Kamis, 22 Desember 2011

Indigo Bagian 7

Buram | Taken with SONY DSC-W220 DigiCam | Photoshop editing

Senin, hari yang kami berdua benci. Hari dimana kami akan melakukan satu hal yang selalu sama; upacara bendera. Dan itu sangat membosankan. Hari dimana selalu ada pengarahan Kepala Sekolah yang terlalu penting untuk di dengar. Aku dan Maria biasanya lebih memilih mengendap-endap kabur ke batu kami di belakang. Tapi hari ini tidak akan sama seperti Senin yang lain. Ada yang hilang.

Aku masih bergelayut diatas tempat tidur ketika jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas. Kenapa hari ini selalu ada setelah weekend? Aku menguap dan menatap kearah mentari yang sudah sangat menyengat dan melihat jam. Lima belas menit lagi bel masuk dan aku masih diatas kasur. Dengan sembrono aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Tepat pukul setengah tujuh aku sudah berada di depan gerbang sekolah dan mereka masih berjalan perlahan.

“Kenapa buru-buru?” tanya Silvi.

“Upacara dan aku belum persiapan apa-apa!”

Silvi tertawa sambil menyentil kepalaku. “Sadar! Hari ini minggu terakhir bulan Desember dan kamu tahu itu artinya apa.” Bodoh! Aku menepuk kepalaku sendiri keras-keras. “Astaga!”

Silvi tertawa lagi sambil mengangkat bahunya lalu pergi ke kelasnya. Langkah kakiku yang tadinya cepat berubah drastis jadi seperti siput. Lambat. Kelas masih sangat sepi, karena memang setiap minggu terakhir bulan tidak ada upacara rutin, dan jam masuk diundur jadi jam setengah delapan.

Aku lempar tas dari depan pintu lalu bergegas menuju taman belakang. Jam masih menunjukkan pukul tujuh dan sekolah masih sangat sepi, apalagi di batu kami ini yang notabene selalu sepi.

“Hai.” Maria?

Aku menoleh dan benar itu Maria. Ia tampak kusut dengan lengan baju yang belum disetrika, rambutnya sedikit acak-acakan. Aku bangkit dari tempat dudukku dan menghampirinya.

“Hey, kemana saja kau?” tanyaku dengan intonasi yang cukup tinggi.

Ia tak menatapku, suaranya datar dan pandagannya tampak kosong. “Aku sakit.” Aku tahu kau berbohong.
“Sakit? Benarkah?” ucapku memastikan.

“Iya!” bentaknya lalu pergi dari tempat itu.

Aku tercengang. Apa kata-kataku salah? Menyakiti hatinya? Bukankah aku tak menyinggungnya sedikitpun? Aku masih mematung disana beberapa menit, membiarkan ia pergi begitu saja. Sayup-sayup aku mendengar isakan, tapi aku tetap terpaku disana. Membiarkannya menangis. Tolol.

Hari ini pelajaran berjalan cukup lambat dan membosankan. Biologi dengan sistem pembuluh darah yang selalu tak bisa kuhafal dengan baik, fisika dengan momentum dan impuls yang begitu mudah disimpulkan dan Bahasa Jepang yang menjadi favoritku—sensei Megumi yang cukup menawan di mataku.

Semua kembali normal, dari kelas sebelah sayup-sayup terdengar nama Maria disebut lalu disusul dengan tepuk tangan yang khidmat. Ia kembali. Penyataanku lebih bisa dikatagorikan sebagai pertanyaan buatku.
Pukul tiga lewat lima belas, bel berbunyi  tiga kali. Pulang—penderitaanku berakhir di hari Senin ini. Niatku langsung menuju kelas Maria untuk menanyakan keadaan tetapi handphoneku berbunyi keras, cukup keras sampai menganggu sesi berdoa. Aku mengangkat telepon itu dibawah bangku dengan nada pelan.

Berbisik. “Halo,” tanyaku?

“Theo?” Tante Diana?

“Iya. Ada apa Tante?”

“Apakah Maria ada di sekolah?

Janggal. “Iya tante, Maria sekolah. Memangnya kenapa Tante?”

“Sudah tiga hari ini Maria tak pulang. Ia menginap di rumah Ayahnya. Tetapi, ketika Tante mau jemput dia pulang. Rumahnya gelap dan tak ada orang. Tante bingung, makanya Tante kemarin telepon kamu menanyakan apa Maria ada denganmu Theo,” jelas Tante Diana.

“Kemarin waktu Maria tidak masuk, Theo sempat ke rumah Tante, eh Tante sekeluarga keluar? Jadi Theo balik, Nte.”

“Begini Theo, kemarin waktu kamu datang ke rumah. Di rumah Tante lagi cekcok besar dengan suami tante. Lalu kami pisah rumah dan Maria mengunci diri di dalam kamar berhari-hari. Setelah Tante cek, Maria hilang dan Ayahnya bilang, Maria tidak ada bersamanya.”

Tante Diana bercerita dengan alur yang acak, aku tak mengerti bagaimana kronologi kejadiannya dengan baik, yang pasti kutahu; Maria kabur dari rumah.

“Baiklah Theo, Tante percaya sama kamu. Jaga Maria.” Klik. Telepon ditutup.

Aku menggenggam hape erat-erat lalu bangkit menuju kelas Maria. Ia sudah tidak ada. Dari balkon kelas aku melihat seisi sekolah. Aku menangkap postur tubuhnya yang bongsor duduk diatas batu di taman belakang. Ia memeluk kedua lututnya, mukanya di tenggelamkan.

Aku bergegas turun dan menemuinya. “Maria,” sapaku dengan nada selembut mungkin.
Ia menoleh sebentar, kemudian menenggelamkan kepalanya lagi.

“Maaf,” kataku sambil mencari tempat pas untuk duduk di sebelahnya.

“Bukan salahmu,” jawabnya, datar.

“Lalu?”

“Salahku.”

“Atas dasar apa?”

“Kau akan tahu,” jawabnya, lalu ia bangkit, merapikan seragamnya lalu pergi. Dan lagi, Maria. Kau memberiku tanda tanya. Tanda tanya besar.

Lagi-lagi aku hanya bisa diam, tak mengejarnya. Ia berlalu begitu saja, tanpa memberiku kesempatan untuk menyelami hidupnya yang ‘sendirian’. Aku butuh kejelasan bukan kau tambah dengan tanda tanya besar. Andai aku bisa mengingkari janjiku sendiri—untuk membaca fikiranmu, Maria. Semua tak akan serumit ini.

16 komentar:

  1. wih,,,keren banget ceritanya...
    kasian banget Maria, dia menjadi korban cekcok orang tua nya..
    :( nice post bro

    BalasHapus
  2. woh maria,ternyata.. #jengjengjeng

    BalasHapus
  3. alurnya susah di tebak-tebak, jadi bikin penasaran.
    semakin penasaran!

    BalasHapus
  4. pingin baca kelanjutannya , apa kabar dengan maria :O

    BalasHapus
  5. aku baru baca tentang Indigo ini, sepertinya menarik. dan yang aku suka, dalam satu postingan ini rasanya berdiri sendiri. pemotongan kisahnya pas.

    indigo itu artinya apa ya?? indra ke enam kah?

    BalasHapus
  6. Baca postingan iniii...
    MENIMBULKAN TANDA TANYA BESAR ! kaya si Maria -.-

    BalasHapus
  7. Indigo ini pasti judul ceritanya,,
    *sotoy saya mah, baru baca yang ini soalnya* haha ^^v

    hayoo dilanjut,bnyak yg penasaran tuh

    BalasHapus
  8. lanjutkan mas!
    foto2nya lanjutkan juga! keren sih ^_^

    BalasHapus
  9. Maria misterius banget sih,, dari pertama selalu begitu, selalu menimbulkan tanda tanya dalam benakku.. Oke, kali ini alurnya semakin abstrak, aku gak berani nebak hahaha :p
    Ohya, header barunya keren tuh bang ^_^

    BalasHapus
  10. Wah Maria kamu kenapa sih, telpon gak pernah sms gak pernah? | Aku gak ada pulsa... |
    Hobi bgt buat org penasaran nih...

    BalasHapus
  11. nice story, keep up the good work :)

    Herdiana Surachman
    http://deluxshionist.blogspot.com/

    BalasHapus
  12. wew, ceritanya ternyata bagus banget, hehehe... saya suka! :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: