Minggu, 25 Desember 2011

Indigo Bagian 10 [THE END]

Tiga puluh menit waktuku hanya kuhabiskan berputar-putar di dalam UKS, bolak-balik gelisah. Radio sekolah masih tetap mengomel dengan obrolan yang tidak mendukung. Hujan masih deras, cukup menggenangi lantai UKS yang sudah rusak. Aku berjalan menuju jendela, berharap Tante Diana cepat datang. Maria masih terkulai lemas, nafasnya tenang tapi wajahnya pucat dan raut mukanya seperti menahan sakit.

Dari kejauhan sekolah sudah sepi, hanya beberapa anak lalu lalang di depan UKS. Radio sekolah juga sudah di penghujung acara. Aku keluar dari UKS untuk mengambil tas dan beberapa buku tulis di meja. Hujan cukup deras sedikit menghambat langkahku, aku khawatir akan Maria. Aku khawatir kejadian tempo lalu di UKS terulang, terlebih terjadi pada Maria.

Hujan cukup mereda ketika sudah kukemas semua barang-barangku dan kembali ke UKS. Di dalam sudah ada tante Diana dan beberapa guru BK.

“Tante,” sapaku dari depan pintu.

Tante Diana berbalik lalu tersenyum sedih, “Theo,” suaranya tampak mengambang.

Aku mendekat, tante Diana memelukku erat. Ia menangis lalu melepaskan pelukkannya.

“Theo, Tante minta maaf tidak memberitahumu sejak awal.”

“Jadi, selama ini?” tanyaku sedikit membentak.

“Iya Theo, tentang cerita Tante kemarin itu bohong. Tentang perceraian, tentang pisah rumah semuanya tidak benar. Maria yang menyuruh tante bohong padamu.”

“Lalu, sebenarnya ada apa, Tante?” tukasku menginterogasi.

“Jadi sebenarnya, kemarin, Tante, papanya Maria dan Maria pergi ke Singapura untuk memeriksakan penyakit Maria. Dan hasilnya tak sesuai harapan Tante. Maria sudah masuk leukimia stadium lanjut menuju akhir.”

Aku tercengang mendengar pernyataan tante Diana. Apa? Jadi? Mengapa? Pertanyaan itu memberondong lagi. Hujan di luar kembali deras dan petir menyambar di sana-sini. Tante Diana hanya dapat menangis dan memeluk dirinya sendiri. Dingin hari itu begitu menusuk dengan suasana yang mendukung di UKS ini. Aku sesekali hanya bisa menunduk tak berani menatap Maria ataupun tante Diana. Mereka sama-sama dalam suasana hati yang hampir sama. Suram.

“Em, Tante,” aku memberanikan menyapa tante Diana lagi.

Ia berbalik dalam keadaan masih menangis. “Ada apa Theo?”

“Sebenarnya, semua salah Theo. Theo nggak bisa mencegah Maria buat nggak hujan-hujanan. Theo gak bisa jaga janji Theo sendiri ke Tante. Semua salah Theo, Tante.”

Ekspresi muka tante Diana berubah, geram tetapi masih menangis. “Oh jadi kamu yang ngajak Maria hujan-hujanan sampai begini? Jadi, kamu Theo,” di ujung kalimatnya emosinya agak mereda.

Ia seperti tak mau menyalahkanku atas ini semua. Ia tahu, aku sendiri pun tak tahu akan kenyataan ini. Tante Diana hanya memunculkan rona kecewa di wajahnya ia tak mau lagi berkata-kata. Sudah cukup panjang lebar dan sudah cukup luka yang harus ia buka. Sudah cukup rentetan takdir pahit yang ia rasakan dan harus kembali diulang sekali lagi. Ia berbalik menghadap ranjang Maria lagi.

“Tante harap kamu bisa pergi dari sini, Theo,” katanya tanpa menghadapku.

Cukup datar memang nada suaranya, seperti tak beremosi. Tapi aku tahu betapa dalam kekecewaan tante Diana terhadapku. Terhadap Theo yang seharusnya bisa memegang janjinya untuk menjaga Maria. Bukankah aku sudah mengiyakan janjiku dulu? Tapi kenapa aku sendiri yang tak bisa merealisasikannya?

Aku meyakinkah tante Maria bahwa aku ingin disini menemaninya—setidaknya untuk membayar sedikit saja rasa bersalahku padanya. Ia tak mau mengerti ia tetap bersikukuh untuk menyuruh pergi.

Jika tidak pergi sama saja aku akan menambah beban tante Diana. Akhirnya aku pergi, walau berat aku harus.

Hujan masih tetap deras tetapi aku kali ini suka bergumul dengannya, berharap ia dapat melunturkan semua kesalahanku ini. Berkali-kali aku memaki diriku sendiri di tengah hujan. Tolol. Bullshit. Idiot. Aku berteriak sekencang-kencangnya di tengah lapangan. Sekali lagi berteriak dan untuk yang ketiga kalinya aku berteriak.

Seandainya ada orang di lapangan mungkin ia akan tahu betapa menyesalnya aku. Sekolah sudah sangat sepi dan banjir sudah meninggi, setinggi lutut. Aku berteriak lagi sambil menendang-nendang genangan air yang semakin tinggi.

Aku merasakan ada linangan air mata jatuh dari mataku, bercampur dengan air hujan yang intens menggempur tubuhku. Berpuluh-puluh menit aku bersimpuh di sana. Berharap Tuhan mengembalikan waktu dan tidak mempertemukan Maria padaku. Dipertemukan di panggung sandiwara sepahit ini. Tuhan jika aku kau beri satu kesempatan untuk merubah satu hal. Aku harap Maria tak pernah bertemu denganku.

Dari lapangan terdengar sayup-sayup sirine ambulans masuk ke areal sekolah. Tak cukup jelas memang dengan gempuran irama hujan yang begitu mendominasi. Tapi benar kulihat mobil berwarna putih dengan sirine merah itu masuk ke lapangan depan. Tante Diana masuk bersama Maria yang masih pingsan.

Ambulans itu segera berbalik dan pergi ketika aku ingin mengejarnya. Lariku tak cukup cepat untuk mengejar laju ambulans secepat itu, di tengah hujan pula. Lariku terhenti ketika aku tersandung teras kelas yang tergenang banjir. Sakit, tepat kearah tulang keringku. Aku meringkuh kesakitan disana sambil memegang kaki kiriku.

“Maria...” teriakku, hingga akhirnya mobil itu hilang saat berbelok di depan gerbang.

Aku meringis menahan sakit. Cukup lama aku terbaring disana sampai semuanya menjadi kabur dan gelap. Dalam gelap aku masih merasa bersalah, menyalahkan diriku sendiri ataukah menyalahkan jalan Tuhan aku tak tahu.

*****

Mataku nanar saat kucoba membukanya. Pening dan sakit hal yang pertama kali menyergapku. Aku memegang kepalaku beberapa kali untuk sugesti. Tetapi pening ini tak secepat itu hilang. Ketika pandanganku jelas aku melihat aku sudah berapa di kamarku. Dan Tian ada di sana.

“Nyenyak tidurmu, Cemen?” tanyanya mengejek lalu melancarkan bogem ringan ke arah lengah kananku.
Aku merintih sedikit lalu tertawa tapi tak lama, setelahnya aku merintih lagi. Kakiku masih sakit. Sangat sakit.
“Bukannya aku di sekolah tadi mengejar ambulans—“

Penjelasanku di potong, “Stt.. Kau tadi pingsan untung ada aku, kalau nggak, bakalan nginep di sekolah kamu.”

Kami tertawa. Tapi tak lega, sakit ini masih menggantung di kepala dan tulang keringku. Tian pamit untuk pulang karena sudah cukup larut.

“Cepat sembuh, Bro.”

Jariku membentuk huruf O pertanda mengiyakan. Kami sering menggunakan isyarat-isyarat dalam skuba yang sering kami lakukan bersama. Tian tersenyum dan menghilang di balik pintu kamarku.

Sendirian cukup mendukung untuk mengingatkanku pada kejadian tadi sore. Tante Diana, Maria dan ambulans. Aku tersentak dari kasur tetapi langsung terbanting jatuh lagi ke atas kasur. Kakiku masih sangat sakit. Warnanya biru lebam. Retak? Pikirku.

Cukup lama aku melayangkan beberapa angan diatas awan-awan kamar. Merangkai skenario indah dan bukan yang diciptakan Tuhan saat ini—yang sangat pilu. Sampai akhirnya aku tertidur dalam rasa menyesal yang teramat.

*****

Pagi, kicau burung sudah cukup membuat mataku gerah untuk tetap terpejam. Sinar sudah menyeruak masuk ke dalam kamarku. Memaksaku untuk segera bangun. Pusing dan pandangan kabur ini masih menempel hingga pagi ini. Aku meraba mencari handphone di meja ingin melihat jam. Satu sms masuk, Tante Diana, pukul 02:34 pagi tadi.

“Theo, sebelumnya Tante mau minta maaf atas sikap tante kemarin. Tante ingin menyampaikan pesan Maria, “Datanglah ke rumah jam sembilan nanti aku ingin memberikan sesautu.” Dan tante harap kamu bisa datang, Theo.”

Aku mengenggam hape erat-erat kemudian melihat kearah jam. Masih jam tujuh. Aku masih waktu dua jam untuk bersiap-siap dan mempersiapkan segalanya. Aku mencoba untuk berdiri berharap kakiku bisa berkompromi setidaknya untuk saat ini.

Sudah membaik, pikirku. Sudah bisa digunakan untuk berjalan walau cukup sakit dan harus sedikit pincang.
Saju jam yang kubutuhkan untuk bersiap-siap. Aku mengambil satu kemeja lengan panjang polos warna hitam dan jeans hitam. Aku tak ingin membuang waktu, kutancap gas dari bagasi menuju jalanan. Pagi ini tak cukup ramai. Hanya beberapa mobil-mobil berwarna hitam yang lewat bersamaan denganku.

Di depan rumah Maria mendung dengan petir-petir yang mengambang untuk menggelegar. Cukup banyak orang yang keluar dari sana. Ada arisankah di sini? Tanyaku dalam hati. Aku celingak-celinguk sambil memarkirkan motor di depan pagar. Aku melihat Tante Diana berdiri di depan pintu. Disini aku cukup ragu untuk melangkah lagi, aku takut ia masih marah dan kecewa padaku terlebih menyalahkanku. Ekspesinya tak berubah, tetap datar seperti kemarin.

“Tante,” sapaku lirih.

Ia melamun dan kaget waktu kusapa. “Iya, Theo. Masuklah. Maria ada di kebun belakang.”

Aku mengiyakan. Rumah Maria memang cukup besar dan memiliki kebun yang besar pula. Ornamen-ornamen di rumahnya cukup indah—yang kemarin-kemarin tak pernah kuperhatikan—dengan aksen-aksen peri kecil di setiap sudut ruangan. Ala eropa dan setuhan tradisional dengan ukitan-ukiran di pintu dan perabot lainnya.

Tante Diana menuntunku ke kebun belakang. Jalannya sangat pelan memberikanku kesempatan untuk memperhatikan rumah ini secara lebih mendetail. Banyak lukisan-lukisan impresionis termampang di dinding, dari seukuran  pigora kecil sampai sebesar pintu semuanya indah dan terkesan mewah.

Tante Diana berhenti di berhenti di sebuah taman yang cukup luas. Taman dengan ayunan putih yang tiang-tiangnya dililiti batang anggur yang melengkung indah. Di sudutnya ada kolam ikan dari batu dengan pancuran kecil yang menenangkan ketika dilihat. Tapi, aku tak melihat Maria.

“Tante, Maria dimana?” tanyaku memastikan.

Tante Diana tak menjawab hanya menunjuk ke arah ayunan, bukan, ke arah semak yang terpotong rapih di sebelah ayunan mewah itu. Apakah Maria menungguku disana? Maria memang selalu bisa membuatku penasaran.

Aku mendekati semak itu  dan memegang ayunan yang masih basah terkena hujan kemarin. Indah, pikirku. Petir menyambar sangat keras ketika tidak ada yang kutemukan disana. Aku hanya melihat gundukan tanah dan ada nama diatasnya. Maria. Nisan?

Petir menyambar sekali lagi. Aku masih tak percaya. “Tante, apakah, apakah ini...”

“Iya, ini Maria, Theo.”

Aku menangis dan menggeleng tak percaya. “Bukan ini bukan Maria. Maria masih tidur Tante. Maria belum mati Tante.”

Tangisku sudah tak bisa dibendung detik ini. Aku berlutut di depan makamnya sambil menghantam hantap gundukan tanah itu. Ini bukan Maria dan bukan makam untuk Maria. Aku berteriak panjang dan keras.
Tante Diana memelukku dari belakang, tangisnya terdengar perlahan dari telingaku. Isaknya semakin keras bersama isakku yang juga tak bisa kutahan.

“Maafkan Tante, kau harus bisa merelakannya, Theo.”

Aku tak menjawab hanya melayangkan tinju-tinju keras di makamnya. Sampai detik ini aku belum percaya, sama sekali tak bisa percaya. Ia masih ada, ia belum pergi. Maria masih ada di UKS, ia masih tertidur disana. Bukan mati. Semua salah. Tuhan, kau salah Tuhan.

“Maria...” teriakku keras, sangat keras.

Seandainya aku bisa mengulang dan Tuhan memberikanku satu kesempatan untuk mengulangi ini sekali lagi. Aku ingin Tuhan. Aku ingin mengubah pilihanku saat itu; untuk tak membaca pikirannya dan akhirnya seperti ini. Dan saat kau masih memberikan waktu untukku merubahnya aku tak mau. Bodohnya aku, Tuhan.

Dan kini aku percaya, di dalam hidup ini kita selalu punya pilihan. Sampai eksekusi itu datang kita tak akan tahu pilihan mana yang benar. Tapi percayalah Tuhan akan memberikanmu petunjuk untuk memilih, mana yang terbaik dan mana yang benar. Dan aku, dan aku memilih pilihan yang salah saat ini. Aku harus bisa menerimanya. Harus.

- T H E  E N D -

16 komentar:

  1. Waduuuhh ngenes banget ya!! sukses ya cerpennya dan blognya

    BalasHapus
  2. Kalau aku adalah anak gaul, aku pasti akan teriak, "DAKA, LO COWOK PALING KEREN, SUMPAH!"
    Cowok bisa nulis sampai segininya, triple keren. :o
    Gaya menulisnya terlihat agak berubah dari chapter 1 ke chapter ini, tapi alurnya tetap sama. Good job and keep writing! :D

    BalasHapus
  3. Bang Dakaa!! kenapa aku pengen nangis juga ya? errr~

    serius deh, jalan cerita dari part 1 - part 10 ga bisa ketebak. tebakan aku salah terus--"

    KEREEN!!

    BalasHapus
  4. Waw.. Tamat juga akhirnya.. Tapi keren, bro.. Salut.. Alur ceritanya bagus.. 2 thumbs..

    BalasHapus
  5. Kasian Theo, dia selalu mengalami kenyataan pahit di hidupnya. dan yang terakhir ia harus kehilangan Maria.

    wah wah !!!! bener2 menyentuh ceritanya. . .
    sukses bro... SUKSES !!!!!
    God Job bro !!!

    BalasHapus
  6. yah habis, sad ending yak
    gaya tulisan bagus banget
    cuman seiring part berjalan seiring chemystrynya kurang
    :D
    tapi bagus kok

    terusin dah sob

    BalasHapus
  7. setuju deh sama naspard.
    kapan-kapan kalau aku ga sibuk kita ngobrolin soal tulisan ini deh di pesbuk hahaha

    BalasHapus
  8. setuju deh sama naspard.
    kapan-kapan kalau aku ga sibuk kita ngobrolin soal tulisan ini deh di pesbuk hahaha

    BalasHapus
  9. hanyut.. bener2 hanyut...
    alurnya keren, ceritanya ga mudah di tebak, ada pesan yang di sampaikan...
    nice banget lahhh...
    saluttt buat kreatifitasnya dalam bercerita :D

    BalasHapus
  10. Jadi pengen nanya deh...

    Apakah dikau tau situs kemudian.com?

    :D

    BalasHapus
  11. Walau Fridi enggak suka baca cerpen tapi setelah baca ini jadi lumayan suka sama cerpen, good job, lanjutkan!! :D

    BalasHapus
  12. Seperti yg aku bilang akhirnya bahagia tapi ada kesan sedihnya, tapi itu salah! hahaha Aku pikir akhirnya si Maria akan buat salam perpisahan atau setidaknya menyiapkan segala sesuatunya utk lebih dekat dengan theo, tapi ceritanya berakhir begitu aja dengan kematian maria... Bagus sih, tapi jujur aku kurang suka kalo ceritanya sad ending, jadi pingin nangis bang huahahaha ~(^_^)~

    BalasHapus
  13. wahhh bacanya jadi konsen ceritanya bagus gini ,lanjutkan gan..

    follow back yah...

    BalasHapus
  14. Mantap nih endingnya,. Teriakan theo yang "Mariaaaa," ngingetin gue sama adegan2 di sinetron2.. :D

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: