Senin, 12 Desember 2011

Indigo Bagian 2

The Stalker | Taken with SONY DSC-W220 DigiCam | Photoshop Editing
Baca cerita sebelumnya: [INDIGO BAGIAN PERTAMA]

Aku mungkin buta, di sepanjang sudut pandangku hanya hitam, tanpa celah. Sayup-sayup aku mendengarnya, banyak teriakan dari tanah dan angkasa. Mereka menjerit pilu. Meringis.

Sungguh aku tak mau seperti ini, mendengar sesuatu yang tak harus ku dengar dan melihat sesautu yang tak patut terlihat. Aku lelah, Tuhan. Kenapa kau memberiku sebuah anugerah yang sama sekali tak ku harapkan? Mengapa? Atau memang karena aku berbeda?

Masih tetap hitam. Pikirku, tetapi sekelibat bayangan putih itu mencoba memberi harapan. Harapan atau ketakukan yang ia ingin sampaikan? Entahlah. Ia hanya lewat kemudian hilang di sudut pandanganku yang mulai memburam karena hitam.

“Sadar!!” suara yang sangat ku kenal itu membuat pandanganku kembali pulih.

Pandanganku nanar beberapa detik kemudian berangsur jelas. Temanku masih bersila dengan wajah pucat di sampingku. Ia menutup wajahnya dengan jaket merah birunya. Ia menangis. Ia ketakukan. Aku bisa membacanya. Membaca fikirannya. Sebenarnya aku tak mau, untuk apa, untuk mengorek privasi orang lain? Tidak penting.

“Kumohon sadarlah,” intonasinya menurun sambil sesunggukan.
“Aku sudah sadar, kawan. Tenanglah.”

Ia terperanjat kaget mendengar tiba-tiba aku sudah berbiacara padanya seperti tak terjadi apa-apa. Ia lalu memelukku sambil menangis lagi, ia menangisiku? Sungguh, ini pertama kali ia menangisi keadaanku.

Pelukannya hangat, ia memang gadis pemurung yang anti-sosial. Ia hanya membuka dirinya pada orang-orang tertentu. Padaku dan beberapa orang lainnya. Ia sebenarnya memiliki pribadi yang hangat ia bisa menyesuaikan dengan berbagai kondisi hanya saja ketika sifat anti-sosialisnya muncul ia butuh dukungan moriil bukan cemoohan.

Tangisnya belum berhenti sampai aku menepuk punggungnya perlahan, bermaksud menenangkan. Mataku menganalisis keadaan sekitar, di kanan, aman. Di kiri, aku kaget, sempat aku mundur beberapa langkah. Aku melihat di tangan kiri temanku ada mahluk lain. Mahluk dengan baju putih yang agak bongkok dengan rambut gimbal panjang sampai lutut. Ia mendesis, tangannya penuh borok dengan tangan kanan yang tak genap lima. Ia memeluk temanku dari belakang. Lidahnya menjulur, panjang dan tebal. Lidahnya melilit lehernya. Apa ia tak bisa merasakannya?  Kataku dalam hati.

“Aku hanya ingin kau tetap berada di sampingku,” ucapku sambil menenangkan diri.

Mendengar ucapanku mahkluk itu seperti mendengar dan mengerti. Pandangannya yang semula jatuh ke bawah kini berbalik menatapku. Dan terlihat jelas, matanya yang merah menyala dengan tanpa rongga hidup. Mukanya penuh belatung dan ia tertawa terbahak-bahak melihatku agak ketakukan melihat sosoknya.
Kujatuhkan pandanganku ke bawah, benar saja, ia melayang dua kaki di udara. Ia memang ada. Ia ada di sekitar kita, hidup dengan kita. Berdampingan, hanya dimensi yang memisahkan dua alam ini. Mahkluk itu pergi ketika ku kumpulkan keberanian untuk menatapnya lagi. Ia terbang ke atap sambil menjerit parau. Ia lari dan tak kembali lagi.

6 komentar:

  1. Sarapan pagi kusantap, ada seekor kucing kubagi, ceritanya semakin mantap, kira2 nyambung lagi? Hehehe ~(^_^)~

    BalasHapus
  2. Wuih, gue jadi merinding malah baca postingan ini, he.. tapi seru.. :)

    BalasHapus
  3. hmm... apa mereka bisa melihat kita, dan hanya beberapa dari kita yg bisa melihatnya, apa mereka ada di dimensi yg lebih tinggi dari kita dgn lidah yg melilit lehernyaaa??? >,<

    BalasHapus
  4. LADIDA: Mereka bukan lebih tinggi, justru mereka lebih rendah makanya mereka kasat mata, hanya dimensi kita dan mereka yang berbeda :)

    BalasHapus
  5. Ada sedikit typo. Di paragraf ke-2 pada kata 'sesautu' yang seharusnya 'sesuatu' dan di paragraf ke-8 pada kata 'moriil' yang seharusnya 'moril'. :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: