Selasa, 05 Juli 2011

Cerita Kawan: Antara Anak Muda & Dunia 'Hitam'-nya

Banyak orang yang mengharapkan sesuatu yang lebih dari kehidupannya, mereka berharap harta yang melimpah, rumah seperti istana, banyak pelayan dan juga full-hiburan di dalam rumah. Mungkin untuk orang seperti saya, saya ingin hidup seperti itu, tapi saya juga tidak ingin menukar semua kebahagiaan yang saya miliki semi seonggok harta yang tidak habis dalam tujuh turunan. Saya juga tidak ingin harta yang saya miliki menjadi petaka bagi kehidupan saya, terjerumus ke dalam kehidupan yang penuh dengan nista dan maksiat, seperti kawan saya yang satu ini, seorang lelaki umur 16 tahun sebbaya dengan saya yang sudah berkecimpung di dunia “hitam” dua tahun terakhir.

Sebut saja ia Reza, Reza adalah anak orang berpunya dan ia berasal dari keluarga broken-home, ia tinggal bersama ibunya di rumah gedong di daerah Surabaya Selatan. Reza hidup dalam amarah yang ia buat sendiri, amarah terhadap Ayahnya. Menurut cerita Reza, dari kecil ayahnya tidak pernah memperhatikan keperluan Reza dan Ibunya. Ayahnya sibuk sendiri, hal itu yang membuat ayah dan ibunya sering cekcok dan klimaksnya mereka berpisah. Tak jauh dari ayahnya, kakek Reza juga seorang pemabuk berat, semakin tua semakin banyak saja daya tampung perutnya menelan miras. Baru-baru ini kakek Reza meninggal saat menenggak minuman keras. Reza semakin terpukul dan akhirnya ia mulai membuka diri untuk bercerita kepada saya, berikut wawancara lengkapnya:

[saya singkat R untuk Reza dan A untuk Andaka—saya]

Percakapan aslinya pakai bahasa Surabaya-Jawa, supaya lebih bisa dimengerti saya terjemahkan ke bahasa Indonesia.

R: Eh dak, kalo denger cerita temen-temen kamu nggak deket ya sama ortumu?
A: Relatif sih Za, tergantung keperluan. Hahaha
R: Serius ini!
A: Iya emang tergantung, bisa deket bisa enggak, tapi emang ortuku sering gak dirumah, kerja. Kenapa?
R: Wah, sama kita.
A: Oh ya? Emang ortumu kenapa?
R: Ya gitu lah, [mukanya jadi muram] ortuku pisah. Aku sekarang serumah sama Ibu.
A: Oh ya, sori baru tahu. Terus masalahnya apa Rez?
R: Ya gitu, jujur ini beban buat pikiranku, mereka yang buat aku cari pelarian.
A: Pelarian, jangan bilang.. [Reza memotong kata-kataku]
R: Ya dunia malam dan minuman keras! Pelarian anak muda yang punya masalah!
A: Gak semua anak muda punya pelarian ke arah negatif seperti itu, mereka masih bisa ngendaliin akal sehat mereka.
R: Aku masih sehat!
A: Tapi jalan fikiranmu yang nggak sehat! Ngapain kamu ikut-ikutan begituan?
R: Semua ini ngebuat aku nyaman, dunia malam dan serba-serbinya.
A: Jangan bilang kamu ­ngedrugs.
R: Nggak, nggak sampe ke tahap itu.
A: Alhamdulillah, terus masih tahap apa?
R: Cuman ikut-ikutan trek-trekan sepeda motor sama minum-minuman keras.
A: Hah? Emang ya, pikiranmu pendek! Kenapa kamu gak mikir 1001 kali kedepan? Cuman mikir enak saat ini aja. Apa kamu nggak inget kakekmu, jadiin pelajaran dong riwayat kakekmu itu.
R: Aku juga mikir, tapi sulit ngelepas ini semua.
A: Apa sulitnya coba, tinggal berhenti dan nggak ngutak-atik barang haram begituan.
R: Emang gampang ya orang bicara, tapi ini aku udah terlanjur masuk, sulit banget keluar.
A: Apa susahnya sih usaha? Selama masih ada niat untuk berubah, pasti Allah beri jalan.
R: Iya dak, aku cuman nggak mau buat Mama lebih menderita, udah cukup Papa aja yang ngebuat Mama kayak gini dan aku juga gak mau hidupku berakhir seperti kakek, dicekik miras di ujung hidupnya. Aku pengen berubah, tapi aku gak bisa sendirian berubah.
A: Eh men, kau nggak sendirian, kita disini temenmu kan, kita bisa ngebantu kau buat berubah, tinggal kamunya aja mau nggak berubah. Toh kalau kita udah ngoyo eh kamunya gak ada niat. Sama saja.
R: Iya, memang butuh pengorbanan. Aku bakalan berusaha Dak. Thanks ya!
A: Oke, kalo butuh bantuan tinggal datang ke aku aja, siap bantu teman.

Percakapan itu berakhir seiring perginya Reza dari forum kecil-kecilan kami.

Dari percakapan singkat itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa begitu mudahnya anak muda yang akan jadi pemimpin bangsa nantinya mengambil ‘jalan pintas’ untuk setiap masalahnya dan begitu pendeknya pemikiran mereka, mereka mengambil ‘jalan pintas’ tanpa memikirkan sedikit pun masa depan mereka kelak. Saya juga anak muda men, tapi saya berusaha sekuat mungkin nggak ngambil jalan pintas semudah itu, semua memang nggak segampang ngebalikin telapak tangan, tapi bukankah kamu sudah bisa berfikir tentang masa depanmu?”. Kamu juga bukan anak kecil yang selalu dan melulu di kontrol. 16 tahun men, memang bukan berarti lepas pengawasan tapi setidaknya kamu juga bisa berfikir tentang masa depan kan? Kalau kamu masuk ke dunia yang ‘haram’ itu masa depanmu gimana? Ortumu? Kamu gak ngerugiin diri kamu sendiri, tapi orang tua dan keluargamu. Saya disini mungkin lebih banyak gak didenger, tapi setidaknya saya titip pesan buat kalian-kalian yang sudah terlanjur masuk ke dalam dunia ‘semu’ kalian,

“Jalan keluar dari setiap masalah pasti ada, tapi bukan dengan narkoba/miras dan sebagainya, kalian masih punya Tuhan yang secara tidak langsung memberikan kalian jalan keluar. Jadi bagi yang sudah terlanjur, tobat men, sadar, kalian masih punya hidup panjang dan masa depan yang masih sangat luas. Bukankah kalian masih punya cita-cita yang belum tercapai? Bangkit dan berubah kawan!”

12 komentar:

  1. Dia temen sekelas kamu?
    Kasian bgt ya dia, ibunya kan cari uang capek2 eh dianya malah buang buang uang buat yg gak penting.
    Padahal kalau dia anak baik, pasti byk cewek yg mau ama dia. Duitnya gituloh hahahaha

    BalasHapus
  2. Pak, no comment deh. Postingan malem ini dalem...
    Bentar, perasaan kamu pernah cerita tentang Reza ke aku deh (iya gak sih?)

    BalasHapus
  3. @inggit: iyep temen sekelas. wah duit ajee, kalo mau sih ambil aja, dia player wkwk :P

    @nak riska: sedalem sumur dirumahku yaa, wkwk
    haahaa perasaaan nggak deh, tapi gatau lagi, lek pengen tau siapa dia tar tak sms aja

    BalasHapus
  4. astaghfirullah, cerita tentang temennya mas rizki serem ya, mirip di film2, ternyata memang ada di kehidupan nyata..
    semoga Allah selalu membuka pintu hidayah-Nya, amin.. :')

    BalasHapus
  5. iya mbak, dia udah ada niatan buat berubah ya tinggal ditunggu gimana keras usahanya :)

    BalasHapus
  6. yup ... teman yang begitu harus makin dideketin, tapi gg dipaksa, dibuat nyaman dengan kita, disadarkan dengan caranya, semoga temanmu kembali ke jalan yang benar ya, amien.

    BalasHapus
  7. bener2 ngambil kesimpulan adalah.. pengaruh orang tua itu sangat besar yah. pantesan anak2 yahudi pinter,sukses dan cerdas, knp? karna mereka memliki keluarga yang solid bwt berlindung. T_T
    #intermezzo

    BalasHapus
  8. Ngomong emang mudah, Prakteknya susah.
    Tapi selama kita mau berusaha dan mau meninggalkan kenyamanan sementara itu
    Pasti mampu untuk berubah.
    (pengalaman pribadi hikz)

    BalasHapus
  9. @mbak rakyan: amin mbak, semoga

    @mbak tiara [Fiction's World]: iya mbak amin, kalo liat perkembangannya sih, udah berhenti minum tapi yang belum cuman trek2kan sama maenin cewek -,-

    @mbak eiz: wah baru tau mbak, iya kurang kompak, brokenhome boleh aja, tapi jangan nyengsarain anak dong, orang tua udah gedhe masih aja belum bisa tanggung jawab, mana bisa jadi tauladan anaknya kalo kayak gitu -,-

    @mbak Tarry: iya mbak, pokoknya ada niatan dan usaha :)

    BalasHapus
  10. iya skg kbykan ortu mah wlpon g smua, mirip kayak sinetron gitu dek. Pada mau menang sendiri ga mikir anaknya diem2 tersakiti batinnya karna pecahnya mereka...

    BalasHapus
  11. makanya itu mbak, kalo udah orang tuanya begitu harusnya si anak juga bisa mikir dong, gak harus ke jalan maksiat macam itu, masih banyak halhal positif yang bisa ngebuat orang tua kita sadar kita ada. kita berbakat jadi gak melulu cekcok gak jelas :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: