Sabtu, 25 Juni 2011

Yang Liu: Perempuan Tetaplah Perempuan!

Membaca novel-novel seukuran Andrea Hirata memang sudah menjadi suatu keharusan bagi novellovers seperti saya, tetapi membaca novel seukuran mereka-mereka melulu tentu akan menimbulkan rasa bosan. Mengapa tidak mencoba membaca novel-novel yang tingkatannya lebih rendah di bawah Andrea Hirata dkk? Maaf, bukannya mau membanding-bandingkan atau apa? Hanya ingin lebih membagi informasi tentang novel-novel bermutu yang kurang mendapat sedikit keburuntungan.

Yang Liu, novel terbitan Bentang ini memang tak setenar novel Ketika Cinta Bertasbih atau novel Dalam Mighrab Cinta milik Kang Habib (Habiburrahman El Zirazy), tetapi isinya mungkin bisa disetarakan dengan novel-novel keluaran Kang Habib. Novel yang ditulis oleh wanita bernama Lan Fang ini memang sudah keluar agak lama, tahun 2006, tetapi saya jamin anda tidak akan bosan kembali mengulas tentang novel ini.


Novel yang bercerita tentang kehidupan gadis Cina yang mengalami berbagai intrik menarik ini pertama kali saya temukan di Perpustakaan Kecil milik Pemerintah di depan rumah saya. Saya tertarik membaca novel ini karena bercerita tentang realita kehidupan yang tak sesederhana orang biasa katakan. Lan Fang, sang penulis sendiri adalah tokoh utama dalam novel bercover merah ini. Lan Fang bercerita tentang lika-liku kehidupannya sebagai perempuan Cina. Disini digambarkan bahwa Lan Fang adalah penulis yang optimistik akan kekayaan kata-kata yang ia punyai. Perempuan Cina ini mempunyai banyak problematika dari kompleksitas hidupnya, mulai dari Cinta, Perselingkuhan, Persahabatan. Disini karakter Lan Fang berusaha memuat seluruh realitas hidupnya kedalam dunianya—dunia tulis menulis, dunia kata-kata. Lan Fang beropini dengan membuka seluruh intrik-intrik seru di kehidupannya itu adalah suatu peluang serta memberikan orang inspirasi bahwa seseorang mampu menyusun kembali hidupnya yang telah pecah berkeping-keping. Lan Fang, seorang perempuan biasa dan bukanlah seorang wanita super yang perempuan lain tidak bisa lakukan, perjalanan hidupnya sama selayaknya perempuan lain, seperti yang dikatakan oleh Sindhunata, budayawan:
Cover depan
Cover belakang
“Yang Liu penuh dengan kontradiksi yang menyakitkan tapi juga menyimpan perlbagai harapan. Berangkat dari realitas diri Lan Fang sebagi perempuan Cina yang di negeri ini menjadi kepingan hidup yang tersisih dan tersendiri.”

Mungkin pembaca sekalian bingung, apa maksud dari Bapak Sindhunata diatas, semakin penasaran bukan? Untuk mengobatinya saya sarankan untuk membaca novel ini (terutama para wanita) tetapi tidak menutup kemungkinan para lelaki yang ingin membacanya. Tidak salah, toh pasangan kita nanti adalah perempuan, bukankah lebih baik kita lebih mendalami apa saja tentang perempuan agar hubungan kita nanti tidak terbengkalai di tengah jalan? Nah untuk itulah saya menulis artikel ini. Bagi pembaca sekalian mungkin sudah sulit ditemukan buku keluaran tahun 2006 ini, tapi jika anda melakukan sedikit memiliki usaha mencarinya di toko buku di sekitar anda.

Pembaca, saya ucapkan selamat mencari bagi yang tertarik dengan novel ini dan semoga setelah membacanya kita umunya sebagai manusia bisa lebih melihat sosok seorang perempuan dan saya khususnya sebagai lelaki bisa lebih menghargai perempuan pula!

Selamat membaca!

10 komentar:

  1. laki-laki aja bisa lebih menghargai perempuan, apalagi puerempuan, harus baca novel ini mungkin :D. salam kenal mas Andaka, orang surabaya juga ya ternyata :)

    BalasHapus
  2. iya kak, aku orang Surabaya.
    Iya, bukannya Ibu Kartini sudah memperjuangkan hak-hak wanita kenapa harus disekat-sekatkan? Harus dibeda-bedakan atas dasar gender, gak etis menurutku. Manusia ya manusia toh dimata Tuhan kita itu sama yang membedakan itu amal perbuatannya bukan laki-laki atau perempuan. salam kenal juga kak Nyun :)

    BalasHapus
  3. Di hongkong yg sebagian besar tkw, sngt nyata peran wanita dlm rmh tangga n negara. Dan kdng membuat mrk lupa akan kodratnya. Tp bgmanapun wanita tetap wanita yg hrs taat ama suami/ortu kalo blm nikah :)

    BalasHapus
  4. Saya sebagai lelaki harusnya lebih menghormati kehadiran seorang wanita, karena saya tahu saya lahir dari rahim seorang wanita, seorang Ibu. :)

    BalasHapus
  5. Sepertinya buku yang menarik. Nanti aku coba cari dah :) Makasih untuk resensinya.

    BalasHapus
  6. hehe.. dirimu unik banget si? kalimatmu "toh pasangan kita nanti adalah perempuan, bukankah lebih baik kita lebih mendalami apa saja tentang perempuan agar hubungan kita nanti tidak terbengkalai di tengah jalan?" biki aku geleng2...

    bener2 aneh tuh kata terlontar dari anak pemuda umur 16 tahun.. entah istilahnya matang sebelum saatnya atw sbuah kelebihan akn sikap bijak.. Tapi 2 jempol lah buat mu..!! :D

    BalasHapus
  7. wah mungkin aku tua sebelum waktunya ya mbak? haha :)
    tetapi aku punya pendapat seperti itu juga karena aku mikir 1001 langkah ke depan. Aku memang anak muda, aku juga punya hasrat dan gejolak jiwa muda seperti anak lain, tapi aku juga tidak selamanya akan muda, aku juga akan menjadi pria dewasa yang harus mengatur keuangan, rumah tangga dan selusin urusan orang dewasa lainnya. Mungkin aku persiapin dari muda supaya ntar pas udah matang aku bisa ngejalani semua prospek yang aku buat sekarang dengan lebih baik. Toh, kalo aku melulu foya-foya seneng-seneng pas muda gak ada guna juga, yang aku dapat kan cuman kesenangan semu atau bisa dibilang sesaat. bener kan mbak? :D

    BalasHapus
  8. hahahaha :D...
    bener bangeeeettt....!! hidup ini akn dimenangkan oleh mereka yg lebih dulu merancang & bertindak..

    Aku loh jadi pengen tau pola pendidikan yg diajarkan sama orgtua Dek Andak? :D

    BalasHapus
  9. kalo boleh sedikit berbagi ya mbak disini. pola pendidikan yang diajarin ortuku sih standar2 aja, ya cuman dari kecil aku dituntut untuk jadi seperti yang mereka ajarkan, awal2 sih aku nurut aja apa kata mereka, toh yang diajarkan mereka juga semuanya untuk kebaikanku juga. Tapi, seiring bertambah dewasanya aku, aku juga kadang gak se-iya sama mereka. Tapi aku gak langsung ngebentak2 mereka sperti remaja kebanyakan dengan emosi yang meluap-luap. aku coba cari sikon yang tepat buat ngomong empat mata ke mereka. Coba kasih aku pengertian, kenapa kau nggak setuju dan aku coba berikan mereka solusi. Menurutku mereka sistemnya "tarik ulur" mbak. Jadi aku dibiarin dulu bertindak, terus mereka tinggal duduk dan liat hasilnya. Nah waktu hasilnya ada, mereka coba kasih pengertian ke aku, gimana mas gimana rasanya? apa baik dan buruknya buat mas? nah disini aku mulai belajar dengan sendirinya.

    Dan mungkin, aku ini terlalu tua biacaranya soalnya aku sering gak nyambung kalo ngebuka topik pembicaraan sama orang-orang seumuranku. Aku lebih nyambung kalo bicara sama orang yang lebih tua dariku, lebih matang dan udah lebih ngerasain asam garamnya dunia daripada aku. Dengan begitu kan aku bisa belajar tentang apa saja dari mereka, tentang hidup, tentang cinta, tentang segalanya yang udah mereka jalani. Nah disini aku bisa ngerasain manfaat plus dari cerita2 mereka, aku jadi bisa ngebuat plan tindakan preventif untuk langkahku kedepannya. Gitu mbak, maaf kalo terlalu banyak curhat disini. :)

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: