Selasa, 30 April 2013

Gadis dalam Cermin (16)

"Selalu ada jalan pulang,
selalu ada pusara untuk keluar,
demi setetes darah yang pernah kau korbankan,
Percayalah."

Sudah berhari-hari ia tertidur di antara kabut merah yang tiba-tiba menggeliat di atas lantainya. Lucy tak tahu apa yang membentur kepalanya ketika dunia serasa berputar-putar tadi. Lampu redup di langit-langit masih berada di sana. Meja, kursi, tempat tidur, dan lemari juga masih pada tempatnya. Jadi apa yang membuatnya pingsan? Rasanya bagaikan jet lag.
Aku di mana? Ia bertanya dalam hati.
Di mana Mady? Tanyanya lagi.
Tata ruang kamar ini persis sepeti kamarnya di Santa Mondega, tetapi mengapa seluruh pandangan matanya jadi merah gelap, lalu cahaya redup dari atas lampu juga memerah seperti mata serigala yang sedang marah di tengah malam. Cermin di depannya yang setiap hari selalu dibersihkan dengan pembersih kaca oleh Lucy tiba-tiba menjadi penuh debu dan usang. Lucy melontarkan pertanyaan yang sama kembali dalam hatinya, Aku di mana?