Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.

21 komentar:

  1. merasakan gimana rasanya ketika apa yang ingin kita sentuh ternyata hanya maya saja.
    keren deh!

    BalasHapus
  2. eaaa~ bang daka yeee udah gede, di twitter aja menggalau lagi jatuh cinta hahaha =))

    BalasHapus
  3. aha aha dinding maya, yang satu penulis ulung yang satu penulis liar *sekedar menebak.
    Semoga daka bisa menembus dinding maya itu ya :)

    BalasHapus
  4. kayaknya kakak gak pernah kehabisan ide deh..
    keren :D

    BalasHapus
  5. really love all of your story. am i your blog fans ^_^ nice posting daka..

    BalasHapus
  6. really love all of your story. am i your blog fans ^_^ nice posting daka..

    BalasHapus
  7. daka daka.
    mau cerita kayak gimana, tetep jempol deh tuliannya :D

    uhuk, lagi jatuh cinta ya ? :p

    BalasHapus
  8. bang teguh tebakannya bener :D sama-sama penulis memang, tapi dia bukan blogger :D

    BalasHapus
  9. bahasa nya berat banget *plakk*
    nggak kuat aku *abaikan*
    tapi akhir2nya ngerti :p

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: