Selasa, 27 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 1

Karena kau tak lihat, terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi Juaranya

Dewi Lestari – Malaikat Juga Tahu

Abi memperhatikan album kenangan itu, pandagannya kosong. Hanya bermain dengan ujung-ujungnya yang tergulung kecil. Beberapa kali ia menghela nafas panjang. Ku lihat dari sudut kacamatanya, kosong. Hanya memandangi cover motif bunga mawar berwarna merah muda yang menggantung di pojoknya.

Abi membolak-balik album itu. Kulihat, sudah tiga kali seakan ia tak pernah bosan memandanginya. Ada satu halaman penuh foto yang selalu dipandangi Abi cukup lama. Aku mengintip dari jendela kamar. Foto kami bertiga; aku, Abi dan Umi.

“Abi,” sapaku dari belakang lalu duduk di sebelahnya.

Ia tak menjawab hanya menoleh padaku sambil tersenyum hambar dan menenggelamkan ingatan pada album foto itu lagi.

“Abi, kangen Umi?” tanyaku kembali.

Abi tetap diam. Ia menengadah lalu mengambil nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam, tangan kanannya mengenggam album itu kuat-kuat.

“Sekarang yang abi punya hanya kau, Lang.”

“Gilang tahu. Tapi nggak baik juga buat kesehatan Abi, terlebih terapi Abi yang sudah setengah jalan,” tukasku panjang.

Abi mengangguk paham. Ia mengernyitkan dahinya sambil mengurut jambangnya yang sudah memutih. Nafasnya ia ambil dalam-dalam lagi. Mungkin mencoba memercayai takdir yang harus ia jalani kini. Takdirnya tanpa Umi.

“Abi tahu, Abi paham. Abi hanya butuh sedikit waktu untuk menyelaminya,” sanggahnya sambil bangkit dari kursi goyangnya.

Ia tergopoh, lupa akan tongkatnya yang menggantung di kursi. Tanganku reflek menopangnya dari belakang.
“Maafkan Abi.”

Lalu ia membenahi kuda-kudanya dan berjalan pincang ke kamar tidurnya. Aku hanya menggelengkan kepala sambil melihatnya berjalan pelan kesana. Gilang harap Abi bisa menerimanya, meskipun Gilang tahu, itu sulit bagi Abi.

Seandainya kejadian dua tahun lalu tak pernah terjadi. Seandainya saja takdir masih berpihak pada keluarga ini. Seandainya masih ada waktu untuk Abi berbagi kebahagiaan bersama Umi. Seandainya saja aku masih mempunya kesempatan mendengar bau terasi yang menyeruak dari dapur dan bau khas masakan Umi di meja makan. Dan seandainya kami masih punya waktu...

17 komentar:

  1. Ah, ku kira ini awalnya song fict, tapi nyatanya bukan. Sigh!
    I know your story will be good as usual, but kata 'seandainya' yang diulang-ulang pada paragraf terakhir terbaca menoton. Semoga kedepannya nggak. :)

    BalasHapus
  2. Dari Umi untuk Abi, tapi Uminya udah meninggal, apa ya kira2 peninggalan seorang umi untuk abi, masih tanda tanya nih, ceritanya blm bisa ketebak bang ^_^

    BalasHapus
  3. satu yg terlintas...
    kebanyakan ide ndak? -.-

    BalasHapus
  4. Abinya suruh cari umi baru aja dak, gue gak tega liat orang tua sedih gitu.
    Daka jelek lu nyuruh nyuruh gue mampir tapi gak pernah lu mampir ke blog gue wuwuwuwuwuuuu

    BalasHapus
  5. pgen tau sgera lanjutannya.. :)

    bagus ceritanya :)

    BalasHapus
  6. kunjungan perdana ni, salam kenal ya oh ya ceritanya nyentuh banget

    BalasHapus
  7. Ceritanya menyentuh banget, Abi, Umi.. ditunggu cerita selanjutnya

    Salam,, Resolusi Juara 2012

    BalasHapus
  8. eh keren ><
    kirain ini cerita nya labil cinta2 gitu._. ternyata keren:3 btw uminya meninggal ya? *langsung baca capt 2*

    BalasHapus
  9. *maaf baru baca cerita barunyaaa -_-
    btw kenapa namanya gilang ? itu nama mantaan akuu hrrr -.-

    oke, apa yang bakal abi lakukan nanti ? apakah akan mencari umi baru. bentar ya, cuss baca kelanjutannya :p

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: