Rabu, 11 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 8

Daun Kering
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
"Diantara daun kering itu, ada aku dan Abi yang tak diperhatikan Tuhan."

Sudah lima hari pagiku sepi, sudah selama lima hari ini bau antiseptik sudah lebih terbiasa dengan hidungku yang alergi ini. Abi bolak-balik pulang pergi rumah ke rumah sakit untuk menemaniku disini. Sudah berkali-kali kubilang pada Abi untuk tidak usah terus-menerus menemaniku disini. Ia keras kepala, apalagi dengan keadaannya yang sudah tidak mau mengikuti terapi. Ia semakin cuek dengan keadaannya sendiri.

Dua hari terakhir ini terapi yang kujalani tak menampakkan hasil apa-apa. Nihil. Progresnya mendatar itu tandanya aku akan selamanya lumpuh, meskipun dokter berusaha menyembunyikan. Begitulah dokter, selalu memberikan harapan kosong, memberikan harapan sudah tak ada. Dan percaya pada keajaiban? Satu dibanding semilyar itu ada. Tapi aku percaya.

Aku sudah tak memiliki harapan. Aku tahu, Tuhan selalu membuat klise, klise semu yang palsu.

Suster Dina menyapaku untuk yang ketiga kalinya pagi ini, membawa senampan bubur panas—menu yang setiap pagi kumakan dan rasanya hambar—dan dua potong semangka dengan ukuran cukup besar. Muak aku dengan makanan sejenis ini, tak berasa apapun di lidahku.

“Sus, adakah menu lain yang lebih bervariasi di rumah sakit ini?”

Suster Dina tertawa khas, ia meletakkan nampan perak itu di atas meja di sudut. “Kamu bosan, Nak?” Ia tertawa, “Ya, semua orang pasti punay titik kebosanan Gilang.”

Ia duduk diatas kursi rotan yang berdecit itu lalu menengadah sambil menghela nafas. Lalu suster itu melepas bandana putih yang dipakainya. Rambutnya sudah tampak memutih di pangkal-pangkalnya. Wajahnya sudah cukup pantas dikatakan keriput, umurnya sekitar lima puluh tahunan. Bandananya berbeda dengan suster lain, mungkin ia suster kepala di ruangan ini.

“Suster sudah dua puluh lima tahun bekerja disini dan cukup sering merasa sangat bosan.”

Pandanganku berubah dari hamparan atas rumah fokus memandangnya tajam. Ia tampak sedih, di sudut keriputnya tampak itu. Sebuah kekecewaan.

“Tapi, suster disini menemukan keajaiban.”

“Keajaiban, Suster?”

“Ya, keajaiban.”

Aku tak mau menjawab, aku sudah cukup jelas dengan kata keajaiban. Kata yang membuatku terhenyak saat Kinan—almarhumah lebih tepatnya—menunjukkan bentuk nyata keajaiban itu padaku. Miris mungkin, tapi itulah sudah sangat paham diriku dengan definisi keajaiban.

“Ya suster aku mengerti,” jawabku tak semangat.

Ia mengangguk, “Ya, suster tahu kau paham. Tapi suster hanya mengingatkan; keajaiban ada kadang saat kita tak pernah menganggapnya ada,” sanggahnya lalu bangkit dan pergi dari kamarku.

Lima detik kemudian pintu kamarku berdecit lagi dan langkah yang khas tertanggap gendang telinganku—suara kaki menyeret dengan interval yang sama. Aku mendongak dan mengintip dari balik jendela. Abi, membawa sekotak nasi padang favoritnya.

Ia menggeser jendela dan menyuruhku masuk. Cukup sulit buatku untuk menyesuaikan dengan kursi roda, berat, tanganku sempat lecet karena belum terbiasa menyeret kursi roda. Ia meletakkan nasi itu diatas ranjang. Lama ia tertegun disana, tak mau berbalik.

“Bi, ada apa?”

Ia berbalik cepat-cepat, aku melihat air mata di sudut matanya, menetes. Diusapnya cepat, lalu menawarkan nasi itu padaku. “Tak apa, makanlah.”

Aku menggeleng. “Bi, pernah kau merasa Tuhan ini tak pernah adil?”

Beberapa detik kami mematung dalam pemikirinan yang mungkin sama. Kami saling berpandangan berusaha menemukan benang merah yang sudah tak terurai di otak kami. Pertanyaan ini terdengar seperti pernyataan mungkin.

“Makanlah, enak Lang.” Abi mengaburkan fokus masalah.

“Bi,” sambil menghela nafas. “Apa Abi pernah percaya keajaiban?”

Pertanyaanku seperti pedang bermata dua, mematikanku dan juga Abi. Kembali, kami dalam kebekuan. Entah, yang terdengar hanya detak jantung kami yang tak menentu.

“Dulu dan sekarang, entahlah.” Sama, Bi.

Abi menyembunyikan kedua tangannya di balik saku. Nafasnya tersengal tetapi masih berusaha melanjutkan, “Setelah Umimu ndak ada Abi ndak percaya lagi, Le.

“Aku juga Bi. Percaya atau tidak, Tuhan tak pernah memberikan jalan terang untuk kita. Tanpa kaki aku bukan apa-apa Bi. Untukmu, untuk dunia ini juga.”

Kami sama-sama tertunduk dalam kuasa Tuhan. Sama-sama kehilangan daya untuk tetap berusaha, lalu tertegun dalam satu kotak mimpi yang takkan tergapai tanpa tangan, tanpa usaha. Tuhan mengambil usaha kami, bukan untuk membuat kami lebih berusaha, tetapi malah mematikan langkah kami. Meruntuhkan satu-satunya anak tangga kami. Lalu menertawai kami, dalam satu titik keterpurukan yang menjadi.

Aku sudah berkali mencoba untuk mempercayai satu keajaiban, tapi apa, hasilnya kosong, hanya menangkap angin di mata pisau. Aku sama sekali tak bisa mengerti, labirin yang dipersiapkanku untuk Abi. Aku tak mengerti, dari mana aku harus bisa mempercayai bahwa Tuhan memberikan kami jalan keluar. Tuhan seperti selalu meniupkan angin kencang ke gubuk rapuh yang kami bangun penuh asa. Begitu saja.

“Lalu, bagaimana Le?

Mana kutahu Abi, membangun gubuk lagi? Itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama. Membangun istana? Darimana batu-batanya? Dayaku sudah hilang Abi. Mintalah kepada Tuhan, mungkin ia mendengar atau mungkin ia lebih sibuk dengan dengan hal-hal lain. Entahlah.

Pergulatan batin itu tak pernah terkata, hanya menjadi simpul merah di hati, lebih baik memang tak ada yang tahu. Lebih baik hanya aku dan Tuhan.

7 komentar:

  1. sip sip lanjutin cuman bisa bw ini :D

    BalasHapus
  2. Feelnya dapet banget bang, sejauh ini aku paling suka bagian 8nya! :) Perdebatan batin tentang keajaiban, jempol! :) Jujur aku nggak bisa dapat gambaran utk bagian selanjutnya, sebab benar2 menggantung diakhir cerita >.< hahaha Kita lihat aja ntar :p

    BalasHapus
  3. pas banget nih, bacaan sebelum tidur.. sapa tau besok udah ada kelanjutannya..^^

    BalasHapus
  4. mantap tinggal kita kembangkan,,,, lanjutkan semoga sukses

    BalasHapus
  5. Keajaiban ada kadang saat kita menganggapnya tak ada, ajib.. Lanjuuuut!! :D

    BalasHapus
  6. gila jadi ikutan sedih :'3
    berasa jadi si gilang jugaa. aaaa

    bener kata basith feelnya dapet!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: