Sabtu, 07 Januari 2012

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

14 komentar:

  1. apa karena otak gue yang lemot, atau karena tulisan ini bersastra bahasa tinggi ya?,, tapi pas makin kebawah baru sedikit ngerti, kalo ini cerita tentang teman bintang.

    BalasHapus
  2. Oh aku mengerti maksudnya bang, pertama aku bingung dengan penyebutan rasi/nama bintang, mungkin karena aku gak tahu dan bukan dibidangnya :) Oke bang! ~(^_^)~

    BalasHapus
  3. separated because each reach the dream #sotoymodeON always liked your writing (=^.^=)

    BalasHapus
  4. waaah, mosting tiap hari yaa?

    bener2 full ide :)

    ehehehe

    BalasHapus
  5. wew bahasanya tingkat tinggi mas andaka,saya gak ngerti rasi bintang hehe,tapi maksdnya saya ngerti,btw post terus nih tiap hari ya?hemm mantap deh idenya selalu ngalir

    BalasHapus
  6. Wong pinter iki cah.. Ra salah nemokke blog iki.. Lam kenal yo mas.. :P

    BalasHapus
  7. selalu aja kemampuan ngebuat twist cerita lo bikin gue sirik :')

    BalasHapus
  8. Wah, baru kali ini gw gak begitu ngerti maksudnya. perpisahankah? bahasanya terlalu tinggi buat gw, harus diulang2 lagi nih bacanya.. mahal nih postingan, gak bisa dipahami dgn skali baca soalnya.. :)

    BalasHapus
  9. rasi dan mimpi,keduanya 'tinggi'...
    ada harapan,, yg selalu membuat kita 'melihat ke atas'

    i like this story ..
    nice !

    (pdhl otak sempat la-load baca rasi bintangg) hhehee

    BalasHapus
  10. yang saya bisa mengerti hanya komen-komen ini,.. jadii kukatakan juga sepertinya makna tulisannya belum tergapai oleh otak kecilku, mesti jinjit mungkin yaa supaya G ngerasa ketinggian,..heee

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: