Senin, 30 Juni 2014

Sekilas

-BASED ON TRUE STORY-

“Eki, ayo tarawih, sudah azan...,” suara itu menggantung di ruangan lima kali lima tempat aku melihat seorang bocah lelaki kecil duduk manis di sofa hijau bermotif bersama rapido hitam dan buku bergaris kosong.

“Eki...,” panggil suara itu lagi.

Tanpa satu kata terlontar dari mulutnya yang mungil bocah kecil itu berdiri sambil mendengus kesal. Ia berlari ke arah perempuan dengan mukena putih yang jalannya agak pincang dan bungkuk. Aku tak dapat melihat siapa dia, dia membelakangiku, kemudian berlalu pergi bersama bocah itu.

Kamis, 19 Juni 2014

Aku Pulang

Ketika dua langkah kakiku melangkah maju ke ubin-ubin yang sudah tak bisa lagi kukatakan retak, jalan air pun sudah menggenang di sudut-sudut yang punya celah. Rasanya menengadah begitu berat, asbes satu dua sisi sudah terlepas dari pegangannya.
Sungguh manusia apa aku ini? Batinku retak.
Rumahku sudah lebih dari satu tahun tak pernah kusambangi, yang ada hanya memori-memori tentang 'masa jaya'-nya yang menggantung bersama dengan rangka kayu yang tak berkekuatan. Mungkin cukup baginya satu lalat hinggap, lalu hancur ke bawah hingga kepingannya selembut debu.
Selangkah lagi kakiku maju, tapi batinku menyuruhku tetap diam di tempatku semula, bahkan satu sisi diriku menyuruhku keluar dan meninggalkannya seperti yang rekaman dalam neuronku sejak terakhir kali aku mencium bau cat yang masih terasa baru.