Selasa, 24 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 10 (Selesai)

Firefly, sang pembawa keajaiban
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

“Milyaran tanah jarak kita,
tak jua tumbuh sayapku,
Satu-satunya, cara yang ada,
gelombang tuk’ ku bicara.”
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun


Nafasku berat. Aku terbangun, aku bertanya-tanya. Dimana ini? Masih di rumah sakit dan di kamar yang sama. Di mulut dan hidungku ada satu cup besar yang menutupinya, membuat nafasku berat.

Abi tertunduk di ujung ranjangku, tertidur mungkin. Matanya terpejam tapi tak benar-benar terpejam. Ini sudah sore, biasan cahaya oranye menyembul dari kelambu hijau yang menyekat ranjangku. Aku mencoba untuk berbicara, tak bisa.

Aku seperti bayi lagi, hanya bisa berkata, “A”, “I” dan beberapa huruf vokal lain. Tangan kiriku juga di perban sangat kuat. Aku tak bisa menggerakkannya—atau memang tangaku diikat di ranjang?

Abi terhenyak melihat ranjangku bergerak sedikit. Ia bangun dari tidur singkatnya.

“Gilang,” katanya sambil mengusap kedua matanya yang menghitam dan berkantung.

Aku menatapnya, tapi tak ingin. Entah kenapa di dalam hatiku aku malu pada Abi, pada almarhum Umi terlebih kepada Kinan yang pernah membuatku percaya pada keajaiban. Aku tak bisa melihatnya jelas, hanya siluet hitam diantara latar belakang keoranyean yang bisa tertangkap pandanganku. Tapi, aku bisa melihat kekecewaan dari sudut matanya yang mengantuk. Ya, aku bisa melihat suatu ironi diantaranya. Aku tahu, Ia pasti kecewa. Tapi bukankah ini sudah terlalu jauh untuk diselali lagi. Sudah terjadi.

“Gilang, apa kau sudah sadar?” tanyanya sambil menggenggam tangan kananku yang tak diperban erat.

Mataku memang tak senormal dulu berkedip. Mungkin hanya dua tiga kali dalam semenit dan Abi tak bisa menangkap kedipan mataku itu.

“Aa..” jawabku terbata.

“Gilang, kau sadar Gilang.”

Ia sedikit berteriak, lalu melepaskan genggamannya dan berlari keluar kamar. Untuk apa? Entahlah. Lalu pintu kamar dibuka tanpa aturan dan masuk seorang dokter dengan masker di mulutnya. Dua orang suster yang membawa tensi dan alat kedokteran lain yang aku tak tahu namanya mengikuti dari belakang.

Mereka bergantian mengangkat tanganku, lalu meletakkan stetoskop di dadaku. Dokter dengan jas putih itu mengangguk kepada Abi, seperti tersenyum, buram.

“Gilang, apa kau bisa melihat Abi?”

Aku bisa mendengar perkataan Abi dengan jelas kali ini. “Iya” lalu aku coba untuk menggerakan tangan kananku. Abi meraihnya.

“Gilang, maafkan Abi.”

Untuk apa Abi? Untuk apa? Aku ingin mengucapkannya keras-keras tapi kelu di lidah ini mementalkan niatku tadi.

Abi meneruskan ucapannnya, ia tahu aku tak mungkin menjawabnya di kondisi seperti ini. “Abi minta maaf atas semuanya. Abi selama ini hanya hidup dalam ilusi tak mau menerima kenyataan.”

Lidahku memang kaku dan tak berkata tapi mataku berbicara padanya, tajam seperti biasa. Genggaman tangan Abi masih terasa mencengkeram di tanganku, ia seperti ingin mengatakan sesautu yang selama ini ia pendam. Mungkin sudah tak muat lagi ditampung sendiri olehnya.

Ia menunduk, masih menggenggam tanganku. Tubuhnya terguncang. Menangiskah? Abi menangis? Sosok Abi yang keras kepala itu menangis. Abi mengusap air matanya yang sedikit tumpah di pipi lalu ia tersenyum dan menggodaku.

“Hey, bukankah Abi yang selama ini mengajarkanmu untuk tidak menjadi cengeng, kenapa Abi jadi secengeng ini di depanmu?” katanya lalu tertawa berat.

Aku menyunggingkan senyumku sedikit, untuk sekedar senyumpun susah. Ia menangkap senyumanku dan melanjutkan perkataannya lagi.

“Abi selama ini bukan tak pernah sayang padamu, Gilang. Tapi Abi hanya tak ingin kau menjadi seperti Abi di masa muda.”

Maksud Abi.

“Saat Abi muda dulu, saat masih aktif menggambar karikatur untuk sindiran-sindirin jaman orde baru waktu itu, Abi adalah sosok yang tak tahu malu dan sedikitpun tak bisa diatur bahkan oleh almarhum kakek dan nenekmu.”

Ia mengambil nafas, sepertinya masih tersedak di laringnya, aku bisa mengerti setertutup apakah Abi. Mungkin bagi intovert seperti Abi itu hal yang sangat sulit, bahkan untuk menceritakannya empat mata denganku.

“Sebelumnya Abi tak pernah bercerita pada siapapun, bahkan pada mendiang Umimu.”

Aku mengangguk yakin, sungguh aku ingin mengerti sisi terdalam dari Abi—yang notabene sampai detik ini aku tak pernah tahu seratus persen, meskipun ia ayahku.

“Abi bisa dikatakan, em, mantan napi, tapi bukan benar-benar napi,” ia menjeda ceritanya lalu menyeruput segelas kopi instan yang ia beli di mesin di depan kamar. “Ya, Abi pernah tersandung kasus pencemaran nama baik karena gambar Abi. Dan Abi sempat dipenjara beberapa minggu.”

Abi menyeruputnya kopi hitamnya lagi, ia seperti menghabiskan banyak energi untuk menceritakan masa lalunya yang kelam.

“Saat itu kakekmu berusaha mati-matian untuk membebaskan Abi dari penjara, dengan menyewa penngacara, banding atas vonis lima setengah tahun hukuman kurungan. Sampai pada akhirnya pejabat yang melaporkan Abi mencabut tuntutannya. Abi tak tahu mengapa, lebih tepatnya apa pejabat-pejabat eksekutif itu punya hati nurani untuk melepaskan Abi?”

Aku membalas genggam tangan Abi kuat-kuat. Abi bisa merasakan luka yang dulu sudah ditutup rapat sekarang dibuka kembali dengan paksa, sakit, sangat sakit.

“Setelah beberapa hari pembebasan Abi dari penjara. Kakekmu meninggal karena sudah beberapa bulan tak menjalani terapi rutin pasca operasi pengangkatan kanker kelenjar getah bening di lehernya. Parahnya Abi tak merasakan sedikit kesedihan akan hal itu, sampai Nenekmu bercerita, tentang uang terapinya yang digunakan untuk membayar pejabat itu agar melepaskan Abi.”

Di sudut matanya tergenang lagi, mungkin kali ini lebih banyak tapi tak ada yang jatuh.

“Rasanya seperti ditampar keras-keras. Secara tak langsung Kakekmu meninggal karena Abi dan mulai saat itulah Abi jadi tertutup seperti ini, sampai detik ini. Beberapa hari setelah itu aku terus mengurung diri di dalam kamar untuk meneruskan pekerjaanku, aku ingin membayar semuanya tapi itu sia-sia.”

Hening. Detik-detik di jam dinding yang berdenting sampai menyeruak dan terdengar di telinga kami.

“Sampai suatu hari saat suara barang pecah di dapur dan Abi melihat Nenekmu sudah di lantai dengan piring yang sudah tak berbentuk. Abi melihat darah keluar dari mulut Nenekmu dan ketika aku berada di rumah sakit, dokter memberi-tahu bahwa Nenekmu mengidap kanker paru-paru akut yang sudah menjalar ke jantungnya. Ia sudah tak bisa selamatkan lagi, begitu kata dokter.”

Jantungku seperti tak berdetak beberapa detik. Sekelam itukah, Bi?

“Abi pasrah dengan takdir Tuhan, Gilang, kalaupun Ia mengambil Nenekmu Abi sudah pasrah. Tapi Abi tak serta merta menerimanya. Dan hal itu terjadi, tepat 24 November 1963, Nenekmu meninggal. Masih segar di ingatan Abi kejadian yang menampar Abi untuk yang kedua kalinya. Abi seperti manusia tak berhati, bahkan untuk taraf orang tua Abi sendiri, Abi tak pernah bsia perduli.”

Sudah cukup Abi aku tak bisa mendengarnya lagi. Percuma, aku tak bisa berbicara, Abi tetap melanjutkannya.

“Abi sebatang kara, tetap menjadi karikaturis untuk menyambung nyawa Abi, sendirian. Rumah mereka sampai Abi jual karena kehabisan uang. Sampai suatu ketika, Abi bertemu Umi di salah satu pameran karikatur di Jakarta. Pertemuan Abi dengan Umi tak terduga, saat kami berdua saling mengomentari karikatur A. Sibarani tahun 1965 yang baru saja ditandangkan dari Perancis, beliau adalah karikaturis Indonesia yang karyanya terkenal sampai Perancis. Kami berdua terlibat dalam perdebatan yang begitu hemat dan membuat Abi kagum atas sifat sosialis globalis yang tertanam dalam jiwa Umimu.”

Aku tak bisa berkata apapun, mungkin sebaiknya aku tetap mendengarkan cerita langka ini.

“Umimu adalah satu titik balik besar di kehidupan Abi. Merubah segala hal yang salah dalam hidup Abi dan memberikan satu semangat tersendiri untuk tetap melanjutkan hidup Abi yang tinggal sepotong. Umimu adalah seorang koleris yang tak pernah gampang dipatahkan semangatnya. Ia membuat Abi terpacu untuk melebihi semangat membaranya. Kedekatan kami ini akhirnya berbuah pernikahan sampai kecelakaan itu merenggut semuanya, lagi.”

Ia menghela nafas setelah cerita pajang menyayat hati itu, kukira ini sudah berakhir tapi Abi masih punya beberapa hal lagi yang ingin ia luapkan padaku.

“Umimu adalah keajaiban dalam hidup Abi dan Tuhan mengambil satu-satunya keajaiban yang Abi punya dalam hidup Abi, lagi. Kenapa Tuhan selalu merusak, bukan malah membuatnya lebih baik. Sekarang, Tuhan merusaknya lagi tapi tak benar-benar menghancurkannya. Ia hanya membiarkannya retak tak pecah berkeping-keping.”

“Abi, Tuhan selalu punya jalan untuk hambanya yang berusaha kan,” jawabku terbata, bibirku masih terasa tebal mungkin karena efek obat bius.

“Tapi, semua fragmen hidup ini mulai tertata dan tak acak lagi. Abi beberapa waktu ini terus berfikir tentang cara Tuhan menyadarkan Abi. Tentang jalan Tuhan yang baik tapi Abi anggap salah dan keliru. Abi sekarang sudah tahu jawabannya Gilang, jawaban dari semua kejadian di hidup Abi.”

Dahiku mengernyit, aku tak mengerti apa yang Abi maksud. “Apa, Bi,” tanyaku, masih tersempurna.

“Abi sadar Gilang, sikap Abi selama ini padamulah yang keliru. Abi sadar bahwa hadiah terindah dari Umi terlebih dari Tuhan untuk Abi adalah kau, ya kau Gilang anak Abi satu-satunya. Kau adalah keajaiban dari Umi untuk Abi. Kau adalah anugerah yang tak pernah Abi anggap. Kau adalah mutiara yang selama ini Abi anggap sampah.”

Epilog percakapan Abi ini membuat hatiku tak karuan, terharu. Aku kini dapat melihat implikasi dari semua ini, mungkin tak selamanya buruk dan cacat. Abi membuat aku percaya lagi bahwa keajaiban itu ada dan nyata. Mungkin, lebih layak disebut Tuhanlah yang membuat kami percaya lagi bahwa keajaiban itu selalu ada disetiap peristiwa yang terjadi di hidup kita.

Lima hari setelahnya, aku sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tapi ini titik ubah dalam hidupku, aku keluar dari rumah sakit tak sendirian. aku keluar dengan kursi roda yang diberikan Abi atau lebih tepatnya, keluar tanpa kaki yang berfungsi normal. Aku lumpuh.

Tapi itu tak merubah apapun, semua sudah sempurna di hidupku, ada Abi dan hidup kami yang saling mengisi. Toh, dengan atau tanpa kaki pun hidupku dan Abi tetap sama: Penuh dengan keajaiban.

“Tuhan tak pernah merencanakan takdir yang salah, hanya terkadang manusia yang sering ‘menyalahkan’ takdir yang digariskan, sebelum ia tahu maksud dari takdir yang Tuhan gariskan.” - Andaka Pramadya

- S E L E S A I -

10 komentar:

  1. aku jadi orang pertama yang baca yeeey *baca dulu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. pesan moralnya nyampe banget dakaa. aaaah :'(

      Hapus
  2. *standing applause*
    keren..keren banget x'D good story with a good ending, dapet banget pelajarannya :')

    BalasHapus
  3. Ternyata itu maksud bang daka, sebenernya petunjuk yang bang daka kasi itu sudah jelas banget >.< Cuma gak kepikiran aja akunya --" Cerbung selanjutnya aku telaah lebih baik bang hahaha mengenai diksi gak perlu dikomentari lagi, aku suka :D *bernafsu liat cerbung selanjutnya :D*

    BalasHapus
  4. daka, cuma mau tanya, gimana caranya kamu mikirin 10 postingan ttg cerbung ini ? udah dikonsep dari awal sampe akhirkah kah ? atau idenya baru muncul setelah mau mosting ??
    hahaha


    ending yang SUPER !! :')
    aku suka kalimat terakhirnya :)

    BalasHapus
  5. Wah, cerita masa lalu Abi menarik. Tersentuh gue,. Good job.. :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: