Selasa, 31 Januari 2012

January's Quote

"Ketika anda mengkritik orang lain, secara tidak langsung anda harus siap dikritik balik oleh orang lain yang bahkan bisa lebih pedas."

Minggu, 29 Januari 2012

Kesempurnaan?

Inikah kesempurnaan?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoscape creative editing

Sabtu, 28 Januari 2012

Di Pemakaman, Senja Itu

Gothic? Isn't it?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Jumat, 27 Januari 2012

Siluet Merah dan Hitam

Creepy?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Photoshop editing

Kamis, 26 Januari 2012

Sayap Malaikat atau Tanduk Setan

Aku berjalan ke KIRI atau KANAN?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Toycam editing

Selasa, 24 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 10 (Selesai)

Firefly, sang pembawa keajaiban
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

“Milyaran tanah jarak kita,
tak jua tumbuh sayapku,
Satu-satunya, cara yang ada,
gelombang tuk’ ku bicara.”
Dewi Lestari – Selamat Ulang Tahun

Senin, 23 Januari 2012

Mati?

Jadi, HIDUP ataukah MATI?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic editing

Minggu, 22 Januari 2012

Kita

Gembok | Disanalah, kita menyimpan rapat cerita kita
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot | Pixlr-o-matic editing 
- BASED ON TRUE STORY -
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." Refrain, Winna Efendi.

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Tuhan

Tanah Tuhan; disana kami ada, berdampingan dalam dua petak Tanah Tuhan
Taken With SONY DSC W220 CyberShot | No Editing

Jumat, 20 Januari 2012

Diantara Fiksi

Milkmu?  Bungamu?
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Pixlr-o-matic creative editing

Rabu, 18 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 9

Aku; Seperti ilalang, yang dimainkan.
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Selasa, 17 Januari 2012

Sandiwara: Muka Dua

Disitu, kita bersandiwara, beradu laga
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Senin, 16 Januari 2012

Pada Waktu yang Salah...

Mungkin seperti ini, ketika cinta hadir pada waktu yang salah...
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Minggu, 15 Januari 2012

Monolog Jati Diri

"DGC"
Taken with CANON EOS 550D | Editing by Photoscape
SMAN 7 Surabaya, Diklat Jurnalistik Dasar ke-1, 26 Nov 2011
Ditulis karena keluh seorang kawan, yang kehilangan jati diri dan sudah tak disini:

Noktah Hitam Putih

UNTITLED
Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digital Camera | Editing by Pixlr-o-matic

Sabtu, 14 Januari 2012

Bercumbu

The Door
Taken with SONY DSC W220 CyberShot | Picasa editing

Kamis, 12 Januari 2012

Elegi

Simpai Rumput
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Aku bisa melihatmu, masih bisa. Kau yang menggerai rambut diantara tetalian rumput. Menari, menuai rindu di kelopak mentari. Dan aku masih mengenangmu, dalam elegi. Tentang asa, tentang cinta, tentang harapan. Kami, aku dan kamu melebur menjadi-jadi. Dan, aku masih bisa melihatmu, kini pergi meninggalkan pelangi kemudian hilang dan tak kembali.

Rabu, 11 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 8

Daun Kering
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
"Diantara daun kering itu, ada aku dan Abi yang tak diperhatikan Tuhan."

Sudah lima hari pagiku sepi, sudah selama lima hari ini bau antiseptik sudah lebih terbiasa dengan hidungku yang alergi ini. Abi bolak-balik pulang pergi rumah ke rumah sakit untuk menemaniku disini. Sudah berkali-kali kubilang pada Abi untuk tidak usah terus-menerus menemaniku disini. Ia keras kepala, apalagi dengan keadaannya yang sudah tidak mau mengikuti terapi. Ia semakin cuek dengan keadaannya sendiri.

Dua hari terakhir ini terapi yang kujalani tak menampakkan hasil apa-apa. Nihil. Progresnya mendatar itu tandanya aku akan selamanya lumpuh, meskipun dokter berusaha menyembunyikan. Begitulah dokter, selalu memberikan harapan kosong, memberikan harapan sudah tak ada. Dan percaya pada keajaiban? Satu dibanding semilyar itu ada. Tapi aku percaya.

Aku sudah tak memiliki harapan. Aku tahu, Tuhan selalu membuat klise, klise semu yang palsu.

Suster Dina menyapaku untuk yang ketiga kalinya pagi ini, membawa senampan bubur panas—menu yang setiap pagi kumakan dan rasanya hambar—dan dua potong semangka dengan ukuran cukup besar. Muak aku dengan makanan sejenis ini, tak berasa apapun di lidahku.

“Sus, adakah menu lain yang lebih bervariasi di rumah sakit ini?”

Suster Dina tertawa khas, ia meletakkan nampan perak itu di atas meja di sudut. “Kamu bosan, Nak?” Ia tertawa, “Ya, semua orang pasti punay titik kebosanan Gilang.”

Ia duduk diatas kursi rotan yang berdecit itu lalu menengadah sambil menghela nafas. Lalu suster itu melepas bandana putih yang dipakainya. Rambutnya sudah tampak memutih di pangkal-pangkalnya. Wajahnya sudah cukup pantas dikatakan keriput, umurnya sekitar lima puluh tahunan. Bandananya berbeda dengan suster lain, mungkin ia suster kepala di ruangan ini.

“Suster sudah dua puluh lima tahun bekerja disini dan cukup sering merasa sangat bosan.”

Pandanganku berubah dari hamparan atas rumah fokus memandangnya tajam. Ia tampak sedih, di sudut keriputnya tampak itu. Sebuah kekecewaan.

“Tapi, suster disini menemukan keajaiban.”

“Keajaiban, Suster?”

“Ya, keajaiban.”

Aku tak mau menjawab, aku sudah cukup jelas dengan kata keajaiban. Kata yang membuatku terhenyak saat Kinan—almarhumah lebih tepatnya—menunjukkan bentuk nyata keajaiban itu padaku. Miris mungkin, tapi itulah sudah sangat paham diriku dengan definisi keajaiban.

“Ya suster aku mengerti,” jawabku tak semangat.

Ia mengangguk, “Ya, suster tahu kau paham. Tapi suster hanya mengingatkan; keajaiban ada kadang saat kita tak pernah menganggapnya ada,” sanggahnya lalu bangkit dan pergi dari kamarku.

Lima detik kemudian pintu kamarku berdecit lagi dan langkah yang khas tertanggap gendang telinganku—suara kaki menyeret dengan interval yang sama. Aku mendongak dan mengintip dari balik jendela. Abi, membawa sekotak nasi padang favoritnya.

Ia menggeser jendela dan menyuruhku masuk. Cukup sulit buatku untuk menyesuaikan dengan kursi roda, berat, tanganku sempat lecet karena belum terbiasa menyeret kursi roda. Ia meletakkan nasi itu diatas ranjang. Lama ia tertegun disana, tak mau berbalik.

“Bi, ada apa?”

Ia berbalik cepat-cepat, aku melihat air mata di sudut matanya, menetes. Diusapnya cepat, lalu menawarkan nasi itu padaku. “Tak apa, makanlah.”

Aku menggeleng. “Bi, pernah kau merasa Tuhan ini tak pernah adil?”

Beberapa detik kami mematung dalam pemikirinan yang mungkin sama. Kami saling berpandangan berusaha menemukan benang merah yang sudah tak terurai di otak kami. Pertanyaan ini terdengar seperti pernyataan mungkin.

“Makanlah, enak Lang.” Abi mengaburkan fokus masalah.

“Bi,” sambil menghela nafas. “Apa Abi pernah percaya keajaiban?”

Pertanyaanku seperti pedang bermata dua, mematikanku dan juga Abi. Kembali, kami dalam kebekuan. Entah, yang terdengar hanya detak jantung kami yang tak menentu.

“Dulu dan sekarang, entahlah.” Sama, Bi.

Abi menyembunyikan kedua tangannya di balik saku. Nafasnya tersengal tetapi masih berusaha melanjutkan, “Setelah Umimu ndak ada Abi ndak percaya lagi, Le.

“Aku juga Bi. Percaya atau tidak, Tuhan tak pernah memberikan jalan terang untuk kita. Tanpa kaki aku bukan apa-apa Bi. Untukmu, untuk dunia ini juga.”

Kami sama-sama tertunduk dalam kuasa Tuhan. Sama-sama kehilangan daya untuk tetap berusaha, lalu tertegun dalam satu kotak mimpi yang takkan tergapai tanpa tangan, tanpa usaha. Tuhan mengambil usaha kami, bukan untuk membuat kami lebih berusaha, tetapi malah mematikan langkah kami. Meruntuhkan satu-satunya anak tangga kami. Lalu menertawai kami, dalam satu titik keterpurukan yang menjadi.

Aku sudah berkali mencoba untuk mempercayai satu keajaiban, tapi apa, hasilnya kosong, hanya menangkap angin di mata pisau. Aku sama sekali tak bisa mengerti, labirin yang dipersiapkanku untuk Abi. Aku tak mengerti, dari mana aku harus bisa mempercayai bahwa Tuhan memberikan kami jalan keluar. Tuhan seperti selalu meniupkan angin kencang ke gubuk rapuh yang kami bangun penuh asa. Begitu saja.

“Lalu, bagaimana Le?

Mana kutahu Abi, membangun gubuk lagi? Itu sama saja mengulangi kesalahan yang sama. Membangun istana? Darimana batu-batanya? Dayaku sudah hilang Abi. Mintalah kepada Tuhan, mungkin ia mendengar atau mungkin ia lebih sibuk dengan dengan hal-hal lain. Entahlah.

Pergulatan batin itu tak pernah terkata, hanya menjadi simpul merah di hati, lebih baik memang tak ada yang tahu. Lebih baik hanya aku dan Tuhan.

Hey, Its Award!

Halo semua, lagi-lagi intermezzo dulu ah, nggak mosting karya dulu ya, masih ada banyak tugas nih. Yang satu ini award, dua award lebih tepatnya. Award dari Mbak Funy dan Mbak Suci. Awardnya sama, tapi yang buat geregetan itu embel-embel di belakang awardnya. Terima kasih banyak yah kakak-kakaknya. Ngahaha. Coba lihat:
  • Thank the person who nominated you and give their blog a shout on your blog with a link to their blog:
"Terima kasih buat bapak-ibu yang telah datang dalam acara saya ini #eh. Terima kasih sebanyak dan setinggi-tingginya (pemborosan kata) kepada Mbak Funy dan Mbak Suci yang sudah memilih saya untuk menjadi penerima award ini. You both so awesome. Thanks again."
  • Share 7 random facts about yourself.
"Manusia, kulit sawo matang, mata punya dua, telinga dua, tinggi 172 sentimeter, murid SMA, penulis. DONE."

  • Send on the award to 15 bloggers whose blog you appreciate and then let them know that they have won the award.
"Lima belas orang pertama yang komen di postingan ini berhak atas award dan embel-embelnya. Nggak harus diterusin, tapi harus diambil ya, nggak diambil kena santet, #eak."

INI BENTUK AWARDNYA:

TERIMA KASIH BANYAAAAAK :3
-SEKIAN-

Selasa, 10 Januari 2012

The Gift

Halo semua kemarin saya dapat kejutan yang cukup membuat saya speechless, ya Mbak Funy membuatkan artwork untuk saya dan itu adalah artwork pertama untuk saya, tentu saja kesannya jadi spesial banget. Hihi. Nggak banyak ngomong lah, ini artwork yang keren itu:

KEREN!!!! BANGET!!! 

Senin, 09 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 7

Bau antiseptik merebak di sudut-sudut ketika aku mulai bisa merasakan. Pandangan masih hitam, tapi aku bisa merasakan lampu dua puluh watt menerpa mukaku langsung. Pusing sekali, aku tak bisa merasakan jari-jariku. Dari telingaku hanya ada suara elektrokardiograf yang datar dan dengkuran, khas. Dengkuran Abi. Kupaksa membuka mata, tapi tak bisa. Untuk menggerakkan bola mata saja sudah sangat pusing.

Aku mencoba mengingat-ingat kenapa aku berada disini dan sulit menggerakkan semua bagian tubuh. Aku bertemu Kinan, gadis SMA yang percaya keajaiban dan kemudian semua gelap, aku terbentur dan terpelanting lalu tak sadar dan aku berada di?

“Silahkan suster,” suara itu berbicara sayup-sayup.

Lalu tangan kananku yang tak bisa digerakkan sedikit diangkat lalu diletakkan semacam pengikat, di bagian lengan atas. Pengikat itu semakin kencang dan kencang, seperti alat tensi.

“Bagaimana keadaannya, Suster?” kata suara itu lagi.
Raindrop
Taken with DigiCam SONY W220 Cybershot
Pixlr-o-matic editing

Suara suster itu tidak jelas, hanya terdengar ia mengatakan, “maaf”, “sakit” dan “diagnosa dokter”. Fragmen kata yang sulit untuk ditebak isinya jika hanya sepotong. Mataku nanar sedikit setelah cahaya putih yang sangat terang menerpa mataku, itu membuat bola mataku sedikit bergetar.

“Gilang? Kau sudah sadar.”

Suara itu mendekat lalu tanganku digenggam erat. Kali ini aku hanya bisa menggerakkan bola mataku sedikit, ke kanan, ke kiri, masih belum bisa mengontrol tubuh. Aku diam, tak menggerakkannya lagi. Suara itu terdengar parau lalu seperti menghelae nafas yang langsung menerpa tanganku, dingin.

“Abi—“ suaranya semakin abstrak dan melemah.

Ada apa ini? Aku tak bisa menangkap suara apapun, hanya beberapa kali mendengar dengkuran percakapan kecil itupun tak semua bisa kudengar, hanya beberapa potongan kalimat dan kata-kata. Hambar rasanya seluruh tubuhku, lalu semua tubuhku mengencang dan di bagian belakang tubuhku seperti dipatahkan. Sangat sakit. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya menjerit dalam hati, toh tubuh ini tak memiliki kendali apapun jika ku perintah.

Sakitnya semakin menjadi dan menjalar ke seluruh tubuh. Dan seperti tubuhku lepas dari badanku satu persatu aku tak bisa merasakan apapun kemudian aku kehilangan kesadaran.

***

Udara menusuk-nusuk leherku dan membuat bulu romaku berdiri, dingin. Aku terbangun lagi, kini aku mencoba membuka mata lagi. Bisa, bingo. Mataku terbuka perlahan, ketika itu sangat buram, buram. Aku tak bisa melihat apapun kecuali hanya siluet orang dengan baju biru dongker dan beberapa wanita masuk dengan pakaian putih membawa seperti nampan perak.

Di telinga kananku menangkap suara, gesekan. Sontak aku menoleh ke kanan. Pandanganku mulai fokus dan jelas, tetapi sekujur tubuh masih mati rasa. Seorang suster dengan nampan perak itu membuka selimut putih tipis dari bawah tempat tidur lalu menyelimutkan pada pasien itu sampai ke atas kepala. Ia meninggal?

“Gilang, kau sudah sadar, Nak?” tanya seorang berkemeja garis biru di depan ranjangku. Abi.

“A..bi,” jawabku lirih.

“Bagaimana tidurmu, jagoan?” ujarnya lalu mengusap rambutku perlahan.

Aku tak menjawab, rasanya masih sakit untuk berbicara. Hanya tersenyum kepada Abi, dengan begini saja aku bisa mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja Abi.

Rumah sakit ini tampak asing di pandanganku, aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Ada hiasan salib kecil tergantung di dinding di sebelah jam dinding putih. Kamarku sepertinya kelas dua, hanya ada dua kamar tidur dengan kelambu hijau yang menyekat keduanya. Tampak luas dengan dua sofa yang di sediakan untuk penjaga.

Abi datang membawa satu kantong plastik penuh dengan roti, ia menawarkan satu padaku. Aku menggeleng, lidahku masih kelu dan hambar. Aku tak ingin makan.

“Bi, di sebelah tadi siapa? Abi mengenalnya?” tanyaku seperti mengeja.

Ia mengangguk sambil menggigit sedikit pinggiran roti coklat itu. “Iya Lang, ia masuk bersama kamu, dengar-dengar satu angkutan denganmu.”

Denganku? Siapa? Waktu itu hanya ada aku, Kinan, supir dan satu orang wanita dengan blazer merah muda dengan rambut cokelatnya yang berkilau di bawah sinar matahari. Kinan, supir itu ataukah wanita dengan blazer itu?

“Ia pertama kali masuk dengan seragam SMA, sudah terpasang begitu banyak alat di tubuhnya,” tambah Abi dengan mulut penuh roti.

Aku mengangguk, mengerti. Apakah mungkin Kinan? Seragam SMA tak salah lagi, Kinan.

“Em, Abi, apakah namanya Kinan?”

Ia mengangguk yakin, “Iya, kemarin Abi sempat bertanya dengan Ibunya, namanya Kinan.”

“Lalu?” aku bertanya seolah tak mengerti apa-apa, hanya memastikan yang kulihat kemarin itu benar.

Aku berhenti mengunyah, menelannya dulu dan menjawab, “Gadis itu meninggal kemarin pagi—“ kalimat Abi mengambang.

Aku tak seberapa kaget dengan pernyataan Abi. Ia juga belum beberapa waktu ku kenal, tapi sebelum nafasnya berhenti setidaknya ia telah memberikan satu perubahan kecil di hidupku—membuatku percaya lagi pada keajaiban.

“Abi, kenapa Gilang tak bisa menggerakkan seluruh tubuh Gilang?”

Pertanyaanku seperti skak match, ia tak bisa berjalan lagi langkahnya kumatikan. Abi seperti ragu untuk menjawab. Tapi aku mendesak Abi untuk mengatakan sebenarnya padaku.

“Baiklah, tetapi janji kau akan menerimanya Gilang.”

Aku mengangguk, tak yakin sebenarnya, aku takut tidak siap dengan kenyataan yang akan kudengar. Tapi aku mensugesti diriku untuk bisa menerimanya.

“Kakimu lumpuh dua-duanya, benturan kemarin mengenai syaraf tulang belakangmu dan itu membuatmu lumpuh, mungkin sementara mungkin juga tidak.”

Matanya berkaca-kaca ketika mengatakannya, aku tahu, Abi terhenyak mendengar berita seburuk itu. Dan aku, apalagi. Aku tak ingin menambah beban Abi dengan menampakkan ekspresi sedih. Aku tersenyum di depannya walaupun agak dipaksakan.

“Abi, jangan sedih, dengan begini kan Gilang bisa merasakan bagaimana rasanya jadi seperti Abi dan Gilang bisa membagi beban yang ditanggung Abi.”

Abi tertunduk tak berani melihat mataku—aku juga tak berharap ia melihat rona kesedihan yang ada di sudut-sudut mataku. Dari pucuk hidungnya menggantung setetes air mata yang kemudian jatuh di selimutku. Ia menggenggam tanganku erat, berusaha menegarkan. Aku tak siap Abi, tapi aku harus benar-benar siap dengan kenyataan.

Sabtu, 07 Januari 2012


Halo sekarang ada fanpage Facebook dari Symphony of Elegy, jika berkenan bisa di like disini.

Rasi dan Mimpi (Untuk Bertemu Kembali)

MENGGAPAI MIMPI
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

~ INI BUKAN FIKSI, HANYA SATU POTONGAN HIDUP HARI INI ~

Merah, biru, ungu, dan indigo. Kami sama-sama melihat langit, merah, biru, ungu dan indigo. Berbeda, tapi sama. Semua berbintang, kami sama-sama menujuknya, rasi gubuk penceng. Kami sama-sama memperhatikannya.

“Lihatlah, rasi itu, dari kanan ke kiri kemudian ke bawah.”

“Ya lihatlah, itu canopus, yang putih kekuningan.”

“Benar, yang itu di ujung rasi Carina.”

Lalu muncul harapan, yang selama ini kami pendam diam-diam. Mengembang, dalam tunjuk-menujuk. Aku menujuk Bellatrix, kawanku menujuk Gacrux. Lalu kami sama-sama berpandangan, dalam kotak empat belas inci.

“Hey, pilihan kita sama.”

“Ya, sama. Bellatrix dan Gacrux sama-sama berwarna merah, kawan.”

Pilihan kami sama, memerah dan jingga. Mungkin, hampir sama. Walau berbeda rasi, kami sama.

Sudah lewat tengah malam, aku dan Ia menelusuri bintang, mengambilnya, dan menyelipkan harapan disana. Banyak sekali, terlampau banyak melebihi jumlah bintang di Bima Shakti. Tapi kini, sudah terlampau pagi, kotak kami sudah memanas dari tadi.

“Kawan, ini sudah terlalu sepi.”

“Sepi? Ya, tapi mimpi-mimpi ini? Siapa yang memegangi?”

Aku menengadah lagi, “Lihatlah, sebuah rasi, ia tampak berbeda dari kecil sampai tertinggi. Ia masih memegangi dalam satu ikatan lagi.”

“Maksudmu?”

“Tak perlu satu tangan memegangi, karena mimpi ini akan selalu mempunyai rasi.”

Kami sama-sama mengerti, tentang arah pembicaraan ini. Mungkin hanya kami yang mengerti arti “terlampau pagi”, arti mimpi-mimpi, dan rasi-rasi.

“Untuk yang terakhir kawan. Pilihlah satu dari sejuta mimpi.”

“Baiklah, untuk yang terakhir, pilihlah dengan tanpa menutup mata.”

Ya kami membuatakan mati kami masing-masing, lalu menelisik dan menengadah kembali. Untuk yang terakhir, kami memilih satu mimpi. Satu diantara sejuta mimpi-mimpi. Dan kami memilih...

“Aku memilih Procyon. Kau?” Mata kami masih terpejam.

“Aku memilih, Gomesia.” Terlampau kecil.

“Hei, coba lihat, kita memilih bintang dalam satu rasi.”

“Aku lebih memaknai, dalam satu mimpi, kawan.”

“Ya perpisahan ini mempunyai mimpi. Untuk bertemu kembali.”

Kotak empat belas inci kami sama-sama menghitam, memunculkan bunyi perpisahan, dalam alat ketik yang memanas, saat senja saat pagi, tak pernah bertemu, tapi kami sama menggapai mimpi. Untuk bertemu kembali.

untuk semua kawan saya di blog 
yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu

Jumat, 06 Januari 2012

Dinding Maya

Aku dan kamu, fokus dan miss-fokus, itulah kita, terpisah...
Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
-BASED ON TRUE STORY-

“Aku suka kunang-kunang, senja dan hujan,” kata gadisku lalu merentangkan kedua tangannya memeluk angin.

Aku hanya tersenyum, ingin memeluk angin bersamanya, tapi tak bisa. Aku ingin merasakan anginnya tapi tak bisa. Hanya deburnya yang sama.

“Aku suka perjumpaan kita,” jawabku sangat lirih.

Ia meringis, lalu tertawa. Dengar? Apa ia mendengarnya? Peduli apa. Kami masih disana, di pantai dengan jiwa sastra, menikmatinya sendiri, berdua dan selamanya. Ia merenggang kami sama-sama menarik ulur. Kadang mendekat, lekat. Kadang, jauh, menjauh, lalu rindu.

Ia mengendus, perjumpaan kita. “Perjumpaan kita? Sudahlah. Lalu, apa yang kau suka?” tanyanya di lirih di sudutnya.

Lama, aku membeku di tepi lautan. Ingin menjawab, perlukah? “Aku suka pagi, langit dan gerimis.” Acak.
Dan berganti ia dan hiatusnya, menjadi lebur kasih. Hilang dalam stigma-stigmanya yang tak tersentuh kemudian meluap dan meledak diantaranya. Itulah ia, meledak-ledak dan bodoh telah mencintaiku.

“Aku suka hubungan ini?” Apa? Kau menyukainya?

Ini menjadi intermezzo mungkin, kenapa ia suka, kenapa ia mencintai hubungan ini? Tahukah kau kasih, sungguh aku tak senyaman kau, menyukai hal-hal acak, mencintai keburaman. Seperti ini, cinta kita, tenggorokanku tercekal faringku seperti stroke, aku tak akan bisa mengatakannya.

Percakapan kami benar saja terhenti, kami masih terpisah, walau dalam pantai yang sama. Dalam intensitas laut yang sama, dalam satu dekap angin. Lalu aku berusaha menyentuhnya, tak bisa.

“Dinding ini,” kataku dan mengetuknya tiga kali.

Ia menyentuhnya, mengusapnya dari kiri ke kanan, mengbuang sembul-sembul uap yang memburamkannya. Ia menatapku dari sana dengan kalem. Kami sama-sama diatas angin, mengadu nasib, menunggu takdir. Di epilog, tunggulah siapa yang akan jatuh terlebih dulu, aku kamu atau dinding ini. Dunia Maya.

Kamis, 05 Januari 2012

The Death Love

Barang mistis di rumah saya <-- Bell yang setiap malam bunyi tiga kali
Taken with SONY DSC W-220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing
Beberapa polisi berseragam lengkap berlari sejajar. Masuk selonongan ke dalam satu rumah minimalis di ujung blok. Suram, gelap hanya ada ilalang kering yang tumbuh di luar pagar-pagarnya. Beberapa polisi dengan kupluk mengangkat telunjuk dan jari tengahnya ke atas dan menjatuhkannya ke arah pintu masuk rumah. Tiga diantara mereka maju dulu dan diikuti dua orang mengendap-endap bersembunyi di kanan-kiri pintu. Braak.

Satu pintu berhasil mereka dobrak lalu meloncat ke pintu lain. Kosong. Kamar dua, mereka dobrak lagi. Ruangan hampir kosong, hanya ada satu kursi dan satu orang tertunduk disana. Tangannya diikat di kursinya. Dua polisi masuk—masih mengendap-endap—lalu mengangkat dagu wanita itu.

Tepat di dua pelipisnya lubang, darahnya mengucur. Satu polisi memegang pelipisnya, gemetaran. Darahnya masih deras mengucur, mungkin baru lima belas menit yang lalu ia mati tertembak. Matanya masih terbelalak, kedua polisi itu mengatupkan matanya kebawah dan melepaskan ikatan di kursinya.

Tiga polisi yang lain masuk ke dalam sebuah kamar. Aromanya anyir, amis bau darah menyeruak ke hidung mereka. Berkali-kali mereka mendobrak pintu besi yang menutupi kamar tanpa jendela itu. Satu hentaman lengan polisi terakhir akhirnya menjebolkan pintu itu.

“Move,” teriak kepala polisi yang memimpin penggerebekan itu.

Mereka menemukannya, seorang berjenggot panjang dan berkumis tebal, dengan jeans lusuh dan robek di tempurungnya. Pria ini membawa AK47 dalam posisi siap tembak, mengacung-acungkan senjatanya ke muka para polisi itu.

“Turunkan senjatamu?”perintah salah satu polisi yang berada paling jauh dari pintu.

Pria itu menoleh dan menjawab dengan suara parau, “Bersabarlah,” ia tetap dengan tangan siap menekan pelatuk.

“Kami ulangi, turun-kan sen-ja-ta-mu!” ulang polisi tadi dengan penekanan lebih di setiap suku katanya.

“Tutup mulutmu atau isi perut senjataku ini akan menutup mulutmu dan juga nyawamu!” jawabnya melawan.

Ia tertawa terbahak-bahak lalu batuk karena tersedak tawanya. Ia menepuk dadanya keras-keras dengan kanan kirinya yang jarinya tinggal empat. “Aku, Baron! Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku, kawan-kawan.”

Mereka saling berpandangan, mereka mengganggap sepenjahat ini gila. Kepala polisi maju untuk memberikan pilihan dan penawaran kepada Baron. “Kau pilih; maju menyerahkan diri dan turunkan senjatamu atau akhiri hembusan nafasmu disini?”

“Uh, takut,” katanya sambil mengacungkan kedua tangannya ke langit-langit, nadanya sangat mengejek.

Semua polisi disana sudah sangat geram dengan Baron. Ia menyiapkan pistol tangan mereka yang sudah siap tembak. Semua terarah pada Baron. Baron tak tampak takut sedikitpun dengan  acungan pistol-pistol itu. Ia malah menyulut rokok yang ia pungut dari lantai, asapnya mengepul di udara, menambah sesak ruangan tanpa ventilasi disana.

Baron membuang asap terakhir dari rokoknya ke sekeliling—tepat di muka polisi-polisi tersebut—lalu melanjutkan, “Apakah kalian sudah membawa hadiah untuk datang ke pestaku ini?”

Ia tertawa lagi, semakin keras dan suaranya yang berat semakin parau di telinga-telinga mereka.

“Ya, tentu, kami membawa gadis yang kau bunuh, Baron,” kata salah satu polisi dengan begitu banyak tanda kehormatan tertempel di bajunya.

Ia menyeret tubuh wanita yang sudah pucat itu ke tengah-tengah lokasi, lalu menjatuhkannya sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Kulit Baron yang albino kontras berubah jadi merah padam, ia geram, gadis itu adalah istrinya, Beth.

“Cepat kembalikan bidadariku.”

“Tentu, kami akan mengembalikan setelah kau menurunkan senjatamu!” tantang polisi tadi.

“Itu mau kamu? Baiklah.”

Baron membuang senjatanya ke tengah-tengah ruangan, cukup keras sampai membuat senjata rakitan itu terbelah menjadi dua di bagian sambungannya.

“Anak yang cerdas,” Polisi itu mengejek lagi.

Sontak semua polisi mejatuhkan mata senjata mereka ke tanah, mereka bergerak mendekat ke arah Baron perlahan. Baron tetap menunduk, tidak ada satu polisi pun yang dapat melihat ekspresi mukanya. Hanya Beth yang matanya masih belum mengatup yang bisa melihatnya, sayang Beth sudah mati di tangan suaminya sendiri.

Kepala polisi memutar tangannya dua kali menginstruksikan anggotanya untuk berputar mengelilingi Baron dan siaga untuk menyergapnya dari belakang.

Baron masih tertunduk dan tangannya dibawanya ke saku belakang celananya sebelum semua polisi berhasil mengelilinginya.

“Pesta dimulai kawanku,” katanya lalu tertawa gila sambil mengacungkan dua revolver ke muka polisi-polisi itu.

Baron bertindak cepat dan mengarahkan mata senjata itu tepat di mata semua polisi dan menekan pelatuknya berkali-kali. Desing senjata mulai bersahut-sahutan membuat polisi di dalam ruangan gelagapan. Satu-satu polisi disana mati tertembak di bagian mata kiri dan kanan mereka. Bergelimpangan, dan darah sudah membanjiri seisi kamar tanpa perabot disana.

“Kini tinggal kau, polisi sialan.”

Baron mengacungkan satu revolver ke arah polisi terakhir di depan pintu dan membuang satu miliknya—pelurunya habis. Polisi tersebut membeku setelah sikap sombongnya tadi menantang Baron. Sekarang, nasibnya ada di tangan pembunuh berdarah dingin di depannya.

“Baron, turunkan senjatamu,” perintahnya terbata.

“A-aa,” katanya sambil menggelengkan telunjuknya ke kiri dan kanan. “Sebelum malaikat maut menjemputmu apa kau menciantai istrimu sampai mati?”

Polisi itu berkali-kali menelan ludah sambil mencari-cari apakah ada barang yang bisa dijadikannya perlindungan. Bibirnya kelu, mukanya memutih pucat.

“Cepat jawab!” teriak Baron dengan intonasi sangat tinggi.

Takut yang dirasakan Polisi itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menuruti perintah Baron. “Istri, istriku sudah mati Baron. Tapi aku tetap mencintainya sampai mati.”

Baron mengurut jenggot keritingnya sambil mengangguk sekali. “Kalau begitu, buktikan! Masih ada dua peluru di pistol ini dan keduanya untukmu sobat.”

Dengan cepat ia menekan pelatuknya untuk yang pertama dan tertembak lurus kearah dahi polisi bertubuh gendut itu. Tergeletak seketika tubuhnya dengan darah segar yang mengalir menuruni dahi hidung dan mulutnya. Tubuhnya kejang untuk beberapa saat dan akhirnya kepalanya terkulai ke samping.

Baron bersimpuh di depan tubuh istrinya yang penuh darah. “Sayang, kini hanya kau dan aku disini, aku sudah membunuh mereka semua, tidak ada yang mengganggu cinta kita lagi.”

Ia sudah gila, berbicara dengan mayat istrinya dan menggoyang-goyangkan tubuh seakan ia masih bisa berkomunikasi dengannya. Baron mengusap darah yang masih mengucur di pelipis kanan Beth dengan tangan.
“Kau masih tetap cantik, sayangku.”

Baron menelusuri bibir Beth dengan telunjuknya, meratakan gincu merah muda yang sedikit berantakan terpoles di bibirnya. Setelah ia pikir cukup sempurna geratan lipstik di bibir istrinya Baron mengecupnya kecil dan meletakkan mayatnya ke lantai.

Ia berjalan menjauh dari tubuh istrinya dan melompati mayat-mayat lain. Langkahnya becek karena darah sudah cukup membuat setiap gerakan yang ia lakukan menimbulkan bunyi gemerincing. Cermin di sudut kamar yang sudah hilang setengahnya menjadi refleksi bayangan Baron.

Wajahnya keriput dengan bulu hidung berwarna kuning keemasan menyembul keluar. Ia menekan dan menggerakkan pipinya keatas dan kebawah, menyisakan bekas darah istrinya disana. Ia memfokuskan pandangan tepat kearah kedua iris mata birunya.

Rambutnya yang tak disisir ia rapikan sekenanya dengan tangan. Lalu menyentuh guratan keriput yang berlipat tiga di dahinya, lagi-lagi meninggalkan bekas darah yang sedikit mengering di tangannya.

Baron jongkok disana dan mencelupkan tiga-perempat telunjuknya ke genangan darah, memandanginya sebentar lalu menegakkan kuda-kudanya lagi. Ruangan yang lembab disana membuat siapa saja akan sesak napas berlama-lama disana, begitupun Baron. Ia mulai tersengal sedikit.

Tangannya ia goreskan ke depan cermin yang tak sempurna itu, ke kanan, ke kiri dan kesamping. Ia menuliskan meninggalkan empat huruf disana. “MATI” ia menulisnya dengan tangan gemetaran.

Setelah selesai menulis, Baron tersengal lagi lalu terbahak dengan keras. Ia masih mengenggam revolver dengan erat sementara tangan kirinya masih meneteskan darah. Baron berbalik menghadap mayat-mayat yang sudah tak bergerak lalu menepatkan pilihan pada jenazah istrinya yang terkulai cantik. Baron menyeret tangan kiri istrinya sampai ke depan cermin, lalu menegakkan jenazah Beth. Baron menciumnya sekali lagi dan mengarahkan revolver di tangan kirinya ke arah pelipisnya.

“Aku mencintaimu sampai mati, Beth.”

Desingan senjata bergaung di seluruh sudut ruangan. Tak bisa diredam, desingan terakhir ini begitu menyeramkan yang berbaur dengan kesunyian disana. Hanya suara tetes-tetes air yang berdentum dengan darah dibawahnya adalah nyanyian terakhir disana. Mereka semua mati dan Baron akhirnya menunjukkan cinta matinya. Hidupnya, istrinya dan mereka berakhir ditangannya sendiri. Dan hening.

Rabu, 04 Januari 2012

25, 12, 2011: The Death Came (R.I.P Ben Breedlove)

Benjamin Daniel Breadlove atau biasa dikenal dengan Ben Breedlove, seorang video blogger di youtube yang lahir pada 8 Agustus 1993 yang beberapa waktu lalu eksis dengan videonya yang bertajuk "This is My Story". Ada dua bagian di dalam video ini, Part 1 dan Part 2, bagian kedua videonya dirilis 18 Desember 2011 tepat 7 hari sebelum kematiannya saat natal.

Di video itu diceritakan lewat note card yang ditulisnya, ia adalah seorang penderita Hipertrofik Kardiomiopati, sebuah penyakit kelainan otot jantung yang membuat jantung sulit memompa darah dan akan menyebabkan gangguan pada jantung. Diaknosa awal dokter terhadap Breedlove adalah Ia tak akan bertahan melewati masa-masa remajanya. Miris Bukan, dan yang lebih ironisnya lagi diagnosa dokter itu benar.

Breedlove menjelaskan dalam videonya, "Aku tiga kali bertemu dengan kematian". Ya Breedlove memang tiga kali 'menantang' kematian karena kondisinya. Ia menceritakan dalam videonya tanpa berbicara hanya menunjukkan deretan notes yang ia tulis tangan lalu ia tunjukkan pada layar.

Part 1 menurut saya adalah Part yang paling 'menakutkan' ya saat Breedlove menunjukkan bekas jahitan lebar di bagian dada kirinya, terlihat masih memerah dengan kulit bulenya yang putih. Ia menceritakan setiap kali ia 'menantang' kematian ia melihat cahaya putih di suatu ruangan tanpa dinding hanya cahaya. Menurut saya ini adalah sebuah pertanda.

Breedlove sepertinya sangat menghindari kata 'menantang maut' ia lebih suka menyebutnya "I Cheated the Death", Aku menipu kematian. Dan Ia menurut saya orang yang cukup beruntung dapat selamat dari maut sampai tiga kali. Beberapa diantara orang-orang seperti ini bahkan tak memiliki kesempatan lebih.

Mungkin, Tuhan ingin menyampaikan pesan lewat Breedlove bahwa hidup itu tak perlu didramalisasi, hidup ini adalah sebuah perjalanan yang akhirnya akan kembali kepada kematian. Mungkin Tuhan ingin memberikan semangat kepada 'mereka' yang sama seperti Breedlove yang masih berjuang atas hidupnya, tak perlu patah semangat, Tuhan masih memberikannya waktu untuk tersenyum untuk menipu kematian seperti Breedlove.


"Do you believe in Angels or God? | I do"
Ben Breedlove, This is My Story Part 2

*****

Satu fiksi mini dari saya untuknya, Ben Breedlove:

"Apakah kau percaya dengan Tuhan?"

"Tidak, kalau ada kenapa ada orang sepertiku?" katanya sambil menunjuk ke arah dada yang baru selesai di operasi kemarin.

"Inilah jalan Tuhan, Kawan."

"Apa? Membuatku bertemu kematian berkali-kali?"

"Ya, dengan itu kau akan bertemu dengan-Nya dan kau akan percaya bahwa Ia ada."

Keduanya terdiam dalam kebekuan tentang Tuhan. Di tengah senja mendekap mereka dalam satu harapan, kembali bertemu Tuhan.

*****

Dan ini videonya,
THIS IS MY STORY (PART 1)



THIS IS MY STORY (PART 2)



Desember 25, 2011: Rest In Peace Ben Breedlove
"Aku percaya, saat ini kau sudah bertemu dengan malaikat-malaikat dan Tuhan."

Dari Umi untuk Abi Bagian 6

Clover, the Miracle
Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Masih cukup pagi, matahari masih mengintip di lembah-lembah berkabut sana. Angkutan sepi, hanya ada aku yang duduk di belakang dengan seorang Ibu yang membawa banyak sayuran di pelukannya. Masih tujuh puluh kilometer lagi. Dari luar jendela orang-orang sudah mulai aktivitas masing-masing. Menggendong bayinya ke luar sambil bercengkrama, berwudhu, menyanggul besek di kepala, menggembala ternak. Lingkunganku masih benar-benar desa. Tapi, itulah esensinya, harmonisasi kebersamaan yang sinergi.

Dari meja kemudi masih terdengar teriakan supir memanggil penumpang. Aku melihat jam tangan, masih jam setengah tujuh. Angkutan melaju kencang, sekitar empat puluh kilometer per jam. Angkutan mengerem mendadak lalu seorang pelajar SMA masuk dengan rok yang bergitu minim.

“Permisi,” katanya sambil menunduk dan menduduki bangku sebelahku yang kosong.

Aku hanya tersenyum sambil mempersilahkan duduk. Angkot melaju lagi, tapi kali ini perlahan, tiga puluh menit di angkot ini membosankan sekali tanpa suara. Lalu aku menangkap getaran faring di sebelahku.

“Um, mau kemana nih, Mas?” tanya anak SMA tadi.

“Mau nyerahin kerjaan, nih Mbak. Mbaknya nggak telat udah jam tujuh.”

“Nggak mas, lagi malas di rumah saja, harusnya sekolah masuk siang?” jelasnya.

Aku mengangguk-angguk seperti mengerti, entah di dalam hatiku merasa ingin tahu kenapa ia malas berada di rumah. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kalau boleh tahu, kenapa malas berada di rumah mbak?”

Ia diam sejenak kemudian menunduk, raut wajahnya berubah murung, ia melumat sapu tangan merah muda yang ia genggam kuat-kuat. Seluruh bagian angkot jadi hening. Ia masih diam, lalu ibu dengan sayuran-sayurannya turun di perempatan jalan depan tugu. Dan, hening kembali.

Lirih suara tawanya kemudian terdengar, aku merengut mencoba menyelinap masuk ke dalam fikirannya.

“Aku tidak ingin tinggal dengan orang tuaku lagi,” katanya pelan.

Aku manggut-manggut lagi, entah kenapa aku semakin ingin tahu tentang kehidupan gadis ini.

“Um, memangnya orang tuamu kenapa?” tanyaku spontan.

Ia diam lagi lalu menatapku dalam. Matanya merah, pelupuknya basah. Punggung tangannya diusapkan ke kedua bola matanya lalu melanjutkan.

“Rumahku selalu penuh dengan pertengkaran mereka, Mas. Ndak salah juga kalau aku malas di rumah, ya toh?”

Aku menggumam, aku mengerti perasaan gadis ini. “Ya, tapi nggak bener juga dek, kalau pergi dari rumah gini. Kamu kan sudah SMA harus bisa mengambil sikap, ya kan?”

Sekarang ganti ia yang mengangguk mengerti dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan menengadah. Ternyata ada yang lebih dari masalahku dengan Abi. Dan kembali hening, hanya suara klakson mobil dan motor yang membaur di telingaku.

“Masnya percaya dengan keajaiban?”

Aku tersentak tak memperhitungkan ia akan bertanya lagi. “Ndak mbak, sudah dua tahun ini saya tidak lagi percaya dengan keajaiban.”

Ia seperti tertarik dengan arah perbincangan ini, ia sedikit memiringkan duduknya menghadap kearahku. Lalu menegakkan punggungnya. Gadis itu mengangkat tangan kanannya yang menggengam.

“Kenapa? Kalau aku percaya, percaya suatu saat akan ada keajaiban untuk orang tuaku dan tidak lagi bertengkar,” tukasnya yakin, sangat yakin.

Aku tak tertarik dengan topik ini. Persetan dengan keajaiban. Diam dan lagi klakson terdengar jelas di dua gendang telingaku, menggaung seiring dengan debar jantungku yang meningkat. Sesak.

Aku merebahkan punggungku yang kaku karena satu jam lebih duduk tak bergerak. Sisa-sisa semangatnya tadi belum sepenuhnya padam, masih menggenggam erat sapu tangannya. Sudah separuh perjalanan dan sekarang suasana berganti atmosfir kota, penuh dengan hiruk-pikuk kendaraan, polusi dan gedung-gedung perkantoran.

Gadis itu masih terdiam dalam semangatnya, meluap-luap, percaya akan keajaiban yang akan datang di hidupnya. “Oh ya, kenalin aku Kinan, masnya?” celetuknya sambil menyodorkan tangan kanannya.

Aku menjabat tangannya, dingin. “Gilang.”

“Wah, namanya sama kayak Papah Kinan.”

“Oh ya?”

“Iya, kebetulan sekali.”

“Iya, ya.”

Lalu kami tertawa, saling bertukar pandang. Aku melihat kekosongan disini, di dalam irisnya yang cokelat. Pandangannya tak terarah, seperti melamun tapi fokus. Siang ini sangat panas apalagi untuk taraf lingkungan baru seperti ini, aku belum terbiasa.

Kinan merogoh-rogoh saku banjunya, dalam sekali, ditangannya ada dua bungkus permen warna-warni, satu ia genggam satu lagi ia sodorkan ke aku dan berkata. “Mau,?” tatapannya begitu hangat tapi tetap tak tersentuh dan kosong.

Kinan membuka bungkus permennya yang berwarna transparan, ia mengangkat permen itu agak tinggi lalu sedikit menutup mata kirinya. “Pelangi,” teriaknya tiba-tiba.

Aku terhenyak, dari tadi aku melamun, hanya memutar-mutar bungkus permen dengan warna dasar putih itu. Ia mencolek pundakku sambil melambaikan tangannya di depan mukaku, dekat sekali.

“Uh, ada apa?”

“Ngelamun aja, Mas,” godanya sambil tetap mengamati permen transparannya.

Aku tertawa kecut lalu mengamati permen yang Kinan pegang. “Memang apa bagusnya permen lima ratusan ini?” godaku balik.

Hening lagi, sepertinya diantara percakapan kami ini menyimpan sekat, saat ia bertanya padaku begitupun juga saat aku bertanya padanya. Lagi-lagi, ia menantapku, tatapannya tetap kosong. Persis dengan mata Abi. Kosong.

“Ini keajaiban.”

“Keajaiban?”

“Ya, keajaiban. Coba lihat, letakkan pada sinar matahari.”

Aku menuruti perintahnya, membuka bungkus permen tadi dan membiarkan permen itu jatuh tepat dibawah sinar mentari. Satu, dua dan tiga detik, otakku menganalisa. Tidak ada yang spesial.

“Coba lagi,” katanya.

Aku mengamatinya lagi, lebih kritis. Tiba-tiba kilatan itu keluar. Kilatan cahaya warna-warni. Pelangi.

“Sudah terlihat?”

“Ya,” kataku lalu menggenggam permen itu erat-erat. Lengket.

“Itulah keajaiban. Pelangi,” jawabnya penuh dengan penekanan.

Ia berhasil lagi, membekukan percakapan ini dan aku kembali dalam diam.

Keajaiban? Hanya kata itu yang dari tadi melingkari neuron-neuron otakku. Remaja ini telah memperlihatkan bentuk nyata keajaiban padaku tapi sungguh aku masih belum percaya, keajaiban itu masih ada.

Diantara lamunanku tentang keajaiban, supir membanting setir ke kanan, ia menghindari truk tronton yang seenaknya masuk ke jalur kami. Angkot kami oleng, aku terpelanting ke atas berputar-putar, tubuhku serasa repuk terhimpit kursi angkot yang lepas dari mur-murnya dan kepalaku terbentur sesuatu. Kemudian hilang, kabur dan semuanya menjadi gelap, semakin gelap dan aku tak dapat meraih apapun lagi.

Selasa, 03 Januari 2012

Tertawaan Tuhan

- DE~VIL -
Model: Wahyu Durrotur | Photoshop Creative | Capture with SONY DigiCam
CLICK TO ENLARGE

“Kau percaya takdir?”

“Tidak, bahkan aku tak percaya Tuhan!”

“Kenapa?”

“Jika ada, kenapa ia membedakan kita dengan mereka?”

Tangannya menunjuk mereka yang berdasi dan bermobil hitam. Di sungai seberang.

Rumah-rumah berlantai tiga, tertata rapih dari blok A sampai Z, berwarna-warni. Sedangkan kami, hanya berderet tiga, dengan ornamen sampah dan hitam putih. Hidup dalam susun demi susun kardus basah, lembek dan tak terarah. Kumuh, menjijikkan. Itu sangat kontras, bagiku, Tuhan. Dan kini haruskah aku percaya, um, kau ada?

“Kau salah kawanku.”

“Salah?”

“Tuhan itu ada—”

“Buktinya?”

“Sebentar, jangan potong kalimatku.”

“Ya.”

“Tuhan itu ada, bagi mereka dan semu untuk kita!”

“Lalu, masihkah deras air mata  Ibu kita berguna, untuk meminta kepada Tuhan?”

“Entahlah, teriaklah, Tuhan mendengarmu dari atas kepala-kepala mereka.”

Kemudian mereka terhenyak dalam tawa miris. Senja sore dimana dua orang insan sudah tak percaya Tuhan. Dalam kenyataan, dalam harapan yang tak pernah diwujudka. Mereka ingin membeli keajaiban, tapi, Tuhan mematok harga terlampau tinggi. Dan akhirnya mati tanpa Tuhannya.

Senin, 02 Januari 2012

Dari Umi untuk Abi Bagian 5

Something's Wrong! | Taken with SONY DSC W220 CyberShot Digicam | Pixlr-o-matic

23 Desember 2011, tepat dua tahun tiga minggu setelah kepergian Umi. Terapi Abi sudah berhenti dua minggu. Masih terlalu pagi untukku bangun dari kasur dan sudah terlalu malam untuk saya tetap terbangun. Binatang malam masih bernyanyi di luar sana.

Seperti Desember lainnya, hujan masih setiap hari mengguyur kampung kami tetapi ada hal berbeda setiap tahun di kampung kami. Katak yang biasanya ada ratusan setiap tahun berkurang dan kini hanya ada beberapa saja yang masih berlompatan ketika hujan.

Aku bangkit dari ranjang untuk kembali berkutatat dengan sketsaku yang dua hari kutinggalkan. Hari ini ada deadline, harus kuserahkan sendiri ke pemesan. Abi sudah berada di dapur ketika aku akan menyiapkan kopi untuknya.

“Abi,” sapaku dengan suara parau.

“Halo, Gilang,” jawabnya sambil mengaduk segelas kopi hitam tanpa menatapku.

“Tumben, sudah bangun, Bi?”

Ia berhenti mengaduk. “Memang Abi biasa bangun sepagi ini, Lang.”

Aku menggugam karena mulutku penuh dengan air untuk berkumur dan menganggguk. Abi berbalik melihatku dan terpaku beberapa saat.

“Kalau Abi biasa bangun sepagi ini, kenapa Gilang jarang bertemu Abi di dapur seperti ini?”

Ia tertawa lalu menyeruput kopi hitamnya. Dahinya mengernyit karena kepanasan. “Abi hanya tak ingin bangun dari tempat tidur.”

“Kenapa?”

“Karena akan teringat Umi.” Deg. Sesegar itukah ingatan Abi tentang Umi?

“Kenangan?”

“Ya, saat Ia menyiapkan rawon kesukaan Abi, saat Umi menyiapkan kopi hitam Abi dan meletakkannya di meja. Abi sering melihat bayang-bayang itu Gilang.” Sama Bi.

Aku membuang sisa busa pasta gigi di mulutku dan berkumur. Abi terlihat masih meniup-niup uap yang mengepul dari cangkirnya.

“Boleh Gilang tanya sesautu Bi?”

Ia menanggguk sambil terus meniup kopinya.

“Abi rindu dengan Umi?”

Pertanyaanku agak memojokkan Abi. Ia berhenti meniup dan menatapku tajam. Irisnya yang hitam jelas menatap mataku. Hambar. Terselip satu titik kekosongan disana yang seharusnya diisi Umi.

“Kamu bisa membaca fikiran Abi, Gilang?” tanyanya. Ah sungguh bisa Abi, sungguh.

Aku menggeleng dan aku berbohong. Abi sepertinya tahu, tapi sudahlah aku hanya ingin mendengar ia rindu kepada Umi dari mulutnya bukan dari sikapnya saat ini.

“Kau punya kata lain yang lebih, untuk mengartikan kata sangat?” Ia bertanya lagi.

Aku menggeleng, lagi dan lagi.

“Jika kau sudah menemukannya, itulah jawaban Abi.” Gilang mengerti. Sangat mengerti Abi.

Dari dulu sampai sekarang Abi ada satu hal yang tak berubah dari Abi. Bermain teka-teki, membuat tanda tanya di tengah-tengah satu peristiwa. Seperti sekarang, kata yang melebihi kata sangat. Tidak ada, aku tahu Abi sangat sangat rindu. Abi hanya tak bisa memaknai kata sangat. Melebihi kata sangat, mungkin.

Abi dulu seorang karikaturis hebat. Ia sering dipesan menggambar gambar karikatur untuk demo-demo tahun enam puluhan. Pernah dulu, ia dibayar untuk menggambar karikatur PKI dan Soekarno dan upahnya tak sedikit, menurut ia sangat banyak. 1960-1969 adalah masa jaya Abi, karikaturnya laku keras dan ia menjadi pengantin baru di tahun 1964 bersama Umi. Dan bagaimana aku bisa tahu sejarah Abi sedangkan Abi adalah seorang introvert kuno yang tak pernah mau berbagi—dengan anaknya sekalipun. Umi menceritakannya, dulu, sebelum tidur malam. Ia kadang menceritakan cerita yang sama—sampai aku hafal jalan ceritanya—dan aku tak pernah bosan.

Sketsa ekterior taman bergaya kerajaan Inggris jaman delapan puluhan sudah selesai digarap, sekarang tinggal mengirimnya saja. Pemesan tak mau sketsa ini dikirim via internet atau pos, ia ingin aku yang mengirimkannya langsung dengan bayaran tiga kali lipat, katanya.

Aku mencium tangan Abi untuk meminta izin. Seperti biasa ia hanya menerawang pandang di teras.

“Mau kemana Gilang?”

“Nganter desain Abi.”

“Kenapa ndak di email saja toh?”

Ndak bisa Abi, pemesannya bersih-keras harus dikirim langsung dengan bayaran tiga kali lipat,” jelasku.
“Oh yasudah,” jawabnya, nadanya seperti khawatir.

Aku berjalan menuju gang depan untuk naik angkutan. Vespa Abi sudah kujual dua tahun lalu untuk menebus administrasi rumah sakit yang begitu besar.

“Tunggu,” kata Abi.

“Ada apa, Bi?”

“Abi ingin mengantarmu, Lang.”

“Ah, ndak usah, Bi, nanti malah Abi jatuh.”

Ia bersikukuh untuk mengantarku. “Biar,” jawabnya dingin.

Kami berdua berjalan menyusuri jalanan yang masih becek, lembek dan berlumpur. Abi agak sedikit kesulitan dengan langkahnya, terlebih dengan satu kakinya. Beberapa kali Abi goyah dan tak bisa mempertahankan topangannya.

“Abi, ndak apa-apa?” tanyaku sambil menangkap tubuhnya yang hampir jatuh karena terpeleset.

Ia mengangguk lalu meneruskan langkahnya kembali.

Kami sudah berada di depan gang dan menunggu angkutan. Abi masih tetap berkeras untuk menemaniku menunggu angkutan.

“Seandainya, motor Abi masih ada ya, Lang,” harapnya lembut dan pandangannya masih kosong menatap jalanan.

“Sudahlah Abi, jangan terlalu disesalkan.”

Aku tahu percakapan kami ini akan menjurus kepada Umi dan itu akan membuat Abi sedih (lagi). Abi terus mengandai-andai tapi aku hanya diam, tak ingin menanggapi. Angkutan warna kuning hijau yang aku tunggu sudah datang, aku melambaikan tangan dan angkutan itu menepi.

“Bi, Gilang berangkat dulu. Jaga diri, Bi,” kataku sambil menyalimi tangan Abi.

Ia mengangguk tak menjawab, sepertinya ia masih mengandai. Miris.

Angkutan membawaku menjauh dari Abi. Aku memilih duduk di bagian paling belakang agar bisa melihat Abi yang semakin kecil. Ia berbalik dan akhirnya hilang ketika masuk ke dalam gang kecil. Aku berjanji, Bi, di usia senjamu aku akan membawa senyummu kembali dan membuatmu bangga kepadaku, anak lelakimu ini.