Minggu, 19 Februari 2012

Gadis dalam Cermin (06)

Spend all your time waiting
For that second chance,
For a break that would make it okay.

There's always some reason
To feel not good enough,
And it's hard, at the end of the day.

I need some distraction,
Oh, beautiful release.
Memories seep from my veins.

Let me be empty,
Oh, and weightless,
And maybe I'll find some peace tonight.

Sarah McLachlan - Angel

Suasana belum sempat mereda di Santa Mondega. Derap kaki yang tergesa masih mewarnai irama di pagi yang kelabu itu. Semua berkumpul di ruang kesehatan untuk melihat keadaan Mady yang masih belum siuman. Beberapa Suster sudah menghubungi dokter, tapi memang jarak tempuh kota dengan Ben Hill cukup jauh, sampai saat dokter pun belum sampai ke Santa Mondega.

Tangan Mady yang di balut perban masih terus saja mengucurkan darah, hitam kemerahan. Suster Lena sudah tiga kali mengganti perban di tangannya dan sudah dua botol antibiotik penutup luka disuntikkan ke tangannya. Lukanya terlalu lebar kata suster Lena.

Beberapa menit setelah Mady dipindahkan ke ruang kesehatan, Suster Kepala kembali ke ruang makan untuk, membawa beberapa perban dan pinset untuk mengobati tangan Lusy yang tertancap kayu. Luka itu cukup parah dan sudah membiru di bagian kayu yang masih menempel. Seperti sudah terjadi infeksi.

Di sudut meja makan, Lusy dan Suster Kepala berpandangan tanpa suara. Sama-sama berspekulasi dalam benak masing-masing tanpa salah satu dari mereka mulai mengeluarkannya. Lusy masih di berondong pertanyaan sementara Suster Kepala mencabut satu demi satu kayu, juga tanpa suara. Ia tahu, seharusnya ia tak mengatakan itu semua rahasia ini di saat segenting ini, tapi ia juga tak bisa menunda lagi, semua sudah terlanjur terjadi, takdir yang berulang sudah kembali. Dan inilah waktunya.

“Lusy, sepertinya infeksi di lukamu ini belum seberapa parah,” tukas Suster Kepala mencairkan kebekuan.
Lusy tak menjawab hanya mengangguk dua kali sembari mengernyitkan dahinya beberapa kali menahan perih di tangannya akibat antiseptik.

“Aku tahu, ini terlalu dini buatmu untuk mengerti semua ini—“ di ujung kalimatnya terasa mengambang.

Lusy mendongak kearahnya tertarik dengan arah dialog ini. “Maksud Suster?”

Suster Kepala mendesah panjang lalu ikut mendongak ke langit-langit, ia belum mau bercerita semua ini pada Lusy tapi takdir Lusy memaksanya untuk merobek luka lama dari Santa Mondega lagi. Tentang buku diary itu, tentang Clara Harrington dan tentang semua kejadian berurutan yang sudah terjadi.

“Lusy, kau adalah yang terpilih.”

“Terpilih? Terpilih untuk apa?”

Lidahnya kelu, ini terlalu ironis untuk diulang buatnya pribadi. “Tentang buku itu, buku yang pernah kau temukan di halaman belakang.”

“Ya kenapa dengan buku itu, Suster?” tanya Lusy semakin penasaran.

“Clara Harrington, sang pemilik buku dua puluh tahun lalu adalah anak asuh di Santa Mondega. Saat itu aku masih teramat baru disini, menjadi suster muda yang belum banyak belajar. Aku sangat dekat dengan Clara, terlebih karena Clara adalah seorang yang pendiam dari semua kesebelas anak asuh di Santa Mondega kala itu.”
Dahinya masih sedikit mengernyit menahan perih yang tersisa di tangannya. Ia tetap memperhatikan cerita Suster Kepala.

“Clara seumuran dengan waktu itu, dia juga suka membaca di ruang baca sepertimu. Hanya saja ia lebih tertutup darimu. Ia sama  sekali tak mau bicara pada siapapun jika tidak terdesak, nada bicaranya juga datar. Denganku pun ia jarang sekali bicara, ia hanya lebih banyak murung.”

“Lalu dimanakah Clara saat ini?”

Telunjuknya ia letakkan didepan bibirnya, menginstruksikan Lusy untuk diam dan mendengarkan. “Biarkan aku menyelesaikannya dulu, Clara, maksudku, Lusy. Clara tak memiliki seorang teman pun, ia suka berteman dengan buku-bukunya, seleranya juga tinggi terhadap buku yang ia baca. Ia hanya mau membaca buku-buku filsuf sekelas Socrates dan kumpulan puisi Gibran.”

Lusy menangguk-angguk, mencoba menggambarkan sosok Clara dalam benaknya, walau sulit.

“Clara suka sekali berpenampilan tua, dengan rambut pirang yang dikelabang dua, tubuhnya juga sedikit bungkuk karena terlalu banyak duduk dan membaca. Kulitnya yang albino dan muka yang banyak flek cokelat membuatnya tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia lebih sering menulis daripada berbicara, ia pernah bercerita padaku ia sekrang sedang menulis diary. Buku itu mewakili hatinya yang tak bisa terkatakan, ya begitulah dia bercerita padaku, Lusy.”

“Jadi, buku itu—“ tukas Lusy, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Suster Kepala sudah menyela dan kembali bercerita, “Ya diary yang kau temukan itu miliknya dan ia pernah mengisinya. Tetapi, tepat di hari ini 23 Februari dua puluh tahun lalu, Clara menghilang—“ kalimatnya ia gantungkan lagi, tak kuasa menahan tangisnya yang langsung pecah.

“Menghilang? Kemana?” intonasi Lusy meninggi, penasaran dengan sosok Clara yang tiba-tiba menghilang.

“Ya, ini adalah rahasia kelam Santa Mondega. Suster Kepala sebelumnya telah menutup memori kelam dan menguburnya dalam-dalam. Orang di luar tak ada yang tahu tentang Clara dan hilangnya Clara. Pada malam 23 Februari, Clara remaja tak ada di kamarnya, tak seperti biasanya, ia keluar kamar di malam hari, apalagi di bulan Februari yang sangat dingin. Tetapi saat itu, ia tidak ada di kamarnya saat tengah malam aku mengontrol kamar anak-anak.”

“Lalu?”

“Ya, kami semua berusaha mencarinya, tapi usaha kami nihil. Saat aku memasuki ruang baca, di sudut aku melihat diary-nya tergeletak di lantai, kupikir ini titik temu, tapi, apa sepertinya buntu. Aku hanya menemukan diary tanpa pemiliknya, Clara tak pernah kembali hingga saat ini.”

“Lalu, mengapa aku berfikir seperti semua ini pernah terjadi sebelumnya, telah diskenario, Suster.”

“Kau memang peka, benar sekali. Sejarah telah berulang. Sebelum Clara Harrington menghilang, di pagi 23 Februari ia melakukan hal yang sama persis denganmu. Bubur kentang itu, topping kacang hijau dan bahkan lada hitam itu. Sama persis.”

“Apa? Tetapi bagaimana kau bisa begitu cepat berhipotesa seperti itu? Aku yang terpilih hanya karena aku melakukan hal yang sama persis dengan Clara. Bagaimana kalau itu hanya kebetulan?” sanggah Lusy tajam.
“Ini bukan kebetulan, terimalah,” katanya lalu menyodorkan diary hitam yang pernah ia pungut dulu dari halaman belakang, diary Clara Harrington.

Lusy gemetaran menerimanya, takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi. “Apakah kau yakin, Suster?”
Suster mengangguk, terlihat sangat yakin. “Aku sangat yakin, coba bukalah dan bacalah satu catatan kecil di balik covernya. Di bagian kiri.”

Lusy mencarinya, teliti, ia menemukannya, tulisan tangan yang indah dengan aksen bunga-bunga yang digambar tangan: “Yang terpilih, adalah seorang yang dua puluh tahun lagi akan terlihat sama denganku, siapapun itu. Dialah yang terpilih,” kalimatnya begitu mengganjal di hati Lusy. Memunculkan banyak spekulasi sepihak lagi dalam otaknya. Tetapi, sebisa mungkin ia mencoba mengerti, walau sulit.

“Lalu, Suster, mengapa Mady begitu takut saat aku mengatakan nama Clara Harrington? Apakah ia juga seorang yang terpilih?”

“Bukan,” Suster kepala menggeleng. “Ia bukan seorang yang terpilih, tetapi dulu pernah sengaja membaca diary itu, dan sejak saat itu ia menjadi sangat takut terhadap nama Clara Harrington, ia tak mau memberitahu mengapa ia takut. Katanya, ia hanya takut. Tak hanya itu, Lusy, di Santa Mondega ini seperti telah menjadi momok baru, momok tentang Clara Harrington yang melegenda.”

“Tapi, sekali pun aku tak pernah merasa terganggu dengan legenda Clara Harrington dalam tanda kutip itu, Suster.”

“Entahlah, yang aku tahu, kau yang terpilih dan hanya kau yang bisa merubah takdir ini. Bacalah buku itu, karena semua pertanyaan akan terjawab di dalamnya.”

Lusy bergeming dalam diamnya, walau dipikirannya ia memberontak tak mau. Tapi keluarganya—seluruh orang di Santa Mondega—bergantung padanya, terlalu konyol diotaknya. Ia juga takut untuk membuka buku ini lagi, takut akan jatuh korban selanjutnya, tetapi, ia harus.

Semua pertanyaan akan terjawab? Tapi apa? Aku terlalu takut untuk memulai ini semua, Tuhan. Membuka lembar pertama tulisan Clara sama saja membuka lembar hidup Clara yang bisu. Lusy masih terngiang akan ketakuan yang tak berujung, tentang Lembar Bisu Clara Harrington.

16 komentar:

  1. aduh nak andaka... akhirnya saya bisa masuk lagi ke blogmu. kemaren2 mau masuk entah kenapa blognya jadi privat,,, @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaaaah tante kemarin aku hiatus hahahah XD

      tante kapan nih bisa ngobrol panjang lagiiii... :O

      Hapus
  2. apakah yang akan terjadi terhadap Lusy selanjutnyaaa? Jengjengjeeeng ~
    aaaaaakk daku penasaran sekali daka!! xD

    daka, kalimatnya ada yg kurang tuh.
    yang "Clara seumuran dengan waktu itu"
    mksdnya denganmu kali ya? xP

    BalasHapus
  3. Di part ini kau hanya menjelaskan sejarah singkat si clara bang, rasa penasaran apa yang terjadi 20 tahun lalu masih dibuat menggantung, kampret ah hahaha pembunuhan? ya, aku yakin :D Lihat aja dah ntar ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut gw, putus asa bukan pembunuhan,

      gw jadi pengen baca juga diarynya itu,

      trus ko ngga diperjelas yah tentang kecelakaan mady apa ada hubungannya juga dengan diary itu?? apa belum ya??..

      Hapus
  4. Mulai terkuak nih misterinya.
    Ada kalimat yg kurang salah satunya yang dicontohkan komen diatasku, terus yang "sampai saat dokter pun belum sampai" itu kayaknya kurang juga Dak, soalnya ku bacanya agak janggal, wwkkwk atau aku yang salah.

    BalasHapus
  5. lalu? aku masih belum bisa membaca metafoa yang ada di dalam cerita ini.

    BalasHapus
  6. wah gak sabar pengen tau cerita selanjutnya. bagaimana keadaan santa mondega selanjutnya.
    blognya aku simpen di bloglist ku ah.

    BalasHapus
  7. Ga ngikuti kisah gadis dalam cermin dari awal, tapi sepertinya boleh dibuat versi novel via nulisbuku. Atau apa memang sudah? :)

    BalasHapus
  8. I think this is good article, but terrible english...

    BalasHapus
  9. mantaaaplah ceritanya... gue jadi kepengen ngikutin trus... kayak gini nih layak dibukuin. :))

    btw kamu kureview

    http://immanuels-notes.blogspot.com/2012/02/10-blog-remaja-yang-unik-dan-cukup.html

    BalasHapus
  10. masih menunggu cerita selanjutnya.
    Membuka lembar clara yang bisu?

    BalasHapus
  11. emang gak salah direview kemana mana . . . tulisannya kren gini...

    BalasHapus
  12. blog walking...sepertinya seru...!!di tunggu kelanjutannya!

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: