Minggu, 20 November 2011

My Broken Path

Broken Doll | Taken with SONY DSC-W220 CuberShot | Editing by ToyCam AnalogColor

Dan lagi, bocah itu membaca. Membaca secarik kertas yang ia pegang erat tanpa tulisan, hanya sedikit guratan karena tergencet sesuatu selebihnya hanya kuning pucat karena tersimpan cukup lama. Ia membacanya lekat, padahal ia tahu, tak ada apapun. Hanyalah kertas kuning kusam yang ia simpan erat-erat di saku celananya.

Sesekali ia melihat mentari dan berkata sendiri dalam hati. Mentari, mengapa kita hidup? Dan untuk apa kita hidup? Untuk matikah? Pemikir. Ia memang seorang pemikir yang tak pernah berbicara dalam kebenaran, ia hanya menghias senyum dalam tangis dan merangkai ketegaran dalam suram harinya.

Sementara itu hatinya berbicara, kepada Tuhan, kepada sekelilingnya, walaupun ia sendiri tahu, ia termarginalkan, bahkan Tuhan pun mengasingkannya. Ia bermandikan kelabu, yang semakin menghitam. Dan akan selalu di jauhi ketika berusaha bangkit dari keterpurukan. Angin yang selama ini bergerak bebas dan harmonis pun merasa jijik bersimfoni dengannya.

Bocah itu hanya bocah lelaki kecil yang tak tahu harus melangkah kemana, ia hanya membaca tanda dan menelusurinya tanpa guru. Tanpa satu fondasi yang menuntun. Ia abstrak, ia seringkali termanipulasi oleh jiwanya sendiri yang begitu kompleks dibungkus oleh seonggok tubuh kecil yang polos. Tumpang tindih dan berbanding terbalik memang.

Tapi, ia tahu, ia masih memilikinya. Harapan yang tak kunjung datang itu bukan untuk ditunggu. Hanya harus berlari mengejar dan bangkit. Ia tahu, ia masih memiliki secark kertas itu. Memiliki makna, adanya harapan. Harapan yang belum ia tulis, yang belum ia capai. Ia percaya suatu saat kertas buram itu tak lagi kosong. Berubah dengan penuh jejal sesak harapan dan cita yang telah ia rengkuh. Dan kertas itu adalah penentu dan titik balik hidupnya. Dari kelabu menjadi benderang, dari hitam menjadi terang. Dan itu juga yang menjadi bukti, bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatu yang telah salah. Salah karena keadaan yang tak pernah bisa disalahkan. Menikmatinya, sampai titik balik datang.

Dan pada epilog, bocah itu menatap mentari lagi dan berterima-kasih. Lalu senyum datang dari wajah kecilnya, senyum yang sudah bertahun-tahun tak pernah singgah di pipi dan lesung pipitnya dan berdiri berlari mengejar mentari bersama siluet ‘Ia’ yang ternyata adalah aku. Aku yang bercerita tentang diriku. Tentang hidupku yang tak pernah sejalan dan selaras...

Sabtu, 19 November 2011

The Last One

"The Last One" | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Dia menoleh, mencium segenggam kotak kecil berbungkus kover cokelat lalu menciumnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ia puas, "Untuk inilah aku bertahan."

"Hanya itu? Hanya itukah harapanmu setelah bertahun-tahun?­—“ kalimatku menggantung. Dan bukan untuk aku?

Aku menunduk melihatnya dengan rasa bangga akan sesuatu yang ia dapat, sekali lagi bukan aku. Untuk hal yang lain yang sama sekali luput dari dugaanku. Meleset dan sia-siakah? Hanya ia tumpuhanku selama aku berada disini, di atas penderitaanku sendiri. Menyayat (lagi) lukaku sendiri yang masih segar.

Ia kembali menatapku setelah puas menghirup aroma khas dari sesuatu yang ia dekap. Beku, tatapannya berubah beku ketika menatapku. Mata cokelat yang dulunya selalu bergolak kini hilang menjadi mata becokelat tanpa makna. Dingin dan implisit. Tak lugas dan jelas seperti dulu ketika aku masih berjuang bersama ia.

“Bahagiakah?” tanyaku perlahan dan kata-kataku gemetar.

Ia tak menjawab, hanya mengangguk yakin. Aku balik mengangguk kepadanya. Diam. Lalu aku mendekat ke tubuhnya dan berbisik, “Kaulah wanitaku, bahagiamu, bahagiaku, hanya itu yang perlu kau tahu dariku.”

Tetap diam bahkan setelah aku mengucapkan kata-kata yang biasanya membuatnya gemetar ketika aku mengucapkannya di telinganya. Sudahlah, ia bahagia. Aku berbalik dan menatap hamparan padi yang sudah mulai menguning. Memejamkan mata dan menghirup aroma dedaunan yang selalu menenangkan.

Dan kembali kubuka mataku, berharap ini bukan kenyataan. Dan berbalik menatapnya lagi. Mataku nanar melihat siluet hitam diantara surya senja. Ia pergi?  Tanyaku dalam hati. Ia pergi dengan harapan baru, bersama hal baru dan tanpaku? Tanpaku? Dan pertanyaan terakhirku tak pernah ia jawab.

Kamis, 17 November 2011

Yang Terselamatkan

Tersibak. Untuk ia -- untuk lantunan ayatnya. Menikmati hembus nafasnya, dingin, gemetar dan rapuh. Kini, hampir hilang, tapi terselamatkan. Ia, hidupnya, untuknya; hidupku kupersembahkan.

Untuk nenek, di Rumah Sakit
untuk yang kedua kalinya.
Beliau drop, dan kini lagi.
Longlife dan Get Well Soon Gramm

Minggu, 13 November 2011

No Way to Find

The Little Bridge

Sesekali kulihat lagi, barisan memori indah itu; saat angin bermain dengan ujung-ujung rambut ikalmu. Saat mentari megiramakan detak jantungmu. Entah dimana kau sekarang, entah diujung gang atau di onak-onak cemara yang tak dapat lagi kuraih...

Sabtu, 12 November 2011

Bayangan

"Shadows" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape


"Berhenti," ujar bayangan pudar yang temaram di sudut senja.

Lelaki itu memandangi bayangannya heran dan menjawab, "Lalu, kemanakah?"

Bayangannya diam. Sepertinya hilang atau mungkin mati. Ia tetap diam, bisu sampai lelakinya geram. Memerah padam mukanya dan berkata lagi, "Baiklah, kita akan diam. Seperti ini sampai ada dialog lagi diantara hati kita yang tak sejalan."

Dia tetap diam.

Lelaki itu semakin marah, lalu ia meraih seperangkat alat jahit dari saku bajunya dan kemudian mulai menjahit, menjahit mulutnya sendiri sampai tidak bisa menganga lagi.

Bayangannya terbelalak, "Bodoh, lalu apa tujuanmu melakukannya."

Lelakinya membalas hanya dengan diam dan memang sudah tak bisa berkata lagi, lalu ia menujuk ke arah jantungnya, mengetuknya dua kali dan kemudian ia pergi dengan mulut penuh jahitan yang tak rapih. Rautnya meringis, mungkin menahan sakit. Mungkin...

Jumat, 11 November 2011

11:11, 11-11-2011

Sebelas | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Hari ini, saat detik dan menit berdampingan, sebelas dan sebelas. Ketika hari, bulan, dan tahun pun melenggak bersamaan. Juga sebelas, sebelas dan sebelas. Saat itu, aku sendiri menikmatinya, stigma indah, paradigma harap. Untuk lorong waktu yang tak berujung. Aku berdoa, untukmu kawan...

ditulis bersama kawan, bersama merayakan
sebelas, sebelas dan sebelas
ketika banyak cinta berlabuh diantaranya

Kamis, 10 November 2011

Untitled

"Benang Merah"  | Taken with DSC W220 CyberShot | Editing by Photoscape

Aku, kamu dan mereka. Dalam satu benang merah. Kami, dirimu dan semua. Kita membela, kita bersumpah dan kami merdeka. Darah dan senjata, hanya itu yang kini tersisa. Untuk dia, untuk darahnya, untuk jasanya. Kami, hari ini mememorikan semua. Dalam satu ikrar, ikrar Indonesia...

Selasa, 08 November 2011

Anekdot

"Yellow" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Deretan klise waktu; lucu, miris, menegangkan. Menderu-biru diatas warna hitam dan mengharu-sendu dibawah haribaan warna putih.  Melintas halus menerobos ruang asa, menemukan pralambang sarkasme. Diatas derita. Dalam anekdot menggelitik; kuning, hitam dan putih.

Senin, 07 November 2011

Melankolis (Gadis Ungu)

"Frida" | Taken with CamDig SONY W220 CyberShot | Editing by Photoshop
Melankolis. Masih hidupkah? Menyemikah? Entah, lenyap mungkin. Sebuah paralagu dalam serenada hidup, kuselipkan ia dan kelopaknya. Tapi kini, bobrok. Entah, apa yang kutulis, ketidak-jelasan. Tak terarah abstak namun absurd. Kuputar waktu, kutemukan kembali, dalam potret wajah ia, gadis ungu. Melankolis.

Minggu, 06 November 2011

Kemenangan: Dua

dan ini hasil peluh kami selama ini
Dua, tetapi yang pertama. Untukmu, untuk kita, untuk tim ini. Hal-hal yang semula mimpi, hari ini menjadi membumi. Dua, untuk satu kemenangan.

Aku ingat, saat-saat kita harus merelakan fisika, waktu kita melalaikan kimia sejenak, untuk sekedar meleburkan ide bersama. Karena aku idealis, karena kau perfeksionis dan kamu oportunis, itu dan hanya itu yang membuat tim ini kalis.

Dan masih segar memoriku, tentang pagi itu, pagi saat kita sibuk menyiapkan batik yang tak jadi kita kenakan, saat kita saling berkomunikasi "sedang apa dan dimana?" "ayo" dan "cepatlah". Ketika kita mulai mengerjakannya, sebuah maskot mungil buah ide kita, sang idealis, perfeksionis dan oportunis.

Ini yang kami dapat persembahkan, angka dua dan sebuah titel juara. "Kami juara dua," mungkin seperti itu lugasnya dan kami tak ingin membusungkan dada terlalu, karena ini awal, bukan epilog dari cerita tim kami.

Untuk Indonesia, untuk Surabaya, untuk sekolah tercinta; SMA Negeri 7 Surabaya, untuk kelas terindah; Sebelas IPA Dua dan Sebelas IPA Satu. Kami maju, kami bersinar hanya untuk mengharumkan. Cerita SMA.

Walau hanya dua, kami patut bangga, karena kami tunas-unggul bangsa. Selamat, selamat dan selamat untuk kami semua. We are best team ever:

Andaka Rizki Pramadya
Raymond Andreas Soebijantoro -- peranakan Indonesia.
Ditulis ketika perasaan ini terlampau bahagia, ketika tangan ini gemetar menggenggam kemenangan, sebuah ajang desain maskot yang kami juarai, dua, juara dua. Ini sebuah apresiasi saya untuk kemenangan kami, untuk sekolah kami, untuk kelas kami dan untuk semua orang yang mendukung kami.
Secuil klise abadi untuk tim kami:

Sabtu, 05 November 2011

My Drama Queen

Taken with SONY DSC W-220 CyberShot | Editing by Photoshop | "The Drama Queen"
Altar itu milikmu, kuasamu. Melingkar-liuk dari kanan ke kiri, melompat-riang dari sana kemari, dengan prolog indah menggores hati sampai epilog ranum membuai lagi, tapi semuanya terasa—basi. Hilang, hal itu hilang. Senyum dari kilas wajah penuh dempul bedak itu. Mata itu; yang selalu berbicara. Gerakan itu yang (dulu) selalu menenangkan. Kini hilang..

Kau sirna dalam panggungmu, kau hilang diatas dramamu, drama monoton tanpa dialog yang kutonton ribuan kali. Dulu aku kehilangan dirimu, kini aku kehilangan memori, kenangan dan semua tentangmu. Ratuku.