari para kumpeni
Saat ini, kami memperjuangkanmu
dalam persaingan dunia yang semakin menjerat

dari anakmu,
Andaka Rizki Pramadya

Minggu, 14 Agustus 2011

(GoVlog-Ramadan) Indahnya Bersyukur, Syukur itu Indah

“Cara mensyukuri kelebihan adalah dengan menyegerakan melakukan apa yang bisa kita lakukan dari kelebihan itu.”
Mario Teguh

Quote bapak Mario diatas membuat saya merinding, kutipan itu mengingatkan saya pada diri saya sendiri yang kurang bersyukur atas kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan. Selama ini saya merasa kurang dan tidak memiliki apa-apa. Sahabat blogger mungkin ada sebagian yang merasa seperti saya, merasa kurang. Saya ingatkan kepada yang masih merasa kekurangan buang jauh-juah asumsi seperti itu,  karena di kehidupan kita yang sekarang Tuhan sudah melimpahkan kelebihan-kelebihan yang tidak bisa kita hitung jumlahnya, di kesempatan kali ini saya hanya ingin berbagi kepada sahabat blogger semua, sebagian kecil kelebihan dari Tuhan yang patut saya syukuri. Tidak bermaksud sombong atau riya’ hanya sesama mengingatkan bahwa sesungguhnya ada banyak hal yang patut kita syukuri dalam kehidupan yang sebentar ini. Berikut adalah ulasannya:

Sabtu, 13 Agustus 2011

Cuma Boneka!!!

"Punya kamu, saling merasa mempunyai. Tapi dalam diri saling menyakiti. Pantas, aku tak pernah melihat senyum dimatamu, tak melihat ia berbicara dan tertawa lepas. Hitam, dalam dan penuh misteri. Inikah yang kau sebut relasi, menghargai, menghormati. Bualan! Selama ini hanya aku yang selalu memberikanmu nyawa dalam hubungan ini, kau memang boneka akulah dalangnya, tapi aku bahagia. Tak perlu bertele-tele meminta nyawa kepada Tuhan. Memberikanmu sebuah cinta sudah beribu cukup.
Aku pernah memintamu menggandeng tanganku, menerima ajakanku, membalas senyumku, aku tahu aku GILA! Tanpa harus aku melakukan itu, aku tahu senyuman di wajahmu akan tetap begitu, datar, begitu datar sampai aku melihatnya dalam setiap musim yang kita lalui.
Aku ingin ini semua hidup, aku ingin menukarkan semua dan sisa hidupku padamu, agar nyawaku dan ragamu bersatu dalam suatu ikatan yang tak pernah lepas, dalam raga dan jiwa yang selalu bergandengan, aku bisa aku harus bisa menempuhnya bersamamu, “boneka”-ku, sahabatku, teman hidupku,”

Jumat, 12 Agustus 2011

Syair Malam: "Serenada Kesedihan"


Mendung, angin yang terasa menusuk: sepi. Ketika di sudut matamu kutemukan setitik bening, air mata. Mengisyaratkan ringkihan dahan di sela auman malam, mencekam tajam. Ingin ku kembalikan senyummu yang kini hilang, entah, aku tanpa daya. Menyentuhmu saja mustahil: kamu semu. Bayangmu terus menapaki setiap sudut pandangku. Dalam syair ini, kusandarkan lamunan diatas rumput dan pelukan rembulan.

Untukmu, pengisi relung hatiku.
walau semu, RATsemua harapan.

"Mungkin hanya lewat foto ini, tersirat semuanya.."

The 16th Birthday and the "Wish List"

Selamat saur sahabat blogger semua, dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Kemarin kerjaan saya di rumah cuman jeprat-jepret sambil megang laptop buat cari-cari bahan dan ide buat nerusin nulis novel. Bongkar-bongkar arsip dan isi brankas mbah Google, eh nggak tahu kenapa, melihat kata “wish” jadi keinget sesuatu.

Kepala saya muter tujuh keliling, keinget sesuatu yang penting dari kata wish itu, mungkin sindrome bulan puasa, otak jadi malas mikir dan isinya lemes melulu. Buka-buka catatan-catatan di hape eh ternyata nemu tuh yang namanya “Wish List” saya. [entah grammar-nya bener atau salah]

Catatan “Wish List” saya ini tercatat saya tulis pada tanggal 8 Juni 2011, tepat di hari ulang tahun saya yang ke-enam belas. Saat itu momen paling indah bersama sahabat-sahabat saya, pagi-pagi sekitar jam enam, ini nyawa belum balik ke peraduan, kamar udah muncul 3 orang, yang membawa kue ulang tahun blackforest berwarna plain brown.

Kaget bukan kepalang sekaligus senang karena baru ulang tahun ke-enam belas ini teman—sahabat—saya datang ke rumah pagi-pagi cuman buat ngerayain dan saya benar-benar tidak mengetahui apa-apa. Keceriaan tersebut berlanjut dengan acara peniupan lilin kecil-kecilan sambil menyanyikan lagu “Happy Birthday”


Kemeriaan nggak berhenti disana saja, tiba-tiba dari belakang, saya dilempari sama setumpuk tepung, sudah dasar muka jelek belum mandi, kena tepung jadi tambah menawan ancurnya. Kira-kira seperti ini bentuknya.

Yah, Back to the Topic. Tentang Wish List, daftar itu kami buat berempat sesaat setelah acara lempar-lemparan tepung usai. Capek. Eh nggak tahu kenapa buat kado tambahan mereka ngusulin buat ngebikin Wish List. Kata mereka, “Ah nggak papa untuk kenang-kenangan masa kelas X! Kan mungkin aja nanti kita kepisah kelasnya di kelas XI.”
Yah, jangan panjang lebar ini daftar Wish List kami:

Kamis, 11 Agustus 2011

Fotografi: Stiil Life [?]


Halo sahabat blogger semua, kangen nih. Oh ya kali ini saya mau nyeleweng sedikit dari jalur aman saya. Saya mau share hasil jepretan foto-foto saya, baru-baru ini saya tertarik sama yang namanya "fotografi". Saya sangat newbie di bidang ini, mungkin ada sahabat blogger yang udah lebih expert di bidang ini bisa dikomeng ini foto.

Ngomong-ngomong tentang foto, menurut saya foto adalah suatu klise dari potongan momen yang abadi, mungkin ingatan manusia bisa memudar tetapi foto itu abadi dan tidak akan memudar, oleh karena itu manusia butuh foto agar tetap bisa mengingat semuanya secara gamblang.
Nah, menurut advis sahabat saya Nisha—blogger juga. Kalo mau jadi fotografer nggak boleh makan makanan berkolesterol tinggi—kuning telur, dsb—menurutnya dengan banyak mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi tangan kita akan lebih sering bergetar ketika memencet shutter dan berimbas kepada hasil jepretan kita, entah tidak pas ataupun hasilnya blur.

Daripada banyak ngomong ngalor-ngidul, mending saya suguhin hasil jepretan saya pagi tadi, foto ini dikategorikan dalam "still life" [mungkin?] yang sudah malang-melintang di dunia fotografi mungkin bisa mengkategorikan foto-foto saya ini. Saya memotrek foto-foto ini dengan kamera digital SONY DSC W-220 CyberShot, silahkan menikmati:

Minggu, 07 Agustus 2011

Syair Pagi: "Rasa (Begitu Indah)"

Seperti riak air yang bergelombang, seperti daun yang tak pernah membenci angin, seperti itu pula rasaku padamu, tak luntur tak berubah tetap sama, sampai hilang senyummu dalam setiap kenangan.

This is spesial for you, RAT  

Sabtu, 06 Agustus 2011

Nightfall: The Element Location

Selamat malam pembaca, malam yang syahdu di bulang ramadhan ini, terdengar sautan ayat-ayat Al-Qur’an di sana-sini, membuat tangan ini tidak capek buat nulis. Oh ya pembaca, boleh sedikit berbagi nggak pembaca, saya udah mulai merambah dunia novel nih, dulu yang cuman cerpen, cermin, cerbung dan puisi sekarang udah mulai nyoba buat novel nih dan yang membuat acara buat novel ini seru yaitu bareng sama RAT. (baca= Saya Kembali Lagi dengan Abadi)
Tapi, topic of the night bukan itu. Saya mau ngeresensi novel. Udah lama banget nggak ngeresensi novel. Novel kali ini memang agak sedikit beda sama novel-novel sebelumnya yang saya resensi, yah genrenya berbeda. Fantasi. Novel ini saya temuin pas lagi ngubek-ngubek rak novel fiksi di perpustakaan sekolah berikut ada ulasan kejadiannya,

A sebagai Mbak A—Mbak Agustina—librarian.
R sebagai saya Andaka Rizki Pramadya.

R: Pagi mbak A!
(Mbak A noleh dan langsung sumringah)
A: Pagi juga, tumben pagi-pagi udah kesini Ka?
R: Iya nih, dapet tugas BI, disuruh cari novel.
A: Oh, tuh masih banyak yang nungguin kamu baca.
(Ngubek-ngubek rak novel fiksi sambil melingkarkan jari membentuk huruf O)
A: Mbak A, Nightfall-nya dipinjem ya?
R: Engga deh kayaknya Ka, tuh-tuh (nunjuk ke arah rak nomor 2)
A: Oh ya mbak, maaf Sindrome Silinder!
R: Apa’an lagi itu Sindrome Silinder? Mau pinjem Nightfall lagi?
A: Bahasa baru mbak A, haha iya buat tugas Bu Hariani—guru Bahasa Indonesia.
R: Siip, kembaliin minggu depan jangan telat lagi.
A: Oke.

Jumat, 05 Agustus 2011

Saya Kembali Lagi dengan "Abadi"

Halo sahabat-sahabat blogger, sudah lebih dari tiga minggu saya tidak posting dan tidak update blog. Kangen rasanya, tapi keadaan dan waktu nggak mengizinkan saya untuk kembali ke dunia per-blogger-an ini. Hanya hari ini dan mungkin tidak akan seproduktif dulu. Mungkin hanya dua atau tiga kali seminggu saya akan posting. Ya segala sesuatu yang dijalani bebarengan harus ada yang mengalah dan harus ada yang di prioritaskan bukan?

Kelas XI IPA, ternyata gak sesimpel dan gak semudah tulisannya yang hanya terdiri dari tiga huruf—I, P dan A. Banyak hal yang harus saya kuasai dan handle sendiri dan terpaksa saya harus ngorbanin blog saya ini. Tapi karena menulis adalah satu dari kepingan jiwa saya, tidak mungkin saya bisa menghilangkan kata MENULIS dalam kamus hidup saya.

Untuk pembukaan, saya akan memposting puisi terbaru saya. Wah agak narsis, siapa juga yang mau lihat coba? hehe.
Puisi ini lahir baru saja, baru saja saya ketik seusai jum'atan ketika saya sedang sendiri di teras atas rumah. Sendiri, sepi tapi fikiran ini tidak dan puasa tidak menghalangi saya untuk tidak memproduksi karya sastra.
Puisi ini terinspirasi dari seorang gadis, gadis berinisial RAT. Gadis yang pernah ada dan saat ini masih akan dan akan terus ada di hidup saya. Walaupun kedekatan kami tidak seintens dulu. Ini puisi "simple" bertajuk "Abadi" yang mungkin setiap orang yang membaca mengerti apa maksudnya:


Aku pernah mencintaimu, aku pernah mendambakanmu..
Aku pernah impikanmu jadi milikku..
Tapi aku tepis semua itu, karena itu adalah AMBISI

Aku pernah cemburu jika kau dekat lagi dengannya,
Aku pernah melarangmu kembali dengannya,
Tapi maaf jika caraku salah, aku sadar itu NAFSU

Aku pernah jatuh karena kamu, karena sikapmu
Aku pernah terbang ke angkasa, itupun juga karena kamu
Dalam hati ini, aku kembali terjaga itu KELIRU

Kini, lagi-lagi aku menatap cermin dan kembali memotivasi diri
Kau bukanlah milikku, dan tak akan menjadi milikku!
Aku tahu aku hanyalah SAHABAT yang selalu ada untukmu.
Pundakku pernah jadi tumpuhan kepalamu
Tanganku saksi bisu di setiap lelehan air matamu

Kini, kembali dan kembali..
Aku tersadar, betapa kau sangat berarti.
Aku tak ingin kau tahu, rasaku padamu.
Aku hanya ingin kau tahu, kita bersahabat dan tak punya cinta diantaranya.

Aku tak ingin menorehkan sedikit pun luka di hatimu.
Karena rasaku padamu tak pernah beradu, hanya berlabuh.
Sebuah ketulusan, dalam hati. Walau sakit..

Biarkan semua seperti air,
Mengalir dari hulu ke hilir,
Walau kadang tak jernih, aku ingin selalu jadi bayanganmu.
Yang ada di sampingmu, di setiap langkah mungilmu.
Walau kau tak pernah anggap aku, sebagai BAYANGANMU.

Karena cinta ini tulus,
Karena sayang ini murni,
Karena semua rasaku padamu, abadi..

Semoga sahabat-sahabat sekalian menikmati puisi saya ini dan saya ucapkan pada diri saya sendiri, "SELAMAT DATANG KEMBALI KE DUNIA BLOGGER" salam sejahtera. :D