Rabu, 13 Juli 2011

Surabaya's Undercover: Sisi Gelap Seorang Remaja & Ke-'bobrok'-annya

Pagi pembaca, jam 12 malam lebih beberapa menit. Saya mulai menulis ini, saya menulis diatas keprihatinan hati saya, miris, meringis melihat kenyataan. Anak muda, begitu menanggung harapan besar dari generasi tua kini banyak yang sudah dirusak. Dirusak oleh keadaan, memaksa mereka untuk terjerumus kedalam lubang yang tak berdasar. Remaja yang seharusnya masih harus berkutat dengan buku-buku dan rumitnya rumus-rumus fisika, kini mereka sudah ‘paham’ tentang lawan jenis—wanita ‘paham’ tentang pria, pira ‘paham’ tentang wanita, sudah berani mencoba-coba barang-barang yang seharusnya ia tidak lirik, tidak ia sentuh. Tapi kenyataan berkata lain. Mereka sudah terjerumus. Tapi terlambatkah saya? Terlambatkah kita? Lebih baik terlambat daripada TIDAK SAMA SEKALI. Kita masih bisa bangkit teman, kamu masih bisa berdiri dan pergi dari lubang ‘maksiat’ itu. Kita ini penerus, jangan kau rusak amanat pendahulu kita yang telah memperjuangkan nasib kita ini dengan ‘jalan’ yang kau benarkan yang pada kenyataannya SALAH.

Melihat kebobrokan remaja di kota saya sendiri, begitu banyak remaja perempuan yang sudah jam sebelas dua belas malam masih berkeliaran sambil ketawa-ketiwi tanpa dosa, memang bukan pemandangan aneh di kota sebesar Surabaya. Tapi bukankah kita masih punya harkat dan martabat, masih punya adat-istiadat ketimuran? Tidak hanya itu, begitu mudah kita temui remaja yang masih mengenakan seragam abu-abu lengkap di tangannya membawa sebotol dua botol minuman haram, minuman keras. Mulai dari yang murahan, dicampur dengan segala macam bahan-bahan yang seharusnya tidak dimakan sampai bir sekelas bintang lima. Dapat dengan mudah mata telanjang kita menemukan mereka. Tidakkah kamu malu kawan? Kamu masih menyandang status “pelajar” dan masih menenteng nama almamatermu di bet sebelah kananmu. Tidakkah kau sedikit saja malu? Kelakuanmu sudah diluar batas teman, Indonesia butuh generasi muda yang sehat!

Kita juga gampang sekali melihat kenyataan yang pahit ini, gadis remaja berjilbab keluar dari gerbang sekolahnya, melangkah sambil melepaskan jilbabnya dan masuk ke salah satu mobil jemputannya. Dan asal kalian tahu, ia turun di depan sebuah hotel, untuk apa? Belajar fisika? Nggak mungkin!! Keluar dari mobil, dengan wajah baru, wajah seorang pelacur dibawah umur dengan pakaian mini dan tanktop ketat yang terawang. Ingin saya bicara, “Mbak masih kepagian jam segini udah beroperasi.” Tapi saya masih punya hati, mereka teman saya, benar-benar teman saya. Saya ingin membantu, tapi apa balasan mereka. “Biarkan saya jalani hidup saya, toh sudah gak ada yang perduli.” Jawaban yang mengiris hati. Miris sekali.

Tak cukup itu saja pemandangan gemerlap tentang kota ini, masih bisa saya lihat di beberapa sekolah, mereka, teman-teman kita yang perlu bantuan kita, mereka membawa barang-barang haram—shabu, kokain, cimeng, dan apalah saya tidak paham—itu kedalam sekolah mereka. Menyembunyikan di dalam celana dalam, di dalam bawah kaos kaki. Untuk bisa ‘dinikmati’ oleh mereka di tempat-tempat ‘sepi’ di sekolah masing-masing? Ini masih pemandangan biasa? TIDAK, TIDAK SAMA SEKALI. Ini parah, mereka teman kita, mereka hanyalah korban. Mereka butuh support dan bantuan, bukan malah menjauhi mereka.

Teman disini saya ingin bicara dari hati ke hati, dari hati saya ke hati kalian. Saya percaya, kalian masih punya hati, dan hati kecil kalian menangis, menangis darah mungkin. Saya tahu, sebenarnya kalian tidak ingin seperti ini. Hanya keadaan yang memaksa kalian seperti ini. Tapi satu hal yang harus kalian canangkan “Keadaan tidak akan pernah bisa DIPERSALAHKAN” ia selalu benar, tanpa celah. Teman nggak terlambat kok buat ninggalin ini semua, bukankah kalian masih punya harapan? Mungkin kalian bilang, “Aku udah nggak punya harapan!” Siapa bilang? Aku yakin, kalian masih punya harapan kok, walau cuman sekecil butiran pasir toh tetap namanya HARAPAN. Bangkit kawan. Saya dan kami adalah kawanmu, tak akan mengucilkanmu. Pintu taubat masih terbuka. Bukankah lebih baik menjadi mantan pemakai daripada mantan seorang terpelajar yang kini terjerumus di dunia hitam. Kita masih bisa bergandengan, walaupun ada sekat tipis yang bernama PERBEDAAN. Kita masih bisa hancurkan sekat itu, jika kita bersatu dalam satu visi dan misi. Dalam satu jiwa, satu harapan, kami penerus bangsa yang sehat tanpa NARKOBA.

Dengarkanlah kawan, saya sehat dan akan selamanya seperti itu, kalian masih bisa jadi sehat. Ekspresikan dirimu, sehatkan dirimu! Kita satu ras kawan, satu ras terbesar, yaitu REMAJA.

15 komentar:

  1. kadang idealnya sebuah eksistensi kemusliman menjadi pertanyaan besar ! sebuah wacana,formalitas,atau hanya 5 huruf yang tercetak di KTP.

    memang tak hanya msulim saja seperti itu , tapi alangkah malunya jika simbol agama cuam jadi formalitas semata tanpa implementasi.

    BalasHapus
  2. masya Allah..
    segitukah kondisinya..?! ckckckckck
    klw disini dan jamanku dulu, temen2 skul laen berani bahkan sengaja foto bugil trus disebar dari hp ke hp..
    remaja oh remaja... :o

    BalasHapus
  3. belum pernah lihat langsung sisi surabaya yang seperti itu.

    hmmm,.. setiap orang memang punya hak untuk memilih, entah memilih karena terpaksa atau sudah dipikirkan matang-matang. dan aku percaya, mereka semua berbuat seperti itu karena terpaksa.. so, mari kita selamatkan bareng-bareng :)

    BalasHapus
  4. Ya Allah. Miris bacanya.
    Putri juga orangSurabaya, memang sih pemandangan seperti ini bukan lagi jadi hal tabu di Surabaya, tapi kalo yang seekstrim ini, Putri belum pernah lihat,. Lihat pun akan langsung pergi, takutt. :'(

    BalasHapus
  5. Miris sekaili ya melihat pergaulan remaja jaman sekarang. Mudah sekali mereka terbujuk rayu sehingga jatuh dalam dosa dan kemaksiatan

    BalasHapus
  6. tergantung didikan orang tua. makanya anak sejak kecil harus dididik dg baik, tapi juga jangan terlalu dikekang

    BalasHapus
  7. saya pernah dikirain wanita malam hanya gara2 saya nginap di Pasar kembang ketika di jogja, padahal saya turis lokal yan tak tahu apa2...

    BalasHapus
  8. waduhh serius tenan awakmu nak.. ati ati kesamber gledek!! (gaje

    BalasHapus
  9. Emang sedih gue juga ngeliatnya, jujur gue punya banyak temen yg kacau gitu, tapi ya mau gimana lagi, itu hak mereka mau ngapain,. sekarang ini banyak pemuda yang menyalahartikan gaul itu seperti apa.. huff

    BalasHapus
  10. saya juga tidak habis pikir kenapa para abg sekarang punya kelakuan seperti itu. entah apa dan siapa yang akan dipersalahkan. kita miris melihatnya, apakah orang tua mereka tidak miris melihat anaknya seperti itu.?? saya juga bingung, apakah patut juga orang tua dipertanyakan dalam hal ini? kenapa mereka tidak bisa mengendalikan tingkah anaknya yang seperti itu.. entahlah....

    BalasHapus
  11. yang penting kita menjaga diri, supaya gak terbawa juga. bentengi dengan ImTaq.

    PS: Ki, nanti malem kalo bisa cek email..

    BalasHapus
  12. miris sekali, prihatin sekali dengan nasib remaja sekarang

    BalasHapus
  13. agak miris iya. apalagi kalo inget sahabat yang kaya gitu. Mau dirangkul, takut kitanya yang dicap sok alim atau apalah.. diajak deket n tetap kaya dulu, susah juga dunianya udah beda sm kita
    binguuung :(

    BalasHapus
  14. Ya allah keterlaluan bgt s yang cewek berkerudung itu. Dia beneran temen kamu? Gak usah takut buat bilang "masih jam segini udah beroperasi", kalo saya jd kamu s udah tak tereakin gt deh. Gemes bgt tau...

    BalasHapus
  15. ini semua memang mungkin pilihan hidup.,. :)
    tetapi kita sbgai manusia adalah hrus saling tolong menolong. jangan biarkan mereka rusak.. setiap manusia pnya kwajiban tuk saling mengingatkan..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: