Jumat, 27 Januari 2012

Siluet Merah dan Hitam

Creepy?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing


Mereka, dua siluet merah dan hitam. Kadang memisah kadang terpaut samar. Kadang semua buta, melihat semuanya baik-baik saja. Mereka saling menampar, memaki dalam diam. Mereka meludah dan diludah dalam percakapan hangat. Mereka munafik!

“Hei, kau satu-satunya sahabatku!” kata si Merah dalam sandiwara.

Aku tahu, Merah, ia mencakar wajah Hitam diatas tangannya penuh nanah. Geraknya tak terlihat tetapi sangat nyata! Ia nyata, benar-benar nyata, tapi semua buta. Mengapa hanya aku yang bisa melihatnya?

“Kau, juga sahabat terbaikku,” senyum si Hitam menyembul di sudut lesung pipitnya, tak tulus. Dan aku melihatnya lagi.

Ia menusuk silet kecil dan membakar kenangannya, Hitam, dengan kepura-puraannya yang rapih dan terarah. Mereka lagi-lagi sama-sama tak mengerti bila saling berperang. Membawa jiwa-jiwa marah mereka pada satu kamuflase apik. Mereka seorang pionir yang piawai.

Lagi-lagi, kenapa hanya aku yang melihatnya? Kenapa kalian tidak? Lihatlah kemunafikan mereka. Jalan bergandengan tangan, tapi di erat genggamannya terdapat luka yang menduka, tajam. Dalam kemunafikan, siluet Merah dan Hitam. Kelam dan membakar.

14 komentar:

  1. buseet bahasa nya,gue suka banget dah ,jadi intinya mereka itu munafik? cuma itu yg bisa gue tangkap dr tulisan lu ini daka,hehehee

    BalasHapus
  2. kereeen!!
    follow ahh :D
    salam kenal dari Jejak Si Miaw :-) ^^

    BalasHapus
  3. warna yang cocok ya untuk saling menusuk :)

    BalasHapus
  4. Kebanyakan org emang bertopeng, hanya sbagian yg bs melihatnya, dan bersyukurlah bagi yg bs melihatnya, agar dia tak tertipu akan tipu dayanya...
    Nice story,aku suka gaya bahasanya :D

    BalasHapus
  5. Dalam kemunafikan, siluet merah dan hitam, kelam dan membakar. Gue suka kata2 ini. :)

    BalasHapus
  6. setdah. perumpamaan yang mantep daka.
    hitam dan merah saing bergandengan diantara kemunafikan


    selalu cinta sama tulisan2muuuuu :*

    BalasHapus
  7. Hanya segelintir orang yang bisa melihat sandiwara hidup, tapi yang jadi pertanyaanku kenapa harus dalam bentuk kemunafikan persahabatan? Bukankah dalam persahabatan itu lekat dengan ketulusan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terkadang demi sesuatu, ketulusan itu dilupakan dan akhirnya hanya di bibir saja :)

      Hapus
  8. Siluet Hitam & Merah,,
    biarkan mereka tetap 'bercermin' seperti itu...

    Bukankah 'sepasang' itu saling menggambarkan sifat 'pasangan'nya ...


    *ga Je saya* hhe

    BalasHapus
  9. Orang lain bersandiwara tapi aku berani apa adanya :D haha
    *eeeh biasa nya putih sama merah andika, but it's oke lah .. kan tulisan lo .. kwkwkw

    BalasHapus
  10. knp uda pake kamera keren masii masuk ke photoshop juga..?!!?

    BalasHapus
  11. jadi inget film 49 Days :))

    "menusuk dari belakang. Padahal mereka sahabat"

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: