Rabu, 14 Desember 2011

Indigo Bagian 4

The Chair | Taken with SONY DSC-W220 DigiCam | Photoshop editing
BACA SEBELUMNYA:
[INDIGO BAGIAN 1]
[INDIGO BAGIAN 2]
[INDIGO BAGIAN 3]

Senja mengoranye di sudut kotaku, ia bercengkrama, ia bersuara. “Maria, Maria, Maria.” Entah itu hanya fikiran semu dari otakku atau memang ia berbicara padaku dan mengikrarkan nama gadis itu.

Sore itu kujalani dengan mata kosong dan berjalan sempoyongan karena aku terlalu memaksakan kemampuanku di luar batas aman. Sesekali aku memegangi kepalaku yang terasa pening. Tapi, sentuhan terakhir tangan Maria di telapak tanganku yang berkeringat masih membekas hingga saat ini. Maria.

Hatiku berdebar tak karuan. Mengapa Maria ada di fikiranku terus? Tanyaku dalam hati. Ia memang ada, bersembunyi di hati kecilku, menungguku untuk berani menyentuhnya, berani mengatakan bahwa aku mencintainya. Tapi apa daya aku tak punya keberanian untuk melakukannya.

Tiba-tiba sebuah pandangan datang dalam pikiranku. Maria lagi, ia, selimut dan tempat tidurnya. Ia muram dan menunduk. Kucoba untuk berkonsentrasi lebih dalam, tetapi secara mendadak semua menjadi hitam dan hilang, pandangan itu hilang.

“Cukup untuk hari ini,” aku berteriak cukup kencang karena muak dengan rentetan kejadian aneh yang menimpaku hari ini.

Kepalaku masih pusing, pandanganku menjadi dobel, kabur dan tak fokus. Ku pejamkan mata, ku rasakan kasur yang begitu empuk dan nyaman. Tetapi sesuatu menggangguku lagi, pandangan yang sama. Maria, selimut dan kasurnya, tapi kali ini aku bisa melihat kedua orang tuanya berdiri di pintu kamarnya dengan muka sedih.

Apa? Apa maksud semua ini, Tuhan? Kenapa kau selalu memberiku tanda bukan kronologis kejadian yang runtut dan jelas. Bentakku dalam hati. Lelah, mengantuk.

Di tengah-tengah lamunanku di kasur malam itu, aku teringat akan mataku, mata ketigaku. Semua karena benda satu ini. Ia tak bisa menutup, ia selalu terbuka ketika aku tidur. Karena dia, aku memiliki pandangan, pendengaran, perasaan yang tak seharusnya kumiliki.

Sebenarnya, bisa saja aku melihat apa yang dipikirkan Maria saat ini, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan melihatnya, aku tak akan melihat isi otaknya. Apa ia mencintaiku? Apa aku ada di hatinya? Dua pertanyaan itu terus yang menyudutkanku. Aku tak ingin menyalahi takdir, melihat lebih dulu apa yang belum terjadi, aku ingin normal seperti lelaki lain bisa menikmati indahnya masa SMA tanpa harus mempunyai ini semua.

Tiba-tiba handphoneku berdering. Sangat khas. Maria. “Halo?” tanyaku.

“Hi—“ suaranya gemetar.

“Kau kenapa, Maria?” tanyaku lagi semakin khawatir.

“Tak apa, aku hanya kawatir.”

“Mengawatirkan apa?”

“Sesuatu.”

Kalau aku mau, aku bisa membacanya Maria, apa yang kau kawatirkan saat ini. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tak akan membacanya, tak akan melihatnya. Pikirku dalam diam.

“The? Theo? Kau masih disana?” tanyanya balik.

“Oh maaf, iya aku disini. Sudahlah, kau berdoa dan tenangkan dirimu. Jika kau percaya hal-hal baik akan datang, maka itu akan terjadi Maria. Percayalah.”

Ia diam untuk beberapa detik. Hening, sampai hanya terdengar suara denting detik jam yang terdengar menghiasi pembicaraan kami.

“Maria? Maria?”

“Iya, kalau begitu terima kasih ya, The,” telepon ditutup. Klik.

Nada terakhirnya sangat datar. Aku bisa merasakan ada hal-hal buruk dalam pikirannya. Tapi apa aku tak mau tahu, aku akan selalu mengingat janjiku. Janji untuk orang yang ada di dalam hatiku. Yang kusayangi.

Sudah larut malam, tetapi aku masih saja berputar-putar di sekitar tubuh Maria. Aku memperhatikannya dari jauh. Aku melihat auranya, masih menghitam di luar, walaupun masih ada sinar kuning dari inti auranya, tapi saat ini yang tampak dominan adalah hitam. Kawatir.

Maria, tenanglah. Tenang. Kau aman, tak akan terjadi apa-apa padamu esok hari. Kataku dalam hati. Meyakinkah diriku sendiri. Aku berjanji malam itu, tak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya, melukainya, menyakitinya. Aku ingin melihatnya tersenyum dengan atau tanpa aku di sampingnya, selamanya.

10 komentar:

  1. udah? sampai disni sajakah ini cerita?

    BalasHapus
  2. saya kira udah berakhir di bagian 3. masih berlanjut toh.
    saya ngikutin ceritanya, tapi baru kali ini komen, karena....
    Saya penasaran! *teriak gaje*
    Ada apa dengan maria? Jangan dijawab! *dasar gila*
    saya tunggu kelanjutannya saja. XD

    BalasHapus
  3. semakin menarik aja nih....
    ampe berapa part nih ceritanya?
    gak sabar nunggu kelanjutannya. :)

    BalasHapus
  4. BLOG INI SANGAT FENOMENAL ! tapi ini nyata kak kalo aku suka bahasanya kk (y)

    BalasHapus
  5. Nah, ternyata... Berkata dengan tanda tanya, mata ketiga itu rupanya, ceritanya membuat hati bertanya-tanya, tak sabar melihat part selanjutnya. ^_^ Ada banyak kemungkinan yg aku pikir utk part selanjutnya :) Tapi, gak mau asal bilang ah... liat aja ntar ^_^

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: