Selasa, 12 Juli 2011

Mimik, Mimpi, Malam: Inspirasi untuk Sang Malam

Halo pembaca, kembali lagi, kalian pasti sangat tahu tentang inspirasi, ya bentuk nyata suatu intelektual otak manusia yang dituangkan ke dalam sebuah karya, entah apa. Inspirasi begitu banyak dan abstrak, inspirasi itu sebenarnya selalu ada, tergantung kapan kita bisa mengolah inspirasi tersebut. Saya pernah membaca buku, “How to Write and Market a Novel”. Buku yang dibeli Mama saya tahun 2008 inil begitu memacu saya untuk mencoba membuat suatu karya baru setelah puisi dan cerpen. Sebuah novel. Proyek besar, bisa dikatakan seperti itu mungkin. Tetapi, bukankah suatu niat jika dibarengi usaha keras akan membuahkan hasil yang maksimal? Ya dalam buku itu dijelaskan bahwa seorang penulis adalah seorang yang selalu menuangkan lintasan-lintasan ide yang muncul di dalam otaknya, dimana saja, kertas, handphone, notes kecil, tissue. Seorang penulis juga dituntut untuk selalu menulis dan tidak boleh sekalipun tidak menulis. Menulis menurut saya adalah sebuah kebutuhan seperti makan. Jika tidak makan kita akan mati, seperti itulah, jika tidak menulis saya akan mati dalam tanda kutip. Nah disini saya baru saja menuangkan inspirasi yang saya dapat dari satu bintang dan malam, dingin menusuk tulang. Sebuah puisi sederhana bertajuk “Mimik, Mimpi, Malam”

Malam, mengapa kau gelap?
Mengapa kau diam?
Mengapa kau tenang?

Malam, tidakkah kau merasa,
Aku mencintaimu, merindumu
Disetiap hadirmu,
Ku termenung bersila,
Diatas pangkuan sang bulan.

Malam, tidakkah kau cemburu?
Melihat siang begitu panjang
Diatas rumput yang bergoyang
Dibuai lambaian angin datang
Hanya siang, siang dan siang

Malam, enggankah kau berontak?
Kepada Tuhan,
Memberikanmu secercah bunga
Bunga malam melagu syahdu
Dalam mimik mengernyitmu
Dalam mimpiku bersamamu, Malam.

Bukan puisi dari seorang Masterpiece kan? Hanya puisi biasa yang masih jauh dengan puisi-puisinya Chairil Anwar dan masih sangat jauh pula pembelajaran saya tentang puisi untuk mencapai tingkat tingkatan setinggi beliau. Tapi puisi ini adalah tuangan nyata inspirasi yang terlintas di kepala saya, entah menurut pembaca jelek atau baik, saya serahkan kembali ke diri masing-masing pembaca. Semoga terhibur dengan puisi saya ini.

13 komentar:

  1. Malam menitip jawab padaku atas tanyamu:
    "Aku bangga menjadi malam
    Keberadaanku menjadi pengobat lelah bagi semua insan
    Kelapku menjadi obat bagi jiwa yang rindu bercumbu dengan Tuhanku di sepertiga malam
    Bahkan Tuhanku telah melebihkanku atas siang, di mana rahmatNYA selalu turun saat malam

    Dan bukankah selalu menikmatiku?
    Dalam duduk sila termenungmu engkau menemukan berjuta inspirasi
    Yang kemudian kau tuang dalam catatan demi catatan di blogmu
    Dan Engkau mampu berbagi juga karena ada aku, sang malam.." :D

    BalasHapus
  2. wuih sedapp mbak Ndahunduh.. :D
    banyak yang berbakat kayaknya ya kayak Riski..
    btw, Ki udah saya kirim email balasan. saya tunggu balasan secepatnya :D

    BalasHapus
  3. dalam kehampaan, aku bercanda dengan malam, "malam mengapa kau bangga kebutaanmu, kebisuanmu, kediamanmu? bukankah itu mengisyaratkan lain? di dalam hatimu, gelap dingin cekat tanpa celah. Bahkan andromeda tahu, Tuhan tak memberimu sedikit ruang untuk berekspresi di dalam dirimu yang hitam."

    @mbak ndaa: wah bagus mbak, puisi balasannya, saya balas puisi diatas XD

    @Dokter gigi: oke dok segera saya luncurkan balasan. :)

    BalasHapus
  4. *mangap*
    ah saya speechless baca komen komen diatas

    BalasHapus
  5. om dokter: hayaaaaahhh... :p

    Dek Andak: kebutaan mana yg tampak olehmu?
    Aku punya puluhan juta bintang yg selalu bersinar, yg tak dimiliki siang
    Aku punya rembulan yg pesonanya membius para pujangga sehingga mlahirkan jutaan karya
    Mungkinkah dirimu tak pernah melihat rangkaian rasi bintang? Tuhan memberikanku kebebasan untuk berekspresi..
    Aku tak pernah iri dengan siang, tak pernah ingin berontak dengan Tuhan
    Karena setiap makhluk yg beryawa pun sama membutuhkanku sebagaimana mereka membutuhkan siang
    Karena aku percaya Tuhanku selalu memberi yang terbaik
    Bahkan dalam setiap bisu dan kediamanku, aku mampu memberikan berjuta kenikmatan yang tak mampu diberikan oleh siang.. :D

    BalasHapus
  6. inggit: awas jgn lebar2 mangabnya, nti kemasukan :p

    BalasHapus
  7. saya cuma ngiler aje dah baca puisinya... Soalnya kurang pandai berpuisi. hihihi. Kalo diiringi dengan musik/gitar akustik asoy banget nih puisi. hehehe

    BalasHapus
  8. aaaaaa puisinya mas rizkiiii baguuuusss bangeeeet :)

    BalasHapus
  9. jangan membandingkan diri kita dg orang lain. Percaya diri saja. Krn kita tak perlu menjadi siapa pun sebab kita adalah super hero buat diri kita sendiri. Tulisan kamu bagus kok.

    Ingat, tolak ukur buat bilang bagus itu g akan sama satu sama lainnya.

    Bagus karya Chairil Anwar beda dengan bagus karya kamu.

    Kita tidak boleh menggunakan penggaris yg sama utk menilai krya seseorang krn ini mslh selera.

    Maaf komenny kepanjangan.

    BalasHapus
  10. Malam, tidakkah kau cemburu? melihat siang begitu panjang,. beh, gue demen tuh kata2 itu,. :)

    BalasHapus
  11. @mbak ndaa: buta, diam dan bisu. gelap, curam, hitam dan dalam. itulah malam. tapi hanyalah siang yang memberi kehidupan, malam hanya selingan. walau bintang bersinar, ia bagian dari siang, gemerlap terang, itulah siang. peranakan siang. rembulan, pancaran redup cahyanya bukankah itu dari siang? siang, siang dan siang? mengapa kau selalu mendapatkan apa yang tidak kau inginkan. aku, malam membutuhkannya, tapi kau yang dapatkan.

    seru juga balas2an puisi sama mbak ndaa :D

    @inggit: rumah saya banjir ilernya inggit *coret kata iler* memenuhi setiap ruang pandang saya. *juskid* wkwk

    @bang efri: wah mulai ngebayangin nih bang, boleh-boleh kalau ada waktu dan kesempatan saya bakalan buat puisi dan diiringi gitar. ntar saya post itupun kalau ada kesempatan bang :)

    @mbak rakyan: tapi lebih bagus puisi mbak rakyan kok :)

    @tante hani: komennya nte, dalem. bener te, baru sadar.. terima kasih sudah ngigetin aku kalau selera bukanlah eksakta yang bisa dicap bagus hanya dengan kata-kata indah melambung diudara. :D

    @ra: salam kenal :D

    @bang feby: waah terima kasih bang feb :)

    BalasHapus
  12. wah saya nyimak balas2an puisinya aja deh... ^_^

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: