Senin, 23 Januari 2012

Mati?

Jadi, HIDUP ataukah MATI?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

Hey Tuhan, mengapa kau ambil orang-orang yang kusayangi begitu cepat. Aku belum sempat membahagiakan mereka, tapi kau mengambilnya. Untuk alasan-alasan tertentu yang tak pernah kutahui. Aku tahu, jalan fikir manusia tak akan menjangkau proker-mu, Tuhan. Aku juga tahu tak mungkin Aku melangkahi apa yang telah kau gariskan. Tapi setidaknya sedikit saja aku tahu. Kapan mereka kau ambil, sungguh Tuhan semua tak akan seperti ini. Mati konyol!

Tuhan, tahukah Kau tentang deritaku, tentang semua hidupku kedepan tanpa mereka. Bukan, bukan satu atau dua tahun. Tapi berpuluh-puluh tahun kedepan, mungkin sampai kau ambil aku juga. Aku memang tak bisa menerawang dan memang aku bukan seorang indigo. Tapi aku bisa melihat, hitam, pekat dan tak pernah kutemukan celah untuk keluar.

Aku hambamu, Tuhan. Dan kau satu-satunya Tuhanku. Aku hanya meminta di sudut tergelap hatiku. Untuk memberimu sedikit ultimatum. Bukan untuk marah atau biasa orang sebut, murka. Aku hanya tak bisa menerima Tuhan. Sedikitpun tidak. Mungkin lebih tepatnya belum bisa. Kecewa.

Aku pernah melihat kematian di depan mataku, dan entah kenapa itu sangat mengerikan. Melihat seseorang nyawanya sudah sampai di tenggorokan, melihat orang dicabut nyawanya. Entah, aku ikut merasakannya, sakit. Apa ini Tuhan?

Jadi kematian itu apa? Itu satu pertanyaanku, mengapa ada? Kalau itu hanya membuncahkan kesedihan. Ini bukan panggung sandiwara yang habis kemudian mulai dengan judul baru. Ini kehidupan dan hanya ada satu kali kehidupan di setiap manusia. Tuhan, aku hanya ingin bertanya padamu; “Mengapa aku dilahirkan? Untuk apa kita dilahirkan? Dan, untuk siapa kita hidup?”

Apakah hanya untuk mati? Setelah semua puas apakah mereka mati? Kalau Kau menjawab ia, Tuhan, aku tak akan menuntut lagi.

10 komentar:

  1. mhm.. baca ini kenapa tiba2 jd inget berita tadi siang..???

    *duka masih menyelimuti*

    masih tetep keren tulisan mu nak.. !!!
    lanjutkan

    BalasHapus
  2. Jika tak ada kematian, mungkin pula Tuhan tak akan menciptakan kehidupan. pilih mana?

    :)

    BalasHapus
  3. mmm.. lo tau ga daka? gue dan nyokap bisa ngeramalin kapan nyokap bakal meninggal. dan gue dan nyokap udah pernah ngebicarain itu. tapi kita ngebicarain itu dengan tenang,karena gue tau sekalipun raganya ga ada,nyokap selalu ada. dia bakal tetap ngedampingin gue,dari alamnya nanti disana. kadang dianugerahi bakat kayak gitu ngebuat down karena bahkan saat ini gue masih suka nangis. tapi karenanya juga gue bisa ngeliat bahwa kematian itu hanya perpisahan sementara. hidup itu hanya mimpi dari kehidupan yang sebenarnya. dan kematian adalah proses 'bangun' dari mimpi itu. kematian itu bukan akhir,tapi awal dari sesuatu yang baru. dan kematian itu bukan sesuatu yang pantas ditakuti. ya, sedih pasti. karena kita berpisah sementara kan?

    buka mata lebar-lebar, daka. jangan mempertanyakan kenapa lo hidup. tanya saja apa sih, yang sudah lo lakukan untuk memaknai hidup lo sendiri. tugas lo lah, bukan Tuhan, untuk menemukan itu. :)

    BalasHapus
  4. Gemeter baca ini

    http://zaid-info.blogspot.com/2012/01/software-akuntansi-terbaik-2012.html

    BalasHapus
  5. kayaknya emang terinspirasi berita kecelakaan maut :D

    BalasHapus
  6. serem... aku belom pernah liat orang yang sudah mencapai sakaratul maut nya ~.~

    BalasHapus
  7. Kematian adalah takdir yang gak bisa dihindarkan. Ngeri gue baca postingan ini.. :)

    BalasHapus
  8. itu teguran dan kesempatan kedua yg dikasih Tuhan agar kita bisa memperbaiki diri agar saatnya nanti bekal kita sudah siap untuk pulang kembali pada_Nya

    BalasHapus
  9. entar ah, memahami dulu dah, lagi lola ini otak :D

    BalasHapus
  10. Ini monolog bang daka banyak dihiaskan dengan pertanyaan yang gantung #pfftt sejauh manapun orang berpikir itu bakalan tetap menjadi misteri :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: