Senin, 04 Juli 2011

Logika atau Perasaan

“Laki-laki lebih mengandalkan logika daripada perasaannya, begitupun juga sebaliknya dengan perempuan” Statement seperti ini sudah banyak saya dengar dari banyak mulut. Saya bimbang ingin membenarkan atau menampik pendapat orang seperti itu, ada benarnya juga ada salahnya. Mengapa saya menarik kesimpulan seperti itu, karena memang di dalam kenyataannya seperti itu, seperti berada di ambang normal, berada di warna abu-abu, tidak hitam juga tidak putih.

Saya ingin memberikan pendapat pribadi saya mengenai masalah ini, menurut saya:

Saya membenarkan pendapat seperti itu karena saya sendiri lelaki dan saya juga merasa saya lebih cenderung menggunakan logika daripada menggunakan perasaan dalam menghadapi sebuah permasalahan. Begitu pula dengan adik saya, ia perempuan, ia lebih sering menangis jika menghadapi sebuah masalah, ia juga seringkali tidak menggunakan logikanya sama-sekali. Tetapi pendapat saya ini bisa disalahkan karena tidak semuanya menggunakan logika dan tidak semuanya menggunakan perasaan.

Saya menyalahkan pendapat orang diatas karena tidak semua lelaki menggunakan logikanya dalam menghadapi suatu masalah, kadang ia lebih tepatnya saya juga tidak jarang menggunakan perasaan saya jika suatu masalah tersebut sudah tidak bisa di nalarkan atau dirasiokan. Perempuan juga begitu, saya seringkali menemukan perempuan yang lebih cenderung menggunakan logika daripada perasaan yang dimilikinya, sosok perempuan seperti ini adalah sosok perempuan yang kuat menurut saya.

Nah tindakan yang bijak yang perlu kita ambil di persoalan seperti ini bukanlah memperpanjang perdebatan seperti ini, selayaknya membuat keputusan diantara keduanya dan tentu harus yang terbaik. Kita diciptakan manusia sejatinya sama, hanya lelaki dan perempuan. Kita diciptakan juga sama memiliki keduanya, logika dan perasaan. Tidak ada beda, yang membedakan adalah kita sendiri, seringkali kita menyekat-nyekatkan perbedaan yang harusnya tidak ada. Selayaknya kita menjadi manusia yang bijak, yang menggunakan keduanya—logika dan perasaan—secara setimbang dan berimbang. Bukannya malah memperdebatkan logika milik lelaki dan perasaan milik perempuan!

11 komentar:

  1. kalo menurut saya, mau laki atau perempuan.. berfikirlah dengan logika, perasaan itu ibaratnya seperti teori pendukung, kalau tidak terlalu kuat tidak mungkin mengalahkan teori utama. haha #sotoy

    BalasHapus
  2. setuju-setuju aja mas rizki :)
    *tp menurut saya juga begitu*

    BalasHapus
  3. Hahahaha saya lbh banyak pake perasaan tuh.

    BalasHapus
  4. kayaknya tidak semua laki2 yg berpikir dg logika,, tapi yang sering saya ketemui, ternyata sama aja kok laki dan perempuan juga mendahului perasaannya dalam menghadapi masalah..

    BalasHapus
  5. Laki-laki mengambil keputusan dengan logika, sedangkan perempuan dengan perasaan. Pada umumnya cocok, kecuali masalah romansa...

    Kalau romansa, terbalik. Lelaki berpikir dengan hati, dan tiba-tiba perempuan jadi rasional! Setuju gak? ;)

    BalasHapus
  6. pernyataan seperti itu tidak berlaku mutlak sih, kalo menurutku, dan lebih bersifat 'pada umumnya'. tapi memang kecenderungan itu ada dan bukan berarti meniadakan yang lainnya. perempuan memang lebih sering menggunakan perasaan menghadapi suatu permasalahan tapi bukan berarti dia tak menggunakan logikanya dalam mencari solusi. lebih pada kecenderungan saja mungkin.

    BalasHapus
  7. Perasaan dan logika harus ada biar seimbang

    BalasHapus
  8. @bang urkhan: bener bang, tapi kadang perasaan juga harus diutamakan

    @mbak rakyan: iya mbak :)

    @inggit: haha logika tuh :P

    @bunda: iya bunda, pada dasarnya semua manusia itu sama, ada perasaan juga ada logika

    @mas boy: iya bang kalo ngomong tentang cinta semuanya serba terbalik

    @mbak ocha: iya mbak, kan setiap manusia berbeda-beda, walaupun samasama perempuan tetapi juga mempunyai perbedaan dalam segi pemikiran mereka :)

    @celotehan: iya, kalau salah satunya hilang pasti nggak akan jalan :)

    BalasHapus
  9. Saya pribadi setuju sama Rizky. Segala sesuatu diciptakan dengan penyeimbang di dunia ini..Hitam dengan putihnya. Wanita dengan pria-nya. Perasaan dengan logika. Lelaki dengan logika dan wanita dengan perasaaannya.. :D nice post Ki. Like +1 :)

    BalasHapus
  10. iya dok, tetapi bukankah terkadang kita pria juga menggunakan perasaan kita disaat pasangan kita -- wanita -- mulai cenderung menggunakan logikanya. bukankah itu yang dinamakan penyeimbang. :)

    BalasHapus
  11. "tetapi bukankah terkadang kita pria juga menggunakan perasaan kita disaat pasangan kita....(blablabla)..."

    Kaya uda punya pasangan aja Lu Dek..? haha :p

    btw, dari sekian panjang ada satu kalimat yg terekam. "...sosok perempuan seperti ini adalah sosok perempuan yang kuat menurut saya.". Kenapa terekam? Karena aku merasa aku perempuan yang kuat..! Pengalaman membuatkan lebih mampu beradaptasi dan menyesuaikan kapan harus berfikir dengan logika, dan kapan harus mengedepankan perasaan.. (drong dong dong.. muji diri sendiri! wkwkwkwk :D)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: