Minggu, 05 Mei 2013

Miss Marple dan Sekelumit Kisah dari Whitby


Kemarin di Whitby seorang lagi hilang. Tercatat lima orang hilang dalam setahun terakhir. Opsir sudah melacak tapi hasilnya masih ganjil. Semua hilang tanpa jejak yang bisa dilacak. Polisi terus mencari...
--Headline Harian Whitby

Setelah menulis catatan hariannya, Rudolf pergi tidur dalam diam. Ia tinggal sendirian di sudut kota. Tepat di depan dermaga besar yang setiap pagi hingga malam selalu sibuk dengan aktivitas bongkar muat. Tiga puluh menit sejak ia menarik selimut sampai ke dadanya, Rudolf masih terjaga. Matanya memang terpejam, tetapi jantungnya masih memompa kenjang juga otaknya masih aktif meloncat-loncatkan neuron.
Lalu apakah hari ini tuanku Count akan datang? pikirnya dalam hati.
Malam yang panjang bagi Rudolf, karena hingga lewat tengah malam tubuhnya tidak sedikitpun berkompromi untuk tidur. Di dalam otaknya hanya ada tuannya yang datang bersama kabut lewat lubang pintu hingga kemudian membuatnya tidur dalam keabadian.

Sabtu, 04 Mei 2013

Lima Menit untuk Memaafkan

BERDASARKAN CERITA NYATA, TITIPAN SEORANG KAWAN.

Kau tahu di dunia ini ada hal paling indah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Mereka dapat kau lihat, mungkin juga kau dapat rasakan. Bekas hujan di atas tanah yang menggenang, ditambah terpaan sinar matahari menjelang siang, jika kau beruntung kau dapat bercermin di atasnya.
Detik jam seperti tak berjalan di angka sembilan. Tidak ada yang dapat kulakukan hari ini, tidak sekolah karena ini adalah hari-hari pasca ujian dan menunggu kelulusan. Di ruang tamuku hanya ada beberapa tumpuk novel dan gadget yang sedari tadi klak dan klik.
Di ambang pintu aku melihat bayangan diriku sendiri di atas kaca yang memantulkan pelangi sehabis hujan. Samar kulihat di sana—di sampingku—ada sosok yang kukenal, ya dia. Dia... maafkan aku. Hujan turun lagi dan perlahan-lahan siluet samar yang sangat kukenal itu menghilang di balik gerimis.
Jujur, aku merindukanmu. Jujur, sesungguhnya aku tak pernah sekalipun menyalahkanmu atas semua ini. Kau sudah sangat baik, sampai detik ini tak ada niatan di dalam hatiku untuk sekalipun membencimu.

*

Selasa, 30 April 2013

Gadis dalam Cermin (16)

"Selalu ada jalan pulang,
selalu ada pusara untuk keluar,
demi setetes darah yang pernah kau korbankan,
Percayalah."

Sudah berhari-hari ia tertidur di antara kabut merah yang tiba-tiba menggeliat di atas lantainya. Lucy tak tahu apa yang membentur kepalanya ketika dunia serasa berputar-putar tadi. Lampu redup di langit-langit masih berada di sana. Meja, kursi, tempat tidur, dan lemari juga masih pada tempatnya. Jadi apa yang membuatnya pingsan? Rasanya bagaikan jet lag.
Aku di mana? Ia bertanya dalam hati.
Di mana Mady? Tanyanya lagi.
Tata ruang kamar ini persis sepeti kamarnya di Santa Mondega, tetapi mengapa seluruh pandangan matanya jadi merah gelap, lalu cahaya redup dari atas lampu juga memerah seperti mata serigala yang sedang marah di tengah malam. Cermin di depannya yang setiap hari selalu dibersihkan dengan pembersih kaca oleh Lucy tiba-tiba menjadi penuh debu dan usang. Lucy melontarkan pertanyaan yang sama kembali dalam hatinya, Aku di mana?

Selasa, 19 Februari 2013

Batu di Depan Pot Mawarku

"Aku melihat berlian! Kamu? Pasti berbeda!"
Taken with Canon EOS 550D | 18-55mm | Aquamarine Picture Style
Beberapa hari ini rasanya langit selalu kelabu, sinar seperti malu menembus awan-awan itu. Tanganku berusaha mencapai kumpulan cumulunimbus di atas sana walau tak mampu meraihnya.
Sudah mulai senja, kulihat mengintip sedikit surya keoranyean dari ufuk-ufuk. Dan rasanya sudah lama sekali aku tertidur dan tak ingin terbangun. Ada banyak pertanyaan yang selalu muncul di benakku saat aku lelap tiba: Apa aku benar-benar tidur? Apa aku selalu bermimpi? Apakah hal yang selalu kuimpikan sama? Lalu... di manakah sesungguhnya dunia nyata itu? Di tempat biasa aku bermimpi atau di alam ini?
Ah sudah. Aku banyak bicara, membuang energi saja. Sebanyak apapun aku berbicara, takkan ada yang mau menjawab. Bahkan untuk mendengar saja pun tak ada.
“Hai, apakah kamu batu?”
“Ya aku batu. Lalu kenapa kamu menyapaku?”
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya kagum melihatmu terseok di depan pot mawarku.”
“Tunggu dulu, ‘terseok di depan pot mawarku’ benar? Lalu apa yang membuatmu mengagumiku? Aku hanya batu.”
“Mungkin hanya batu. Tapi dari dirimu aku belajar.”
“Ah, naif kau. Belajar dari seorang batu adalah pekerjaan orang yang tak pernah belajar.”
“...”
Percakapan terputus. Koneksinya berakhir. Aku sadar lagi.
Aku baru saja mengobrol. Kau tahu, dengan seonggok batu di depan pot mawarku. Tidakkah aku hebat? Atau gila? Haha, siapa peduli. Yang kembali muncul di otakku adalah aku sedang bercakap dengan batu atau dengan bagian lain dari diriku. Cukup, cukup sekali aku terlihat bodoh di depanmu yang tak pernah menjawab bahkan mendengar setiap ocehanku.

Kamis, 03 Januari 2013

Biru (Karena Mimpi Kita 'kan Hadir Bersama Hujan)

Halo sudah terlampau satuan masa sangat lama saya tidak menulis lagi di blog ini, mungkin banyak pembaca yang mengira saya "cuti" untuk menulis. Nyatanya tidak. Bahkan asumsi seperti itu salah besar. Saya berhenti menulis di blog karena satu misi. Ya karena saya dalam proses menulis novel, lebih tepatnya novel perdana saya. Saat saya menulis lagi di blog ini tandanya saya telah menyelesaikan proyek pertama saya itu. Baiklah langsung saja ini adalah novel perdana saya, berikut dengan sinopsisnya.

Biru,
sebuah novel oleh Andaka Pramadya
(belum rilis)