Selasa, 20 Desember 2011

Indigo Bagian 6

Paku 


Malam ini aku hanya membolak-balik badan di atas kasur. Mataku terbelalak. Tengah malam, jam dinding berdenting dua belas kali dan mataku masih belum bisa menutup setengahnya. Di luar hujan deras, petir dan kilat menemani sepiku malam ini.

Aku melamun, sedang tak memikirkan apapun dan siapapun. Hanya mengernyitkan dahi sesekali karena pandanganku beberapa kali kabur. Aku memandang jendela, hanya hitam. Tetes hujan yang menempel di jendela memberikan sedikit pola. Kosong. Dimana Maria? Kenapa Maria tak ada di fikiranku malam ini?

Pandanganku kabur lagi, aku melihat ke jendela, lebih dekat, semakin dekat. Hidungku menempel di kaca, aku melihat Maria—mirip Maria. Ia berjalan di depan halamanku, menunduk. Aku tak bisa melihat wajahnya, rambut keriting gantung itu menutupi muka putihnya.

“Maria...” Aku berteriak dari dalam kamar, memanggilnya.

Gadis itu berhenti, mematung. Tangannya menggengam lengan jas hujan hitamnya kuat. Tetap diam di trotoar tanpa memperdulikan suaraku.

Tiba-tiba limusin hitam meluncur dari arah belakang sambil menyalakan klakson keras-keras. Seperti ia menabrak Maria—atau sekedar lewat di depannya. Tapi, ia hilang—tiba-tiba hilang. Aku melihat setiap sudut jalan. Ia memang hilang. Aku mengernyitkan dahiku lagi, pening. Mataku seperti tertusuk sesuatu. Aku menutup mataku sekejar relaksasi.

Tiba-tiba Maria ada di depan jendela. Bukan Maria. Ia bukan Maria. Meyakinkah diriku dalam hati. Polos, ia tak bermuka, hanya putih mayat. Sosok itu menatapku seakan ia memiliki mata. Aku menganggukkan mukaku perlahan, ia mengikutinya, ia menganggukkan kepalanya perlahan, sama persis. Mukanya ia dekatkan pada jendela begitu juga aku. Aku memperhatikannya terus, tiba-tiba darah mengucur dari kepalanya, meluncur kebawah, menodai muka ratanya yang putih pucat.

Tangannya menembus kaca kamarku, pelan. Entah kenapa aku mematung, tak dapat pergi dari depan jendela. Aku sudah berusaha menjauh, tapi tetap tempatku tak bergeser sesenti pun. Ia mencekikku lembat, semakin kuat. Sesak. Kemudian hitam.

Ini lagi.

Semuanya hitam—seperti waktu itu, tak ada dinding, semuanya hitam, luas. Kepalaku pening lagi, kali ini begitu kuat. Semuanya berputar-putar. Aku tersungkur disana dan pingsan.

“Theo, Theo,” suara itu memanggil namaku. Maria?

Aku bangun, berdiriku gopoh sambil memegangi kepalaku yang masih pening. Maria. Aku melihatnya, di ujung sana. Ia seperti tersenyum samar, lalu berjalan pergi.

“Maria, Maria,” panggilku keras.

Aku berlari mengerjarnya, ia pergi terlalu jauh sedangkan aku hanya berlari sempoyongan. Aku memanggilnya lagi, ia tak memperdulikan. Ia berhenti dan jatuh pingsan di sudut hitam.

Aku berlari dan menangkap tubuhnya sebelum menyampai tanah. Tubuhnya dingin dan kaku. Aku membalikkan tubuhnya, mukanya pucat tetapi matanya terbuka. Pandangannya kosong.

“Maria, bangun.”

Ia merespon, “Aku sudah bisu, sudah tuli dan buta.”

“Apa maksud kamu Maria?” tanyaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

“Aku bisu, tuli dan buta.”

Ia mengulangi perkataannya berkali-kali. Aku merasakan sesuatu yang aneh dari Maria—sosok Maria—ini. Lalu diam, hening kemudian ia terkekeh perlahan semakin keras sampai membuatku kepalaku pening dan tersungkur kembali.

Sudah pagi dan ternyata kemarin hanya mimpi. Hari ini Minggu, kulewati satu hari lagi tanpa kabar dari gadis itu. Handphone tidak aktif. Kemarin malam yang cukup statis dan hari akan statis, bahkan lebih statis dari kemarin.

Hidupku seperti puzzle, selalu diberi potongan kejadian ajak dan aku harus berusaha menyusunnya menjadi kronologi yang utuh, tanpa ada seorangpun yang bisa membantu. Apakah di dunia ini aku sendiri?

Handphone berdering, nomor disembunyikan. Kuangkat, “Halo.”

“Halo, apa benar ini Theo?” suaranya tidak familiar di telingaku.

“Ya, benar. Dan ini?” tanyaku balik.

“Saya Diana, mamanya Maria.” Maria? Oh Tuhan.

Suaraku gemetar mendengarnya, “Eh, tante ada apa?”

“Maria, Theo—“ suaranya menggantung.

“Kenapa Tante, Maria kenapa Tante?” tanyaku menginterogasi.

Terputus dan aku hanya mendapat ketidak-jelasan. Hari itu, tidak ada telepon berdering dari handphoneku (lagi) hanya ada beberapa SMS tidak penting. Di pikiranku saat ini hanya Maria bukan siapapun dan untukmu Tuhan, tahukah Engkau kalau ini bukan anugerah, aku merasa aneh dengan semua ini, aku tak pernah merasa normal. Aku berbeda Tuhan. Kenapa kau membedakanku dengan orang lain Tuhan? Kau tak adil.

15 komentar:

  1. dalem banget dah
    asik asik kenapa kok sampek putus yaw, katanya mau sehari secerita

    ditunggu lanjutannya dah :D

    BalasHapus
  2. MAAF. agak telat mostingnya, kemarin-kemarin mau post internet gak jalan

    BalasHapus
  3. Ah, dasar kamu bang... Kenapa telponnya tiba2 putus? Apa ini behubungan denganmu, yg putus ceritanya, karena internet gak jalan? hahahaha Bikin penasaran aja nih :p

    BalasHapus
  4. waduh! udah part 6 tah?
    ketinggalan 4 part nih -,-
    lagi sibuk ujian, ngga sempat blogging tapi percaya aja, part-part sbelumnya pasti keren :D

    BalasHapus
  5. Ah bikin penasaran aja ente, sialan.. "Maria kenapa tante?" | "Ini Maria lagi jilatin jamban." :D

    BalasHapus
  6. lanjutkan ceritamu mas rizky! oya fotonya bagus :)

    BalasHapus
  7. bener2 mantab nih , udah baca bagian 1-6 isinya cool abis ..!!
    ditunggu nih, penasaran , apa yag terjadi dengan Maria ??

    BalasHapus
  8. "Hidupku seperti puzzle, selalu diberi potongan kejadian ajak--," ini yang benar acak, ya? :)

    BalasHapus
  9. "Hidupku seperti puzzle, selalu diberi potongan kejadian ajak--," ini yang benar acak, ya? :)

    BalasHapus
  10. "Hidupku seperti puzzle, selalu diberi potongan kejadian ajak--," ini yang benar acak, ya? :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: