Minggu, 15 Januari 2012

Monolog Jati Diri

"DGC"
Taken with CANON EOS 550D | Editing by Photoscape
SMAN 7 Surabaya, Diklat Jurnalistik Dasar ke-1, 26 Nov 2011
Ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini:


Aku pernah menjadi malam, terbangun ketika tidak ada yang buka. Aku pernah menjadi binatang jalang, yang dimaki, dicaci, dibenci tanpa henti. Aku juga pernah menjadi lelaki malang, tanpa cinta menggelayut sedikit di hati.

Aku pernah menjadi api, berkobar, melompat dari sana kemari. Aku pernah merasakan mimpi, merajut bebintang menyulam jadi satu galaksi. Aku juga pernah merajai hari, walau aku sendiri tak pernah tahu hari apa yang kujamahi.

Pernahkah kau menjajakan diri, untuk sepenggal jari yang tak sempurna lagi? Pernah jugakah kau menjual hati, hanya untuk kepuasan birahi? Kemanakah arah pembicaraan ini? Tak terkendali.

Tapi kini, kau tahu isi hati. Aku menjadi hantu, menapak tanpa menginjak. Melayang kesana dan kembali. Aku tak tahu malam, binatang jalang ataupun lelaki malang lagi. Jadi apa lagi?

Hari apa ini? Jadi apa aku hari ini? Di panggung mana kini aku harus menari? Tiga, dua, satu, berubah lagi. Aku tak mengerti, tentang kehidupan ini, menjadi apa aku ini, hari ini. Lepas kendali.

Tapi satu hal yang pasti, hari ini, diatas jala-jala ini, aku menemukannya kembali. Aku yang sebenarnya aku. Bukan aku yang bukan sebenarnya aku. Aku menemukan diriku sendiri, bukan berubah ditentukan hari. Dan monolog ini harusnya kuakhiri. Disini.

16 komentar:

  1. aku pernah menjengkal diri,..mengenal tiap petak petak rasa...dan di onggokan batang tubuh, kudapati sbuah jawab...bahwasanya jatidiri kita yang berhak meresonansikan
    salam ukhuwah mas...suka aku rentetan kalimatnya^^

    BalasHapus
  2. Aku pernah menjadi abu, yang lemah, mudah melayang kesana kemari, dan tak kasat oleh mata ketika aku beterbangan, siapa aku ? betapa malang nasibku.

    Kwkwkwkw, sorry mengarang bebas andika :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku tahu, aku merasakan apa yang kau karang bebas bang. Dan, itu rasanya, emmm.. *mendadak bisu*

      aku juga pernah kehilangan diriku sendiri, tapi aku menemukannya kembali, dalam satu kejadian yang nggak terduga bang.

      bwahah kok jadi curhat gini

      Hapus
  3. agak membingungkan monolognya._.

    "ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini"
    kemana kawanmu nak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sengaja tidak dituliskan secara gamblang.

      pindah sekolah kk ~^^

      Hapus
  4. jadilah dirimu sendiri, karena itu akan selalu jauh lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. woa :O tehfun, kamu cantik-cantik dari hatimu... #plak

      Hapus
  5. Dinamika kehidupan dalam naungan galaksi terus berubah liar tanpa kita sadari hingga diri tak lagi mampu mengerti, meraih jati diri tanpa ada yang mempengaruhi, kita pasti akan menemukannya. Begitu? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bang, dia satu sosok yang sedang kehilangan jati diri

      Hapus
  6. saya ngomentari fotonya aja,, sayang kepotong mbk.. apa sengaja? hahaha ::)

    berkawan dengan saya ya, jangan lupa kunjungi dan follow blog saya http://kampungkaryakita.blogspot.com/. Saya sudah memfollow blog ini.. Sukses :)

    BalasHapus
  7. bingung... hehehe... lola..

    visit back ya... :)

    BalasHapus
  8. Terkadang, hal-hal disekitar kita memang mampu membuat jati diri yang sebenarnya terpasung..#soktau :)
    btw, bahasamu jauh lebih 'mateng' ketimbang umurmu dek.. :)

    BalasHapus
  9. jati diri bisa dicari kalau kita benar2 mengenal diri kita sendiri :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: