Rabu, 18 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 9

Aku; Seperti ilalang, yang dimainkan.
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Darah mengalir deras sampai ke sikuku, tangan kiriku bergetar dengan pisau buah yang masih ku genggam terbaik. Panjangnya sekitar lima sentimeter ke samping tepat di nadi tangan kiriku. Rasanya berdenyut-denyut. Aku bisa melihatnya mengalir, merah pekat. Tangan kiriku mulai berat, aku tak bisa menggerakkan ujung-ujung jariku. Aku juga tak tahu sedalam apa pisau ini membelah nadiku dan aku masih sadar saat melakukannya.

Beberapa detik kemudian, pandaganku kabur, aku hanya bisa mendengar detik dan detak jantungku. Semakin cepat lalu melamban. Pisau yang kuganakan jatuh ke lantai dan gaduh. Lalu semua menjadi dua-dua, dobel.

“Gilang,” panggil seorang suster, suaranya menggema.

Aku sudah tak dapat mengenali melihat wajahnya, buram, seperti muka rata. Suster itu mendekat—wajahnya masih buram dan aku tak tahu siapa. Tubuhku benar-benar lemas dan sekarang aku hanya bisa melihat cahaya putih di depanku. Seperti tak berdinding. Hanya putih, terang tapi tak menyilaukan.

Lalu gelap, semuanya hitam, mataku terpejam. Aku masih bisa merasakan nadiku berdenyut dan tapi tak dapat merasakan jariku bergerak. Membal.

Sudah hari ke-enam di rumah sakit dan akhirnya aku berani melakukan hal ini. Hal yang bodoh tapi setidaknya benar menurutku. Lima hari belakangan aku berfikir setiap lampu di rumah sakit perlahan redup, untuk apa hidup jika tak punya upaya untuk benar-benar ‘hidup’? Dimana keajaiban? Dimana? Mana yang Kinan jelaskan tentang keajaiban itu? Mana keajaiban yang kata Suster Dina selalu hadir? Mana? Semuanya klise.

Dan di hari ini, aku benar-benar tahu cara mendapatkan ‘keajaiban’. Ya dengan ini, aku mendapatkannya—dengan memotong urat nadi sendiri, aku menemukannya. Mungkin Abi akan menyesal sekali aku melakukan ini atau mungkin sebaliknya, ia tak perduli toh selama ini ia lebih suka bermain dengan imajinasinya bukan dengan bergelut dengan kenyataan yang ada. Lalu jika aku melakukannya salahkah? Bukankah apel jatuh tak jauh dari pohonnya?

Mataku nanar, melihat cahaya putih, hanya putih. Dimana ini? Hanya ada cahaya disini entah datangnya dari mana, ruangan ini putih dan terang.

“Gilang,” seseorang memanggilku.

Aku tak menjawab, tidak ada orang disini.

“Gilang, Gilang,” suara itu memanggil lagi, kali ini lebih keras dan datar.

Di momen ini aku baru ingat tentang hangatnya suara itu, khas. Suara yang selalu memarahiku ketika lupa makan, suara yang bau trasi di dasternya sangat menyengat. Suara dengan intonasi jelas ketika bercerita tentang masa mudanya padaku. Umi.

“Umi? Itu Umi?” tanyaku balik.

Aku masih sadar ketika mengucapkannya, aku masih sadar bahwa Umi sudah tidak ada dan ia memanggilku saat ini. Apakah aku juga sudah bukan di dunia? Aneh. Aku tak bisa melihat tubuhku, hanya ruangan putih itu yang bisa kulihat sisanya hanya suara Umi yang menggema di sudut dengarku.

“Ya, Gilang, ini Umi.”

Ini tak logis tapi otakku tak bisa menolak ketidaklogisan ini, mengalir saja.

“Umi dimana?”

“Itu tak penting, tapi yang penting apa kau sudah berpikir panjang melakukan ini? Dan sekarang apakah kau menemukan keajaiban yang kau cari?”

Aku menunduk, sial, bodoh sekali! Beberapa kali aku mengumpat dalam hati, Umi benar. Tapi aku tak salah, Tuhan memang jelas-jelas tak memberikanku jalan. Aku bukan menyerah hanya ingin stuck di keadaan seperti ini. Tidak salah juga tak benar-benar. Di tengah-tengah.

“Gilang...” kali suaranya berbeda, parau—suara lelaki—dan menggema.

Ruangan yang putih tadi berubah jadi hitam lagi, pekat dan aku tak melihat atau mendengar apapun lagi. Seperti ini sudah berbeda dimensi, Apakah aku sudah mati? Aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi mengapa aku bisa merasa ngilu di pergelangan tanganku. Dimana aku?

Berakhirkah semua ini? Lalu di nadiku terasa seperti ditusuk pisau, sangat sakit. Lalu ada cahaya yang bergerak dari kiri ke kanan bolak-balik.

“Gilang, Gilang, dia mulai sadar,” suaranya asing  di gendang telingaku.

Lalu semuanya riuh, ramai.  Mendengung di telingaku. Semua orang seperti berteriak padaku. Apa ini Tuhan? Kalau kau ingin mengambil nyawaku kenapa tidak kau akhiri disini?

“Tensinya turun, Dokter,” aku bisa mendengar suara wanita mengatakan itu.

Lalu di dalam kegelapan yang kulihat, semuanya berputar. Aku tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku, mengontrolnya saat ia kejang saat ini pun aku tak mampu. Tubuhku bergerak-gerak. Menggeliat cepat. Yang bisa kudengar saat ini hanya suara elektro-kardiograf yang selalu sama setiap detiknya. Datar. Dan hilang, semuanya.

7 komentar:

  1. eeiittsss photo2 di kmpung halaman ya, jadi ingat dulu waktu kecil..

    agak bingung nih photo sm ceritanya, hha

    BalasHapus
  2. dooor hehehe.. mas trasi apa terasi?
    keren nih, belom baca sebelum"nya, tpi sepertinya kecanduan narkoba tuh anak. bener gak?

    blogwalking pagipagi brrrr

    BalasHapus
  3. cieh cieh, makin dalem nih cerita
    asik asik terusin yang puaanjjaaaaang yak

    BalasHapus
  4. andaka kamu ga boleh niru cerita ini! ga boleh! ga boleh! jauhi narkoba! ya! ya! ya! <<< sinetronmodeon

    BalasHapus
  5. Ciri khas bang daka, selalu bergulat mengenai kematian :) Tapi sampai dibagian ini gak keliatan tanda2 apa yg akan umi berikan ke abi #pfftt tapi apa mungkin sesuatu mengenai keajaiban? tapi sesuatu itu gak akan diperkirakan oleh abi, liat aja deh ntar :3

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: