Rabu, 24 Agustus 2011

Fenomena "Eksis" dan Para A-list

Halo semua, saya kembali ke peraduan! Sebelum mulai berkata-kata saya mau ngucapin: SELAMAT LIBURAN, SELAMAT MUDIK.

Udah berapa hari ya nggak posting? Agak lama mungkin, tapi sudahlah yang terpenting saya sudah kembali, saya mengudara lagi dan postingan kali ini saya tidak ingin membahas sastra dan sejenisnya, sedikit intermezzo boleh kan. Penyegaran lah.

Nggak mau bertele-tele, langsung saja. Pertama-tama saya hanya ingin bertanya kepada semua blogger tentang masa SMA, "Anda termasuk seseorang yang eksis/populer dan termasuk daftar A-list atau tidak sewaktu SMA?". Pasti bervariasi, ada yang iya dan ada yang tidak. Tapi, kali ini saya kontra terhadap ke-eksis-an itu.

Nah, kemarin, kemarin Senin tepatnya. Saya bersama Isa—blogger juga—memberikan opini kami tentang ke-eksis-an di sekolah kami. Jujur, saya dan Isa berbeda pandangan dengan mereka-mereka yang terlampau eksis. Tidak salah memang menjadi anggota A-list, tidak ada yang salah, cuman saya dan Isa hanya ingin mengkritik mereka, bukankah kritik itu sejatinya membangun?

Ya, pertama saya ingin mengkritik mereka-mereka yang eksis di sekolah karena penampilan, penampilan anak jaman sekarang yang dianggap "gaul". Kalian pasti tau sendiri, masuk ke dunia black-metal dan selalu keluar malam. Itulah yang saya ingin garis bawahi, apakah eksis dalam tanda kutip harus dilakukan dengan cara diatas, apa tidak ada cara lain, misal dengan prestasi kalian, dengan wawasan kalian yang luas, dengan begitu kalian tidak perlu susah payah meng-eksis-kan diri bukan. Kalian akan dengan sendirinya dikenal karena wawasan dan pengetahuan yang kalian miliki.

Yang kedua, ya ruang lingkup A-list yang tidak mau berbagi tempat kepada mereka-mereka yang B-list atau bahkan Z-list! Mereka sepertinya memiliki forum tersendiri yang tidak bisa ditembus oleh siapapun yang bukan A-list, bukankah tindakan seperti ini menambah kesenjangan sosial diantara teman? Kita sama men, nggak ada yang beda, mungkin hanya status sosial, tapi apa Tuhan membeda-bedakannya juga? Tidak!

Yang ketiga, para A-list seringkali meremehkan segala-sesuatu yang dimiliki dan yang dilakukan B-list atau lainnya. Mereka selalu memandang sebelah mata, mereka pikir, mereka yang selalu benar dan paling sempurna. Menurut saya, pandangan para A-list salah total, diatas langit masih ada langit, men! Kalau kalian merasa paling hebat, masih ada yang lebih hebat di luar sana, jadi jangan terlampau sombong!

Mungkin cukup tiga diatas yang perlu kami kritisi tentang jalan pikiran para A-list dan mungkin di sekolah kalian A-list yang ada beragam juga. Tidak semua A-list sombong, tidak semua A-list punya kriteria yang saya sebutkan diatas, karena memang dunia ini penuh rona, hitam merah jingga dan kelabu. Variatif.
Dan disini saya tekankan, saya bukannya tidak suka dengan A-list bahkan saya lebih suka bergaul dengan A-list, bercengkrama dengan mereka, karena ruang linkup kelas kami notabene A-list dan kami para B-list sampai Z-list tidak pernah merasa tersisihkan kami hidup bersama saling bertukar pikiran, bertukar opini tentang masa muda.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari secuil cerita hidup saya diatas adalah: tentang keberagaman. Tentang begitu banyaknya ragam manusia di dunia ini, ada berbagai macam pandangan, ada banyak pemikiran-pemikiran di dunia ini, yang kadang menimbulkan sedikit konflik, tapi dari sini saya bisa belajar tentang menghargai dan dihargai. Saya belajar dari mereka dan mereka belajar dari saya, semua saling membutuhkan, tidak ada di dunia ini manusia yang hidup sendirian, mereka masih membutuhkan manusia.

Yah, saya tahu, mungkin postingan ini hanya segenggam gejolak masa muda yang kadang menurut anda-anda sekalian tidak penting dan hanya angin lalu, tapi saya sendiri tidak bisa menolaknya, saya adalah pribadi muda yang memiliki jiwa muda, saya mau tidak mau harus mengalaminya, karena ini dunia saya, dunia para pemuda yang penuh intrik cinta dan kehidupan yang kadang sepele tapi dibuat besar dan pelik.

Dan yang terakhir, saya ingin membagikan kutipan yang saya buat:
“Jadilah dirimu sendiri dan janganlah mengenakan topeng atau menjadi orang lain hanya demi sebuah kepopuleran”

10 komentar:

  1. ya.. betul banget tu ..intinya tetap jadi diri sendiri saja .. walaupun di lingkungan kita bnyak cobaan untuk ikutan2 budaya atau sifat yg ga baik...

    btw nice post ni gan....

    BalasHapus
  2. di stm, ku ga ada yang namanya eksis eksisan.
    Setuju banget diamanapun kita berada ga usahlah ikut-ikutan agar populer. Cukup menjadi diri sendiri saja

    BalasHapus
  3. persis banget sama yang aidh al-qorni tulis "jangan larut dalam kepribadian orang lain".. hahaha sedap-sedap... lain kali angkat obrolan kita dong.. hahahangarep.

    BalasHapus
  4. Jadi diri sendiri mungkin nantinya akan populer dengan sendirinya jika banyak orang yang menyukainya, ,

    Nice Inpo, ,

    BalasHapus
  5. suka sama kutipannya..kalo mo populer sah-sah aja..tapi kayak kata Peteran
    "Tapi lepas dulu topengmu..lepas juga mukamu.."

    :D

    BalasHapus
  6. Ya setuju bngt
    Mau exsist ga perlu narsis heheYa setuju bngt
    Mau exsist ga perlu narsis hehe

    BalasHapus
  7. orang yang mulia itu bersahaja dan tidak menginginkan dirinya terkenal (eksis) di antara lautan manusia, kecuali di hadapan Allah :)

    jadi, yuk mari kita 'eksis' di hadapan-Nya untuk meraih ridho-Nya! wkw

    BalasHapus
  8. Asek, jadi diri sendiri mmng yang terbaik sob, walaupun kita culun gak pa2, gak ada manusia yg gak punya temen, itu aja.. :)

    BalasHapus
  9. Wah, ini posting-an asik juga.. Saya gak kepikiran untuk mem-post tentang masa SMA saya... :D

    Jujur aja, masa SMA saya biasa aja. Meski saya masuk kelas percepatan (dan amat menikmatinya), saya tak sempat memperhatikan tingkah laku anak2 dari kelas normal. Jadi, saya tak tahu yang mana A-list, atau yang mana yang populer.
    Bisa dibilang juga, selama SMA saya itu cupu. Kuper. Hmmm kuper sih nggak, hanya cupu. Eh, apa kalau cupu itu pasti kuper? Ah sudahlah. Pokoknya lingkup pergaulan saya hanya di antara kelas percepatan dan mantan kelas normal saya.

    Apapun itu, saya beranggapan bahwa masa paling indah itu adalah masa kuliah. :D Tak bisa dibandingkan dengan masa SMA. ;)

    *lho kok jadi melenceng gini ya?*

    BalasHapus
  10. @bang ikbal: bener bang, nah sekarang gimana caranya kita memproteksi diri dari pengaruh buruk lingkungan kita

    @bang aje: bener bang, be your self :)

    @bang parid: oke bang, entar saya blog-up obrolan kita yang waktu itu.

    @dok: bener dok, setubuh *lho?

    @mbak tarry: siaap mbak!! aye!

    @mbak rakyan:yuk mbak eksis di hadapan Allah lebih baik :D

    @bang feby: iya bener bang, kadang jadi orang lain itu nyiksa diri.

    @bang asop: wah kelas aksel bang ,gimana rasanya, ya culun memang bukan aib, mereka-mereka pasti punya kelebihan yang tidak dimiliki remaja lain, ya intelegensi, saya kadang merasa iri dengan mereka-mereka yang memiliki intelegensi yang lebih tinggi dari saya bang ~^^

    @om rayz: ya bener om, karena setiap diri manusia pasti memiliki magnet untuk menarik perhatian, dan mungkin mereka-mereka yang populer adalah mereka-mereka yang memaksimalkan daya tarik mereka.

    @

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: