Senin, 26 Desember 2011

Kiamat

“Apa kiamat?”

“Ya, kiamat!”

“Yang benar, kiamat?”

“Ya, benar, kiamat!”


Lalu percakapan terhenti, mereka lari tunggang langgang mencari tempat aman. Meletakkan panci di atas kepala meraka, membawa setumpuk harta benda yang dari dulu ia puja.
“Tidak ada tempat aman!”

“Ada. Pasti ada!”

“Dimana, tidak ada bodoh.”

“Ada. Percaya pasti ada!”

Lelaki pertama lari ke atas bukit dengan setumpuk berlian yang ia genggam. Mendaki susah payah, berpeluh-peluh darah ia perjuangkan dengan hartanya. Harta yang ia puja. Berharap kiamat tidak memilihnya hari ini.

“Kau salah jalan, kawan!” teriak lelaki kedua dari kaki bukit.

“Masa bodoh, persetan dengan kau!” jawabnya dengan hujatan.

Lelaki kedua menggelengkan kepala. Ia melihat kawannya susah payah ke atas bukit. Ia hanya mematung di bawahnya sambil berdoa. Terus berdoa. Tuhan, jika hari ini kiamat selamatkanlah ia kawanku jangan biarkan ia terjerumus ke jalan yang sesat, amin.

Lalu langit bergemuruh, semakin kelabu. Mereka berdua menguatkan kuda-kuda masing-masing—dengan harta dan yang satu doa. Sama-sama memprioritaskan satu hal. Tapi, pantaskah hal itu di prioritaskan?

Lelaki kedua bangun dan menyusun harta-hartanya menjadi istana, “Aku tak perlu, Tuhan. Lihatlah ini usahaku, bukan usaha Tuhan!” ucapnya lantang dari atas bukit.

Langit kembali bergemuruh kali ini teramat keras. Mereka berdua masih tetap dengan perkukuhannya. Yang pertama masih berdoa dengan doa-doa tanpa bekerja sedangkan yang kedua menumpuk harta, membangun asa tanpa berdoa.

Langit murka, menjadi merah. Petir menggelegar, semua bergetar. Mereka masih tak sadar. Bumi sudah tua, sudah cukup Tuhan melihat semuanya, dengan hanya doa dan hanya bekerja. Tak cukup, kata-Nya.

Lalu air datang, air bah setinggi menara. Ia datang menggulung semua. Dari masjid, gereja sampai wihara. Semua bergumul dan luluh-lantak ditelannya. Tak terkecuali lelaki pertama (yang berdoa) ia tenggelam dan mati di dalamnya. Sia-sia tanpa usaha.

Lelaki kedua melihatnya tak berkedip, ia ingin tertawa tapi ia teman sendiri. Ia hanya melongo dan mukanya memerah. Sangat ingin tertawa dan di akhir dayanya habis. Ia tertawa, terbahak semakin terbahak.

Tuhan melihatnya, ia tak suka. Ia juga murka padanya. Tuhan tak disembahnya. Terlebih setelah harta-berlian itu ia rengkuh.

Di sela-sela tawanya ia terperanjat dari kuda-kudanya. Terpeleset. Tersungkur dari atas bukit, tergulung keb awah hingga akhirnya mati di getaran-getaran bumi. Masuk ke dalam Tsunami. Dan mati.

19 komentar:

  1. wah wah. . keren bro..
    perbedaan dua manusia yang religius dan manusia yg gila harta...

    BalasHapus
  2. umm.. bicara tentang Tsunami,, sekarang (hari ini) semua warga Aceh sedang merenungi kembali 7 tahun Tsunami yang telah berlalu... semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi...:)

    BalasHapus
  3. "Apa kiamat?"
    "Ya, kiamat!"
    "Yang benar, kiamat?"
    "Ya, benar, kiamat!"

    Keren !! :D
    tapiii.. fotonya mana yaa?!
    biasanya kan selalu pake photo :D

    BalasHapus
  4. ini peringatan tsunami aceh ya? atau bukan? hehe


    kereen bang daka :3

    BalasHapus
  5. pas baca langsunng berkhayal yang serem dari tulisan ini. tapi keren ;) *tink

    BalasHapus
  6. saatnya menyeimbangkan antara usaha dan do'a
    :D

    BalasHapus
  7. waw, dalem banget dah fotonya aman euy

    BalasHapus
  8. Daka, kok gaya menulisnya beda? Aku nggak ngerasain chemistry apapun dari tulisanmu ini. What's wrong with you? :(

    BalasHapus
  9. ciecie andaka dibilang unik sama anis ciecie :p

    btw gak kebayang deh kl gue ada di situasi kayak gitu. haaaaaah sereeeeem

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Aku juga buat sebuah cerpen memperingati tragedi tsunami bang, mungkin kalo abang mengenai perbedaan manusia yg jahat dihantam tsunami, kalo aku lebih ke seorang anak yg dulu bersedih karena tsunami dan sekarang membangun puing2 asa. Ada pesan moralnya juga ^_^

    BalasHapus
  12. kiamat itu dekat. Sedekat hari-hari yang menunggu kita ^_^

    nice post! :)

    BalasHapus
  13. wow banget. ga kebayang kalau saya ada di sana *.*

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: