Kamis, 29 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 3

Kau membuatku mengerti hidup ini,
Kita terlahir bagai selembar kertas putih.
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai,
dan terwujud harmoni
Harmoni – Padi

Sudah lebih dari tiga hari Abi selalu keluar saat senja, entah kemana. Beberapa hari belakangan aku memang terlalu sibuk dengan proyek besar dan sketsaku (lagi). Memang sesekali aku bertanya tentang keadaan Abi tapi jujur aku lebih memperhatikan pekerjaanku, toh nanti uang dari kerja kerasku untuk Abi juga. Pikirku sebagai pembelaan.

Aku beberapa kali mengintip dari sudut mataku, Abi duduk memperhatikanku menggambar. Aku tak bisa melihat raut mukanya, hanya beberapa menit ia melakukannya lalu berbalik menuju kamarnya. Aku tak tahu sebenarnya ia kecewakah?

“Gilang, bagaimana kalau terapi Abi dihentikan saja?” celetuknya tiba-tiba.

Aku masih sibuk membetulkan letak kacamata sambil menggoreskan pensil diatas kertas gambar.

Abi bertanya lagi, “Bagaimana Lang, dihentikan saja. Abi sudah cukup sehat.”

Kali ini aku sedikit mendengarkan, “Apa Bi? Apanya yang dihentikan?” tanyaku sembari menatapnya.

Matanya memancarkan kekecewaan, aku bisa melihatnya—tapi ia berusaha menutupinya. Abi mengambil nafas dan mengumpulkan keberanian sebelum mengucapkannya, “Bagaimana kalau terapi Abi dihentikan saja?”

Aku sedikit kaget mendengarnya. “Kenapa Bi? Kan sudah setengah jalan?”

Abi menggelengkan kepalanya, mengurut jamban putihnya dan meletakkan kopi pahit yang tak jadi diminumnya. “Abi ingin kamu hentikan saja, Abi sudah cukup sehat.”

Intonasinya meninggi sangat mengucapkannya, lalu menyeruput kopinya sebagai penetralisir. Aku sangat takut ketika Abi memakai oktaf tinggi saat berbicara. Dari kecil Abi membiasakan anaknya untuk tidak membantah perkataan orang tua, terlebih perkataan Abi dengan intonasi yang tinggi yang khas, aku sangat takut.

“Tapi Abi—“ tukasku terbata dan dipotong olehnya.

“Sudahlah Gilang, lihat Abi tidak mau kau kerja banting tulang demi Abi.”

Ini kewajibanku Bi sebagai anak, ini karena aku sangat menyayangimu. Ingin ku katakan kata-kata itu, tapi ketakukanku mencegahnya keluar dari faring. Mendung yang menyelimuti sekitar rumah kami membawa esensi situasi yang mendukung. Aku tertunduk tak berani menatapnya, ia mungkin marah dengan wajah yang sangat kutakuti, tapi entahlah aku tak berani menatap muka Abi.

Ia meletakkan cangkir kopinya di meja dengan sembarangan. Aku terperanjat, lalu ia berkata lagi, “Baiklah Abi memberikanmu waktu untuk berfikir. Tapi Abi harap kau bisa menghargai keputusan Abi.”

Aku mengangguk takut. Abi membanting pintu kamarnya cukup keras. Aku mulai berani mengangkat muka sambil membereskan cangkir kopi Abi.

Aku duduk di depan teras siang itu. Mendung masih bercengkrama diatas rumah kami. Aku mencoba melupakan yang baru saja diucapkan Abi. Ingin sekali menolaknya, tapi hati kecil ini sudah di doktrin oleh Abi untuk menuruti perintahnya, terlebih ia adalah orang tua satu-satu yang kumiliki saat ini.

Aku penat, aku memijat kepalaku beberapa kali hanya ingin masalah ini tak terjadi. Tapi, mengapa malah bayangan Umi yang menyapu halaman muncul. Disana ada aku yang bermain mobil-mobilan sendirian kemdian segerombol anak-anak lain datang dan melempariku dengan batu. Aku menangis. Umi melemparkan sapunya ke halaman kemudian berlari ke arahku. Ia memarahi anak-anak itu.

“Kamu tidak apa-apa Gilang?” tanyanya sambil mengusap air mataku dengan dasternya.

Aku hanya terisak tak menjawab, memeluknya erat. Takut. Umi menggandengku dan memangkuku di depan teras rumah. Umi mulai bercerita, tentang masa kecilnya, tentang rumah kami, tentang kampung kami. Cerita yang paling kusuka dari Umi adalah tentang masa kecilnya yang mirip denganku. Selalu sendirian.

Aku berhenti menangis, lalu merebahkan kepala diatas pangkuan tangannya. Kali ini ia bercerita tentang masa kecilnya (lagi) dan aku tak pernah bosan mendengarnya. Umi bercerita dan aku menyahutinya—karena memang aku sudah hafal jalan cerita ini.

Lalu kami tertawa bersama saat Umi menirukan gaya teman kecilnya yang gendut. Pipinya dikembungkan lalu matanya agak dijulingkan. Aku selalu terbahak melihat Umi menirukan itu.

“Nah, Gilang, sekarang kamu mengerti tak salah kan menjadi penyendiri. Lihat Umi, toh Umi akhirnya tetap bisa bergaul, punya teman,” katanya lembut sembari menyentil hidung kecilku.

Aku tersenyum kecil, mengangguk polos. Umi menunjuk kearah anak-anak yang mengangguku tadi. “Lihat mereka, mereka kan yang mengganggumu?”

Aku mengangguk takut, lalu bersembunyi menenggelamkan muka di daster ungunya.

“Ya percaya pada Umi. Meskipun kau diejek mereka, mereka tidak akan menjadi kau nantinya,” jelasnya sambil mengangkat tanganku, menguatkan.

“Memangnya Gilang menjadi apa Umi?” tanyaku lalu menyedot ingus yang keluar.

Umi tersenyum dan mencium keningku hangat. “Itu yang harus Gilang cari, Gilang mau jadi apa nanti kalau besar. Umi percaya Gilang pasti sukses.”

Aku berfikir sebentar. “Gilang ingin jadi pelukis Umi,” kataku dan melompat dari pangkuannya, “Gilang ingin buatkan gambar rumah yang besar buat Umi dan Abi.”

Umi tertawa lalu menjelaskan, “Gilang, itu bukan pelukis namanya. Itu namanya arsitek, orang yang kerjanya membaut bangunan seperti rumah, gedung tinggi, dan banyak lagi.”

Aku menggumam dan mengangguk lagi. “Ya ya, Gilang mau jadi arsitek hebat. Biar Umi bangga.”

“Gilang hebat, sekarang waktunya tidur siang,” katanya semangat lalu menggedongku ke pangkuannya lagi.
Aku mengangguk dan memasukkan ibu jariku ke mulut. Kebiasaanku memang melakukan itu padahal Umi sudah berkali-kali melarang dan kali ini ia membiarkanku melakukannya.

Umi mengayun-ayunkan pangkuannya dan bersenandung. “Tak lelo lelo lelolegung...” itu lagu nina bobok favorit Gilang Umi.

Bunyi cerobong kereta api di belakang rumah mengagetkanku dan menghilangkan bayangan-bayangan indah itu. Rumahku memang tak seberapa besar, tetapi banyak space kosong di rumah yang belum terisi. Rumah ini memang terlalu besar untuk kami bertiga, lebih-lebih sekarang untuk kami berdua. Pintu dan jendela rumah yang masih beraksitektur Belanda dengan ciri pintu yang tinggi sangat aku sukai. Pintu jati dengan warna krem itu sangat rajin dibersihkan Umi. Di lap sangat mendetail. Aku sering memperhatikannya walau ia tak pernah tahu.

Suara tongkat besi Abi terdengar berdecit dengan lantai keramik rumah. Aku mendongak, melihatnya berdiri diatas teras menerawang ke depan, kosong.  Ia meliaptkan satu tangannya ke punggung, lalu menghela nafas. Aku tahu Abi belum bisa merelakan Umi, tapi bagaimana pun adanya nanti, Abi harus bisa.

Aku mendekat dan berdiri di sebelahnya. Aku ingin menguatkannya berdiri berdampingan, berdiri sama tinggi di sebelahnya sebagai sosok sahabat bukan sosok anak kecil yang ia tuntun.

“Abi, Umi disana sudah tenang.”

Angin berhembus menerpa kami berdua. Mataku agak gelagapan di terpa angin itu. Di lirik mataku Abi masih menghela nafas panjang.

“Umimu rindu dengan Abi?” tanyanya.

Aku tak tahu, apakah itu pertanyaan atau pernyataan, bagiku itu pernyataan.

“Pasti Abi.”

“Lalu bagaimanakah dengan permintaan Abi tadi?” tanyanya lagi.

Pertanyaan Abi membekukan, aku hanya bisa menelan ludah tak menjawab. Jujur, aku tak mau, Bi.

9 komentar:

  1. Di tunggu lanjutannya, kasian si Gilang. Semoga cita2 jd arsitek tercapai ya nak.. :)

    BalasHapus
  2. enak banget gilang ditimang2 gitu. jadi inget pas kecil, inget dimanja2 ortu

    BalasHapus
  3. Oke bang, sepertinya aku mulai mendapatkan gambaran nih :) Kalau mau menebak jalan cerita, aku akan mencoba berfikir terbalik :) Ntar aku message ke fb deh, kita lihat lanjutannya ntar, sama gak dengan pemikiranku hahaha :p

    BalasHapus
  4. wah dalem banget ne cerita..
    salam kenal gan...

    BalasHapus
  5. ya ampun andaka... kamu rajina amat nulisnya. jadi teringat semasa saya muda hahaaha. semoga bisa nembus penerbit mayor kamu naak. amin..

    BalasHapus
  6. runtutan ceritanya bagus, ringan juga kalo mau dibaca.
    kenapa gak mikir untuk ngebuat novel ? :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: