Sabtu, 24 Desember 2011

Indigo Bagian 9

Tak Terdefinisikan
Dentuman bola basket menggema dari balik telingaku. Sorak sorai, teriakan, guyonan semua beradu di pandanganku. Aku menggenggam erat novel “Never Let Me Go” yang di lempar Maria ke pangkuanku tadi. Aku membuka satu halaman yang dilipatnya dan kulihat ia memberikan garis bawah pada satu kalimat. “Jangan lepaskan aku, sungguh aku butuh kamu”. Di akhir kaliamat dalam novel itu ia menuliskan namaku? Namaku? Theo.


Aku tercengang beberapa detik setelah melihat namaku ada disana, ditulis olehnya. Maria membutuhkanku? Membutuhkanku dalam konteks apa? Teman, sahabat atau terlebih kekasih? Aku juga tak pernah mengerti dengan isi hatinya. Begitu dalam dan dingin.

Di sela-sela istirahat aku lebih memilih untuk duduk di teras kelas daripada harus bersosialisasi. Kusobek sedikit bungkus permen karet warna merah muda yang daritadi kugenggam. Udara hari ini begitu dingin dengan gerimis. Aku beranjak dari tempat dudukku menuju tralis besi yang membatasi lantai atas dengan bagian luar. Aku menghirup udara kuat-kuat lalu terpejam, kugenggam tralis itu kuat lalu sayup-sayup seseorang memanggil namaku dari bawah. Maria.

“Theo, Theo,” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Ia menunjuk kearah taman belakang sambil tersenyum manis. Aku tahu maksudnya. Aku bergegas turun dan berlari ke arah taman. Aku khawatir, Maria adalah seorang yang selalu berusaha menghindari hujan (meskipun gerimis) tapi saat ini ia lebih memilih untuk bercengkrama dengannya?

“Maria,” teriakku dari belakang.

Ia menoleh. “Iya?” Ia menepuk rerumputan di sebelahnya menyuruhku duduk. “Sini.”

Aku mendekat ke sebelahnya. Mengusap rambutnya perlahan. “Hey, ini gerimis. Nanti kamu sakit.”

“Aku tak apa,” katanya sambil menengadahkan kepalanya ke arah langit.

Ia terseyum dan akupun juga. Kuperhatikan wajahnya lekat, matanya masih tetap hitam dan dalam, misterius. Tapi, bibirnya begitu putih dan mukanya pucat. Angin berhembus cukup kencang saat itu. Ia memejamkan matanya. Nafasnya ia tarik panjang-panjang lalu dihembuskannya perlahan. Dari sudut matanya kulihat air mata menetes, satu, dua terus menetes bersama tetesan hujan yang intensitasnya semakin deras.

Di sela-sela tangisnya ia berkata, “Theo, aku ingin jujur.”

Aku diam memperhatikannya menangis, aku ingin berbicara tapi bibirku kelu.  Tubuhku mematung di sebelahnya. Ia tak menghiraukanku yang diam, Ia tetap melanjutkan kata-katanya.

“Theo, semua berjalan salah.”

Aku tersentak, “Apanya?”

“Semua salah, keluargaku, diriku.”

“Kamu tak bisa selalu menyalahkan keadaan, Maria.”

“Aku tak menyalahkannya, aku tak menyalahkan Mama dan Papa yang bercerai aku juga tak menyalahkan—“

“Menyalahkan apa?”

“Tak apa,” sahutnya pelan.

Maria mendekap kedua lututnya erat. Ia seperti mengisyaratkan sesuatu, sesautu yang buruk. Seburuk apa aku tak dapat mengukurnya. Maria menangis lagi kali ini sampai terdengar isakan yang cukup kuat. Aku memberanikan diri untuk memeluknya dan kali ini aku berhasil, aku memeluknya. Erat. Ia membalas pelukanku, ia menangis di pundakku. Cukup lama kami dalam keadaan seperti ini, dalam hujan ia menangis. Aku membelai rambutnya perlahan. Ia mencengkeram seragamku kuat dan aku bahagia bisa seperti ini.

“Sudahlah, tak usah menyalahkan keadaan aku bisa membantu,” kataku.

“Aku tak tahu.”

“Maria, jangan berikan aku potong demi potong puzzle begini, aku butuh kejelasan dari semua ini, bukan petunjuk-petunjuk yang selalu ada di dalamnya.”

“Maaf—“ katanya, mengambang.

Kami melepaskan pelukan kami yang hangat dan Maria mengusap kedua matanya yang basah karena air matanya dan hujan. Ia tersenyum dan begitu juga aku. Kami tersenyum dalam pandangan yang kabur karena hujan turun cukup deras, tetapi senyuman itu tak begitu lama. Kulihat tubuhnya lemas hingga akhirnya pingsan.
Aku menggendongnya dari taman menuju ke UKS. Maria, kenapa kau?

Telepon yang dari tadi menempel di telingaku membuatku gerah. Tante Diana tak menjawab teleponku. Satu kali dua kali dan yang ketiga,

“Halo?”

“Halo, Tante. Maria, Tante.”

“Kenapa Theo? Ada apa dengannya?”

“Maria pingsan dan sekarang masih belum sadar.”

Diam beberapa detik lalu terdengar hembusan nafas yang cukup kencang dari ujung telepon. “Theo, apakah Tante belum pernah bilang tentang Leukimia stadium lanjut yang di derita Maria?”

Jantungku berhenti berdetak satu detik. Leukimia? Maria mengidap leukimia? Sejak kapan? Mengapa dia diam saja? Begitu banyak pertanyaan yang memberondong dalam benakku.

“Halo, halo Theo. Apakah Maria pingsan setelah ia hujan-hujanan?” Tebakannya tepat.

“I..Iya Tante.”

“Bukankah ia selama ini menghindari hujan. Karena imunitas di tubuhnya lemah, ia anti terhadap hujan tapi bagaimana bisa sekarang ia hujan-hujanan?”

Aku tak menjawab, diam. Aku semakin tak percaya dengan semua kenyataan ini, bahwa Maria memiliki sixsence dan sekarang ia sakit, sakit parah. Tuhan, aku memang berharap tak kau berikan puzzle seperti ini, tapi mengapa harus kenyataan yang begitu pahit muncul ketika semuanya berangsur jelas. Tuhan, apa ini skenario yang kau rencanakan dalam hidupku? Puaskah kau Tuhan? Puas kau buat Ia begini. Tak puaskah kau dengan hanya memberikanku ‘hadiah’ pahit. Sekarang kau memberikannya sakit Tuhan.

Telepon masih aktif. “Ya sudah, Tante akan ke sana menjemput Maria.” Telepon ditutup.

Di sudut UKS Ia masih pingsan. Wajahnya masih pucat dan tangannya begitu dingin. Kusentuh wajahnya yang kalem itu dan kusibakkan sedikit rambut keriting gantungnya yang basah. Ia begitu cantik dan baik tapi kenapa Ia harus menanggung beban sebesar ini?

Aku menggenggam tangannya kuat-kuat, berharap bisa menghangatkan tangannya yang dingin. Berharap ia bisa bangun dan tersenyum padaku lagi saat itu juga. Tapi memang Tuhan tak pernah seirama denganku, ia masih tertidur pulas.

Aku melemparkan tinju keras ke arah dinding UKS dan melakukannya lagi, berulang-ulang. Tanganku berdarah, lecet tetapi aku tak perduli. Aku tak pernah perduli dengan diriku sendiri, aku hanya memperdulikan Maria. Rasa sakit di tanganku saat ini tak sebanding dengan rasa bersalahku kepadanya. Tak mencegahnya waktu hujan turun dan sekarang ia pingsan dan itu semua salahku. Semua karena ketidakberdayaanku, karena kebodohanku, karena kelemahanku, semua karena aku. Shit.

14 komentar:

  1. http://ariefungu.blogspot.com/2011/12/merevisi-uud-1945-mengenai-kewenangan.html

    jangan lupa berkunjung dan komen

    BalasHapus
  2. wogh wogh
    dewa dewa
    hahaay lanjutin gan

    BalasHapus
  3. wah.. makin dalam aja ceritanya..
    kasian juga si Theo..
    ia baru tau kalo Maria mengidap leukimia. makin malang aja anak Indigo satu itu

    BalasHapus
  4. waah tentang cinta ya.. ayo ka lanjutannyaaa :D

    BalasHapus
  5. Akhirnya di bagian 9 ini terungkap, ah Maria ini buat gue penasaran aja. Apa Maria ini nanti meninggal? hanya penulislah yang tau.. :D

    BalasHapus
  6. gue baru baca bagian ini, dan langsung penasaran. *brb baca dari awal*

    BalasHapus
  7. Kenapa perasaanku bilang, akhir cerita akan bahagia tapi diiringi kesedihan yah... Tapi lihat dulu lah, aku gak mau buat keputusan, hanya bang daka yg tahu :) ntar kalo aku bilang ini itu, bang daka dengan mudahnya mengganti alur cerita hahaha kita lihat aja apakah yg aku pikirkan nanti benar :P

    BalasHapus
  8. banyak kejutan disetiap bagiannya,,like it :)
    ditunggu indigo 10 nya :D

    BalasHapus
  9. AAAA~~ romantis banget waktu pelukan :3

    eh ternyata leukimia ya? issh kasian..

    BalasHapus
  10. Bagus ya ceritanya...
    Baru baca aja suda bkin pnasaran..
    Gaa nyangka trnyata leokimia..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: