Selasa, 13 Desember 2011

Indigo Bagian 3

The Wall | Taken with SONY DSC W-220 DigiCam | Photoshop Editing

Baca sebelumnya:

Maria memelukku lagi, tangisnya semakin kuat. Entah, apa yang ia tangiskan. Aku disini, bersamanya dan tak akan pergi.

“Ayo kita pergi tempat ini membuat saya tidak nyaman,” katanya sambil mengusap-usap lehernya.

Aku beranjak, berdiri sempoyongan dan tegak. “Ayo, memang tidak baik lama-lama di tempat ini.”

Kami berdua pergi dari ruang tersuram di sekolah saya, UKS. Maria berjalan perlahan, ia seperti masih belum sehat betul, walaupun mahluk yang daritadi hinggap di pundaknya sudah pergi, efeknya masih belum sepenuhnya hilang.

“Sudah jam empat, semua pasti sudah pulang. Aku mau ke kelas ambil tas dan pulang,” ucapnya menjelaskan.

Aku mengangguk saja. “Aku ikut denganmu.”

Aku tak mau sesuatu terjadi lagi padamu, Maria. Kataku dalam batin. Ia tersenyum kecil lalu menggandeng tanganku. Hangat dan lekat. Hatiku berdebar, pandanganku hanya kujatuhkan ke lantai sambil mengikuti tangan itu mengganteng tanganku—juga hatiku.

Ketika berada di persimpangan ruang kelas, pandangan lain itu datang lagi. Pandangan tentang seorang wanita berambut panjang yang duduk di atas meja. Ia menatapku, wajahnya datar tanpa mata hidung dan mulut. Kulitnya pucat.

“Pergi,” kata wanita itu dengan suara berat dan menyeret.

Seketika itu keringat keluar membasahi mukaku, tanganku menjadi dingin. “Kami hanya ingin kemari sebentar lalu pergi,” kataku dalam hati mencoba berkomunikasi dengannya.

Kulihat sekelibat ia mengangguk, lalu hilang menembus tembok. Tanganku menggenggam tangan Maria cukup erat, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Kami pergi dari kelas itu.

“Apa yang sedang terjadi?” tanyanya khawatir.

“Tidak ada apa-apa, jangan membicarakan ini disini, ayo cepat pergi ke depan gerbang.”

Maria tersenyum mengerti. Ia menggandengku sampai depan gerbang. Aku merasakan hal yang lain, hal yang membuatku melayang, tangannya yang putih dan genggamannya yang menenagkan. Maria, gadis anti-sosial yang ku harap ada di hari-hariku, selamanya.

“Jadi, ceritakanlah disini.”

“Sebelumnya—“ ku potong kata-kataku dan kugenggam kedua tangannya. Ia kutuntun di tempat yang nyaman di depan gerbang.

“Ku kira ini waktu yang kurang tepat untuk membicarakan ini. Tapi, sudahlah sudah sejauh ini.”
Ia mengangguk memperhatikan.

“Aku bukan manusia normal.”

“Maksud kamu?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Aku, aku—“ kalimatku mengambang.

“Kamu kenapa?” tanyanya meyakinkan.

“Aku indigo.”

“Oh,” tanggapannya wajar.

“Sedatar itukah?”

“Maaf, tapi sebenernya aku sudah tahu, dari sikapmu?”

“Dan?” tanyaku balik.

“Dan apa, ya sudahlah itu pemberian Tuhan. Itu gak akan ngerubah pandanganku tentangmu.”

Kata-katanya menjadi epilog pembicaraan kita sore itu. Lalu kami saling beku dalam pandangan masing-masing. Masih berpegangan, masih kurasakan hangat tangannya sampai mobil jemputannya datang dan genggaman itu dilepaskannya. Ia tersenyum, senyum perpisahan. Aku merasa kehilangan, entah mengapa begitu kehilangan.

12 komentar:

  1. I’m so lonely, broken angel
    I’m so lonely, listen to my heart
    One n’ only, broken angel
    Come n’ save me, before I fall apart

    BalasHapus
  2. aih aku selalu suka sama paragraf terakhirmu, klimaks :D meskipun agak sedih sih.
    ini terinspirasi dari kisah nyata kah ?

    BalasHapus
  3. Cerita harus kuterka, namun cinta meninggalkan rasa, wah bang daka, ceritamu luar biasa ^_^
    Aku suka cara nutup ceritanya, sangat memuaskan bang... Lain kali aku yakin ceritamu akan lebih luar biasa lagi ^_^
    Ohya, mau disambung lagi gak nih? Tiba2 si Maria kecelakaan gitu hahaha

    BalasHapus
  4. wah sepertinya ga akan ada indigo IV :D ahaha nice post ka andaka :D

    BalasHapus
  5. Waduh suram banget. Sering buat postingan kayak gini sob.. Indigo tuh berkah, jarang orang mendapat anugerah seperti mereka.. :)

    BalasHapus
  6. ini cerita yah???
    kirain acara TV...
    salam kenal ^^

    BalasHapus
  7. Wahh...penasaran niih, nunguin ntar sore akh.. Insya ALLAH :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: