Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Malam ini, hujan. Cukup deras. Selimut, tahu goreng dan novel sudah berada di sebelahku. Aku membukanya perlahan, halaman 123. Mataku membaca novel itu cepat, dari kiri ke kanan, tetapi fikiranku tak disana. Aku menerawang dari sebentuk cerita indah kita. Persahabatan yang terlalu naif dan kekanakan untuk diulas lagi.

“Apakah cinta dan persahabatan adalah sebuah piala, dan harus ada satu orang diantara kita saja yang mendapatkannya?” Aku menuliskannya di hape dan segera menekan tombol gagang telepon berwarna hijau ke nomor mereka bertiga.

Skeptis memang, SMS itu bakal berbalas. Aku nggak terlalu berharap, seperti biasa kalian mungkin menganggap itu satu hal ‘biasa’ yang selalu kulakukan tiap masa berkacaku datang. Hanya dua opsi, menanggapinya biasa dan datar atau malah menghiraukannya.

Beberapa puluh kalimat dalam novel itu kubaca tanpa fikiran yang ada di dalamnya. Aku masih menerawang. Tentang persahabatan kita. Renggang dan aku merasa menyekatkan diri dari kalian. Aku berharap seperti dulu, indah tanpa celah, walau kadang cekcok dan perkelahian kecil hadir tapi itu yang membuat kita saling paham tentang emosi dan mood masing-masing. Sekarang? Apa? Aku tak bisa memahami dan menyelami hati kalian seperti dulu. Drama memang, tapi inilah yang kurasakan dan hanya bisa kusembunyikan. Takut, aku hanya ini berlalu seperti dulu walau aku sudah tak merasakan hal yang sama seperti dulu.

Jendela itu masih bergumul dengan bulir-bulir air hujan. Sekidit reda, tapi petir masih menyambar di sana sini. Playlist di hapeku ter-shuffle acak dan tak sesuai dengan isi hatiku. Kacau. Aku memang belum bisa dikatakan dewasa, tak cukup dewasa untuk memaknai ini sendiri.

Kilasan memori itu datang lagi, tentang cinta diantara kalian, bukan aku dan Juni. Tentang bunga-bunga indah disaat kalian bermesraan, ada satu ikatan lebih. Aku tak iri apalagi cemburu. Aku hanya ingin semua jadi seperti dulu, normal dan statis.

“Aku janji gak akan ada yang berubah meskipun statusku dan Haydar berubah,” kata Diana di lounge resto favorit kita sambil memegang es krim untuknya dan Haydar.

Aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu, ada satu gejolak lain di hatiku yang menolaknya.
“Yap, itu komitmen kalian, aku sendiri hanya memegang janji kalian, good luck with your realitionship,” kataku sambil tersenyum tetapi mataku masih memunculkan sedikit ketidak-setujuan. Semoga kau tak pernah bisa melihatnya.

Jejak memori itu kupotong dan kembali ke hari ini. Hari yang langka untuk kita, berkumpul berempat, menumpahkan semua di dalam satu forum bebas. Cinta, keluarga, teman dan rahasia. Itu menjadi hal yang biasa, dulu. Tapi sekarang, itu sangat langka. Kuulangi, L-A-N-G-K-A.

Siang tadi, aku hanya bisa tersenyum di sudut kamar. Bisa mengalami hari ini bersama kalian (lagi), hal yang selama ini kuanggap tak mungkin terjadi lagi dan yang harus di garis bawahi, tak ada cinta diantara kita—kalian khususnya—lagi. Tawa kalian yang selalu meramaikan rumahku yang biasa hanya diramaikan detik jam dinding yang sesekali terdengar. Sepi.

Munafik, aku memang terlalu munafik tak pernah bisa mengunggapkannya. Aku memang plegmatis, hanya bisa melontarkan guyonan garing yang selalu membuat kalian tertawa tapi aku tidak. Ironis. Sudahlah, apa yang tejadi dulu, itu hanya masa lalu. Kini, kita kembali mengalami hari yang langka di sudut waktu yang langka juga.

Hapeku bergetar, Diana. Nama sahabatku itu tertera di layar utama hapeku. “Engga, cinta dan persahabatan bukan seperti piala yang harus diperebutkan salah satunya. Itu hak setiap orang.”

Aku tersenyum kecil di atas kasur, lalu menelentangkan tubuh menghadap langit-langit yang bocor di sudutnya. Ada kilasan itu lagi. Cinta dan persahabatan, itu topik yang ada di setiap forum kita. Lucu, masih mengganjal...

Aku mengetik beberapa kata di hapeku, “Jadi haruskah memperebutkannya dengan berkelahi seperti dua orang anak kecil yang berebut layang-layang.” Hapeku berbunyi beep. Terkirim.

Beberapa menit aku terdiam sambil memunculkan raut muka yang setengah—setengah tersenyum kecut. Aku meletakkan hape di atas dadaku, lalu melamun lagi. Kenapa harus kalian saja yang mendapatkan cinta, bukan aku? Kenapa bukan aku yang mendapatkan cinta yang selalu sesuai harapan. Bukannya datang orang yang sama sekali tak kuharapkan ada. Kenapa? Takdir?

“Ha? Childish sekali,” ujarku mengejek diri sendiri. Memang belum dewasa, masih memaknai semuanya pendek-pendek dan tak berpikir seribu satu langkah kedepan.

Hapeku bergetar lagi. Kuraih hape putih itu dari atas dada, agak malas melihat siapa yang sms. Haydar. Moodnya tepat dan bagus kali ini, pikirku. Ia memang orang yang cuek dan kadang ambisius. Tapi ada saatnya dia kalah, karena wanita. Itulah kelemahannya. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia membutuhkanku, Diana dan Juni. Sebagai sahabat. Sebagai keluarga.

“Engga, semua orang berhak mendapatkan itu, tak terkecuali kita, kawan.” Sama? Pertanyaanku terlalu gampang dan mudah ditebak jawabannya atau memang pikiran mereka berdu  bersinkronasi? Kudiamkan hapeku, tak membalasnya. Tak ada alasan aku tak membalasnya hanya malas.

Kupejamkan mata, panas, di suasana sedingin ini. Bermenit-menit kujalani tanpa satu memorimu dan apapun melintas di otak. Hanya hitam dan hening. Detik-detik itu terdengar lagi seirama dengan detak jantungku yang teratur.

Aku ingin bermimpi, di duniaku yang sempurna. Bukan panggung boneka yang monoton dan hanya bermain dengan monolog bukan dialog-dialog renyah. Aku hanya figuran dan aku tak mau itu. Aku ingin menjadi bintang bukan pembantu bintang. Dan sepertinya para sahabatku yang menjadi bintang dan aku hanya membantu mereka bersinar di panggungku sendiri. Sekali lagi, ironis, memang.

“Aku putus,” SMS Diana beberapa bulan lalu yang masih tersimpan di folder bertitel “Klise”.

Mereka putus? Aku bingung harus berekspresi seperti apa? Kaget, terlalu munafik. Datar, terlalu kejam. Melongo, terlalu idiot. Dulu, aku kawatir tentang kandasnya hubungan kalian. Bukan karena apa-apa, aku hanya takut kedepannya hubungan kita, persahabatan yang sudah kita bangun, dulu.

Tepat, setelah seminggu hubungan spesial kalian putus. Kita, sama-sama diam dalam fikiran masing-masing. Duduk berhadap-hadapan, tetapi fikiran saling bersilangan. Tak sejalan lagi. Kenapa aku harus kalian ikutkan dalam ‘hubungan’ kalian. Bukankah aku hanya sahabat kalian, tak pantas ikut-ikutan.
“Maaf,” kata-kata itu keluar dari mulut Diana dan Haydar bersamaan.

Ekspresiku datar, cenderung acuh. Hanya menyedot segelas teh kotak dingin sekal teguk. Dengan emosi. Mana komitmen kalian? Cuma seminggu? Hah! Aku memang tak pernah salah prediksi.

Aku melirik dari sudut mataku, tangan Juni mengepal dan bergetar. Braaak.. Meja itu di hantam olehnya. “Inikah, komitmen? Mana? Mulut kalian memang tak bisa dipercaya.”

“Maaf, keadaan yang memaksa kami berdua.”

Aku sebenarnya malas ikut-ikutan menanggapi masalah ini, tetapi sikap mereka yang selalu menyalahkan keadaan membuatku geram. “Hah!” kataku sambil membuang muka. Mereka berpindah fokus kearahku. “Jadi kalian cuma bisa menyalahkan keadaan. Salahkan sikap kekanakan kalian. Tak pernah berfikir sebelum bertindak dan akhirnya menyesal. Berapa kali selalu berakhir begini, dan kalian tak pernah bisa belajar?” lanjutku dengan intonasi tinggi.

Kita semua diam dan kembali terduduk tenang di kursi masing-masing. Kembali dalam beku, bermain bersama imajinasi masing-masing, mencoba saling membaca fikiran, tapi mustahil. Sekarang kita sama-sama membuat benteng yang menghalangi kita untuk saling memahami. Kini berubah seratus delapan puluh derajat jadi saling menjatuhkan. Miris.

Potongan ingatan itu buyar ketika getar kembali ada di hapeku. Kali ini dari Juni. “Lagi galau?” Tak berubah. Tetap dengan sikap cuek tapi perdulinya. Lekat.

SMS-nya juga tak kubalas. Tetap, malas.

Dalam lamunanku, aku memegang pipi kananku. Sudah beberapa dua bulan berlalu, tetapi sisa tamparan itu masih terasa hangat. Tamparan tangan Juni yang membuatku sadar. Persahabatan kami berempat masih ada, masih berdenyut walau lemah.

Ia membangunkanku dari imajinasi kelamku, yang berfikir bahwa semua itu telah berakhir karena sesuatu, benar-benar ‘sesuatu’. Itu hal sepele yang kubuat masalah dan menjadi besar. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa betapa tak dewasanya diriku. Kekanakan, terlalu kekanakan, bahkan.

Aku masih menempelkan tangan kananku di pipi, masih bermain dengan pikiranku yang liar dalam suasana sebeku ini. Panas, bangkit dan bergejolak. Semuanya berkecamuk dalam fikiranku dari satu-satu klise yang muncul kini menjadi satu kronologis yang kumengerti maksudnya. Dari sebuah bongkah demi bongkah puzzle acak yang kini mulai tersusun rapih dan berurutan. Terima kasih.

Terima kasih telah memberikan aku banyak cat warna-warni, hijau, jingga, merah dan kelabu. Terima kasih sudah menyempurnakan simfoni datarku dengan kres dan nada-nada mayor minor. Terima kasih sudah mengajarkanku fa, mi, re, bahkan si. Terima kasih sudah memberikan simpulan di setiap essay hidup yang kutulis. Dan terima kasih sudah membuat denyut lemah ini menjadi cepat dan kuat lagi.

Dan untuk cinta dalam persahabatan kami, untuk kemarahan yang pernah saling kami lontarkan. Untuk tamparan itu, untuk tangis yang pernah tumpah. Sungguh ini nyata. Terakhir, untuk cinta yang tak tahu siapa dan dimana, untuk ia yang tak pernah dapat kuraih. Aku percaya.

35 komentar:

  1. jadi inget lagunya sheila on 7 kisah klasik untuk masa depan... :')

    BalasHapus
  2. haaaaaah <--keingat kisah masa lalu

    bisa banget ya cinta yang kandas itu menghancurkan persahabatan sekian tahun. gue malah jadi musuhan lho dulu. dan SEMUANYA musuhin gue. hauhauhau

    BalasHapus
    Balasan
    1. tenang, itu jaman SD-SMP kok. udah berlaluuu huahahaha. sekarang mah jadi alergi banget kalo sahabat jadi pacar. yang ada pacar jadi sahabat ++ tuh baru oke <--semacam trauma

      Hapus
    2. sepertinya semacam curhat colongan gitu ya mbak :p

      Hapus
    3. ups ketauaan syalalala *terbang,balik ke khayangan*

      Hapus
  3. ini cerita yang pernah kamu tag ke aku , bukan ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap bener Boo :D yang di notes FB yang pernah di private, sekarang biarkan jadi bacaan khalayak banyak

      Hapus
  4. kisah hidup yang sepertinya hampir sama, keren uey ^^

    BalasHapus
  5. udah baca 2 kali nih..

    tetep ya nak.. selera baha lo itu ketinggian buat gue.. hehehe :P

    akh.. jadi ingat masalah sendiri nih...
    sahabat--oh sahabat :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tua muda pasti berkecimpung dengan konflik antar-sahabat ya mak...

      Hapus
  6. Sip. Keren...keren.
    Ceritanya cuman tentang cinta dalam persahabatan, tapi bisa diramu sampe segini panjang dengan bahasa yang puitis. Aseeeeek

    BalasHapus
  7. Kamu menggunakan kata ganti aku dicerita ini dimana sedang dalam tekanan batin, berarti beneran dong bang? Aduuh, sama kita >.< Aku juga pernah merasakannya -_-'' jadinya bener2 menghayati dah cerita ini :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang ini true story yang kualami sendiri :D bwahaha tisu mana tisu, nih bang basith sudah berderai air mata

      Hapus
  8. mas rizki kenapa nggak buat novel aja sih? ayo mas buat novelnya! hehe kereen :)

    BalasHapus
  9. "Apakah cinta dan persahabatan adalah sebuah piala, dan harus ada satu orang diantara kita saja yang mendapatkannya?" Gue suka banget sama kalimat ini, suka bgt!!

    BalasHapus
  10. saya ketampar oleh masa lalu .. bunyinya PLAAAKKK u.u

    BalasHapus
    Balasan
    1. heh, credit kan saya dengan plakk itu kakak *plakk*
      *ea* *abaikan*

      Hapus
  11. *habis baca* *galau* T.T inget pernah dianggap ngerebut ceweknya temen gue itu padahal kita cuma temen,skrg malah gak pernah teguran. #MalahCurcol

    BalasHapus
  12. cerita yang merakyat sekali(?) maksudnya yaaa, pasti banyaklah yang punya pengalaman serupa kayak cerpen ini. bagus sekaliiii, saya juga baca refrain itu lhoo!! XD

    dalem, bikin kepikiran sama masa lalu-_-a

    Oh ya, salam kenal yaaa ^-^

    BalasHapus
  13. lagi lagi keinget masa lalu. ketika cinta lebih kuat dibanding persahabatan, maka persahabatan itu akan hancur. jadi inget sahabatku dulu yang sekarang jadi musuhku cuman gara gara cewek

    BalasHapus
  14. baca artikel ini yang paling terkesan...
    >> pernah mengalami hal serupa..

    BalasHapus
  15. bagus ceritanya :D kata2 yg paling aku suka, "aku hanya figuran, dan aku tak mau itu."
    baca kisah ini jadi inget kisah lama, dan.. sahabat 'lama' haha

    BalasHapus
  16. emang susah ya kalo cinta udah berlalu, masih bisakah bersahabat?

    BalasHapus
  17. hehehe
    aku kira kayak gini cuma di tempat ku, ternyata ada juga yang ngalami hal kayak gini..

    BalasHapus
  18. pernah mengalami kisah itu juga..dan saat masih memakai putih abu-abu pula.. :D

    BalasHapus
  19. sadis!!!! ceritanya hampir mirip sm kisah gue! ahhhh sialan si daka,ngikut aja deew :p

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: