Rabu, 04 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 6

Clover, the Miracle
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Masih cukup pagi, matahari masih mengintip di lembah-lembah berkabut sana. Angkutan sepi, hanya ada aku yang duduk di belakang dengan seorang Ibu yang membawa banyak sayuran di pelukannya. Masih tujuh puluh kilometer lagi. Dari luar jendela orang-orang sudah mulai aktivitas masing-masing. Menggendong bayinya ke luar sambil bercengkrama, berwudhu, menyanggul besek di kepala, menggembala ternak. Lingkunganku masih benar-benar desa. Tapi, itulah esensinya, harmonisasi kebersamaan yang sinergi.

Dari meja kemudi masih terdengar teriakan supir memanggil penumpang. Aku melihat jam tangan, masih jam setengah tujuh. Angkutan melaju kencang, sekitar empat puluh kilometer per jam. Angkutan mengerem mendadak lalu seorang pelajar SMA masuk dengan rok yang bergitu minim.

“Permisi,” katanya sambil menunduk dan menduduki bangku sebelahku yang kosong.

Aku hanya tersenyum sambil mempersilahkan duduk. Angkot melaju lagi, tapi kali ini perlahan, tiga puluh menit di angkot ini membosankan sekali tanpa suara. Lalu aku menangkap getaran faring di sebelahku.

“Um, mau kemana nih, Mas?” tanya anak SMA tadi.

“Mau nyerahin kerjaan, nih Mbak. Mbaknya nggak telat udah jam tujuh.”

“Nggak mas, lagi malas di rumah saja, harusnya sekolah masuk siang?” jelasnya.

Aku mengangguk-angguk seperti mengerti, entah di dalam hatiku merasa ingin tahu kenapa ia malas berada di rumah. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kalau boleh tahu, kenapa malas berada di rumah mbak?”

Ia diam sejenak kemudian menunduk, raut wajahnya berubah murung, ia melumat sapu tangan merah muda yang ia genggam kuat-kuat. Seluruh bagian angkot jadi hening. Ia masih diam, lalu ibu dengan sayuran-sayurannya turun di perempatan jalan depan tugu. Dan, hening kembali.

Lirih suara tawanya kemudian terdengar, aku merengut mencoba menyelinap masuk ke dalam fikirannya.

“Aku tidak ingin tinggal dengan orang tuaku lagi,” katanya pelan.

Aku manggut-manggut lagi, entah kenapa aku semakin ingin tahu tentang kehidupan gadis ini.

“Um, memangnya orang tuamu kenapa?” tanyaku spontan.

Ia diam lagi lalu menatapku dalam. Matanya merah, pelupuknya basah. Punggung tangannya diusapkan ke kedua bola matanya lalu melanjutkan.

“Rumahku selalu penuh dengan pertengkaran mereka, Mas. Ndak salah juga kalau aku malas di rumah, ya toh?”

Aku menggumam, aku mengerti perasaan gadis ini. “Ya, tapi nggak bener juga dek, kalau pergi dari rumah gini. Kamu kan sudah SMA harus bisa mengambil sikap, ya kan?”

Sekarang ganti ia yang mengangguk mengerti dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menengadah. Ternyata ada yang lebih dari masalahku dengan Abi. Dan kembali hening, hanya suara klakson mobil dan motor yang membaur di telingaku.

“Masnya percaya dengan keajaiban?”

Aku tersentak tak memperhitungkan ia akan bertanya lagi. “Ndak mbak, sudah dua tahun ini saya tidak lagi percaya dengan keajaiban.”

Ia seperti tertarik dengan arah perbincangan ini, ia sedikit memiringkan duduknya menghadap kearahku. Lalu menegakkan punggungnya. Gadis itu mengangkat tangan kanannya yang menggengam.

“Kenapa? Kalau aku percaya, percaya suatu saat akan ada keajaiban untuk orang tuaku dan tidak lagi bertengkar,” tukasnya yakin, sangat yakin.

Aku tak tertarik dengan topik ini. Persetan dengan keajaiban. Diam dan lagi klakson terdengar jelas di dua gendang telingaku, menggaung seiring dengan debar jantungku yang meningkat. Sesak.

Aku merebahkan punggungku yang kaku karena satu jam lebih duduk tak bergerak. Sisa-sisa semangatnya tadi belum sepenuhnya padam, masih menggenggam erat sapu tangannya. Sudah separuh perjalanan dan sekarang suasana berganti atmosfir kota, penuh dengan hiruk-pikuk kendaraan, polusi dan gedung-gedung perkantoran.

Gadis itu masih terdiam dalam semangatnya, meluap-luap, percaya akan keajaiban yang akan datang di hidupnya. “Oh ya, kenalin aku Kinan, masnya?” celetuknya sambil menyodorkan tangan kanannya.

Aku menjabat tangannya, dingin. “Gilang.”

“Wah, namanya sama kayak Papah Kinan.”

“Oh ya?”

“Iya, kebetulan sekali.”

“Iya, ya.”

Lalu kami tertawa, saling bertukar pandang. Aku melihat kekosongan disini, di dalam irisnya yang cokelat. Pandangannya tak terarah, seperti melamun tapi fokus. Siang ini sangat panas apalagi untuk taraf lingkungan baru seperti ini, aku belum terbiasa.

Kinan merogoh-rogoh saku banjunya, dalam sekali, ditangannya ada dua bungkus permen warna-warni, satu ia genggam satu lagi ia sodorkan ke aku dan berkata. “Mau,?” tatapannya begitu hangat tapi tetap tak tersentuh dan kosong.

Kinan membuka bungkus permennya yang berwarna transparan, ia mengangkat permen itu agak tinggi lalu sedikit menutup mata kirinya. “Pelangi,” teriaknya tiba-tiba.

Aku terhenyak, dari tadi aku melamun, hanya memutar-mutar bungkus permen dengan warna dasar putih itu. Ia mencolek pundakku sambil melambaikan tangannya di depan mukaku, dekat sekali.

“Uh, ada apa?”

“Ngelamun aja, Mas,” godanya sambil tetap mengamati permen transparannya.

Aku tertawa kecut lalu mengamati permen yang Kinan pegang. “Memang apa bagusnya permen lima ratusan ini?” godaku balik.

Hening lagi, sepertinya diantara percakapan kami ini menyimpan sekat, saat ia bertanya padaku begitupun juga saat aku bertanya padanya. Lagi-lagi, ia menantapku, tatapannya tetap kosong. Persis dengan mata Abi. Kosong.

“Ini keajaiban.”

“Keajaiban?”

“Ya, keajaiban. Coba lihat, letakkan pada sinar matahari.”

Aku menuruti perintahnya, membuka bungkus permen tadi dan membiarkan permen itu jatuh tepat dibawah sinar mentari. Satu, dua dan tiga detik, otakku menganalisa. Tidak ada yang spesial.

“Coba lagi,” katanya.

Aku mengamatinya lagi, lebih kritis. Tiba-tiba kilatan itu keluar. Kilatan cahaya warna-warni. Pelangi.

“Sudah terlihat?”

“Ya,” kataku lalu menggenggam permen itu erat-erat. Lengket.

“Itulah keajaiban. Pelangi,” jawabnya penuh dengan penekanan.

Ia berhasil lagi, membekukan percakapan ini dan aku kembali dalam diam.

Keajaiban? Hanya kata itu yang dari tadi melingkari neuron-neuron otakku. Remaja ini telah memperlihatkan bentuk nyata keajaiban padaku tapi sungguh aku masih belum percaya, keajaiban itu masih ada.

Diantara lamunanku tentang keajaiban, supir membanting setir ke kanan, ia menghindari truk tronton yang seenaknya masuk ke jalur kami. Angkot kami oleng, aku terpelanting ke atas berputar-putar, tubuhku serasa repuk terhimpit kursi angkot yang lepas dari mur-murnya dan kepalaku terbentur sesuatu. Kemudian hilang, kabur dan semuanya menjadi gelap, semakin gelap dan aku tak dapat meraih apapun lagi.

7 komentar:

  1. wah semakin menjadi2 aja ceritanya XD keren2 :3 lanjutkan ka!! :D

    BalasHapus
  2. Bagus bang! Aku suka setiap diakhir part-nya dibuat menggantung, jadi pembaca pun akan sangat penasaran ^_^ Ada beberapa kemungkinan yang muncul diotakku, tapi lihat ajalah nanti, aku lebih memilih menikmati karya bang daka ketimbang berkutat dengan pikiranku yang belum aja benar ^_^ Secepatnya di posting lanjutannya bang :D

    BalasHapus
  3. aduh, bacanya baru setengah nih, lanjut lewat hape ah, sekalian berangkat kerja. cckckckck seru banget

    BalasHapus
  4. Wah apa yg terjadi setelah tabrakan itu. Jadi pnasaran.. :D

    BalasHapus
  5. cuma bisa bilang : YOUR'RE AMAZING !

    Kenapa ya, setiap cerpen/cerbung-nya Daka pasti keren, pemilihan katanya tepat, tema n alur ceritanya juga "sesuatu" banget :)

    BalasHapus
  6. dakaaa.
    ceritamu selalu bikin penasaraaan!

    ditunggu lagi kelanjutannyaa! :3

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: