Rabu, 07 Desember 2011

Tinggal Setengah

Shoes | Taken with Digicam SONY DSC-W220 CyberShot | Editing by Pixlr-o-matic

Dio menyentuh tangannya lembut, mengecupnya, mendekapnya dalam satu pasang mata yang menatapnya lekat. Dio tak ingin ia pergi, ia ingin tetap tinggal, bersamanya.

“Sudah hampir setengah,” katanya hampir menyerah.

Perempuannya tersenyum sambil mempererat genggamannya, “Masih ada—“ kalimatnya dibiarkan menggantung.

Dio menyimpulkan senyumnya, entah tersenyum atau meringis? Ia merasakan tangan gadisnya tetap menggenggam tangannya erat, jalan fikirannya berubah. Ia ingin pergi, bukan ingin tetap menahannya disini, ia ingin sendiri menikmati hidupnya yang hampir habis.

“Sudalah, aku ini akan menjadi sampah, sayang.”

“Bukan, bukan sampah. Kau permata.”

“Jangan menghibur. Bersikaplah realistis, pergilah,” katanya terbata-bata.

Kekasihnya tadi semakin pucat, ia menatap Dio dekat, merasakan sakit yang dipendam dalam raganya. Ia ingin mengambil setengah sakitnya bukan malah merenggut setengah jiwanya karena kepergiannya.

Dio merenggangkan genggamannya, ia seperti sudah menyerah. Hampir menyerah. Jalan fikiran mereka sudah bersimpangan, walau mereka berdua tahu mereka ingin yang terbaik untuk pasangannya masing-masing. Tapi salahkah? Salahkah bila Tuhan membuat jalan mereka begini, berpisah dalam satu scene yang meluap-luapkan air mata. Tidak Adil.

“Sayang, sudah lebih dari setengah,”

“Mentari belum mengoranye sayang, kita masih punya banyak waktu.”

“Bukan, aku yang membuat senja, aku yang mendatangkan gelap.”

“Tidak, aku percaya setelah gelap akan ada kembali mentari yang terang.”

Dio tersenyum. Pandangannya mulai nanar, ia mengernyitkan dahinya. Sakit. Ia mencoba menyembunyikannya dengan tersenyum. Lampu-lampu rumah sakit membuat matanya silau dan akhirnya cahayanya meredup, semakin redup dan gelap. Tinggal gelap.

Mereka berdua saling berpandangan sejenak, lalu saling membuangnya. Mereka rapuh. Mereka sudah hampir berada di satu sisi persimpangan yang jauh berbeda. Yang tak bisa diraih lagi, tak dapat saling melihat lagi.

Kekasihnya terpejam juga, menikmati desir-desir lembut tangan kekasihnya yang lemas. Ketika ia membuka mata, ia melihat Dio diam, entah hilang atau masih terjaga. Tapi yang masih bisa ia lihat sampai nanti adalah senyumnya. Senyumnya yang tinggal setengah.

Ditulis saat bayangmu tinggal setengah
saat hadirku hanya setengah
dan mati di akhirnya

11 komentar:

  1. Setuju dengan diatas, bagus bahasanya ^_^ Aku suka baca2 flash fiction seperti ini :D

    BalasHapus
  2. suka banget ama tulisannya, bahasanya bagus dan "ngena" banget dihati.
    Kebetulan keadaannya hampir sesuai dengan sebuah scene kehidupan yg pernah aq jalani. Berasa nostalgia. Hehehe *curcol dah, maap.maap mas

    BalasHapus
  3. kunjungan pertama nih sobat, ditunggu kehadirannya di blog saya yah. biar ukuwah terjaga :D,

    salam persohiblogan ^_^

    BalasHapus
  4. ajippp ...
    seger...bikin mata ngiler...

    BalasHapus
  5. bahasanya kena banget
    bener kata komen yg pertama, novelis banget :)

    BalasHapus
  6. Diksinya kok bagus banget, ya. Suka banget, deh ! :))

    BalasHapus
  7. Gila, mantap lu bro, sedih bacanya. Lo cocok deh jadi penulis script sinetron.. :)

    BalasHapus
  8. headernya yang tulisan itu ya? Bagus, nggak ngebuat blognya berat :))

    BalasHapus
  9. nama tokohnya Dio. jadi inget mantan T^T
    kapan ya saya bisa nulis dengan diksi sebening ini ><

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: