Kamis, 05 Januari 2012

The Death Love

Barang mistis di rumah saya <-- Bell yang setiap malam bunyi tiga kali
Taken with SONY DSC W-220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
Beberapa polisi berseragam lengkap berlari sejajar. Masuk selonongan ke dalam satu rumah minimalis di ujung blok. Suram, gelap hanya ada ilalang kering yang tumbuh di luar pagar-pagarnya. Beberapa polisi dengan kupluk mengangkat telunjuk dan jari tengahnya ke atas dan menjatuhkannya ke arah pintu masuk rumah. Tiga diantara mereka maju dulu dan diikuti dua orang mengendap-endap bersembunyi di kanan-kiri pintu. Braak.

Satu pintu berhasil mereka dobrak lalu meloncat ke pintu lain. Kosong. Kamar dua, mereka dobrak lagi. Ruangan hampir kosong, hanya ada satu kursi dan satu orang tertunduk disana. Tangannya diikat di kursinya. Dua polisi masuk—masih mengendap-endap—lalu mengangkat dagu wanita itu.

Tepat di dua pelipisnya lubang, darahnya mengucur. Satu polisi memegang pelipisnya, gemetaran. Darahnya masih deras mengucur, mungkin baru lima belas menit yang lalu ia mati tertembak. Matanya masih terbelalak, kedua polisi itu mengatupkan matanya kebawah dan melepaskan ikatan di kursinya.

Tiga polisi yang lain masuk ke dalam sebuah kamar. Aromanya anyir, amis bau darah menyeruak ke hidung mereka. Berkali-kali mereka mendobrak pintu besi yang menutupi kamar tanpa jendela itu. Satu hentaman lengan polisi terakhir akhirnya menjebolkan pintu itu.

“Move,” teriak kepala polisi yang memimpin penggerebekan itu.

Mereka menemukannya, seorang berjenggot panjang dan berkumis tebal, dengan jeans lusuh dan robek di tempurungnya. Pria ini membawa AK47 dalam posisi siap tembak, mengacung-acungkan senjatanya ke muka para polisi itu.

“Turunkan senjatamu?”perintah salah satu polisi yang berada paling jauh dari pintu.

Pria itu menoleh dan menjawab dengan suara parau, “Bersabarlah,” ia tetap dengan tangan siap menekan pelatuk.

“Kami ulangi, turun-kan sen-ja-ta-mu!” ulang polisi tadi dengan penekanan lebih di setiap suku katanya.

“Tutup mulutmu atau isi perut senjataku ini akan menutup mulutmu dan juga nyawamu!” jawabnya melawan.

Ia tertawa terbahak-bahak lalu batuk karena tersedak tawanya. Ia menepuk dadanya keras-keras dengan kanan kirinya yang jarinya tinggal empat. “Aku, Baron! Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku, kawan-kawan.”

Mereka saling berpandangan, mereka mengganggap sepenjahat ini gila. Kepala polisi maju untuk memberikan pilihan dan penawaran kepada Baron. “Kau pilih; maju menyerahkan diri dan turunkan senjatamu atau akhiri hembusan nafasmu disini?”

“Uh, takut,” katanya sambil mengacungkan kedua tangannya ke langit-langit, nadanya sangat mengejek.

Semua polisi disana sudah sangat geram dengan Baron. Ia menyiapkan pistol tangan mereka yang sudah siap tembak. Semua terarah pada Baron. Baron tak tampak takut sedikitpun dengan  acungan pistol-pistol itu. Ia malah menyulut rokok yang ia pungut dari lantai, asapnya mengepul di udara, menambah sesak ruangan tanpa ventilasi disana.

Baron membuang asap terakhir dari rokoknya ke sekeliling—tepat di muka polisi-polisi tersebut—lalu melanjutkan, “Apakah kalian sudah membawa hadiah untuk datang ke pestaku ini?”

Ia tertawa lagi, semakin keras dan suaranya yang berat semakin parau di telinga-telinga mereka.

“Ya, tentu, kami membawa gadis yang kau bunuh, Baron,” kata salah satu polisi dengan begitu banyak tanda kehormatan tertempel di bajunya.

Ia menyeret tubuh wanita yang sudah pucat itu ke tengah-tengah lokasi, lalu menjatuhkannya sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kulit Baron yang albino kontras berubah jadi merah padam, ia geram, gadis itu adalah istrinya, Beth.

“Cepat kembalikan bidadariku.”

“Tentu, kami akan mengembalikan setelah kau menurunkan senjatamu!” tantang polisi tadi.

“Itu mau kamu? Baiklah.”

Baron membuang senjatanya ke tengah-tengah ruangan, cukup keras sampai membuat senjata rakitan itu terbelah menjadi dua di bagian sambungannya.

“Anak yang cerdas,” Polisi itu mengejek lagi.

Sontak semua polisi mejatuhkan mata senjata mereka ke tanah, mereka bergerak mendekat ke arah Baron perlahan. Baron tetap menunduk, tidak ada satu polisi pun yang dapat melihat ekspresi mukanya. Hanya Beth yang matanya masih belum mengatup yang bisa melihatnya, sayang Beth sudah mati di tangan suaminya sendiri.

Kepala polisi memutar tangannya dua kali menginstruksikan anggotanya untuk berputar mengelilingi Baron dan siaga untuk menyergapnya dari belakang.

Baron masih tertunduk dan tangannya dibawanya ke saku belakang celananya sebelum semua polisi berhasil mengelilinginya.

“Pesta dimulai kawanku,” katanya lalu tertawa gila sambil mengacungkan dua revolver ke muka polisi-polisi itu.

Baron bertindak cepat dan mengarahkan mata senjata itu tepat di mata semua polisi dan menekan pelatuknya berkali-kali. Desing senjata mulai bersahut-sahutan membuat polisi di dalam ruangan gelagapan. Satu-satu polisi disana mati tertembak di bagian mata kiri dan kanan mereka. Bergelimpangan, dan darah sudah membanjiri seisi kamar tanpa perabot disana.

“Kini tinggal kau, polisi sialan.”

Baron mengacungkan satu revolver ke arah polisi terakhir di depan pintu dan membuang satu miliknya—pelurunya habis. Polisi tersebut membeku setelah sikap sombongnya tadi menantang Baron. Sekarang, nasibnya ada di tangan pembunuh berdarah dingin di depannya.

“Baron, turunkan senjatamu,” perintahnya terbata.

“A-aa,” katanya sambil menggelengkan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Sebelum malaikat maut menjemputmu apa kau menciantai istrimu sampai mati?”

Polisi itu berkali-kali menelan ludah sambil mencari-cari apakah ada barang yang bisa dijadikannya perlindungan. Bibirnya kelu, mukanya memutih pucat.

“Cepat jawab!” teriak Baron dengan intonasi sangat tinggi.

Takut yang dirasakan Polisi itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menuruti perintah Baron. “Istri, istriku sudah mati Baron. Tapi aku tetap mencintainya sampai mati.”

Baron mengurut jenggot keritingnya sambil mengangguk sekali. “Kalau begitu, buktikan! Masih ada dua peluru di pistol ini dan keduanya untukmu sobat.”

Dengan cepat ia menekan pelatuknya untuk yang pertama dan tertembak lurus kearah dahi polisi bertubuh gendut itu. Tergeletak seketika tubuhnya dengan darah segar yang mengalir menuruni dahi hidung dan mulutnya. Tubuhnya kejang untuk beberapa saat dan akhirnya kepalanya terkulai ke samping.

Baron bersimpuh di depan tubuh istrinya yang penuh darah. “Sayang, kini hanya kau dan aku disini, aku sudah membunuh mereka semua, tidak ada yang mengganggu cinta kita lagi.”

Ia sudah gila, berbicara dengan mayat istrinya dan menggoyang-goyangkan tubuh seakan ia masih bisa berkomunikasi dengannya. Baron mengusap darah yang masih mengucur di pelipis kanan Beth dengan tangan.
“Kau masih tetap cantik, sayangku.”

Baron menelusuri bibir Beth dengan telunjuknya, meratakan gincu merah muda yang sedikit berantakan terpoles di bibirnya. Setelah ia pikir cukup sempurna geratan lipstik di bibir istrinya Baron mengecupnya kecil dan meletakkan mayatnya ke lantai.

Ia berjalan menjauh dari tubuh istrinya dan melompati mayat-mayat lain. Langkahnya becek karena darah sudah cukup membuat setiap gerakan yang ia lakukan menimbulkan bunyi gemerincing. Cermin di sudut kamar yang sudah hilang setengahnya menjadi refleksi bayangan Baron.

Wajahnya keriput dengan bulu hidung berwarna kuning keemasan menyembul keluar. Ia menekan dan menggerakkan pipinya keatas dan kebawah, menyisakan bekas darah istrinya disana. Ia memfokuskan pandangan tepat kearah kedua iris mata birunya.

Rambutnya yang tak disisir ia rapikan sekenanya dengan tangan. Lalu menyentuh guratan keriput yang berlipat tiga di dahinya, lagi-lagi meninggalkan bekas darah yang sedikit mengering di tangannya.

Baron jongkok disana dan mencelupkan tiga-perempat telunjuknya ke genangan darah, memandanginya sebentar lalu menegakkan kuda-kudanya lagi. Ruangan yang lembab disana membuat siapa saja akan sesak napas berlama-lama disana, begitupun Baron. Ia mulai tersengal sedikit.

Tangannya ia goreskan ke depan cermin yang tak sempurna itu, ke kanan, ke kiri dan kesamping. Ia menuliskan meninggalkan empat huruf disana. “MATI” ia menulisnya dengan tangan gemetaran.

Setelah selesai menulis, Baron tersengal lagi lalu terbahak dengan keras. Ia masih mengenggam revolver dengan erat sementara tangan kirinya masih meneteskan darah. Baron berbalik menghadap mayat-mayat yang sudah tak bergerak lalu menepatkan pilihan pada jenazah istrinya yang terkulai cantik. Baron menyeret tangan kiri istrinya sampai ke depan cermin, lalu menegakkan jenazah Beth. Baron menciumnya sekali lagi dan mengarahkan revolver di tangan kirinya ke arah pelipisnya.

“Aku mencintaimu sampai mati, Beth.”

Desingan senjata bergaung di seluruh sudut ruangan. Tak bisa diredam, desingan terakhir ini begitu menyeramkan yang berbaur dengan kesunyian disana. Hanya suara tetes-tetes air yang berdentum dengan darah dibawahnya adalah nyanyian terakhir disana. Mereka semua mati dan Baron akhirnya menunjukkan cinta matinya. Hidupnya, istrinya dan mereka berakhir ditangannya sendiri. Dan hening.

17 komentar:

  1. ga tau dah, ini cerita thriller atau romantis. Eh tulisanmu bener2 medeni. bagus tapine! :D dapet inspirasi darimana kau pak?

    BalasHapus
  2. yihaaaa, bagus. tapi masih kurang bisa mengimajinasikannya
    kata"nya masih rada gak mudeng :D

    BalasHapus
  3. thriller yang romantis, itu baru-baru cinta sehidup semati

    BalasHapus
  4. lain kali coba ceritain soal si lonceng yang ada di foto dong,kayaknya seru. hahaha.

    BalasHapus
  5. lain kali coba ceritain soal si lonceng yang ada di foto dong,kayaknya seru. hahaha.

    BalasHapus
  6. thriller yg membuat saya speechless..
    :') romantis

    BalasHapus
  7. Seremnya sih dapet banget feelnya, tapi sayang ini cerpen bang, aku malah jadi penasaran kenapa dia bunuh istrinya, ada sesuatu yg ganjil dicerita ini:/ Overall sih aku suka, seperti biasa hehehe ;)

    BalasHapus
  8. Setuju sama Basith, sayang motifnya ga diceritain di sini...

    BalasHapus
  9. Mistis? Bell yang setiap malam bunyi 3x? *feelin' afraid*

    BalasHapus
  10. serem :3

    eh iya, itu kenapa istrinya dibunuh ? :o

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: