Senin, 02 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 5

Something's Wrong! | Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digicam | Pixlr-o-matic

23 Desember 2011, tepat dua tahun tiga minggu setelah kepergian Umi. Terapi Abi sudah berhenti dua minggu. Masih terlalu pagi untukku bangun dari kasur dan sudah terlalu malam untuk saya tetap terbangun. Binatang malam masih bernyanyi di luar sana.

Seperti Desember lainnya, hujan masih setiap hari mengguyur kampung kami tetapi ada hal berbeda setiap tahun di kampung kami. Katak yang biasanya ada ratusan setiap tahun berkurang dan kini hanya ada beberapa saja yang masih berlompatan ketika hujan.

Aku bangkit dari ranjang untuk kembali berkutatat dengan sketsaku yang dua hari kutinggalkan. Hari ini ada deadline, harus kuserahkan sendiri ke pemesan. Abi sudah berada di dapur ketika aku akan menyiapkan kopi untuknya.

“Abi,” sapaku dengan suara parau.

“Halo, Gilang,” jawabnya sambil mengaduk segelas kopi hitam tanpa menatapku.

“Tumben, sudah bangun, Bi?”

Ia berhenti mengaduk. “Memang Abi biasa bangun sepagi ini, Lang.”

Aku menggugam karena mulutku penuh dengan air untuk berkumur dan menganggguk. Abi berbalik melihatku dan terpaku beberapa saat.

“Kalau Abi biasa bangun sepagi ini, kenapa Gilang jarang bertemu Abi di dapur seperti ini?”

Ia tertawa lalu menyeruput kopi hitamnya. Dahinya mengernyit karena kepanasan. “Abi hanya tak ingin bangun dari tempat tidur.”

“Kenapa?”

“Karena akan teringat Umi.” Deg. Sesegar itukah ingatan Abi tentang Umi?

“Kenangan?”

“Ya, saat Ia menyiapkan rawon kesukaan Abi, saat Umi menyiapkan kopi hitam Abi dan meletakkannya di meja. Abi sering melihat bayang-bayang itu Gilang.” Sama Bi.

Aku membuang sisa busa pasta gigi di mulutku dan berkumur. Abi terlihat masih meniup-niup uap yang mengepul dari cangkirnya.

“Boleh Gilang tanya sesautu Bi?”

Ia menanggguk sambil terus meniup kopinya.

“Abi rindu dengan Umi?”

Pertanyaanku agak memojokkan Abi. Ia berhenti meniup dan menatapku tajam. Irisnya yang hitam jelas menatap mataku. Hambar. Terselip satu titik kekosongan disana yang seharusnya diisi Umi.

“Kamu bisa membaca fikiran Abi, Gilang?” tanyanya. Ah sungguh bisa Abi, sungguh.

Aku menggeleng dan aku berbohong. Abi sepertinya tahu, tapi sudahlah aku hanya ingin mendengar ia rindu kepada Umi dari mulutnya bukan dari sikapnya saat ini.

“Kau punya kata lain yang lebih, untuk mengartikan kata sangat?” Ia bertanya lagi.

Aku menggeleng, lagi dan lagi.

“Jika kau sudah menemukannya, itulah jawaban Abi.” Gilang mengerti. Sangat mengerti Abi.

Dari dulu sampai sekarang Abi ada satu hal yang tak berubah dari Abi. Bermain teka-teki, membuat tanda tanya di tengah-tengah satu peristiwa. Seperti sekarang, kata yang melebihi kata sangat. Tidak ada, aku tahu Abi sangat sangat rindu. Abi hanya tak bisa memaknai kata sangat. Melebihi kata sangat, mungkin.

Abi dulu seorang karikaturis hebat. Ia sering dipesan menggambar gambar karikatur untuk demo-demo tahun enam puluhan. Pernah dulu, ia dibayar untuk menggambar karikatur PKI dan Soekarno dan upahnya tak sedikit, menurut ia sangat banyak. 1960-1969 adalah masa jaya Abi, karikaturnya laku keras dan ia menjadi pengantin baru di tahun 1964 bersama Umi. Dan bagaimana aku bisa tahu sejarah Abi sedangkan Abi adalah seorang introvert kuno yang tak pernah mau berbagi—dengan anaknya sekalipun. Umi menceritakannya, dulu, sebelum tidur malam. Ia kadang menceritakan cerita yang sama—sampai aku hafal jalan ceritanya—dan aku tak pernah bosan.

Sketsa ekterior taman bergaya kerajaan Inggris jaman delapan puluhan sudah selesai digarap, sekarang tinggal mengirimnya saja. Pemesan tak mau sketsa ini dikirim via internet atau pos, ia ingin aku yang mengirimkannya langsung dengan bayaran tiga kali lipat, katanya.

Aku mencium tangan Abi untuk meminta izin. Seperti biasa ia hanya menerawang pandang di teras.

“Mau kemana Gilang?”

“Nganter desain Abi.”

“Kenapa ndak di email saja toh?”

Ndak bisa Abi, pemesannya bersih-keras harus dikirim langsung dengan bayaran tiga kali lipat,” jelasku.
“Oh yasudah,” jawabnya, nadanya seperti khawatir.

Aku berjalan menuju gang depan untuk naik angkutan. Vespa Abi sudah kujual dua tahun lalu untuk menebus administrasi rumah sakit yang begitu besar.

“Tunggu,” kata Abi.

“Ada apa, Bi?”

“Abi ingin mengantarmu, Lang.”

“Ah, ndak usah, Bi, nanti malah Abi jatuh.”

Ia bersikukuh untuk mengantarku. “Biar,” jawabnya dingin.

Kami berdua berjalan menyusuri jalanan yang masih becek, lembek dan berlumpur. Abi agak sedikit kesulitan dengan langkahnya, terlebih dengan satu kakinya. Beberapa kali Abi goyah dan tak bisa mempertahankan topangannya.

“Abi, ndak apa-apa?” tanyaku sambil menangkap tubuhnya yang hampir jatuh karena terpeleset.

Ia mengangguk lalu meneruskan langkahnya kembali.

Kami sudah berada di depan gang dan menunggu angkutan. Abi masih tetap berkeras untuk menemaniku menunggu angkutan.

“Seandainya, motor Abi masih ada ya, Lang,” harapnya lembut dan pandangannya masih kosong menatap jalanan.

“Sudahlah Abi, jangan terlalu disesalkan.”

Aku tahu percakapan kami ini akan menjurus kepada Umi dan itu akan membuat Abi sedih (lagi). Abi terus mengandai-andai tapi aku hanya diam, tak ingin menanggapi. Angkutan warna kuning hijau yang aku tunggu sudah datang, aku melambaikan tangan dan angkutan itu menepi.

“Bi, Gilang berangkat dulu. Jaga diri, Bi,” kataku sambil menyalimi tangan Abi.

Ia mengangguk tak menjawab, sepertinya ia masih mengandai. Miris.

Angkutan membawaku menjauh dari Abi. Aku memilih duduk di bagian paling belakang agar bisa melihat Abi yang semakin kecil. Ia berbalik dan akhirnya hilang ketika masuk ke dalam gang kecil. Aku berjanji, Bi, di usia senjamu aku akan membawa senyummu kembali dan membuatmu bangga kepadaku, anak lelakimu ini.

13 komentar:

  1. Ah, bang daka... Sengaja banget bikin orang penasaran, well, abi benar-benar buat masalah ya, aku punya perasaan ending bakalan sedih nih :3

    BalasHapus
  2. wah daka apa kabar? maaf lama gk mampir ya, lagi hectic sama kuliah soalnya.. hehe wah kayaknya ada penulis handal baru nih :D

    BalasHapus
  3. kalo gini ceritanya mesti dateng lagi neh besok2nya. sukses ya di tahun baru

    BalasHapus
  4. ahhhh. kenapa segini aja lanjutannya :3
    penasaraaaann

    BalasHapus
  5. wah ada lagi, kamu emang bakat nih nulis fiksi dear... jangan berhenti ya :)

    BalasHapus
  6. Wah, lanjut gan!! ksian abi d tnggal sendiri gitu. Gilang jahat ih.. :D

    BalasHapus
  7. wehh kenapa ceritanya bikin penasaran ya?btw dibukuin dong biar mantaps hehe bisa ngasilin juga

    BalasHapus
  8. Bro, sebelum Dari Umi untuk Abi 6, Cek disini, ada sesuatu untukmu ..^^ http://jabanahsadah.blogspot.com/2012/01/re-pr-resolusi-12.html

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: