Rabu, 28 Desember 2011

Dari Umi untuk Abi Bagian 2

Nail | Taken with SONY DSC-W220 CyberShot DigiCam | Pixlr-o-matic editing

Tepat hari ini, di senja gerimis seperti ini. Dua tahun lalu kejadian itu berlangsung. Saat Abi dengan percaya diri mengenakan batik buatan Umi dengan bangga. Batik madura warna biru dengan motif merak dan bunga.
“Indah, Umi,” katanya kepada Umi yang sedang mengancingkan batik Abi.

“Iya Abi, Umi tahu. Makanya jangan lupa di pakai terus ya,” jawab Umi, terlihat senyumnya mengembang dari wajahnya yang sudah terlipat.

Radio masih melagukan lagu-lagu keroncong yang hangat sore itu. Hujan gerimis menambah syahdu rumah kecil kami. Kami sedang ingin menuju acara kawinan saudara kami di kampung seberang. Bagi kami cukup jauh apalagi dengan vespa buutu milik Abi yang terkadang mogok dan batuk-batuk.

“Abi sudah jam berapa, Gilang nggak bisa ikut ya, masih ada setumpuk sketsa yang harus gilang setorin malam ini.”

“Abi bisa ngerti, tapi seenggaknya jangan terlalu pulang malam ya.”

“Iya Lang. Jaga rumah baik-baik,” tambah Umi sambil membelai rambutku yang sudah memanjang.

Aku hanya mengangguk sambil membetulkan letak kacamataku yang agak jatuh. Tak menatap mereka memang, aku terlalu sibuk menggambar dan menumpuk sketsa itu di meja tengah. Entah aku tak bisa menatap wajah mereka kala itu, kecewakah? Aku sama sekali tak perduli.

Pukul empat lewat dua puluh lima, aku sudah selesai dengan sketsa terakhir. Disini aku baru sadar mereka sudah pergi. Aku hanya mengangkat bahu, masih ada ini yang harus aku prioritasin, kataku sambil membawa tumpukan sketsa itu ke meja komputer.

Hujan terdengar semakin intens turun. Petir juga menggelegar sahut-menyahut. Kacamata yang kukenakan terasa buram karena perbedaan suhu di luar dan di dalam. Di speaker radio terdengar lagu Sepasang Mata Bola mendayu-dayu. Aku selalu takut akan lagu itu. Dulu, waktu kecil ketika lagu favorit Umi itu terputar di tape, aku selalu bersembunyi di balik sarung Abi. Mencengkeram sarung itu erat sambil menenggelamkan muka di balik sarungnya.

Abi selalu tertawa geli saat itu. “Umi sudahlah nih Gilangnya takut,” katanya sambil mengucek rambutku perlahan.

Umi tertawa kecil, lalu jongkok dan melihatku. “Gilang kenapa takut?” tanya Umi lembut.

Aku mulai berani muncul dari belakang sarung dan menjawab, “Gilang takut dengan suaranya ibu-ibu yang nyanyi, Umi.”

“Gilang, ini namanya lagu keroncong. Jangan takut, memang lagu-lagunya seperti ini.”

Sejak saat itulah aku mengerti akan lagu keroncong dan sejak itulah di ruang dengarku mulai akrab dengan lagu-lagu jenis ini. Tapi entah mengapa, sampai saat ini lagu Sepasang Mata Bola memunculkan ketakutan sendiri. Tak terkecuali sore itu.

Aku memang bisa mengontrol ketakutan itu muncul berlebihan tapi tak bisa benar-benar menyembunyikannya. Lagu itu mengingatkanku pada Abi dan Umi. Sketsa-sketsa itu kuletakkan sembarangan diatas ranjang. Aku memijat sedikit keningku lalu pergi ke teras untuk sekedar relaksasi.

Aku tak melihat motor Abi terparkir. Mengapa mereka masih saja memaksa untuk berangkat di hujan lebat seperti ini? Kepalaku masih pusing. Khawatir, entah apa yang aku khawatirkan. Aku hanya khawatir.

Langit senja mulai berganti hitam kemerah-merahan. Hujan sudah mereda kini hanya mendung yang menyelimuti kampung kami. Lagu-lagu di radio sudah berganti tema, kali ini giliran lagu-lagu cina yang diputar. Aku duduk di teras depan sambil mengaduk kopi tubruk buatanku sendirian. Menikmati pemandangan kampung kami yang begitu asri. Menyapa beberapa orang yang lewat di depan rumah kami. Tentram.

Aku menyeruput sedikit kopi hitam itu. Dahiku mengernyit, kopi yang kubuat terlalu pahit, beda sekali dengan yang disuguhkan Umi setiap sore. Aku menyapu pandang dari sudut kiri ke kanan. Mataku menangkap satu hal yang dilupakan Abi dan Umi. Sekotak besar gelas antik koleksi kakek yang ingin dihibahkan ke saudara hari ini. Mereka lupa membawanya.

Aku mengambil kotak itu dari dudukan beranda. Membawanya ke dipan teras. Sebelum berhasil ku bawa ke dipan, tiba-tiba petir menyambar mengagetkanku kala itu yang sedang melamun. Kotak itu lepas dari peganganku dan pecah. Pecah berkeping-keping. Fikiran buruk apa ini?

Aku memunguti isi kotak yang sudah tidak berwujud gelas satu-satu. Fikiranku masih melayang-layang.  Rumah kami begitu gelap, malam sudah datang aku lupa menyalakan lampu. Kubereskan pecahan gelas ini cepat-cepat lalu beranjak menuju saklar lampu.

Di tengah perjalanan, Aji tetanggaku berteriak-teriak di tengah gerimis memanggil namaku. “Gilang, Gilang!”

Aku mendengus kesal lalu berbalik menatapnya. “Ada apa sih Ji, ndak berteriak bisa kan?”

Ia mengangkat jari telunjuknya meminta istirahat sejenak. “Umi,” lalu mengambil nafas dan menlanjutkan. “Umi dan Abi kecelakaan.”

Jantungku tak bedetak, mungkin untuk beberapa detik. Kotak berisi pecahan gelas itu kujatuhkan lagi. Semakin pecah. Aku tak menjawabnya, hanya menelan beberapa ludah menenangkan diri. Aji mendekat kearahku dan menepuk-nepuk bahuku. “Dan Umimu meninggal—“ bisiknya di telingaku, pernyataannya seperti menggantung.

Dan disini pun aku tak menangis. Aku memang bukan seorang yang cengeng mendengar berita kematian. Mungkin terlalu naif untuk memunculkan kesedihan dengan tangisan. Seperti perempuan saja. Dan benar, mendengar kematian Umi pun aku tak menangis. Tanganku hanya menggenggam dan gemetar. Menunduk dan mukaku tak berekspresi.

Aku tak tahu, harus menyalahkan siapa. Tuhan? Tak etis kalau menyalahkan Tuhan. Abi mengajarkanku untuk selalu menyukuri  apa yang diberikan Tuhan, sepahit apapun kenyataan itu. Aku terkuatkan oleh kalimat Abi itu. Aji tahu harus melakukan apa lagi. Ia membereskan pecahan yang semakin terserpih itu lalu pamit pulang.

“Sabar ya Lang, di surau dulu bukankah kita selalu diajarkan untuk tabah oleh Abimu,” katanya sembari menepuk-nepuk bahuku lagi.

Gesekan pintu kamar Abi dengan lantai membuat telingaku ngilu, mengembalikan semua kilasan balik ingatan pahit itu ke hari ini, dua tahun setelah kejadian itu. Dan aku masih tak tahu harus menyalahkan siapa. Diriku? Yang terlalu mengesampingkan mereka—terlebih Umi—dan lebih memprioritaskan pekerjaan yang sekarang aku anggap sudah tak penting.

Abi berjalan gopoh menuju teras, satu kakinya memang masih sempurna. Tapi kaki kirinya lumpuh karena kecelakaan itu. Abi sudah semakin tua, terlebih sejak tangan kirinya diamputasi, ia terlihat lebih tua dari umurnya.

“Bi, mau kemana?” tanyaku dan mendekat kearahnya.

Abi mematung di teras, lalu mendengus, dengusannya sampai terdengar. “Sudahlah Lang, Abi bukan orang cacat yang harus selalu dipantai kemana-mana,” bentak Abi padaku, sangat keras.

Aku melepaskan genggamanku pada lengannya. Membiarkannya berjalan sendiri, semakin jauh hingga hilang di balik kabut. Abi, Gilang hanya khawatir bukan menganggapmu tak bisa apa-apa. Abi Gilang menyayangimu, lebih-lebih setelah Umi tidak ada, hanya kau yang Gilang punya.

17 komentar:

  1. nice story teman..ditungggu cerita2 yg lainnya ..keep writing :)

    BalasHapus
  2. kereen ikut terhanyut suasana jadinya. ayodoong mana part 3 nya jangan lama lama ya heheh XD

    BalasHapus
  3. ada yg typo kayaknya.

    itu "dipantai" atau "dimata-matai" yg kemana-mana.....

    BalasHapus
  4. bapaknya galak amat...
    jgn marah" dong om..
    eheheh

    BalasHapus
  5. nice story.. keep writing.. sy tunggu ceritanya.. :D

    BalasHapus
  6. merinding pas baca yang uminya meninggal ...

    bang daakaa.. lanjutannya cepeeet :3

    BalasHapus
  7. uuuh Gilang kamu tuh musti ngomong perasaanmu sama abi, jangan cuma di hati aja :( abi juga sama2 sedih kehilangan umi soalnya #terbawa suasana

    BalasHapus
  8. Wah makin mantap nih ceritanya.. Lagu keroncong emang serem lho.. :D

    BalasHapus
  9. Keep writing ya, tulisanmu bagus lho

    BalasHapus
  10. abang buat cerita yg modelnya flashback gitu yah.. keren nih, lanjutin bang ^_^ tetep setia membaca postinganmu ^_^

    BalasHapus
  11. widih galaknya si bapak, nyantai aja Oom

    BalasHapus
  12. *nyimak

    btw, saya juga takut dengerin lagu keroncong. haha

    BalasHapus
  13. Ceritanya nyentuh banget,,, :D
    Salam blogger

    BalasHapus
  14. ceritanya keren
    ditunggu cerita selanjutnya :)

    BalasHapus
  15. waaaaa, sampe terhanyut ini :3
    abinya jahat banget eee..


    aku suka kata2nya gilang yg dibagian akhir :'3

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: