Kamis, 15 Desember 2011

Indigo Bagian 5

Sky | Taken with DSC-W220 CyberShot DigiCam | Photoshop Editing

Sekolah masih sepi ketika aku datang, hanya ada beberapa guru yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku berhenti di persimpangan kelas. Diam. Memilih. Masuk atau kembali ke luar? Hatiku mantap, aku kembali ke luar. Aku ingin menghindari pertemuan dengan ‘mereka’ pagi ini.

Aku duduk di atas batu favorit kami—aku dan Maria. Disana memang tempat kita bertemu, bercengkrama dan bertukar fikiran tentang apa saja. Tentang mimpi, tentang hidup, tentang masalah sepele sampai masalah yang harusnya tak ada seorang pun yang tahu. Tapi batu itu menjadi saksi akan rahasia-rahasia kita yang berbaur jadi satu. Dan meluap jadi satu senyum dan tawa di akhirnya.

“Kring.. Kring..” bel masuk berbunyi dan lamunanku buyar.

Aku tak melihat Maria pagi ini, biasanya setiap pagi jika ada masalah ia selalu berdiam diri di batu ini. Untuk sekedar melamun sampai menangis. Letaknya strategis diantara semak setinggi pinggang dan bentuknya seperti tapal kuda. Ia biasanya menghabiskan pagi bersama embun yang menetes dari akasia kuning diatasnya. Ia sering menghitung embun. Ia juga sering menangkap angin.

“Hidup kita akan selalu berputar dinamis dan akan selalu bertemu persimpangan,” kata-kata itu membekas dalam di otak dan hatiku. Entah mengapa, detik ini, aku teringat akan kata-katanya (lagi).

Pelajaran hari itu terasa hampa, di kelas sebelah—kelas Maria—tak terdengar seorang guru pun menyebut nama Maria, entah sekedar untuk maju ke depan atau mendapat penghargaan dari guru atas nilainya yang selalu berada di urutan teratas.

Aku melengos, menatap ke jendela dan menerawang disana. Dari kelasku, batu itu terlihat jelas. Terbayang Maria dan kenangan kita. Kenapa aku begini aku juga bingung. Apa yang terjadi padanya? Tanyaku dalam hati berkali-kali. Aku ingin melihat ia mengapa, tapi aku sudah berjanji tak akan menerawangnya apa pun yang terjadi.

Bel di ruang tengah sekolah berbunyi tiga kali. Pulang, tetapi aku masih duduk di bangkuku membeku, masih ada Maria disana—di dalam pikiranku yang masih menari di batu itu.

Sepertinya fikiranku menangkap sesuatu, sesautu tentang Maria. Entah apa. Aku hanya bisa menangkap ia sedang duduk di taman sambil membawa sepucuk surat. Sepertinya menangis, ia menunduk. Lalu hilang, pandangan itu hilang. Apa yang terjadi padamu, Maria?

Sepeda matic-ku meluncur keluar tempat parkir dan aku tetap melamun. Aku ingin mengunjunginya, hatiku menetapkan. Jalan-jalan yang kulalui ke rumah Maria begitu hambar, tanpa tawanya yang biasanya mengembang di boncengan kini tak ada.

“Maaf, non Maria tidak ada di rumah,” kata seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahun yang menemuiku di depan gerbang rumahnya.

“Kemana, kalau boleh tahu, Bi?” tanyaku tidak percaya.

“Saya tidak tahu Mas. Kemarin Nyonya, Tuan dan Non Maria pergi tanpa pamit,” sahutnya menjelaskan.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Kecewa. Kawatir. Ia tak ada. Kemanakah? Pergi? Untuk apa? Meninggalkanku? Mengapa? Begitu banyak pertanyaan memberondong yang tak akan terjawab tanpanya. Aku hanya bertanya bukannya menyudutkan. Aku punya pilihan, aku bisa saja melihat ia dimana dan untuk apa, tapi aku tak mau. Aku sudah menetapkan pilihan—tak akan membaca fikirannya—dan karena aku lelaki aku harus memegang teguh apa yang aku pilih. Aku tak akan mengkhianati itu semua. Jika iya, bagaimana bisa aku menjaga komitmen diantara kita nanti kalau memegang janji seperti ini saja aku tak bisa. Aku menyayangimu. Aku akan mencarimu, walau aku sendiri tak tahu harus mencarimu dimana, Maria.

11 komentar:

  1. asik asik masi berlanjut berlanjut
    terus bang ampek selesai

    BalasHapus
  2. Wohoooo... ternyata masih berlanjut indigonya, maria oh maria, cepatlah pulang supaya aku bisa tau apa yg terjadi padamu ~(^_^)~ Makin lama bikin aku gak sabar nih bang hahaha

    BalasHapus
  3. Gak sabar menanti kelanjutannya. Yang bikin penasran adalah kenapa Maria pergi? Ini kayak AADC ketika cinta mengejar Rangga di airport,. :D

    BalasHapus
  4. dimana... dimana... dimana....

    Moa-moga aja gak jauh-jauh amat lanjutannya. hehehe

    BalasHapus
  5. Semakin penasaran... Terima kasih atas cerita menariknya. :)

    BalasHapus
  6. kyaaa >.< di tunggu klanjutannyaaa
    pnasaran wkwk

    BalasHapus
  7. Semacem sinetron banyak episodenya hehe bikinin film aja sob B)
    *ikutan nyimak*

    BalasHapus
  8. Best, Folow saya di http://dino15.blogspot.com/

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: