Senin, 09 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 7

Bau antiseptik merebak di sudut-sudut ketika aku mulai bisa merasakan. Pandangan masih hitam, tapi aku bisa merasakan lampu dua puluh watt menerpa mukaku langsung. Pusing sekali, aku tak bisa merasakan jari-jariku. Dari telingaku hanya ada suara elektrokardiograf yang datar dan dengkuran, khas. Dengkuran Abi. Kupaksa membuka mata, tapi tak bisa. Untuk menggerakkan bola mata saja sudah sangat pusing.

Aku mencoba mengingat-ingat kenapa aku berada disini dan sulit menggerakkan semua bagian tubuh. Aku bertemu Kinan, gadis SMA yang percaya keajaiban dan kemudian semua gelap, aku terbentur dan terpelanting lalu tak sadar dan aku berada di?

“Silahkan suster,” suara itu berbicara sayup-sayup.

Lalu tangan kananku yang tak bisa digerakkan sedikit diangkat lalu diletakkan semacam pengikat, di bagian lengan atas. Pengikat itu semakin kencang dan kencang, seperti alat tensi.

“Bagaimana keadaannya, Suster?” kata suara itu lagi.
Raindrop
Taken with DigiCam SONY W220 Cybershot
Pixlr-o-matic editing

Suara suster itu tidak jelas, hanya terdengar ia mengatakan, “maaf”, “sakit” dan “diagnosa dokter”. Fragmen kata yang sulit untuk ditebak isinya jika hanya sepotong. Mataku nanar sedikit setelah cahaya putih yang sangat terang menerpa mataku, itu membuat bola mataku sedikit bergetar.

“Gilang? Kau sudah sadar.”

Suara itu mendekat lalu tanganku digenggam erat. Kali ini aku hanya bisa menggerakkan bola mataku sedikit, ke kanan, ke kiri, masih belum bisa mengontrol tubuh. Aku diam, tak menggerakkannya lagi. Suara itu terdengar parau lalu seperti menghelae nafas yang langsung menerpa tanganku, dingin.

“Abi—“ suaranya semakin abstrak dan melemah.

Ada apa ini? Aku tak bisa menangkap suara apapun, hanya beberapa kali mendengar dengkuran percakapan kecil itupun tak semua bisa kudengar, hanya beberapa potongan kalimat dan kata-kata. Hambar rasanya seluruh tubuhku, lalu semua tubuhku mengencang dan di bagian belakang tubuhku seperti dipatahkan. Sangat sakit. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya menjerit dalam hati, toh tubuh ini tak memiliki kendali apapun jika ku perintah.

Sakitnya semakin menjadi dan menjalar ke seluruh tubuh. Dan seperti tubuhku lepas dari badanku satu persatu aku tak bisa merasakan apapun kemudian aku kehilangan kesadaran.

***

Udara menusuk-nusuk leherku dan membuat bulu romaku berdiri, dingin. Aku terbangun lagi, kini aku mencoba membuka mata lagi. Bisa, bingo. Mataku terbuka perlahan, ketika itu sangat buram, buram. Aku tak bisa melihat apapun kecuali hanya siluet orang dengan baju biru dongker dan beberapa wanita masuk dengan pakaian putih membawa seperti nampan perak.

Di telinga kananku menangkap suara, gesekan. Sontak aku menoleh ke kanan. Pandanganku mulai fokus dan jelas, tetapi sekujur tubuh masih mati rasa. Seorang suster dengan nampan perak itu membuka selimut putih tipis dari bawah tempat tidur lalu menyelimutkan pada pasien itu sampai ke atas kepala. Ia meninggal?

“Gilang, kau sudah sadar, Nak?” tanya seorang berkemeja garis biru di depan ranjangku. Abi.

“A..bi,” jawabku lirih.

“Bagaimana tidurmu, jagoan?” ujarnya lalu mengusap rambutku perlahan.

Aku tak menjawab, rasanya masih sakit untuk berbicara. Hanya tersenyum kepada Abi, dengan begini saja aku bisa mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja Abi.

Rumah sakit ini tampak asing di pandanganku, aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Ada hiasan salib kecil tergantung di dinding di sebelah jam dinding putih. Kamarku sepertinya kelas dua, hanya ada dua kamar tidur dengan kelambu hijau yang menyekat keduanya. Tampak luas dengan dua sofa yang di sediakan untuk penjaga.

Abi datang membawa satu kantong plastik penuh dengan roti, ia menawarkan satu padaku. Aku menggeleng, lidahku masih kelu dan hambar. Aku tak ingin makan.

“Bi, di sebelah tadi siapa? Abi mengenalnya?” tanyaku seperti mengeja.

Ia mengangguk sambil menggigit sedikit pinggiran roti coklat itu. “Iya Lang, ia masuk bersama kamu, dengar-dengar satu angkutan denganmu.”

Denganku? Siapa? Waktu itu hanya ada aku, Kinan, supir dan satu orang wanita dengan blazer merah muda dengan rambut cokelatnya yang berkilau di bawah sinar matahari. Kinan, supir itu ataukah wanita dengan blazer itu?

“Ia pertama kali masuk dengan seragam SMA, sudah terpasang begitu banyak alat di tubuhnya,” tambah Abi dengan mulut penuh roti.

Aku mengangguk, mengerti. Apakah mungkin Kinan? Seragam SMA tak salah lagi, Kinan.

“Em, Abi, apakah namanya Kinan?”

Ia mengangguk yakin, “Iya, kemarin Abi sempat bertanya dengan Ibunya, namanya Kinan.”

“Lalu?” aku bertanya seolah tak mengerti apa-apa, hanya memastikan yang kulihat kemarin itu benar.

Aku berhenti mengunyah, menelannya dulu dan menjawab, “Gadis itu meninggal kemarin pagi—“ kalimat Abi mengambang.

Aku tak seberapa kaget dengan pernyataan Abi. Ia juga belum beberapa waktu ku kenal, tapi sebelum nafasnya berhenti setidaknya ia telah memberikan satu perubahan kecil di hidupku—membuatku percaya lagi pada keajaiban.

“Abi, kenapa Gilang tak bisa menggerakkan seluruh tubuh Gilang?”

Pertanyaanku seperti skak match, ia tak bisa berjalan lagi langkahnya kumatikan. Abi seperti ragu untuk menjawab. Tapi aku mendesak Abi untuk mengatakan sebenarnya padaku.

“Baiklah, tetapi janji kau akan menerimanya Gilang.”

Aku mengangguk, tak yakin sebenarnya, aku takut tidak siap dengan kenyataan yang akan kudengar. Tapi aku mensugesti diriku untuk bisa menerimanya.

“Kakimu lumpuh dua-duanya, benturan kemarin mengenai syaraf tulang belakangmu dan itu membuatmu lumpuh, mungkin sementara mungkin juga tidak.”

Matanya berkaca-kaca ketika mengatakannya, aku tahu, Abi terhenyak mendengar berita seburuk itu. Dan aku, apalagi. Aku tak ingin menambah beban Abi dengan menampakkan ekspresi sedih. Aku tersenyum di depannya walaupun agak dipaksakan.

“Abi, jangan sedih, dengan begini kan Gilang bisa merasakan bagaimana rasanya jadi seperti Abi dan Gilang bisa membagi beban yang ditanggung Abi.”

Abi tertunduk tak berani melihat mataku—aku juga tak berharap ia melihat rona kesedihan yang ada di sudut-sudut mataku. Dari pucuk hidungnya menggantung setetes air mata yang kemudian jatuh di selimutku. Ia menggenggam tanganku erat, berusaha menegarkan. Aku tak siap Abi, tapi aku harus benar-benar siap dengan kenyataan.

12 komentar:

  1. kayaknya aku ketinggalan jauh nih....
    belum-belum udah 7, berarti harus baca sebelumnya dong!

    :)

    BalasHapus
  2. ini sudah tamatkah? aaa..ayo cerita lagi..

    BalasHapus
  3. Memang cerbungmu selalu punya kejutan bang, tapi selalu kejutan yg membuat orang terhenyak hehehe Aku sampe gak kepikiran kalau si cewek akan mati dan gilang lumpuh dengan mudahnya :3

    Nafsuku semakin menggebu melihat lanjutan ceritanya xD Muahuahua~

    BalasHapus
  4. Tak semua orang dapat menerima kenyataan yang terjadi... Sungguh tegar tokoh gilang dalam tulisan ini..
    lam kenal..

    BalasHapus
  5. Wah makin sedih nih kayaknya, makin penasaran juga.. :)

    BalasHapus
  6. menarik,terkadang orang baru sadar pentingnya setelah mengalami kehilangan,ditunggu lanjutannya...:)

    BalasHapus
  7. wah postingan yang menarik...
    oya gan kalo boleh saya mau tukeran link..ini link saya
    http://blog.umy.ac.id/ghea
    kalo sudah terpasang kabarin yh gan..makasih.. :D

    BalasHapus
  8. wedew udah episode 7 aja?aduhh ketinggalan cerita nih saya

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: