Jumat, 30 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 4

Spine | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Sudah kesekian kali Abi selalu menanyakan tentang pemberhentian terapinya dan kesekian kali juga aku tak bisa menjawab “Iya”. Aku lebih suka mengalihkan perhatiannya dengan membicarakan hal-hal yang Abi suka. Tentang kismis, tentang rel kereta api yang bising, tentang Umi. Sayang beberapa waktu terakhir Abi tak suka lagi membicarakan hal-hal tentang Umi.

“Apakah kamu tahu Gilang. Apa yang sangat Abi sukai saat ini?” tanyanya, senyumnya sengit.

Aku terlalu sibuk dengan kepulan asap dari kopi tubrukku, aku hanya mengangkat bahuku. Lalu kami sama-sama diam, beku dalam remang lampu lima watt di ruang tengah.

Abi menengadah dan merebahkan tubuhnya ke kursi goyang sedikit. Mengayun-ayunkannya. Perlahan.

“Abi sangat suka masakan Umimu,” Aku tersenyum mendengarnya. “Tapi sekarang tidak.”

Kaget memang ucapan Abi itu. Aku hanya dapat menelan ludah. Mengapa Abi? Bukankah Umi

Aku tak berani melanjutkan gumamanku. Abi begitu serius mengatakannya. Benarkah Abi sudah melupakan Umi?

“Tapi Bi, mengapa bisa begitu?” tanyaku, kini aku serius menatapnya.

Ia mengganjal kaki kursinya agar berhenti, lalu melepas kaca matanya dan menatapku. “Dua tahun sudah bisa membuat ingatan Abi luntur,” katanya lalu menggoyangkan kursinya kembali.

Sudah hampir tengah malam, gerimis mulai mengalunkan gemerisiknya dan aku masih sepenuhnya terjaga. Lampu-lampu kampung tampak lebih remang daripada biasanya, mungkin karena hujan. Aku sesekali hanya menengadah melihat hamparan daun mangga yang dimainkan angin.

Kamarku memang tak berpintu, hanya kelambu batik tergerai disana. Kali ini membukanya. Abi masih melihat TV disana. Abi sudah lebih bungkuk dibanding dua tahun yang lalu. Pegelarang wayang, pikirku. Tepat. Ia menonton pementasan wayang di stasiun TV lokal. Rama dan Shinta, favorit kita, Abi.

Aku berpaling dari Abi menghadap jendela lagi. Gerimis sudah berganti dengan hujan lebat. Cipratan air sudah cukup membuat kasurku menangis, menimbulkan bunyi decitan yang keras.

“Gilang?” Ups.

“Ya, Bi?”

“Belum tidur?” tanyanya. Marah, Abi Marah.

Aku melingkarkan telunjuk dan jari tengahku. Taruhan, Abi marah.

“Kemarilah.”

Aku melangkah ragu-ragu. Abi marah dan aku takut meskipun sudah berumur seperti ini aku masih saja mengalami ketakutan sendiri ketika Abi marah.

“Duduklah disini,” katanya sambil membersihkan sofa motif kawung berwarna cokelat di sebelahnya.

“Ya, Abi, ada apa?” jawabku gemetar.

Abi tersenyum lalu berkata, “Lihatlah, di televisi itu.”

Aku mengangguk tak yakin, “Wayang Abi, kesukaan Abi.” Kesukaanku juga.

“Ya, kau benar. Wayang Rama dan Shinta, kesukaan Abi dan Um—“ Ia seperti tak mau melanjutkan kata-katanya.

Abi meletakkan kedua tangannya di muka lalu menengadah, melihat langit-langit yang hampir jebol. Sepertinya Abi sudah lupa dengan permintaannya untuk menghentikan terapi, pikirku. Aku tetap melihat ke tayangan wayang tersebut sambil sesekali melirik Abi dari sudut mataku. Abi tak benar-benar memperhatikan tayangan TV. Pandagannya kosong. Sedih. Kecewa?

Dua jam berlalu dan wayang sudah memasuki bagian akhir. Mataku sudah tidak bisa diajak berkompromi. Tidur. Aku melihat Abi sudah tersandar di kursi goyangnya sambil memegang album foto. Tanganku mengucek muka untuk membuatnya tetap terbuka, aku mengambil sarung di kamar lalu menyelimutkan ke tubuh Abi. Aku tak ingin membangunkannya, mungkin ia bermimpi indah—bertemu Umi, mungkin.

Aku terlelap dan tidak bermimpi apapun.

Mentari sudah cukup membuat kuliku panas, aku tahu sudah terlalu siang harusnya aku bangun. Aku terperanjat dari ranjang lalu bergegas mandi. Lima belas menit kemudian, setelah semua selesai, Abi menepuk punggungku dari belakang.

“Ada apa Abi?” tanyaku lalu berbalik.

“Bagaimana dengan permintaan Abi, Gilang?”

Deg. Beberapa detik aku tak bisa menjawab, diam. “Abi sudah yakin dengan permintaan Abi?” tanyaku memastikan.

Ia menggumam, aku tahu Abi tak sepenuhnya yakin. “I..Iya Lang,” jawabnya terbata-bata.

“Maaf, Abi Gilang tidak bisa—“ kalimatku terdengar menggantung.

Abi tak menjawab, ia sepertinya acuh dan tak menggubris. Mukanya ditekuk lalu berjalan pincang menuju kamar. Braak. Pintu kamarnya dibanting keras-keras. Aku mematung di depan kamarku lalu menghela nafas panjang-panjang. Aku harus bisa lebih sabar menghadapi Abi yang sekarang ini.

Pintu depan diketuk seseorang. Pasti dokter, pikirku. Benar saja, Dokter Mirza sudah datang.

“Bagaimana dengan keadaan Abi, Gilang?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

Aku tersenyum. “Abi baik dokter, silahkan masuk. Abi ada di kamar.”

Dokter Mirza mengangguk lalu membungkuk masuk. Ia masuk ke kamar Abi. Aku tak mau masuk ke kamarnya, aku takut ia masih kecewa dengan penolakanku tadi. Aku lebih memilih duduk di teras depan kamar Abi daripada harus melihat raut muka Abi yang ditekuk lesu.

Tak lama setelah itu, suara barang pecah dari kamar Abi menyeruak keluar. Aku bangkit, kaget. Apa yang terjadi? Aku berlari masuk kamar Abi dan lampu kamar Abi sudah tak berbentuk di depan pintu.
“Dokter apa yang terjadi?” tanyaku sambil melangkah meloncat menghindari pecahan kaca.

Dokter Mirza memijat pelipisnya, pusing. “Abi menolak untuk diterapi, Gilang.”

Aku sudah menebak hal ini bakal terjadi. Aku diam menatap Abi yang tampak marah, aku tak takut lagi. Kamar Abi yang suram itu kini semakin suram tanpa lampu yang pecah tadi.

“Dokter sudahlah terapi minggu ini ditunda saja,” kataku menjelaskan.

“Kalau itu mau kamu, baiklah,” jawab dokter Mirza dan membereskan peralatan terapinya yang terlanjur di gelar.

Kami berdua keluar dari kamar Abi. Kami berdua sama-sama penat. Malu, aku sangat malu dengan sikap Abi yang begitu, kekanakan. Aku meminta maaf kepada Dokter Mirza atas semua kekacauan yang terjadi.

“Saya bisa memaklumi keadaan psikologis Abi, Gilang.”

“Tapi dokter, itu semua untuk Abi juga nantinya.”

Ia memanggut-manggut mengerti. “Saya tahu, tapi Abi juga butuh penyesuaian, lagi.”

Penyesuaian? Apa tak cukup dua tahun ini sebagai penyesuaian. Aku saja tak sampai dua tahun sudah bisa menerima ini semua.

“Baiklah dokter, sekali lagi maaf.”

“Ya, kalau begitu saya pamit,” kata dokter mengakhiri percakapan kami.

Dokter Mirza pergi dengan motor vespa butut. Bunyinya nyaring dan terlihat sangat tua. Siluet tubuhnya yang oranya terkena terpaan senja menghilang di belokan depan kampung. Aku berkali-kali menghela nafas di depan teras. Relaksasi. Berusaha memaklumi apa yang telah Abi perbuat. Tidak bisa. Sungguh, sulit untuk dimaklumi.

Decit pintu kamar Abi berbunyi dan Abi keluar dengan tubuh yang lemah.

“Abi.”

“Maafkan Abi, Gilang,” tukasnya memelas.

Aku menggerutu dalam hati. Tetapi aku diam di depan Abi.

“Abi tahu sikap Abi salah, Gilang, tapi salahkah Abi bila Abi ingin menghentikan semua?”

Salah. Salah besar. Aku tak ingin kehilangan lagi, apalagi Abi. “Sudahlah Bi, lupakan,” nadaku tinggi menjawab alasan Abi yang tak rasional itu.

Abi menjawab dengan berteriak, “Baiklah kalau itu maumu, Gilang. Kenapa Tuhan tidak mengambil saja Abi bersama Umi dua tahun yang lalu?”

Sial. Aku selalu kalah dengan perkataan itu. Takut akan kehilangan seseorang lagi. Takut kehilangan Abi. Tanganku gemetar sambil mengepal. Aku tak segampang itu bisa menangis dan aku juga tak semudah itu berpindah prinsip. Maaf, Abi, aku tak ingin melihat Umi disana sedih karena aku tak bia menjagamu disini.

10 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Fotonya tajam sekali. Nge-jreng begitu. Bagus, bagus. :D

    Di ceritanya ada beberapa typo, Daka. :D

    BalasHapus
  4. sobat penulis ya, knapa kagak di satuin aja sob jadi novel gitu

    BalasHapus
  5. Hahaha.. dasar kamu bang! Ternyata si gilang tetap saja kalah melawan Abi dan Abi memberontak, tebakanku salah hahaha Kita seri, nanti kita main tebak-tebakan cerbung lagi! hahaha

    BalasHapus
  6. abinya egois :'3
    ditunggu kelanjutannyaaa :D

    BalasHapus
  7. eh cepet banget nulisnya xD
    tunggu yang 5 ya~

    BalasHapus
  8. gan ni karangan ente sendiri ato berdasarkan sumber...
    inspiratif gan...
    mantap

    BalasHapus
  9. Biasanya cuma jadi silent reader.... :p>

    Kali ini komentar, ah.

    Dari awal baca cuma mau bilang: Bahasanya puitis, ya, Bang :,'D

    Udah.

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: