Sabtu, 28 Januari 2012

Di Pemakaman, Senja Itu

Gothic? Isn't it?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing


nyalakan dan rasakan...

Jalan di pemakaman begitu sepi, hanya beberapa ilalang yang bergoyang ditiup angin. Dua orang datang dengan satu buket mawar hitam dan satu bingkai foto dengan frame hitam lurus tak beraksen. Jalan pemakaman yang setapak demi setapak dan tak rata itu memang menyulitkan mereka untuk berjalan. Mereka sudah tua. Yang satu lelaki ber-tuxedo hitam dengan mawar gepeng di sakunya dan yang satu, nenek dengan keranjang penuh bunga mawar hitam yang dirangkai sempurna, agak bungkuk dan keriputnya sudah tak terhitung.

“Sayang, aku tak ingin merasa sendiri,” ucap sang istri ketika sampai di depan satu makam tanpa nisan.

Mereka berjongkok di depan makam yang belum begitu kering itu, meletakkan sebuah foto diatas nisannya yang sederhana. Foto yang menguning, terlihat vintage. Di dalamnya ada sang kakek, nenek dan seorang remaja perempuan dengan boneka teddy yang lehernya terkoyak sesautu. Satu buket bunga mawar juga ia letakkan di atas tanah makam yang masih becek.

Kakek ber-tuxedo itu menggenggam tangan kiri istinya kuat. Saling menguatkan. Istrinya sudah sesunggukan dan air matanya jatuh diatas tanah makam yang masih basah itu.

“Sudahlah, bukankah kau tak pernah sendiri? Ada aku, sayang.”

Nenek itu menoleh, menikmati setiap hembus angin musim gugur yang menusuk mukanya yang basah. “Iya, aku tak merasa sendiri sayang, tapi ada yang kurang,” jawabnya sembari membopoh tubuhnya sendiri yang hilang keseimbangan.

Suaminya menangkap istrinya pada saat yang pas. Mereka saling memandang, saling tersenyum lalu saling memeluk. Tangis sang nenek makin pecah, ia tak perduli ia menangis dimana saat ini. Suaminya terus mengelus-elus punggung istrinya lembut.

“Sudahlah, kau takkan sendiri di dunia ini.”

“Tapi, tapi—“ telunjuk suaminya yang menempel di bibir nenek itu memotong sanggahan istrinya.

“Stt.. Ini bukan akhir, sayang, ada aku dan Tuhan yang melindungi kita.”

Ia tertegun, mematung, lalu hening. Angin berhembus kencang, menerbangkan topi bowler hitam milik sang kakek. Mereka membiarkan topi itu pergi seperti membiarkan setiap kesedihan mereka pergi juga ditiup angin. Mereka bangkit—masih bergandengan—dan melihat nisan bertuliskan “Diana Rosandra” lekat. Seperti tak ingin pergi, tapi tempat mereka bukan disini.

Satu genggam tangan Kakek itu dilepaskan dari tangan istrinya, “Tenanglah, sayang. Lihatlah dua petak lahan kosong diantara makam Diana,” katanya sambil menujuk dua petak tiga kali empat yang diepenuhi guguran bunga kertas yang mengapit makam cucu mereka.

“Lalu mengapa bukan sekarang, kita juga sudah terlalu tua untuk menumpang hidup di dunia ini. Masih banyak mereka yang berguna bagi dunia ini daripada kita. Kita sudah terlalu menyusahkan dunia, bukan?”

“Selagi jantung kita berdua masih kuat memompa dan paru-paru kita masih punya daya untuk menangkap udara, kita masih punya waktu dan kita masih berguna di dunia ini, sayang.”

“Tapi hidup ini adalah kesengsaraan tanpa Diana, bukankah ia adalah orang yang bisa mengurai senyum di wajah keriput kita yang rapuh, sayang?”

“Ya kau benar, tapi, Diana sudah tenang disana jangan kita usik lagi kehidupannya disana. Yang terpenting saat ini bagaimana memberikan kesan pada dunia di akhir-akhir hidup kita ini.”

Istrinya mengangguk yakin, lalu dengan sigap mengusap air mata yang menggenang dengan kardigan abu-abu yang ia pakai. Tangan mereka bergandengan lagi, lalu tersenyum menghadap senja yang mengoranyekan seisi pemakaman. Tempat itu mencekam tapi ada sedikit kehangatan ditengah-tengahnya. Satu keyakinan dua orang renta: untuk hidup lebih lama.

33 komentar:

  1. segala sesuatu dari Tuhan hanyalah titipan, yang senantiasa kapan saja bisa diambil oleh-Nya, mau atau tidak mau

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena semua itu berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya juga :)

      Hapus
  2. hmmm aku bisa bayangin kejadiannya. sweeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. btw lagunya serem pas terakhirnya -_- mati.

      Hapus
    2. eh alhamdulillah berarti bisa ngebawa pembaca ke dalam cerita :D eh, lagunya ya? bwahaha selamat :)

      Hapus
  3. yap, gak ada gunanya menangisi semua yg telah pergi itu hanya akan mengusik ketenangan mereka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang terpenting jalani hidup yang kita miliki sampai suatu saat waktu kita sudah habis

      Hapus
  4. yang pergi biarlah pergi.
    Untung si kakek masih ada nenek. Bayangin jika kita sudah renta sendiri menjalani sisa umur, hidup pasti akan sangat hambar,datar dan tak ada gairah

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah, ketika itu terjadi, masihkah kita bisa menjalaninya?

      Hapus
  5. ah... sya selalu suka dgn tulisan yg mengingatkan pada kematian. dengan gaya dan bentuk apapun, sya suka. :)

    BalasHapus
  6. Idih mantep banget. Kirain gue makam siapa. Ini menjelaskan ke kita kalau kematian tidak mengenal umur. Yang muda bisa aja meninggal duluan daripada yang tua. Nice posting!

    BalasHapus
    Balasan
    1. selagi kita masih punya waktu yuk sama-sama ngumpulin uang saku buat di akhirat nanti

      Hapus
  7. Wallahualam deh masalah ajal, hihi. Tulisan ini mengingatkan gua sama umur nih, #lagiultah #infoterselubung :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang, btw SEEEEEEEELAAAAAAAAAMAAAAAAAAAAAAAAAT HARI BURUNG :) SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU :D

      semoga panjang umuuur :)

      Hapus
  8. Makasih sedah mengingatkanku pada kematian.. cepat atau lambat akan datang, mudah2an kita siap saat itu.. #serembangt ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau nggak mau kita dituntut siap akan kematian sejak pertama kita lahir

      Hapus
  9. Ceritanya dalem banget bang, aku bisa kebayang gimana detil kejadian yg digambarkan lewat tulisanmu, memang udah genre kamu menyinggung kematian. Bagus, aku suka ^_^
    Akhirnya kamu pake backsound juga sepertiku hahaha itu diakhir lagu, monyet banget aku terkejut, aku bacanya malam2 gini tiba2 ada suara orang ditikam -__- pas pula diakhir kalimat aku denger suara itu, jadi tersugesti si kakek dan nenek ikutan mati kelindes traktor #efeksuara -__-'' aduhai... hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamaaat... eh aku belum denger sampe akhir lo.. dan baru ini denger, untung udah pagi :D

      Hapus
  10. jleg.
    untung bacanya pagi2 gini. kalo malem2 bisa2 kayak bang Basith, kena sugesti serem :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahaha, saya juga denger soundcloud nya pagi-pagi :p

      Hapus
  11. daka,cerita lu kece,bermakna,seperti biasa,tapi tu musik yah ga bisa selo abis! sumpaaah udh enk enk geu terhanyut ke cerita lu,endinya bikin gue jantungan!! setaaaaaaaaaannn,hahahahahahaha :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamaat ayik, kau berhak dapat kecup basah dari saya :*

      Hapus
  12. " Mengapa ada derita, bila bahagia tercipta, mengapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan ? "

    mungkin lirik ini yg wakilin perasaan si nenek y :)

    ahh, lagu fav sy, kok jd bgitu endingnya, pramadya ? hhiiiksss,,hiikkss...

    BalasHapus
  13. Bener banget, yg bisa kita lakukan untuk seseorang yg telah tiada hanyalah meneruskan semangatnya. Top banget ni cerpen, hehehe...

    BalasHapus
  14. Selama kita masih hidup, berarti kita masig berguna...pernyataan yg baguuus =D

    BalasHapus
  15. efeknya setelah baca yang ini... kalau hidup itu bener-bener ngga ada yang sia-sia... jadi inget nenek gw... Hikz..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: