Jumat, 30 September 2011

Lagi, Haruskah Lagi?


"Dan ketika kucoba untuk kedua kali, ia lebih rapuh, retak dan lebam, apakah jalan yang kuambil salah Tuhan?"


Lagi, kesempatan itu datang lagi. Menjadi bintang yang bersinar dalam asa yang hampir putus. Tapi kadang itu membuat terasa lebih sakit. Jika seorang pujangga memberikan satu bintang kepada hambanya tapi ia terpaksa, untuk apa? Untuk memberikan duri dalam luka yang masih segar tersayat? Perih, menjadikan ia lebih dan sangat perih.
Terlambat, terlambatkah? Mungkin iya, tapi semuanya akan kucoba lagi membangung biduk-biduk antara yang menghiasi bimashakti. Hatiku, untuk kamu? Perdulikah, dapatkah aku seorang pengemis ini menerima apapun yang kau berikan kepadaku, ikhlas...
Retak, pupus, buruk rupa. Berambigu dan beresonansi semua namanya dan namamu dalam hati yang rusak oleh kamu. Tapi aku lebih condong pada bloknya, blok yang seharusnya tidak kupilih, tapi pada kenyataannya ku pilih. Sangat bodoh, bolehkah kuulangi? S-A-N-G-A-T  B-O-D-O-H

Berkecimpung dengan Air Conditioner
dan dengan kerumunan wanita
dalam riuh resah hikayat hati

Kamis, 29 September 2011

Bercabang Dua


"Ketika hujan kulihat menerkam, dalam gelap sepi mencumbu, yang angan kadang berlaku salah. Ketika cinta bercabang dua dan setelahnya: MATI."

Minggu, 25 September 2011

@andakapramadya

PENGUMUMAN:

Ganti username twitter dari @AndakaRP jadi ---> @andakapramadya

Ps. masih belum bisa aktif ngeblog sampai bulan depan, maaf bloggies :(

Selasa, 13 September 2011

R.A.T


RAT a.k.a Ratih Arnia Tsani
RAT, RAT, RAT
Sebuah inisial, sebuah haluan hidup.
Dari sebuah nama indah dengan perilakunya pula.
RAT hidup dalam suatu ruang
dan sebuah tanda untuk menerka.

RAT, karena kita bertemu
semuanya jadi salah.
Salah karena aku terlalu mencintaimu.
Terlalu mendamba dan menginginkanmu.

RAT, aku sekarang mengerti,
bahwa kau bukan untuk dimiliki,
bukan 'tuk dipertontonkan dalam hadapan semuanya sebagai "kekasih"
Aku tahu, tak perlu status untuk mengungkapkan.
Hanya satu, mengingatmu dalam pahitnya hati ini.

Kini, kau sudah dimilikinya.
Tapi, mengapa aku bisa jadi sangat bodoh,
membencimu, bukan salahmu tak memilihku.
Hanya keadaan dan aku yang membuat skenario ini.

Sebuah inisial RAT yang terselip dalam kata SEMPURNA
itulah kamu...

Ratih Arnia Tsani 

Senin, 12 September 2011

Senandung Pertemanan

Dan ketika semua yang kulihat indah,
Mereka meracau.
Ketika aku merasa semuanya tidak perlu,
Mereka menggalau.
Sebuah awal dari kata "TEMAN" lalu jadi "KAWAN" dan "SAHABAT" dan akhirnya jadi "MUSUH BEBUYUTAN"

Memang hidup bagai tirai hitam.

Di tulis di bangku paling belakang
Dengan tanpa rupa dan wajah
Berlari mengejar asa yang telah lepas 

Sabtu, 10 September 2011

Catatan Hati: Setelah Malam Ini...

Hari ini, sebuah perpisahan besar akan terjadi dalam hidup saya, selama enam belas tahun kami tinggal dalam satu ruang lingkup, kini ia harus siap meninggalkan kotak mainan yang sering kita mainkan dulu, menata jangka, buku, pensil, PR dan perasaan kekanakan kita di kotak pandora masa kecil kita. Kini engkau dewasa, pergi mengejar ilmu, pergi meninggalkan Indonesia, menuju negara seberang Malaysia. Untuk terakhir kali, ini sebuah karya tumpahan isi hati saya, terdedikasi hanya untukmu:

Setelah Malam Ini...

Malam ini adalah malam terakhir kita bisa bertatap muka. Esok, saat matahari mulai kembali ke haribaan dunia engkau harus siap meninggalkan Indonesia. Pergi lama, sangat lama.

Masih segar dalam ingatanku, ketika kelas X dan kamu masih kelas XII, aku kamu dan hari-hari kita dulu kita habiskan dengan canda yang menyeruak di setiap sudut renungan. Aku masih ingat, setiap pagi, kala itu pula rasa tidak ingin waktu berputar kembali tersemat dalam simpul syaraf kau datang membawa semangat, menggenggam harapan yang tak pernah putus.

Kagum, kagum dan kagum. Tahukah kau? Diam-diam aku menyelipkan rasa kagum itu, kagum akan kegigihanmu, kagum akan semangatmu, kagum akan cercah demi cercah harapan yang tak pernah putus. Tapi, enam belas tahun ini kita hidup dalam satu ruang lingkup, sudah terlantun begitu banyak not-not sendu, senang, riang di dalam paranada hidup kita. Siapkah engkau? Dari sudut matamu aku bisa melihat ketegaran. Tapi tahukah? Aku fobia terhadap segala perpisahan. Kenapa Tuhan harus menciptakan perpisahan, kalau itu hanya membumbungkan kesedihan?

Ingatkah engkau, tentang TOEFL itu? Yang waktu itu kita kerjakan bersama, memeras otak kita sama-sama, menyusuri setiap kata itu dengan penuh harapan: Agar engkau lolos tes itu. Dan lihat kini, jerih payah kita -- terlebih engkau -- menelurkan hasil yang gemilang. Kau berhasil, kau lolos, kau pergi...
Masih adakah? Tentang rumus-rumus matematika itu, yang seringkali membuat kita sama-sama menatap, lalu tertawa lepas ketika saling melihat garis keseriusan di wajah kita masing-masing? Tentang setiap cerita asmaramu, asmaraku, dia dan dia, yang seringkali membuatmu meneteskan air mata? Tentang langkah kita yang masih bersama, masih sejajar setiap berangkat dan pulang sekolah? Tentang setiap marahmu, setiap senyum yang terlepas dari bibirmu? Setelah malam ini, semuanya itu hilangkah? Atau akan kembali menyeruak dan terpatri dalam kotak di ingatan terdalam yang bernama "Best Moments of Us"? Entah.

Aku lelaki dan karena itu aku harus bisa, melepasmu sahabatku, kakakku.

Setelah hari-hari itu pergi, setelah malam ini berlalu dan setelah lima tahun esok, masihkah seperti ini? Aku sangat berharap Tuhan menjawab: IYA. Dengan penekanan di setiap huruf I, Y dan A-nya. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku tetap percaya, tidak akan ada yang berubah; dulu, sekarang dan selamanya.

Aku yakin lima tahun akan berlajan secepat angin menerbangkan daun-daun kering, dan secepat itu pula kau akan kembali, bersamaku, memeluk setiap kenangan kita dulu, sekarang dan selamanya.

For my best, for my sist, for us, for our spesial memories. It's dedicated to you: Ervin Susanti Permanasari.






Tuhan, berikanlah kami masa untuk bisa kembali bertemu
Tuhan, izinkanlah kami merajut kembali, semua kenangan itu
Tuhan, kami bersimpuh, menadah tangan
Bagi kami:  kenangan itu harus berlanjut, walaupun setelah lima tahun
Bye...

"Berbicara pada air lebih baik daripada berbicara pada angin. Air masih bisa memberi getaran pada kata yang kita ucap, sedangkan angin tak akan bisa, bahkan bau pun tak tercium olehnya."

Andaka Pramadya, Ervin Permana

Jumat, 09 September 2011

Flowers: Hasil Desain Abal-Abal

Halo pembaca, jum'at yang penuh warna bagi saya. Jum'at ini hari-hari saya penuh dengan desain warna-warna, percampuran warna, gradasi warna, dkk.

Kali ini dalam corel saya mulai merambah ke Mesh Fill Tool. Mesh Fill Tool adalah alat di dalam corel draw untuk menggradasikan berbagai macam warna dengan satu dan dua klik. Saya tidak bisa mendeskripsikan tentang Mesh Fill Tool di dalam postingan ini, jika ingin lebih mengetahui, silahkan klik: DISINI.

Nah, ini hasil setelah seharian berjalan-jalan menyusuri setiap jengkal ikon-ikon kecil di dalam software corel. Desain ini berjudul: Flowers. Desain ini saya buat dengan banyak mencampurkan Mesh Fill Tool dan memakai Artistic Media Tools. Dan fualla hasilnya jadi seperti ini:

Made by. CorelDraw X4 with a lot of immagination


Mohon kembali memberikan maicih* ke dalam komentar biar semakin terbakar ini postingan. Semoga menikmati dan sebelumnya terima kasih.

Ps. *Maicih= Kripik Kritik Pedas ~^^

Kamis, 08 September 2011

DAKART: Sebuah Inovasi Baru

Halo teman-teman semua, sudah sehari nggak posting. Halo, gimana kabar? Yang sekolah udah mulai sekolah jadi intensitas ngeblog harus terbagi lagi.

Kali ini saya cuman ingin berbagi dan ingin dapat kripik pedas dari semua temen-temen blogger yang expert di corel draw maupun tidak. Bisa silahkan komen hasil design saya:


Mohon kripik pedasnya, terima kasih.

Minggu, 04 September 2011

(GoVlog-Umum) Karena Foto itu Punya Nyawa

Foto adalah media kenangan yang abadi, tidak seperti memori yang akan hilang dimakan umur. Foto juga menjadi suatu ajang untuk mengekspresikan diri, dengan foto orang bisa mengetahui emosi pemotret. Saya sendiri bukanlah seorang fotografer, saya hanya orang iseng yang ingin sedikit belajar dan menjamah fotografi. Kata orang fotografi adalah mainan orang kaya, ya saya bukan orang kaya. Tapi maaf kalau asumsi saya diatas banyak memunculkan pro dan kontra. Saya beropini seperti diatas karena saya melihat dari kenyataan yang ada, seseorang yang hobi dan mahir dalam fotografi pasti berlatar-belakang keluarga kaya, bagaimana tidak, fotografi adalah hobi yang membutuhkan banyak modal. Kamera, lensa, dan atribut lain. Kalau boleh ditaksir semuanya kurang lebih 10 juta keatas. Wah, sepuluh juta? Uang darimana men!!

Tapi topik postingan kali ini bukan pro dan kontra fotografi. Hanya saya ingin membagi hasil jepretan saya, jepretan seorang amatir yang hanya ingin mengekspresikan dirinya lewat foto. Dan saya harus berterima kasih kepada Internet karena sudah sangat membantu saya dalam menyebar-luaskan hasil kinerja saya di dalam bidang fotografi.

Saya kemarin sempat mengabadikan barang-barang yang hampir luput untuk disentuh di rumah saya. Barang yang bisa dianggap 'bekas' dan jarang dipakai. Tapi dengan kamera benda itu bisa bernilai, mungkin? Entahlah. Inilah hasil jepretan saya yang saya ambil dengan kamera digital SONY DSC-W220 CyberShot:

Feather 
Yang pertama, berjudul Feather, sebuah kemoceng yang tergantung di pojokan ruang keluarga, foto saya ambil dengan background foto-foto keluarga. Saya ingin menyampaikan pesan lewat foto ini bahwa, keluarga adalah tempat terhangat untuk kita saling berbagi, bak bulu seorang induk ayam adalah tempat terhangat untuk anak-anaknya saat menjadi telur.
Blue Sky

Yang kedua bertajuk, Blue Sky. Di dalam foto ini saya ingin menyampaikan betapa sesak-nya suasana kota dan kampung saya di Surabaya ini, semakin banyak saja gedung-gedung yang meninggi, semakin pudar pula warna biru diatas langit Surabaya-ku, semakin memudar dan kemudian menjadi abu-abu penuh polusi. Semoga langitku akan selalu membahana biru.

Teddy Bear














Yang ketiga, Teddy Bear. Foto ini saya ambil dengan objek boneka Teddy milik adik saya, boneka ini sangat berarti bagi adik saya dan boneka ini didapat langsung dari Jepang. Saya ingin menggambarkan Teddy yang sedang menunduk dan 'kesepian' karena boneka ini sudah jarang sekali disentuh oleh adik saya. Saya sengaja menjadikan backgroundnya foto-foto dan jendela. Saya ingin menggambarkan kilasan kenangan yang dulu adik saya dan boneka ini lakukan. Mulai dari bangun sampai tidur kembali.

Ribbon











Yang keempat, saya beri judul Ribbon. Objeknya adalah pita hijau dengan motif kotak-kotak kuning dan hitam. Di dalam foto ini saya ingin menggambarkan tentang kehidupan, kehidupan yang selalu kotak-kotak tanpa kita tahu melangkah ke depan, kanan, kiri atau malah kembali ke belakang. Saya ingin mennyampaikan bahwa hidup ini penuh dengan pilihan.


Fur 
Yang kelima, sebuah foto Xtreme Makro bertajuk Fur. Disini saya juga ingin memberikan pesan tentang kelembutan, kelembutan yang kadang tidak pernah kita hiraukan, dari sebuah boneka yang selalu menemani malam kita dan memberikan teman disaat kita merasa sendiri. Walaupun dia hanya benda mati, tapi ia tetap 'hidup' dalam hari dan hati kita.

Innocent
Yang keenam, berjudul Innocent. Saya ingin menggambarkan wajah boneka yang selalu tetap sama walaupun ia diinjak-injak, dibuang, berdebu dan dilupakan. Ia akan tetap tersenyum dan tanpa dosa. Saya ingin menyematkan pesan tentang kesetiaan disini.

Pink
Yang ketujuh, Pink. Kenapa pink, karena objeknya full-of-pink. Saya ingin menggambarkan tentang rumitnya jahitan pita jika kita lihat lebih fokus. Ya, seperti kehidupan yang tak semudah membalikkan telapak tangan, karena hidup itu butuh perjuangan dan harus rela untuk berkorban demi keberhasilan.

Waiting for You
Yang kedelapan, sebuah foto berjudul Waiting for You. Dari judul pembaca bisa sedikit menebak tentang pesan yang ingin saya sampaikan. Ya, saya ingin menyampaikan harapan dan kesetiaan. Saya mengambil angle tidur dengan muka boneka menghadap kebawah, saya ingin memberikan nyawa yang dark pada foto ini, karena sendiri menunggu itu membosankan, tapi mengapa ia tetap melakukannya? Entah.

Untuk para pembaca, saya hanya ingin bertanya, manakah foto yang paling berkesan di benak pembaca sekalian? Beri komentar di bawah. Terima kasih banyak.




Andaka = Telur, Sebuah Telur [?]

Nama, menjadi sebuah pengantar dan pengiring kedatangan kita ke dunia ini. Nama seringkali menjadi ajang para orang tua menentukan nasib anaknya, terkadang hal itu aneh juga, mendengar ada seorang anak yang sering sakit-sakitan lalu diasumsikan anak itu "keberatan" nama. Tidak masuk akal bukan. Tapi ada benarnya juga, selayaknya nama seorang anak disesuaikan dan dalam memberikan nama, orang tua memberikan segunung harapan kelak di masa depan anak itu sesuai dengan nama yang diberikan. Sukses lahir dan batin.

Nama seharusnya juga memiliki filosofi, filosofi yang baik tentunya. Karena disetiap nama itu tersimpan harapan. Nah saya ingin membahas tentang arti nama. Memang out-of-concept saya: sastra. Ya sekedar intermezzo di awal bulan September ini.

Seperti yang anda sekalian tahu, nama lengkap saya, Andaka Rizki Pramadya. Nama saya ini memiliki arti dan filosofi. Kalau boleh saya jelaskan filosofi yang diceritakan orang tua saya kepada saya.

Sabtu, 03 September 2011

The Gift

Salam petang sahabat blogger semua. Postingan ini pendek saja, saya ingin memberikan penghargaan untuk followers saya yang ke 150: Immanuel Lubis.

Hadiah dari saya, mohon diterima:
Bisa di grab :)

Jumat, 02 September 2011

Requiem: Saat Emosi dan Amarah Menjadi Doa


Selamat merayakan hari Jum'at, hari yang pendek menurut saya. Halo pembaca, gimana harinya? Baik? Biasa? Ayo-ayo pada kemari, saya mau men-share catatan blak-blak'an terbaru saya, saya juga bingung ini disebut cablak atau cerpen atau apa? Kalau ada yang tahu bisa komen di bawah.

Ya, karya ini tercipta saat semua emosi sudah tidak bisa dibendung di otak, saat semua harapan yang selama tercercah indah menguap tanpa ada yang bisa terwujud, saat amarah merajalela di ambang-ambang perpisahan. Semuanya tertampung dan menelurkan sebuah tulisan, karya berjudul "Requiem". Tertarik, silahkan membacanya.

Semoga menikmati dan beri kritik pedasnya di kolom komentar:

Kamis, 01 September 2011

Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang

Halo pembaca, H+1 lebaran, gimana lebarannya, pasti banyak uang, hehe. Oh ya di postingan kali ini saya ingin memberikan sesuatu yang beda, sebenarnya bukan berbeda hanya saya kembali ke dalam jalur, sastra. Ya, kali ini saya ingin meresensi sebuah novel. Novel apik dari Mbak Winna Efendi.

Pertama kali saya melihat novel ini di sebuah toko buku besar di Surabaya, [Gramedia Expo Surabaya] saya sontak terpikat dengan kover novel ini, cover putih polos dengan sebuah surat berwarna biru yang bertuliskan “Refrain”. Novel yang berkutat dengan masa remaja ini cocok bagi kalian-kalian novelovers remaja atau yang berjiwa remaja, novel ini menyuguhkan intrik-intrik empuk dan menarik yang berkutat dengan masalah sepele remaja masa kini dengan tema utama cinta dan persahabatan, lebih spesifiknya saya bisa menyimpulkan, “Antara persahabatan dan atau cinta?”