Jumat, 02 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (07)

You are my sunshine my only sunshine
You make me happy when sky are gray
You never know dear how much I love you
Please don't take my sunshine away

NN - You Are My Sunshine


Sudah terlalu malam untuk Lusy terjaga dan terlalu pagi untuknya tidur. Masih takut. Ia memandangi tumpukan buku-buku tipis tebal yang berderet sempurna di rak, memperhatikan satu buku bersampul hitam pekat yang kertasnya menguning. Dua dari kanan, pupilnya bergetar memandangi buku itu lama-lama. Teramat takut.

Di gengamannya saat ini hanya ada satu buku dongeng Disney favorit Lusy dan selimut beludru berwarna pink dan biru yang mengemulinya. Kenapa harus aku yang ditakdirkan? Kenapa bukan James, atau Mady, yang mungkin lebih siap dari pada aku yang lemah, otaknya hanya merapal itu sepanjang malam.

Seperti malam-malam biasanya, Lusy tak pernah mau menutup jendela kamarnya dan membiarkan tiupan angin menari bersama tirai-tirai birunya yang sudah kusam. Tak pernah dicuci. Beberapa jam sebelumnya ia tak siap untuk membaca diary keramat itu dan saat ini keberaniannya sama sekali belum terkumpul untuk membukanya. Musim gugur di Santa Mondega kali ini mencapai suhu delapan derajat celcius, dingin. Hati Lusy sedingin malam ini, penuh dengan ketakutan dan kabut di luar yang perlahan turun sekarang mulai berangsur mengambang di lantai-lantai kamar Lusy.

Aku harus siap, bagaimana pun caranya, aku harus siap. Aku bukan gadis lemah, anti-sosialis yang tak tahu apa-apa. Aku seorang pemberani. Bukankah ini hanya sebuah diary yang diembel-embeli cerita mengerikan, itu hanya akan menakuti balita. Aku enam belas tahun dan aku sadar hal-hal seperti itu hanya isapan jempol. Lusy terus menguati hatinya, dalam diam.

Kakinya diturunkan dari ranjang yang berdecit, kemudian melangkah memecah kabut yang mengambang dilantai. Langkahnya berat—lebih seperti menyeret, kakinya bak terbenam ke lantai kayu. Tangannya mulai gemetar mengambil satu buku nomor delapan dari kiri rak tersebut. Di ujung-ujungnya masih berdebu, Lusy meniupnya hingga bersih. Debu yang terbang ke udara membuat matanya sedikit sakit.

Sambil tetap mengucek matanya, Lusy melangkah kembali ke ranjang. Kakinya terasa jauh lebih berat, terlebih dengan buku diary Clara Harrington yang ‘keramat’ di tangannya. Lusy tak bisa berbaring, terlalu takut untuk berpindah posisi, terlalu takut pabila tiba-tiba datang bayangan tanpa kepala membawa pisau dapur mengarah ke arahnya.

Buku itu dibukanya perlahan, menimbulkan bening bunyi dari rapatan antar kertasnya yang lengket. Membuka halaman pertama, kosong. Halaman kedua, kosong. Halaman ketiga, tetap kosong. Halaman kelima, disana tertulis rapih cetakan jari yang indah. “Ditulis bersama sepi, menghilang di penghujung pagi. Temukanku saat temaram, melanglang buana dan kemudian melayang, sunyi.”


SATU:

SELAMAT DATANG DI SANTA MONDEGA, CLARA. 
Santa Mondega, rumah baruku, baunya beda, anyirnya beda seperti di rumah kedua orang tuaku. Disini hening, tak ada pecahan piring, pintu yang dibanting, juga tidak ada lagi suara Mama yang menjerit dan Papa yang membentak. Semua masih terngiang, ada yang hilang.
Belum genap semalam aku disini, masih sama seperti sebelumnya, aku belum punya teman, mungkin lebih tepatnya tidak punya teman. Belum genap sehari aku disini, geming-geming dinding yang retak masih menggema di sudut dengarku.
Di sudut hatiku terasa dingin. Dingin sekali, merasa sedikit kehilangan akan sesuatu yang aku tidak tahu. Ataukah sesungguhnya hatiku hilang? Perasaanku sirna? Entahlah, aku sungguh merindukan rumahku yang penuh dengan derita itu. Tetapi, semuanya sungguh terlambat, mereka sudah tidak akan menerimaku lagi. Selamanya.
Aku tak tahu, Tuhan mungkin yang menginginkannya. Hubungan mereka memanas beberapa tahun terakhir, tapi aku tahu, di dalam hati mereka masing-masing masih saling mencintai. Mereka tak pernah mengatakan kata keramat itu: cerai. Meskipun sudah beribu gelas-gelas koleksi Mama yang jadi tak berbentuk, pecah berkeping-keping, tapi Papa tak pernah sekali pun menggores kulit Mama yang putih. Sebaliknya, sudah berapa kali Mama memasukkan pria-pria dengan wajah yang tak pernah sama ke dalam rumah tanpa rasa bersalah, tetapi, Papa selalu diam dengan tulisan-tulisannya di ruang kerja. Aku tahu, Papa mengetahuinya, ia hanya tak ingin menambah panjang daftar barang yang harus dibeli setelah pertengkaran mereka. 
Tapi, sekarang rumahku dulu terasa lengang, tanpa satu barang pun pecah berkeping-keping, tanpa satu kata-kata kotor terucap dari mulut orang tuaku. Mereka tiba-tiba hilang, raga dan jiwa mereka hilang bersama pesawat yang mereka tumpangi untuk kunjungan kerja mereka he Ohio, beberapa minggu lalu. Aku sendiri tak ingat kapan terakhir kali mereka mengacuhkanku, mungkin dua hari sebelum mereka terbang ke Ohio, tepat saat aku menunjukkan hasil lukisan terbaruku, yang kuberi nama: Gadis dalam Cermin.
Meskipun terlihat tidak memperhatikan, dari ekor matanya aku bisa menangkap sinyal bangga dari mereka berdua, meskipun terlihat ada perang dingin diantara mereka, memperdebatkan tentang tujuan hidupku—mengikuti Mama atau hidup bersama Papa.
Papa bisa melihat sesuatu yang lain dari lukisanmu ini, nak, katanya. Aku tak paham kemana arah dialog Papa. Aku tak pernah menganggap aneh lukisan ini, sekalipun tidak dari pertama aku mulai menggoreskan pensil pertamaku ke kanvas. Papa adalah seorang yang kritis dan peka akan sesuatu, termasuk akan hal-hal klenik yang tak pernah bisa masuk ke dalam nalarku. Aneh, menurutku.
Sudah terlalu banyak aku menulis disini, di luar sudah banyak angin yang ingin tetap bergumul dengan gorden-gorden kamarku lebih lama. Aku harus menutupnya untuk hari ini. Santa Mondega, aku menggantungkan begitu banyak harapan di atasnya, termasuk tentang keluarga yang akan kudapatkan lagi disini, entahlah. Aku tidak pernah yakin. Tetapi, apa salahnya gadis pemimpi selalu bermimpi indah di dalam tidurnya, meskipun ia sadar bahwa hidupnya tak semeriah mimpinya. Klise.

Sudah lewat dua dini hari sampai ia berhasil menyelesaikan kalimat terakhir yang ditulis Clara. Cukup mengejutkan, Lusy bisa mengungkap sejarah hidup Clara hanya dari dua lembar kisah singkat Clara yang ditulis pada buku hariannya. Bab satu yang cukup menjelaskan semuanya.

Februari akhir di Santa Mondega hujan turun tak menentu, bahkan di tengah malam yang tidak pernah diharapkan Lusy untuk turun hujan. Deras dan lebat. Kabut juga menghilang entah kemana. Mengisi kekosongan di pinus-pinus yang sedih, dengan daun-daun yang mengoranye di sudut, menumpuk di pojok pagar menunggu dibersihkan esok hari.

Lusy tak bisa tidur sampai paginya, ia hanya memikirkan tentang ketakutannya yang sontak menghilang dari buku keramat itu. Perasaan iba itu muncul setelah ia membaca tulisan-tulisan Clara tentang hidupnya, tentang orang tuanya dan tentang Santa Mondega, dua puluh tahun lalu. Meskipun ia tahu, ia hanya membaca secuil dari potongan hidupnya yang misterius. Lusy tak mau terlalu cepat menyimpulkan segalanya. Tentang hidup Clara yang belum pernah ia tahu sepenuhnya. Tentang rumahnya—Santa Mondega. Tentang keanehan manusia yang hidup disini.

BRAK!

Tiba-tiba, pintu kamar Lusy yang tak dikunci didobrak oleh seorang. Tak terlihat siapa, cahaya yang terlalu terang diluar kamar membuatnya hanya bisa melihat siluet. Wanita dengan rambut tergerai sepergelangan tangan, membawa sesuatu yang terlihat seperti pisau. Masuk terseok dengan decitan di lantai yang menambah kengerian di dalam kamar itu.

Lusy mundur sedikit dari tempat duduknya semula. Berharap itu hanya halusinasinya karena insomnia beberapa hari terakhir. Bukan, itu bukan ilusi. Itu nyata. Bayangan itu melayang masuk, seperti tak menginjak tanah. Lusy berkata, “Siapa kau? Mau apa denganku?” pekikannya dengan nada tinggi memecah kehengingan detik-detik pagi itu.

“Berhentilah membaca, dan dengarkan aku.”

20 komentar:

  1. makin seruuuu <3 ! lanjutkan.. lanjutkaaan.. (penasaran)..

    Daka mantap banget nih tulisannya ^^

    BalasHapus
  2. hmph sumpah gw ngga mau sedikit pun kehilangan emosi dari kata perkata, ngga bisa bayangin kalau jadi seorang lusy, tapi menurut gw di paragraf dua terakhir kurang sentuhan kata-kata yang bikin tambah merinding, dari awal udah kebawa suasana tapi di paragraf terakhir malah ilang lagi, gw sendiri ngga dapet feelnya disitu, apa terlalu singkat penggambaran suasannya atau apa,

    meski panjangan tapi tetep aja gw ngga puas bang, karena ini malah bikin tanda tanya banyak, hooaaaaa... jangan lama-lama terusannya.. yah yah... yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. gotcha!

      ternyata kau merasakannya bang juga bang. tentang semakin banyak spekulasi yang muncul di cerbungku ini.

      tapi, coba kalau kau baca dari cerbungku yang pertama, pasti ada di salah satu part dimana aku mengurangi apa yang disebut "penekanan" dan merubahnya jadi sedikit datar. sebenernya maksud dari itu semua adalah intermezzo. biar ngga terlalu tegang ngebacanya..

      *cheers

      Hapus
    2. tapi sebagai pembaca gw justru lebih suka karakter yang makin naik apalagi ini cerita kayanya masih panjang banget haha... oke deh cuma penggambaran apa yang tadi gw rasain saat baca..

      makanya jangan kelamaan biar dari part ke part ngga ada yang terputus... gw salut setiap part berhasil bikin pembaca kebawa emosi dan suasana.. GOOD JOB!!

      Hapus
    3. nah itu bisa jadi masukan yang berarti bang :D

      haha, kelamaan post itu salah tuntutan dan tanggung jawab di dunia nyata #plak. terima kasih. dan nantikan episode selanjutnya :)

      Hapus
  3. aku tak mengerti banyak soal sastra dan keindahan kat,tapi cerita ini mampu membuatku masuk dalam cerita good job brow :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan rasakan ketika kau masuk ke dalam cerita ini. rasakan hitam yang mulai menutupi hati anda di setiap episodenya :)

      Hapus
  4. haaa~~~ makin penasaran ama ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan ketinggalan lanjutan ceritanya yah :)

      Hapus
  5. Nice,,
    baru baca yang ini, tapi jadi tergoda buat ngubek2 cerita sebelumnya..

    bookmark dulu..

    BalasHapus
  6. Di part ini ada dua hal yang aku sangat suka bang :) Pertama, dibagian diary, disitu membuat orang benar2 masuk ke dalam cerita... Lalu, pas percakapan terakhir yg bilang dengarkan aku itu terasa banget klimaksnya, walaupun memang menggantung ceritanya :) Potongan yang bagus bang, bikin penasaran apa yg akan dikatakan manusia yg hanya terlihat siluetnya; clara. xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. RETWEET BANG!!!

      tapi jangan terlalu dini menyimpulkan. clara tidak akan muncul secepat itu. :)

      Hapus
  7. Wah penasaran sama lanjutan percakapan terakhirnya itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. penasaran? jangan ketinggalan episode delapannya ya bang feb :)

      Hapus
  8. waaa gag mau lagi-lagi ahh baca cerita ini malam2. ngeri. hhohoo

    BalasHapus
  9. waah ini pertama kali gue maen ke blog lo.edan cerbungnya keren nih =) tai gue blm baca dari awaaal ,salam kenaal yaah =3

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh baru pertama ya?salam kenal kalo gitu, siapa dinda ya? :D

      Hapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: