Kamis, 01 September 2011

Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang

Halo pembaca, H+1 lebaran, gimana lebarannya, pasti banyak uang, hehe. Oh ya di postingan kali ini saya ingin memberikan sesuatu yang beda, sebenarnya bukan berbeda hanya saya kembali ke dalam jalur, sastra. Ya, kali ini saya ingin meresensi sebuah novel. Novel apik dari Mbak Winna Efendi.

Pertama kali saya melihat novel ini di sebuah toko buku besar di Surabaya, [Gramedia Expo Surabaya] saya sontak terpikat dengan kover novel ini, cover putih polos dengan sebuah surat berwarna biru yang bertuliskan “Refrain”. Novel yang berkutat dengan masa remaja ini cocok bagi kalian-kalian novelovers remaja atau yang berjiwa remaja, novel ini menyuguhkan intrik-intrik empuk dan menarik yang berkutat dengan masalah sepele remaja masa kini dengan tema utama cinta dan persahabatan, lebih spesifiknya saya bisa menyimpulkan, “Antara persahabatan dan atau cinta?”

Cover unik dari Refrain
Novel ini terlihat begitu girly kalau di pandang dari kover depannya. Eits, ingat jangan melulu menilai sesuatu dari kover, ya itu prinsip yang saya pegang. Tetapi memang benar, ornamen-ornamen yang disuguhkan dalam novel ini begitu girly tetapi penggunaan sudut pandang orang ketiga pada novel ini membuatnya sedikit bisa dinikmati oleh novelovers lelaki yang kadang merasa risih dengan ornamen-ornamen girly. Selain menyuguhkan cerita-cerita menarik anak muda, penulis juga menyisipkan pengetahuan tentang fashion, terutama fashion wanita di dalam novel ini, ya saya sendiri tidak mengerti tentang fashion apalagi wanita. Ah, tapi saya tidak melihat dari perspektif itu, saya adalah pembaca yang melihat dari pesan yang ingin ditunjukkan penulis kepada pembaca, entah tersirat maupun tersurat. Karena dengan begitu bisa menambah literatur saya untuk menulis cerita.

Pada bab-bab awal novel ini bercerita tentang dua sahabat kecil bernama Nata dan Niki yang begitu dekat. Nata adalah lelaki pendiam dan cerdas, Nata, seorang musisi berbakat yang tidak suka dengan lagu-lagu yang cengeng. Ia tidak suka segala ornamen-ornamen tentang cinta dan sejenisnya, ia juga seorang yang cukup dikenal di sekolahnya sebagai seseorang yang tampan dan berwibawa sedangkan Niki, ia adalah gadis cuek yang kini berubah seratus delapan puluh derajat setelah memasuki SMA, masuk team Cheers lebih tepatnya. Niki yang sekarang adalah sosok gadis yang tidak bisa melihat penampilannya tidak ‘perfect’ tapi Niki yang sekarang terlihat begitu cantik, begitu tutur Nata di bab-bab pertengahan.

Pada bab awal juga dimunculkan sosok bernama Annelise, Annelise adalah murid mutasi dari luar negeri dan ia lebih dikenal dengan anak Vidia Rossa, sosok model terkenal yang melenggang ke sana-sini berkeliling dunia. Annelise yang bertubuh tinggi dan ramping, terlalu ramping atau bisa dikatakan kurus itu berperawakan bule dengan wajah mirip Vidia Rossa. Annelise adalah sosok pendiam yang hobi fotografi, ia sedikit risih dengan nama besar mamanya, tetapi setelah bertemu Nata dan Niki  hidupnya yang selama ini terasa kosong dan sendiri terisi oleh indahnya persahabatan yang penuh tawa dan kehangatan.

Selain ketiga tokoh diatas, ada beberapa tokoh pendukung yang lebih membuat novel ini hidup. Yang pertama, Oliver; sosok prince-charming bagi Niki, ia adalah captain basket, ambisius romantis dan pada bab-bab akhir diketahui bahwa Oliver adalah sosok pembohong dan seorang player, ia menjadikan Niki pelampiasan saja. Yang kedua Helena dan teman-teman Cheers lain, Helena adalah sosok A-list yang sangat dipuja oleh para lelaki di sekolah mereka. Helena adalah leader Cheers, ia adalah sosok idealis dan fashionable, diam-diam ia dan Oliver ada affair dan itu dilancarkan karena ia iri dengan Niki yang mendapatkan segalanya, Oliver, persahabatan, dan semua yang tidak didapatkan Helena.

Pada bab pertengahan, persahabatan mereka—Nata, Niki dan Annelise—mulai diuji dengan hadirnya benih cinta diantara ketiganya. Yang pertama diketahui menyimpan rasa adalah Annelise, ia diam-diam sering memotret sosok Nata disela-sela kegiatan mereka bertiga yang semakin intens. Dan foto-foto itu ditemukan oleh Nata dan Niki di kamar Annelise yang kemudian memaksa Annelise untuk berkata jujur tentang perasaannya kepada Nata. Yang kedua adalah Nata, pada bab pertengahan Nata tidak bisa lagi berbohong tentang perasaannya, ia bisa melihat perubahan pada Niki, Niki yang dulu cuek dan kini berubah menjadi cantik. Pada awalnya Nata bingung tentang perasaan apa yang ia simpan untuk Niki, tetapi setelah itu ia memberanikan diri untuk mengatakannya, hanya lewat surat cinta tanpa nama pada acara Valentine’s Day di sekolah mereka. Nata semakin tidak karuan dan semakin sering salah tingkah setelah mengetahui Niki dan Oliver berpacaran. Ia uring-uringan. Niki juga lebih menghabiskan waktu bersama Oliver ketimbang bersama kedua sahabatnya. Setelah itu memasuki klimaks saat Niki tahu di tumpukan kaset lagu ciptaan Nata ada sebuah catatan kecil yang Nata buat. Yang isinya adalah tumpahan hati terhadap Niki, tentang perasaaannya yang berubah menjadi cinta kepada Niki. Disini, Nata mau tidak mau harus meluapkan segala isi hatinya kepada Niki, tentang cintanya tentang segalanya. Niki terperangah kaget dan tidak bisa menerimanya, ia pergi dari rumah Nata dan sejak saat itu Niki menjadi dingin, menjadi seseoarang yang lain, asing.

Beberapa hari setelah itu, tepatnya saat Prom Night, Niki tahu semua tentang Oliver tentang mantan-mantannya tentang hubungannya dengan Helena. Niki hanya bisa menangis meninggalkan lantai dansa dan terduduk menagis di depan gerbang sekolah sendiri, tidak sepenuh sendiri setelah Nata datang membawa senyum tulus dan dekap hangat untuk Niki, untuk persahabatan mereka untuk citanya yang tak berbalas. Setelah itu Niki benar-benar tahu, tentang siapa yang selama ini ada dan baik untuknya dan siapa yang selama ini menusuknya dari belakang dan memakai topeng di depannya. Niki tahu tentang Oliver dan ia juga tahu tentang Helena dan teman-teman Cheers-nya. Dan ia tahu persahabatan mereka bukan persahabatan sempurna hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankannya.

Mereka bertiga tahu, bahwa sesungguhnya perasaan yang mereka simpan akan saling melukai perasaan mereka sendiri. Mereka tahu seharusnya rasa itu tidak pernah ada, tapi sesungguhnya perasaan itu tumbuh tanpa mereka duga. Hanya sebuah plot kehidupan yang memaksa mereka memiliki perasaan yang ‘salah’ itu.

Pada bab akhir, Nata melanjutkan kuliahnya di bidang musik di New York. Ia harus tetap pergi meski ia berat terhadap Annelise dan Niki. Teramat sangat kepada Niki. Tetapi setelah lima tahun berlalu, setelah Nata kembali dan bertemu Niki. Mereka tahu tidak akan pernah ada yang berubah diantara mereka; dulu, sekarang dan selamanya.

Plain melodies
Simple guitar chords
Your humming to my songs
Lyrics of the heart
...and the rhymes of the moon
Make the best night music
Night music
That belongs to you and I

[epilog]


***

Judul                   : Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang
Penulis                : Winna Efendi
Penerbit              : Gagas Media   

16 komentar:

  1. sudah baca... tanggapan saya... um... eeng... mungkin ini bukan selera saya. gome... T^T

    BalasHapus
  2. keren novelnya kayaknya ya,jd pengen baca. komplit plit resensinya ^^

    BalasHapus
  3. hmm totally standart! coba baca novel toto-chan atau beberapa novel dari erich segal itu baru beneran novel! hahaha btw love your post!

    BalasHapus
  4. @azizah: bisa cari aja, atau kontek mbak winna efendinya untuk lebih lengkapnya

    @mbak lintang: iyakeren mbak :D

    @mbak annesya: hmm, kalo selera novelnya mbak annesya gimana,?

    @bang aje: masih byk bang di toko-toko buku. saya mau baca yang remember when, novel keempatnya mbak winna :D

    @milshadaika: oke bisa dijadikan literatur baru tuh . makasih :D

    BalasHapus
  5. Udah baca :)
    suka sih, tapi... kurang berkesan hehe

    BalasHapus
  6. saya nggak dapet duit biarpun lebaran -__-

    novel cinta2an ya? Wah saya geli sama genre beginian^^'a

    salam kenal aja ya

    BalasHapus
  7. Kalo liat sekilas dari reviewnya, kok hampir mirip-mirip dgn film Thailand "A little thing called love" ya.... ato jangan-jangan karena kemarin aku baru aja liat filmnya jadi masih kepikiran ttg film ini. hehehe
    Btw, nice review, bro!

    http://riuisme.blogspot.com/2011/08/little-thing-called-love-movie-review.html

    BalasHapus
  8. covernya emang menarik banget,
    gw udah pegang n pengen beli novel ini, tapi ngga jadi *ngga ada duiit* T____T

    BalasHapus
  9. Emm, mungkin gue baca nih novel kalo temen gue ada yg punya (minjem),. :)

    BalasHapus
  10. Terima kasih Rizki untuk reviewnya :) nice blog.

    BalasHapus
  11. @mbak winna: weeh terimakasih mbak sudah dilihat review saya :)

    BalasHapus
  12. Nggak bisa di copy ya ? Padahal aku ada tugas buat ngeringkas novel . Hufft

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: