Jumat, 06 Juli 2012

Yuwana Mati Lena

FlashFiction ini diikut sertakan dalam proyek nulis bareng peduli bareng 67 Cerita untuk Indonesia

Sebelum negeri ini pernah merdeka, aku sudah memiliki ikrar di atas tanah Jawa. Mengalungkan janji di bumi pertiwi; bahwa kita akan menjadi dua peranakan Indonesia yang kelak jadi tumpuan semesta. Biyung, namanya. Ia mendapatkan nama itu karena Biyung terlahir tanpa rengkuh kokoh seorang Bapak. Tinggi tegap, kulitnya senada dengan alur petak sawah, hitam terbakar. Aku mengenalnya saat kami mulai belajar mengarak meri dan kerbau. Setiap senja berkerudung pulang, aku dan Biyung duduk bersebelahan menunggu matahari menghitam. Pernah suatu saat ia bertanya padaku, mengapa kulitmu begitu berbeda? Sejujurnya aku tidak tahu mengapa. Ibuku pernah bercerita tentang salah satu tokoh dalam babat Jawi, Hanoman. Seekor kera putih yang membawa Shinta kembali dari kerajaan Rahwana. Ibu bercerita tentang pertemuannya dengan Hanoman. Katanya, sang Hanoman yang besar dan bungkuk itu memberinya satu kantung berisi bayi laki-laki dan itulah aku. Seiring bertambahnya umurku, aku dapat mencerna satu mitos itu menjadi lebih logis. Dalam ilmu pengetahuan alam yang kupelajari di sekolah dasar, anak manusia lahir dari bertemunya dua kelamin, bukan lewat mimpi.
“Ibu mengapa aku berbeda?”
Ibu mengusap keringat dengan lengan dasternya. Tetap tersenyum walau kutahu pertanyaanku  membuat “benteng” yang ia bangun selama ini runtuh. Saat itu aku berumur lima belas. Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang berbeda dan terkutuklah mereka yang selalu membedakan satu manusia dengan yang lain, kata Ibu dengan ekspresi datar.
Aku tak pernah mempersalahkan hal itu, sejujurnya. Tetapi warga desa selalu mencibir aku dan Ibuku setiap pulang membeli kangkung. Selalu begitu. Apa yang salah dengan perawakan jangkung dan kulitku yang putih? Apa ini satu kutukan? Lalu, tahun-tahun semakin cepat berlalu. Dua hari sebelum Ibu wafat, Ibu menceritakan satu hal tentang peristiwa sebenarnya. Membuat nafasku tercekat beberapa detik.
Ibu mengatakan bahwa aku bukan anak dari dirinya dan Bapak. Satu tahun sebelum rengek tangis keluar dari bibir tipisku, Bapak tewas dihunus pucuk senapan kumpeni. Rodi masih gencar berlaku kala itu, sebut Ibu. Kumpeni selalu berlaku semena-mena ke semua warga tak terkecuali Ibu. Setiap pagi, para wanita nggarap sawah dan ketika bulan mulai melagu dengan gelap, Ibu adalah “budak” para kumpeni, katanya. Derai air mata deras keluar dari kedua bola matanya tanpa kutahu mengapa. Apa yang salah menjadi budak di rezim Belanda? Itu lumrah. Aku mengatakan, Ibu jangan menangis tidak ada yang salah dengan para kumpeni itu, takdir bangsa ini. Ia menyanggah. Katanya, takdir bangsa ini adalah dijajah kumpeni memang, tetapi bukan takdirmu mengalir darah kumpeni bejat itu di darahmu.
“Aku tak perduli lagi Ibu, tidak perduli darah kumpeni ada di sini,” kataku menunjuk nadi yang berdenyut di pergelangan tanganku. “tetapi di sini,” tanganku yang satu mengarahkan telunjuk ke dada, “tetap ada sejumput tanah basah, tanah dari bumi pertiwi kita ini Ibu, Indonesia.”
Ia terenyuh mungkin akan ucapanku, Ibu selalu diam setelah itu. berhari-hari diam, bahkan sampai jalan makanannya pun kering. Entah atau takdir (lagi) atau Ibu yang menginginkannya. Malam rabu, hujan deras, sudah kusiapkan jahe hangat untuknya. Ibu bergeming diatas pembaringan, mengahadap kiblat. Mungkin sholat, pikirku. Tapi berjam-jam tak ada tanggapan dari tubuhnya, aku panik, kupanggil Biyung. Ia pernah belajar tentang dasar-dasar pertolongan pertama pada mantri kawan Ibunya. Katanya, ibumu wafat. Jika kau berada dihunus pedang dan peluru bersarang di otakmu seketika, mungkin begitulah aku mendiskripsikan perasaanku saat Ibu tiada. Aku tidak bisa menangis, kata Ibu menangis itu lambang kelemahan, seorang lelaki tidak pernah menangis untuk alasan apapun.
“Aku berjanji, setelah pagi ini kita akan bertemu lagi di pagi yang lain,” aku mengatakannya pada Biyung sehari sebelum aku memutuskan pindah dari desa kecil tanpa nama ini.
                Biyung tidak pernah mau menjawab secara terang-terangan. Selalu mengumbar sarkasme yang begitu dalam akan rencanaku. Katanya, bukan karena kulitmu yang berbeda menjadi satu-satunya alasan kau membuang tanah kelahiranmu. Aku selalu menolaknya, aku pintar membuat alasan bahkan untuk seorang lulusan SD seperti Biyung. Dan hingga pada akhirnya, ia mengaku kalah, aku pergi dari tempat ini dengan atau tanpa persetujuannya.
                Tidak penting sekarang bagaimana aku meraih kesuksesan ini. Yang terpenting aku tidak pernah melupakan bagaimana dulu desa tanpa nama membesarkanku dan mendidik mentalku menjadi sekuat baja. Tentang Ibu yang selalu menjadi tumpahan lelahku, dan tentang Biyung. Dan seperti apakah ia hari ini? Tiga puluh satu tahun berlalu, sekarang negeri ini sudah merdeka. Aku tak bisa lagi memandang hamparan ilalang yang mengoranye seirama dengan warna senja yang biasa kupandangi bersamanya dulu. Desa kecilku itu sudah diapit jalanan aspal dengan neon merah-hijau-ungu yang kerlap-kerlipnya menyalahi bintang. Tetapi, masih bisa jelas kukenali bau rerumputan basah yang aku tanamkan dalam hati, tentang bagaimana warganya hadir bersama-sama menenun sungai. Walaupun pernah satu masa mereka menghardik karena aku berbeda, sungguh aku tak pernah menyimpan dendam di hati kepada mereka.
                Menurut salah satu wanita bungkuk yang kutemui di jalan. Katanya ia mengenal Biyung. Tetapi aku tak bisa menemuinya saat ini. Kutanyakan mengapa. Wanita itu menggeleng lemah. Kutanyakan sekali lagi, mengapa aku tak dapat menemui Biyung. Kali ini ia diam, balik menatap mataku. Wanita ini hanya menjawab dengan arah penunjuk jalan yang menuju ke sebuah gubuk di atas bukit. Biyung ada di sana, katanya.
                Tak perlu satu atau dua kecepatan cahaya untuk menjelaskan. Kutemui kawan masa kecilku itu. Sudah seperti apa sekarang dirinya, banyak gambaran-hitam-putih mengalir di otakku sebelum aku tahu seperti apa dirinya saat ini. Dan, hal itu membuatku harus mentah-mentah membuang kilasan bayang indah. Biyung yang sekarang hanyalah pria renta, duduk di dipan teras rumahnya sendiri, tanpa istri bahkan. Satu tangannya terlihat menyatu dengan mata rantai. Sesekali ia memandangku yang heran, Biyung malah tertawa dan berkata, bunuh kumpeni! Untuk sejuta alasan, kali ini aku memang lemah, katakan saja. Aku menangis memeluk kerabatku, memeluknya dalam tangis yang beku tak kuasa menatap dirinya yang kurus kering hidup menyendiri. Di belakang pelukanku ia terus berteriak-teriak, menghujat, menghina kumpeni. Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, merdeka, katanya.
                Percuma aku membuka percakapan dengannya. Dialog yang ia lagukan tetap sama: Bunuh kumpeni, usir dari bumi pertiwi, dan merdeka. Tapi, dalam hati kecilku aku masih berharap ia mengingat ikrar kita di tanah Jawa ini. Tentang bagaimana impian kita menumpu semesta bersama-sama. Saat aku akan pergi dulu, aku pernah berjanji juga padanya. Aku akan kembali pada suatu pagi di lain hari, dan sekarang janji itu kutepati meskipun bukan dengan Biyung yang kukenal dulu. Di akhir cerita ini, aku menyesali kepergianku saat itu. mungkin jika aku tidak pergi semua ini takkan terjadi. Aku mungkin masih mengenal Biyung dan Biyung akan tetap menjadi orang yang sama.
                Dan satu yang ingin kukatakan padamu Biyung, aku tak pernah lupa akan tanah kelahiranku ini. Indonesia akan selalu dan selamanya berada di sini, di hatiku, termasuk engkau, Ibu, dan lembah ini. Yuwana mati lena: Orang baik menemukan naas karena tidak hati-hati. Seperti aku, sempat pernah meninggalkanmu dan desa ini. Dan sekarang adalah terlambat untuk menyesali.
                Batinku perih, terlalu perih untuk melanjutkan nestapa ini lagi.

Senin, 11 Juni 2012

Gadis dalam Cermin (15)

Kertas  terlampir yang dibicarakan Lusy dalam suratnya adalah kertas seukuran buku tulis bergaris yang tipis, kontras dengan kertas perkamen diary Clara Harrington. Kertas itu dilipat tiga kali hingga seukuran tiga ruas jari orang dewasa. Diselotip rapi di belakang surat Lusy.

Aku tak tahu bagaimana aku menyebutnya, sebuah peta, juga bukan..., Lusy menulis pembuka di lipatan ke tiga dari lampirannya.

Jumat, 08 Juni 2012

Happy Early Birthday!

Sepucuk surat dan sebuah kado yang saya terima satu hari sebelum hari ulang tahun saya. Kumpulan kata yang ditulis tangan oleh ia, sahabatku, si calon arsitek, Nisha Istifani.

06:23, Kamis, 7 Juni 2012 
Happy Early-Birthday! 
Aku tahu ketika kau membaca surat ini, bahkan ujung jarimu pun belum menginjak 17. Memang, aku ingin kau membaca buku ini sambil menghabiskan malam terakhirmu berusia 16 tahun. 
Andaka yang luar-biasa, 
Sebelumnya, maafkanlah kawanmu ini yang tak mampu membikin surat sebagus dirimu, tapi aku berusaha, sungguh. 
Ada banyak alasan mengapa aku memberikan buku ini sebagai hadiah. Buku ini berisikan tentang petualangan, penaklukan, serta keberanian bermimpi. Aku tahu perasaanmu belakangan ini, ketakutanmu akan usia 17 tahun serta kegamangan perkara cita-cita seringkali menghantuimu. 
Andaka,
Kita ini manusia-manusia masa depan. Harapan-harapan negeri, penentu generasi. Maka usahlah kiranya kita saling hilang semangat. Karena satu semesta esok ada di bahu kita. Luar biasa, eh?
Tenang, kawanku, tenang. 
Ketika kita bermimpi, Tuhan mencatat baik-baik mimpi itu, disimpan-Nya rapat-rapat di langit, lalu bila saatnya tiba, mimpi-mimpi itu dijatuhkan. Bertubi-tubi, meluap-luap hingga kau kewalahan. Ya, seperti itulah...  
Mimpi-mimpi selalu milikmu, penulis!
 Nisha Oneng Istifani, Arsitek




HAPPY BIRTHDAY TO ME! 

Selasa, 05 Juni 2012

That's Us

"Infinity"
Taken with CANON EOS 550D | Editing with Xiuxiu Meitu Photo Editor

Kamis, 17 Mei 2012

Gadis dalam Cermin (14)


"Di dimensi ini aku berpikir,
tentang kemungkinan ataupun pilihan.
Dan tentang apapun yang menjadi pembeda,
diantara keduanya."
—Andaka Pramadya, Penulis Pemula

Rabu, 18 April 2012

Gadis dalam Cermin (13)

Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Kemana kau pergi saat hatimu membiru?
Kemana kau pergi saat dirimu kesepian?
Aku akan turut serta
Saat bintang-bintang membiru
--Ryan Adams, dalam novel Lisey's Story, Stephen King

Senin, 16 April 2012

Dunia Bayangan


Di dunia bayangan, segalanya akan terlihat seperti ini
Taken with EOS CANON 550D | No editing | B/W

Aku berbahagia hidup seperti ini, tunggu, apakah ini kehidupan? Sebuah kehidupan akan ditentukan sampai kita benar-benar telah menembus kematian, berhenti bernafas, berhenti melihat. Apakah ini sesungguhnya kehidupan?

Minggu, 15 April 2012

Ruang

Ini adalah satu ruang ... lalu apa yang membuatnya begitu berbeda?

Sabtu, 14 April 2012

The Apple

"Hands" | Taken with EOS CANON 550D | Photoshop Editing

Minggu, 01 April 2012

Tentang Filosofi

Sebuah cerpen "kompilasi bersambung" bersama Basith Kuncoro Adji. Baca juga bagian sebelumnya:

BAGIAN 1: Mentari Saksi Misteri!
BAGIAN 2: Setengah Malaikat
BAGIAN 3: Kenangan Ajaib?

Senin, 26 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (12)

“Believe me, if I started murdering people… there'd be none of you left."

Charles Manson, Murderer from America

Minggu, 25 Maret 2012

God's Art (Surabaya-Madura)

1. Exoticism Suraba-YEAH
Taken with CANON EOS 550D | Photoshop CS3 Editing
Gate of Ciputra World, Surabaya | CLICK TO ENLARGE
2. Treasure of Madura
Taken with CANON EOS 550D | Photoshop CS3 Editing
Tambang Kapur Non-aktif, Kwanyar, Madura | CLIK TO ENLARGE
3. L.O.V.E (Photoshop Manipulation)
Taken with CANON EOS 550D | Creative Manipulation with Photoshop CS3
CLICK TO ENLARGE
Ps. Kritik dan atau saran bisa disematkan di kolom komentar, terima kasih.

Sabtu, 10 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (11)

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird, I'm more than a plane
I'm more than some pretty face beside a train
And it's not easy to be me

Superman - Five For Fighting

Senin, 05 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (10)

Blood? | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING

Minggu, 04 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (09)

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Doris Day - Que Sera Sera

Sabtu, 03 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (08)

"Oleh-oleh dari Bali" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING

Jumat, 02 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (07)

You are my sunshine my only sunshine
You make me happy when sky are gray
You never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away

NN - You Are My Sunshine

Minggu, 19 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (06)

Spend all your time waiting
For that second chance,
For a break that would make it okay.

There's always some reason
To feel not good enough,
And it's hard, at the end of the day.

I need some distraction,
Oh, beautiful release.
Memories seep from my veins.

Let me be empty,
Oh, and weightless,
And maybe I'll find some peace tonight.

Sarah McLachlan - Angel

Sabtu, 18 Februari 2012

Jumat, 17 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (04)

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light.

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.



Someone Like You - Adele

Minggu, 05 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (03)

Angel of Death
Monarch to the kingdom of the dead
Sadistic, surgeon of demise
Sadist of the noblest blood
Angel of Death - Slayer

Sabtu, 04 Februari 2012

Ia berbicara?

Apakah ia berbicara? Tanyakan pada dirimu, apa lima huruf itu berbicara? Apa yang mereka bicarakan? Beri tahu saya, karena saya tak pernah bisa melihat ia berbicara...

Jumat, 03 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (02)

Since your mother cast her spell
Every kiss has left a bruise
You've been reading too much meaning from existence
Now your head is used and sore
And the forecast is for more
Memories falling, like falling rain
Falling rain

Every view they hold on you's
A piano, out of tune
You're an angel
You're a demon
You're just human
Now your world has turned to trash
Broken windows on the past
Take that child and teach him senseless
Damage the dream, damage the dream
I feel nothing, I feel nothing at all
I feel nothing at all

In this gloomy, haunted place
All the feelings are of shame
All the windows have been broken by the children
So the wind screams up the stairs
Slams doors and rattles chairs
I wish we weren't conceived in violence
Damage the dream, damage the dream
The magic is broken
The house is in ruins
Your memory's one-sided
The side that you're choosing feels nothing
Feels nothing at all
We feel nothing at all
James - Lullaby

Kamis, 02 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (01)

Dearest, the shadows I live with are numberless
Little white flowers will never awaken you
Not where that dark coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you.
Gloomy Sunday - Billie Holiday

Selasa, 31 Januari 2012

January's Quote

"Ketika anda mengkritik orang lain, secara tidak langsung anda harus siap dikritik balik oleh orang lain yang bahkan bisa lebih pedas."

Minggu, 29 Januari 2012

Kesempurnaan?

Inikah kesempurnaan?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoscape creative editing

Sabtu, 28 Januari 2012

Di Pemakaman, Senja Itu

Gothic? Isn't it?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Jumat, 27 Januari 2012

Siluet Merah dan Hitam

Creepy?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Selasa, 24 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 10 (Selesai)

Firefly, sang pembawa keajaiban
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

“Milyaran tanah jarak kita,
tak jua tumbuh sayapku,
Satu-satunya, cara yang ada,
gelombang tuk’ ku bicara.”
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun

Senin, 23 Januari 2012

Mati?

Jadi, HIDUP ataukah MATI?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Tuhan

Tanah Tuhan; disana kami ada, berdampingan dalam dua petak Tanah Tuhan
Taken With SONY DSC W220 CyberShot | No Editing

Jumat, 20 Januari 2012

Diantara Fiksi

Milkmu?  Bungamu?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic creative editing

Rabu, 18 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 9

Aku; Seperti ilalang, yang dimainkan.
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Selasa, 17 Januari 2012

Sandiwara: Muka Dua

Disitu, kita bersandiwara, beradu laga
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Senin, 16 Januari 2012

Pada Waktu yang Salah...

Mungkin seperti ini, ketika cinta hadir pada waktu yang salah...
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Minggu, 15 Januari 2012

Monolog Jati Diri

"DGC"
Taken with CANON EOS 550D | Editing by Photoscape
SMAN 7 Surabaya, Diklat Jurnalistik Dasar ke-1, 26 Nov 2011
Ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini:

Noktah Hitam Putih

UNTITLED
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Sabtu, 14 Januari 2012

Bercumbu

The Door
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Picasa editing

Kamis, 12 Januari 2012

Elegi

Simpai Rumput
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Aku bisa melihatmu, masih bisa. Kau yang menggerai rambut diantara tetalian rumput. Menari, menuai rindu di kelopak mentari. Dan aku masih mengenangmu, dalam elegi. Tentang asa, tentang cinta, tentang harapan. Kami, aku dan kamu melebur menjadi-jadi. Dan, aku masih bisa melihatmu, kini pergi meninggalkan pelangi kemudian hilang dan tak kembali.

Rabu, 11 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 8

Daun Kering
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
"Diantara daun kering itu, ada aku dan Abi yang tak diperhatikan Tuhan."

Sudah lima hari pagiku sepi, sudah selama lima hari ini bau antiseptik sudah lebih terbiasa dengan hidungku yang alergi ini. Abi bolak-balik pulang pergi rumah ke rumah sakit untuk menemaniku disini. Sudah berkali-kali kubilang pada Abi untuk tidak usah terus-menerus menemaniku disini. Ia keras kepala, apalagi dengan keadaannya yang sudah tidak mau mengikuti terapi. Ia semakin cuek dengan keadaannya sendiri.

Dua hari terakhir ini terapi yang kujalani tak menampakkan hasil apa-apa. Nihil. Progresnya mendatar itu tandanya aku akan selamanya lumpuh, meskipun dokter berusaha menyembunyikan. Begitulah dokter, selalu memberikan harapan kosong, memberikan harapan sudah tak ada. Dan percaya pada keajaiban? Satu dibanding semilyar itu ada. Tapi aku percaya.

Aku sudah tak memiliki harapan. Aku tahu, Tuhan selalu membuat klise, klise semu yang palsu.

Suster Dina menyapaku untuk yang ketiga kalinya pagi ini, membawa senampan bubur panas—menu yang setiap pagi kumakan dan rasanya hambar—dan dua potong semangka dengan ukuran cukup besar. Muak aku dengan makanan sejenis ini, tak berasa apapun di lidahku.

“Sus, adakah menu lain yang lebih bervariasi di rumah sakit ini?”

Suster Dina tertawa khas, ia meletakkan nampan perak itu di atas meja di sudut. “Kamu bosan, Nak?” Ia tertawa, “Ya, semua orang pasti punay titik kebosanan Gilang.”

Ia duduk diatas kursi rotan yang berdecit itu lalu menengadah sambil menghela nafas. Lalu suster itu melepas bandana putih yang dipakainya. Rambutnya sudah tampak memutih di pangkal-pangkalnya. Wajahnya sudah cukup pantas dikatakan keriput, umurnya sekitar lima puluh tahunan. Bandananya berbeda dengan suster lain, mungkin ia suster kepala di ruangan ini.

“Suster sudah dua puluh lima tahun bekerja disini dan cukup sering merasa sangat bosan.”

Pandanganku berubah dari hamparan atas rumah fokus memandangnya tajam. Ia tampak sedih, di sudut keriputnya tampak itu. Sebuah kekecewaan.

“Tapi, suster disini menemukan keajaiban.”

“Keajaiban, Suster?”

“Ya, keajaiban.”

Aku tak mau menjawab, aku sudah cukup jelas dengan kata keajaiban. Kata yang membuatku terhenyak saat Kinan—almarhumah lebih tepatnya—menunjukkan bentuk nyata keajaiban itu padaku. Miris mungkin, tapi itulah sudah sangat paham diriku dengan definisi keajaiban.

“Ya suster aku mengerti,” jawabku tak semangat.

Ia mengangguk, “Ya, suster tahu kau paham. Tapi suster hanya mengingatkan; keajaiban ada kadang saat kita tak pernah menganggapnya ada,” sanggahnya lalu bangkit dan pergi dari kamarku.

Lima detik kemudian pintu kamarku berdecit lagi dan langkah yang khas tertanggap gendang telinganku—suara kaki menyeret dengan interval yang sama. Aku mendongak dan mengintip dari balik jendela. Abi, membawa sekotak nasi padang favoritnya.

Ia menggeser jendela dan menyuruhku masuk. Cukup sulit buatku untuk menyesuaikan dengan kursi roda, berat, tanganku sempat lecet karena belum terbiasa menyeret kursi roda. Ia meletakkan nasi itu diatas ranjang. Lama ia tertegun disana, tak mau berbalik.

“Bi, ada apa?”

Ia berbalik cepat-cepat, aku melihat air mata di sudut matanya, menetes. Diusapnya cepat, lalu menawarkan nasi itu padaku. “Tak apa, makanlah.”

Aku menggeleng. “Bi, pernah kau merasa Tuhan ini tak pernah adil?”

Beberapa detik kami mematung dalam pemikirinan yang mungkin sama. Kami saling berpandangan berusaha menemukan benang merah yang sudah tak terurai di otak kami. Pertanyaan ini terdengar seperti pernyataan mungkin.

“Makanlah, enak Lang.” Abi mengaburkan fokus masalah.

“Bi,” sambil menghela nafas. “Apa Abi pernah percaya keajaiban?”

Pertanyaanku seperti pedang bermata dua, mematikanku dan juga Abi. Kembali, kami dalam kebekuan. Entah, yang terdengar hanya detak jantung kami yang tak menentu.

“Dulu dan sekarang, entahlah.” Sama, Bi.

Abi menyembunyikan kedua tangannya di balik saku. Nafasnya tersengal tetapi masih berusaha melanjutkan, “Setelah Umimu ndak ada Abi ndak percaya lagi, Le.

“Aku juga Bi. Percaya atau tidak, Tuhan tak pernah memberikan jalan terang untuk kita. Tanpa kaki aku bukan apa-apa Bi. Untukmu, untuk dunia ini juga.”

Kami sama-sama tertunduk dalam kuasa Tuhan. Sama-sama kehilangan daya untuk tetap berusaha, lalu tertegun dalam satu kotak mimpi yang takkan tergapai tanpa tangan, tanpa usaha. Tuhan mengambil usaha kami, bukan untuk membuat kami lebih berusaha, tetapi malah mematikan langkah kami. Meruntuhkan satu-satunya anak tangga kami. Lalu menertawai kami, dalam satu titik keterpurukan yang menjadi.

Aku sudah berkali mencoba untuk mempercayai satu keajaiban, tapi apa, hasilnya kosong, hanya menangkap angin di mata pisau. Aku sama sekali tak bisa mengerti, labirin yang dipersiapkanku untuk Abi. Aku tak mengerti, dari mana aku harus bisa mempercayai bahwa Tuhan memberikan kami jalan keluar. Tuhan seperti selalu meniupkan angin kencang ke gubuk rapuh yang kami bangun penuh asa. Begitu saja.

“Lalu, bagaimana Le?

Mana kutahu Abi, membangun gubuk lagi? Itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama. Membangun istana? Darimana batu-batanya? Dayaku sudah hilang Abi. Mintalah kepada Tuhan, mungkin ia mendengar atau mungkin ia lebih sibuk dengan dengan hal-hal lain. Entahlah.

Pergulatan batin itu tak pernah terkata, hanya menjadi simpul merah di hati, lebih baik memang tak ada yang tahu. Lebih baik hanya aku dan Tuhan.

Hey, Its Award!

Halo semua, lagi-lagi intermezzo dulu ah, nggak mosting karya dulu ya, masih ada banyak tugas nih. Yang satu ini award, dua award lebih tepatnya. Award dari Mbak Funy dan Mbak Suci. Awardnya sama, tapi yang buat geregetan itu embel-embel di belakang awardnya. Terima kasih banyak yah kakak-kakaknya. Ngahaha. Coba lihat:
  • Thank the person who nominated you and give their blog a shout on your blog with a link to their blog:
"Terima kasih buat bapak-ibu yang telah datang dalam acara saya ini #eh. Terima kasih sebanyak dan setinggi-tingginya (pemborosan kata) kepada Mbak Funy dan Mbak Suci yang sudah memilih saya untuk menjadi penerima award ini. You both so awesome. Thanks again."
  • Share 7 random facts about yourself.
"Manusia, kulit sawo matang, mata punya dua, telinga dua, tinggi 172 sentimeter, murid SMA, penulis. DONE."

  • Send on the award to 15 bloggers whose blog you appreciate and then let them know that they have won the award.
"Lima belas orang pertama yang komen di postingan ini berhak atas award dan embel-embelnya. Nggak harus diterusin, tapi harus diambil ya, nggak diambil kena santet, #eak."

INI BENTUK AWARDNYA:

TERIMA KASIH BANYAAAAAK :3
-SEKIAN-

Selasa, 10 Januari 2012

The Gift

Halo semua kemarin saya dapat kejutan yang cukup membuat saya speechless, ya Mbak Funy membuatkan artwork untuk saya dan itu adalah artwork pertama untuk saya, tentu saja kesannya jadi spesial banget. Hihi. Nggak banyak ngomong lah, ini artwork yang keren itu:

KEREN!!!! BANGET!!! 

Senin, 09 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 7

Bau antiseptik merebak di sudut-sudut ketika aku mulai bisa merasakan. Pandangan masih hitam, tapi aku bisa merasakan lampu dua puluh watt menerpa mukaku langsung. Pusing sekali, aku tak bisa merasakan jari-jariku. Dari telingaku hanya ada suara elektrokardiograf yang datar dan dengkuran, khas. Dengkuran Abi. Kupaksa membuka mata, tapi tak bisa. Untuk menggerakkan bola mata saja sudah sangat pusing.

Aku mencoba mengingat-ingat kenapa aku berada disini dan sulit menggerakkan semua bagian tubuh. Aku bertemu Kinan, gadis SMA yang percaya keajaiban dan kemudian semua gelap, aku terbentur dan terpelanting lalu tak sadar dan aku berada di?

“Silahkan suster,” suara itu berbicara sayup-sayup.

Lalu tangan kananku yang tak bisa digerakkan sedikit diangkat lalu diletakkan semacam pengikat, di bagian lengan atas. Pengikat itu semakin kencang dan kencang, seperti alat tensi.

“Bagaimana keadaannya, Suster?” kata suara itu lagi.
Raindrop
Taken with DigiCam SONY W220 Cybershot
Pixlr-o-matic editing

Suara suster itu tidak jelas, hanya terdengar ia mengatakan, “maaf”, “sakit” dan “diagnosa dokter”. Fragmen kata yang sulit untuk ditebak isinya jika hanya sepotong. Mataku nanar sedikit setelah cahaya putih yang sangat terang menerpa mataku, itu membuat bola mataku sedikit bergetar.

“Gilang? Kau sudah sadar.”

Suara itu mendekat lalu tanganku digenggam erat. Kali ini aku hanya bisa menggerakkan bola mataku sedikit, ke kanan, ke kiri, masih belum bisa mengontrol tubuh. Aku diam, tak menggerakkannya lagi. Suara itu terdengar parau lalu seperti menghelae nafas yang langsung menerpa tanganku, dingin.

“Abi—“ suaranya semakin abstrak dan melemah.

Ada apa ini? Aku tak bisa menangkap suara apapun, hanya beberapa kali mendengar dengkuran percakapan kecil itupun tak semua bisa kudengar, hanya beberapa potongan kalimat dan kata-kata. Hambar rasanya seluruh tubuhku, lalu semua tubuhku mengencang dan di bagian belakang tubuhku seperti dipatahkan. Sangat sakit. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya menjerit dalam hati, toh tubuh ini tak memiliki kendali apapun jika ku perintah.

Sakitnya semakin menjadi dan menjalar ke seluruh tubuh. Dan seperti tubuhku lepas dari badanku satu persatu aku tak bisa merasakan apapun kemudian aku kehilangan kesadaran.

***

Udara menusuk-nusuk leherku dan membuat bulu romaku berdiri, dingin. Aku terbangun lagi, kini aku mencoba membuka mata lagi. Bisa, bingo. Mataku terbuka perlahan, ketika itu sangat buram, buram. Aku tak bisa melihat apapun kecuali hanya siluet orang dengan baju biru dongker dan beberapa wanita masuk dengan pakaian putih membawa seperti nampan perak.

Di telinga kananku menangkap suara, gesekan. Sontak aku menoleh ke kanan. Pandanganku mulai fokus dan jelas, tetapi sekujur tubuh masih mati rasa. Seorang suster dengan nampan perak itu membuka selimut putih tipis dari bawah tempat tidur lalu menyelimutkan pada pasien itu sampai ke atas kepala. Ia meninggal?

“Gilang, kau sudah sadar, Nak?” tanya seorang berkemeja garis biru di depan ranjangku. Abi.

“A..bi,” jawabku lirih.

“Bagaimana tidurmu, jagoan?” ujarnya lalu mengusap rambutku perlahan.

Aku tak menjawab, rasanya masih sakit untuk berbicara. Hanya tersenyum kepada Abi, dengan begini saja aku bisa mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja Abi.

Rumah sakit ini tampak asing di pandanganku, aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Ada hiasan salib kecil tergantung di dinding di sebelah jam dinding putih. Kamarku sepertinya kelas dua, hanya ada dua kamar tidur dengan kelambu hijau yang menyekat keduanya. Tampak luas dengan dua sofa yang di sediakan untuk penjaga.

Abi datang membawa satu kantong plastik penuh dengan roti, ia menawarkan satu padaku. Aku menggeleng, lidahku masih kelu dan hambar. Aku tak ingin makan.

“Bi, di sebelah tadi siapa? Abi mengenalnya?” tanyaku seperti mengeja.

Ia mengangguk sambil menggigit sedikit pinggiran roti coklat itu. “Iya Lang, ia masuk bersama kamu, dengar-dengar satu angkutan denganmu.”

Denganku? Siapa? Waktu itu hanya ada aku, Kinan, supir dan satu orang wanita dengan blazer merah muda dengan rambut cokelatnya yang berkilau di bawah sinar matahari. Kinan, supir itu ataukah wanita dengan blazer itu?

“Ia pertama kali masuk dengan seragam SMA, sudah terpasang begitu banyak alat di tubuhnya,” tambah Abi dengan mulut penuh roti.

Aku mengangguk, mengerti. Apakah mungkin Kinan? Seragam SMA tak salah lagi, Kinan.

“Em, Abi, apakah namanya Kinan?”

Ia mengangguk yakin, “Iya, kemarin Abi sempat bertanya dengan Ibunya, namanya Kinan.”

“Lalu?” aku bertanya seolah tak mengerti apa-apa, hanya memastikan yang kulihat kemarin itu benar.

Aku berhenti mengunyah, menelannya dulu dan menjawab, “Gadis itu meninggal kemarin pagi—“ kalimat Abi mengambang.

Aku tak seberapa kaget dengan pernyataan Abi. Ia juga belum beberapa waktu ku kenal, tapi sebelum nafasnya berhenti setidaknya ia telah memberikan satu perubahan kecil di hidupku—membuatku percaya lagi pada keajaiban.

“Abi, kenapa Gilang tak bisa menggerakkan seluruh tubuh Gilang?”

Pertanyaanku seperti skak match, ia tak bisa berjalan lagi langkahnya kumatikan. Abi seperti ragu untuk menjawab. Tapi aku mendesak Abi untuk mengatakan sebenarnya padaku.

“Baiklah, tetapi janji kau akan menerimanya Gilang.”

Aku mengangguk, tak yakin sebenarnya, aku takut tidak siap dengan kenyataan yang akan kudengar. Tapi aku mensugesti diriku untuk bisa menerimanya.

“Kakimu lumpuh dua-duanya, benturan kemarin mengenai syaraf tulang belakangmu dan itu membuatmu lumpuh, mungkin sementara mungkin juga tidak.”

Matanya berkaca-kaca ketika mengatakannya, aku tahu, Abi terhenyak mendengar berita seburuk itu. Dan aku, apalagi. Aku tak ingin menambah beban Abi dengan menampakkan ekspresi sedih. Aku tersenyum di depannya walaupun agak dipaksakan.

“Abi, jangan sedih, dengan begini kan Gilang bisa merasakan bagaimana rasanya jadi seperti Abi dan Gilang bisa membagi beban yang ditanggung Abi.”

Abi tertunduk tak berani melihat mataku—aku juga tak berharap ia melihat rona kesedihan yang ada di sudut-sudut mataku. Dari pucuk hidungnya menggantung setetes air mata yang kemudian jatuh di selimutku. Ia menggenggam tanganku erat, berusaha menegarkan. Aku tak siap Abi, tapi aku harus benar-benar siap dengan kenyataan.

Sabtu, 07 Januari 2012


Halo sekarang ada fanpage Facebook dari Symphony of Elegy, jika berkenan bisa di like disini.

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.

Kamis, 05 Januari 2012

The Death Love

Barang mistis di rumah saya <-- Bell yang setiap malam bunyi tiga kali
Taken with SONY DSC W-220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
Beberapa polisi berseragam lengkap berlari sejajar. Masuk selonongan ke dalam satu rumah minimalis di ujung blok. Suram, gelap hanya ada ilalang kering yang tumbuh di luar pagar-pagarnya. Beberapa polisi dengan kupluk mengangkat telunjuk dan jari tengahnya ke atas dan menjatuhkannya ke arah pintu masuk rumah. Tiga diantara mereka maju dulu dan diikuti dua orang mengendap-endap bersembunyi di kanan-kiri pintu. Braak.

Satu pintu berhasil mereka dobrak lalu meloncat ke pintu lain. Kosong. Kamar dua, mereka dobrak lagi. Ruangan hampir kosong, hanya ada satu kursi dan satu orang tertunduk disana. Tangannya diikat di kursinya. Dua polisi masuk—masih mengendap-endap—lalu mengangkat dagu wanita itu.

Tepat di dua pelipisnya lubang, darahnya mengucur. Satu polisi memegang pelipisnya, gemetaran. Darahnya masih deras mengucur, mungkin baru lima belas menit yang lalu ia mati tertembak. Matanya masih terbelalak, kedua polisi itu mengatupkan matanya kebawah dan melepaskan ikatan di kursinya.

Tiga polisi yang lain masuk ke dalam sebuah kamar. Aromanya anyir, amis bau darah menyeruak ke hidung mereka. Berkali-kali mereka mendobrak pintu besi yang menutupi kamar tanpa jendela itu. Satu hentaman lengan polisi terakhir akhirnya menjebolkan pintu itu.

“Move,” teriak kepala polisi yang memimpin penggerebekan itu.

Mereka menemukannya, seorang berjenggot panjang dan berkumis tebal, dengan jeans lusuh dan robek di tempurungnya. Pria ini membawa AK47 dalam posisi siap tembak, mengacung-acungkan senjatanya ke muka para polisi itu.

“Turunkan senjatamu?”perintah salah satu polisi yang berada paling jauh dari pintu.

Pria itu menoleh dan menjawab dengan suara parau, “Bersabarlah,” ia tetap dengan tangan siap menekan pelatuk.

“Kami ulangi, turun-kan sen-ja-ta-mu!” ulang polisi tadi dengan penekanan lebih di setiap suku katanya.

“Tutup mulutmu atau isi perut senjataku ini akan menutup mulutmu dan juga nyawamu!” jawabnya melawan.

Ia tertawa terbahak-bahak lalu batuk karena tersedak tawanya. Ia menepuk dadanya keras-keras dengan kanan kirinya yang jarinya tinggal empat. “Aku, Baron! Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku, kawan-kawan.”

Mereka saling berpandangan, mereka mengganggap sepenjahat ini gila. Kepala polisi maju untuk memberikan pilihan dan penawaran kepada Baron. “Kau pilih; maju menyerahkan diri dan turunkan senjatamu atau akhiri hembusan nafasmu disini?”

“Uh, takut,” katanya sambil mengacungkan kedua tangannya ke langit-langit, nadanya sangat mengejek.

Semua polisi disana sudah sangat geram dengan Baron. Ia menyiapkan pistol tangan mereka yang sudah siap tembak. Semua terarah pada Baron. Baron tak tampak takut sedikitpun dengan  acungan pistol-pistol itu. Ia malah menyulut rokok yang ia pungut dari lantai, asapnya mengepul di udara, menambah sesak ruangan tanpa ventilasi disana.

Baron membuang asap terakhir dari rokoknya ke sekeliling—tepat di muka polisi-polisi tersebut—lalu melanjutkan, “Apakah kalian sudah membawa hadiah untuk datang ke pestaku ini?”

Ia tertawa lagi, semakin keras dan suaranya yang berat semakin parau di telinga-telinga mereka.

“Ya, tentu, kami membawa gadis yang kau bunuh, Baron,” kata salah satu polisi dengan begitu banyak tanda kehormatan tertempel di bajunya.

Ia menyeret tubuh wanita yang sudah pucat itu ke tengah-tengah lokasi, lalu menjatuhkannya sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kulit Baron yang albino kontras berubah jadi merah padam, ia geram, gadis itu adalah istrinya, Beth.

“Cepat kembalikan bidadariku.”

“Tentu, kami akan mengembalikan setelah kau menurunkan senjatamu!” tantang polisi tadi.

“Itu mau kamu? Baiklah.”

Baron membuang senjatanya ke tengah-tengah ruangan, cukup keras sampai membuat senjata rakitan itu terbelah menjadi dua di bagian sambungannya.

“Anak yang cerdas,” Polisi itu mengejek lagi.

Sontak semua polisi mejatuhkan mata senjata mereka ke tanah, mereka bergerak mendekat ke arah Baron perlahan. Baron tetap menunduk, tidak ada satu polisi pun yang dapat melihat ekspresi mukanya. Hanya Beth yang matanya masih belum mengatup yang bisa melihatnya, sayang Beth sudah mati di tangan suaminya sendiri.

Kepala polisi memutar tangannya dua kali menginstruksikan anggotanya untuk berputar mengelilingi Baron dan siaga untuk menyergapnya dari belakang.

Baron masih tertunduk dan tangannya dibawanya ke saku belakang celananya sebelum semua polisi berhasil mengelilinginya.

“Pesta dimulai kawanku,” katanya lalu tertawa gila sambil mengacungkan dua revolver ke muka polisi-polisi itu.

Baron bertindak cepat dan mengarahkan mata senjata itu tepat di mata semua polisi dan menekan pelatuknya berkali-kali. Desing senjata mulai bersahut-sahutan membuat polisi di dalam ruangan gelagapan. Satu-satu polisi disana mati tertembak di bagian mata kiri dan kanan mereka. Bergelimpangan, dan darah sudah membanjiri seisi kamar tanpa perabot disana.

“Kini tinggal kau, polisi sialan.”

Baron mengacungkan satu revolver ke arah polisi terakhir di depan pintu dan membuang satu miliknya—pelurunya habis. Polisi tersebut membeku setelah sikap sombongnya tadi menantang Baron. Sekarang, nasibnya ada di tangan pembunuh berdarah dingin di depannya.

“Baron, turunkan senjatamu,” perintahnya terbata.

“A-aa,” katanya sambil menggelengkan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Sebelum malaikat maut menjemputmu apa kau menciantai istrimu sampai mati?”

Polisi itu berkali-kali menelan ludah sambil mencari-cari apakah ada barang yang bisa dijadikannya perlindungan. Bibirnya kelu, mukanya memutih pucat.

“Cepat jawab!” teriak Baron dengan intonasi sangat tinggi.

Takut yang dirasakan Polisi itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menuruti perintah Baron. “Istri, istriku sudah mati Baron. Tapi aku tetap mencintainya sampai mati.”

Baron mengurut jenggot keritingnya sambil mengangguk sekali. “Kalau begitu, buktikan! Masih ada dua peluru di pistol ini dan keduanya untukmu sobat.”

Dengan cepat ia menekan pelatuknya untuk yang pertama dan tertembak lurus kearah dahi polisi bertubuh gendut itu. Tergeletak seketika tubuhnya dengan darah segar yang mengalir menuruni dahi hidung dan mulutnya. Tubuhnya kejang untuk beberapa saat dan akhirnya kepalanya terkulai ke samping.

Baron bersimpuh di depan tubuh istrinya yang penuh darah. “Sayang, kini hanya kau dan aku disini, aku sudah membunuh mereka semua, tidak ada yang mengganggu cinta kita lagi.”

Ia sudah gila, berbicara dengan mayat istrinya dan menggoyang-goyangkan tubuh seakan ia masih bisa berkomunikasi dengannya. Baron mengusap darah yang masih mengucur di pelipis kanan Beth dengan tangan.
“Kau masih tetap cantik, sayangku.”

Baron menelusuri bibir Beth dengan telunjuknya, meratakan gincu merah muda yang sedikit berantakan terpoles di bibirnya. Setelah ia pikir cukup sempurna geratan lipstik di bibir istrinya Baron mengecupnya kecil dan meletakkan mayatnya ke lantai.

Ia berjalan menjauh dari tubuh istrinya dan melompati mayat-mayat lain. Langkahnya becek karena darah sudah cukup membuat setiap gerakan yang ia lakukan menimbulkan bunyi gemerincing. Cermin di sudut kamar yang sudah hilang setengahnya menjadi refleksi bayangan Baron.

Wajahnya keriput dengan bulu hidung berwarna kuning keemasan menyembul keluar. Ia menekan dan menggerakkan pipinya keatas dan kebawah, menyisakan bekas darah istrinya disana. Ia memfokuskan pandangan tepat kearah kedua iris mata birunya.

Rambutnya yang tak disisir ia rapikan sekenanya dengan tangan. Lalu menyentuh guratan keriput yang berlipat tiga di dahinya, lagi-lagi meninggalkan bekas darah yang sedikit mengering di tangannya.

Baron jongkok disana dan mencelupkan tiga-perempat telunjuknya ke genangan darah, memandanginya sebentar lalu menegakkan kuda-kudanya lagi. Ruangan yang lembab disana membuat siapa saja akan sesak napas berlama-lama disana, begitupun Baron. Ia mulai tersengal sedikit.

Tangannya ia goreskan ke depan cermin yang tak sempurna itu, ke kanan, ke kiri dan kesamping. Ia menuliskan meninggalkan empat huruf disana. “MATI” ia menulisnya dengan tangan gemetaran.

Setelah selesai menulis, Baron tersengal lagi lalu terbahak dengan keras. Ia masih mengenggam revolver dengan erat sementara tangan kirinya masih meneteskan darah. Baron berbalik menghadap mayat-mayat yang sudah tak bergerak lalu menepatkan pilihan pada jenazah istrinya yang terkulai cantik. Baron menyeret tangan kiri istrinya sampai ke depan cermin, lalu menegakkan jenazah Beth. Baron menciumnya sekali lagi dan mengarahkan revolver di tangan kirinya ke arah pelipisnya.

“Aku mencintaimu sampai mati, Beth.”

Desingan senjata bergaung di seluruh sudut ruangan. Tak bisa diredam, desingan terakhir ini begitu menyeramkan yang berbaur dengan kesunyian disana. Hanya suara tetes-tetes air yang berdentum dengan darah dibawahnya adalah nyanyian terakhir disana. Mereka semua mati dan Baron akhirnya menunjukkan cinta matinya. Hidupnya, istrinya dan mereka berakhir ditangannya sendiri. Dan hening.