Jumat, 23 Desember 2011

Indigo Bagian 8

Ia, Maria. Ia masih tetap buram

Sudah cukup lama aku merenung disana. Untuk beberapa saat aku ingin mengingkari janji yang kubuat sendiri, tapi masih ada satu kesabaran menghadapi semua ini. Jam sekolah sudah berdentang lima kali, sekolah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa anak basket yang lagi sparring. Aku berdiri dari tempatku duduk, tegak. Mencoba menghirup oksigen sekuat-kuatnya disana. Menenangkan diri.

Langit mulai mengoranye tetapi aku masih enggan beranjak dari sekolah, hanya duduk-duduk di depan gerbang. Di tempat kami berpegangan tangan tempo itu. Aku rindu, benar-benar rindu sore itu. Ketika semua masih ada dalam kendali. Ketika aku dan Maria duduk disana, menikmati angin sore yang cukup dingin. Ketika merasakan sentuhan tangan Maria yang hangatnya belum  hilang sempurna dari tangan kananku.

Sungguh ini rumit.

“Hey, bro, nggak pulang?” tanya Tian, teman sekelasku. Dia indigo juga.

“Kamu tahu lah,” jawabku, malas.

Diam sejenak. “Iya, Maria itu bukan tipe cewek yang cengeng dan mudah menyerah, Bro.”

“Aku tahu, tapi aku masih pusing dengan puzzle ini, aku bosan menjadi begini, Yan.”

Tian menepuk-nepuk punggungku, kemudian mengambil duduk di sebelahku. “Sabar Bro. Ini sudah garis takdir. Ini anugerah jangan kau buat ini sebagai beban.”

Aku membenamkan kepalaku. “Hmm...” Tapi aku punya janji. Seandainya aku tak membuat janji ini, kawan.

“Aku tahu, hidup selalu memiliki pilihan bukan. Menginkarinya pun bukan suatu kesalahan.”

Kau tak tahu,ini komitmen. Aku menghela nafas panjang, Frustasi.

Ia beranjak, berpamitan. “Aku balik dulu, Bro. Pesanku sih, take care of her dan jangan sampai menyesal karena pilihan yang kau pilih itu ternyata salah.”

Aku mengangguk mengerti. Kau benar kawan. Ia pergi dan hilang di belokan gang depan. Aku masih disitu, memikirkan pesan Tian. Dia benar akan hal itu. Aku harus pergi mencari Maria dan mencari tahu kenapa dia dengan atau tanpa membacanya.

Aku berdiri dan menancap gas dari gerbang sekolah ke rumah Maria. Masih berharap ia ada di rumah saat ini. Lima belas menit akhirnya aku sampai ke rumah Maria. Aku dipersilahkan masuk oleh Tante Diana. Maria ada di rumah, syukurlah.

“Maria ada di kamar Theo. Dia dari pulang sekolah nggak mau makan,” keluh mamanya.

“Iya tante, bakalan Theo ajak buat makan.”

Aku meminta izin untuk masuk ke kamar Maria. Aku mengetuk pintu kamarnya sekali, tidak ada jawaban. Dua, tiga kali, nihil. Untuk yang keempat kali kuketuk kamarnya dan berkata. “Mana Maria yang aku kenal, yang brilian yang kalem dan pemberani. Aku tak mengenal Maria yang sekarang, yang tak bisa menerima kenyataan dan bisanya lari.”

Aku mengengar langkah kaki mendekat ke arah pintu dan pintu kamar berbunyi klik dua kali. “Masuklah,” katanya terbata, seperti habis menangis.

Pintunya berdecit keras ketika aku buka. Ia duduk diatas kasur sambil melingkarkan kedua tangannya ke lutut. Aku masuk sambil membujuknya untuk makan.

“Tidak, aku tak mau makan,” tolaknya.

“Oh jadi ini ya yang di kau inginkan? Menambah beban Mamamu?” sanggahku.

Ia menoleh. Mukanya bengkak, sembab dan matanya merah. Kali ini ia memalingkan tubuhnya ke arahku, ia mulai nyaman denganku. “Makanlah.”

Ia meraih piring perlahan, tangannya gemetar. Ia tersenyum padaku, senyum yang jarang sekali ku lihat beberapa waktu belakangan. Aku membalas senyumnya. Manis. Aku memperhatikannya dan aku baru sadar bahwa ia memiliki mata yang bulat sempurna. Irisnya juga cokelat, begitu sempurna di mataku. Walaupun ia intovert tapi bagaimanapun tetap ada ruang di hatiku untuknya.

“The..o,” panggilnya terbata.

Aku tersentak, terbangun dari lamunan. “I..Iya? Kenapa Maria?”

“Maafkan aku—“ suaranya menggantung, seperti ada yang akan ia bicarakan tapi tak jadi.

“Untuk apa? Seharusnya aku yang harus minta maaf ke kamu. Bukannya kamu,” tukasku.

“Untuk semuanya, terutama untukmu yang sudah aku bawa masuk ke lingkar hidupku yang kalut ini.”

“Hush, kamu itu ngomong apa Maria. Sudahlah makan, habiskan dulu,” jawabku. Aku tak mempermasalahkan itu saat ini Maria. Seandainya kau tahu perasaanku.

“Perasaan? Perasaan seperti apa Theo?” Aku tercengang. Kaget. Bagaimana bisa ia mengetahuinya?

“Mengetahui apa?” Stop.

“Ah, tak apa Maria.”

Aku berpura-pura melihat jam tangan, jam enam lewat dua puluh lima. Aku berpamitan kepada Maria untuk pulang. Motor aku gas sekencang-kencangnya. Bagaimana bisa ia mengetahuinya?

Semalaman aku hanya bisa membolak-balikkan badan di atas kasur. Melihat ke arah langit-langit. Melamun dan akhirnya tertidur, cukup pulas. Maria...

Pagi yang cukup cerah untukku tidak malas sekolah, ini Selasa. Hari kita, hari dimana ada olahraga dan kelasku dan Maria olahraga pada jam yang sama.

Maria ada disana, tetap berada di sudut di saat teman-temannya asik bercengkrama ia diam. Ia membacanya, novel Kazuo Isighuro yang baru ia pinjam dari perpus.

“Hai,” sapaku.

Ia menyibakkan rambutnya yang menjuntai dan menoleh. Ia tersenyum sumingrah. “Halo, duduk,” katanya sambil menepuk-nepuk lantai di sebelahnya.

“Mood lagi bagus?” tanyaku sambil menyentil hidungnya lembut.

Mukanya memerah. “Nakal,” jawabnya lalu kami tertawa. Sungguh ini momen yang kutunggu.

“Kamu ngomong apa sih, momen apa?” katanya lagi.

Hei, dia membaca fikiranku? “Hei, kamu indigo?” Ups, apakah aku terlalu frontal?

Maria tertawa, lalu diam. “Aku sixsence, agak sedikit berbeda denganmu.” Astaga.

Aku mengernyitkan dahi sambil menggaruk kepala, “Dan kenapa aku baru tahu? Bukannya dengan sesama kita bisa saling berbicara dalam tanda kutip?”

“Karena sixsence-ku muncul baru-baru ini, muncul dalam arti sempurna Theo,” jelasnya dengan menyenggol badanku.

Ia tertawa mungkin melihat ekspresi bingungku. Ia melemparkan novelnya ke pangkuanku lalu bangkit, ia menguap. “Sudahlah, ini berkah bukan?”

“Emmm, menurutmu begitu?” Tapi, menurutku tidak.

“Kenapa tidak?”

“Kau akan tahu, nanti.”

Kali ini aku yang menguap, bosan. Hidupku yang seperti ini monoton. Mungkin tidak lagi, karena ada Ia. Yang ternyata hampir sama denganku.

Aku ingat sesuatu. “Maria, bagaimana dengan keluargamu, maaf.”

Rona mukanya berubah murung. “Oh masalah itu, biarkan.” Aku tahu itu bukan ekspresi asli, palsu jangan berbohong, Maria.

“Maaf,” katanya lagi.

“Aku tahu, kau belum siap untuk menceritakannya.”

“Bukan untuk itu. Untuk...” kata-katanya tak dilanjutkan, ia terisak.

“Kenapa?”

Ia tak menjawab sembari membersihkan air mata di pipi sempurnanya. Aku ingin menyentuhnya, memberikan pundakku untuknya, untuk menjadi tempat air matanya jatuh, bukan malah diam mematung melihatnya menangis. Ironis.

Maria berdiri lalu pergi. Masih dalam diam, semuanya akan semakin jelas, tetapi Maria masih menjadi misteri di sosoknya yang sudah nyata. Ada sesautu yang berusaha ia sembunyikan. Tapi apa? Itu masih menjadi tanda tanya.

9 komentar:

  1. 2 episode tetap aja masih jadi misteri, aduuh, udah kebelet nih pingin tau... dasar kamu bang daka hahaha

    BalasHapus
  2. wah... makin asik aja .
    dilanjut bro :)

    BalasHapus
  3. bang daka bikin penasaran mulu--" lanjutiiiinnn :D

    BalasHapus
  4. episode 6.
    masih misteri.
    Dalam kekurangan yang menjadi kelebihannya.

    nice post :)

    Sukaaa sama tulisannya dakaa,, :D

    two thumbs UP!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: