Sabtu, 03 Maret 2012

Gadis dalam Cermin (08)

"Oleh-oleh dari Bali" | Taken with SONY DSC W220 CyberShot DigiCam |
PHOTOSCAPE CREATIVE EDITING


Mady dengan perasaan gelisah bangun dari mimpi buruknya. Nafasnya berat setengah tersengal, lalu ia mengaturnya perlahan-lahan. Di ruang kesehatan Mady sendirian, tak seperti kebanyakan hari di Santa Mondega, ruang kesehatan selalu riuh dengan James yang takut gelap dan Clarissa dengan sinusnya yang kambuh akibat debu di kamarnya sudah menumpuk. Kali ini berbeda, di ruangan itu hanya ada ia sendiri dengan apel-apel pemberian Suster Maidy. Beberapa diantaranya sudah menggelap karena gigitan Mady dan tersisa satu apel yang masih utuh. Berwarna merah darah, gemuk, dan tampak lezat.

Tangan Mady pulih sangat cepat, ia juga bingung mengapa proses penutupan lukanya begitu cepat. Ia masih sangat sadar bahwa pisau dapur kemarin yang menembus punggung tangannya, juga lebar. Tangannya kini sudah bisa digerakkan seperti semula, meski perban di lukanya masih menempel bercak darah karena belum diganti. Baunya anyir, khas darah. Mady penasaran dengan lukanya, ia buka perbannya perlahan, lengket karena antiseptik di perbannya sudah kering. Mata Mady terbelalak melihat seluruh luka di tangannya sudah hilang, hanya bekas lebam yang sedikit bengkak. Lukanya tertutup sempurna tapi meninggalkan kerut-kerut jahitan yang buruk. Sangat aneh.

Beberapa menit setelahnya, Mady masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari fenomena di tangannya. Terkesima sekaligus takut, seperti magis tapi dari kecil ia tak diajarkan mempercayai hal-hal magis. Ia tahu, hal magis hanya ada di serial Harry Potter, bukan di hidupnya, terlebih di Santa Mondega.

Mata Mady menangkap detik-detik jam yang berputar senada dengan detak jantungnya. Pukul dua kurang sepuluh menit, kantuk masih belum menyapa benaknya. Air matanya masih tegas menatap keremangan ruang kesehatan. Sesekali angin membuat nada seram lewat lubang perapian yang tidak menyala. Mady tidak betah disini, ia mengambil satu apel yang utuh dan pergi keluar.

Langkahnya diseret sebelah, ia tak tahu mengapa kakinya begitu berat untuk melangkah. Mungkin karena udara dingin yang membuat sendinya kaku. Lucu memang, gadis belia seperti Mady seringkali terserang penyakit manula. Nyerinya tak berhenti sampai ia mematung di kamar 134 dan berkarat dan menghitam. Setelah beberapa waktu ia berdiri disana tanpa gerakan, ia maju selangkah dan membuka pintu itu dengan kasar.

BRAK!

Dari luar sangat kontras dengan ruangan di dalamnya. Ia tak bisa melihat apa pun selama beberapa detik matanya tak bisa menatap apapun, kelopaknya mengernyit. Lalu, pandangannya berangsur-angsur cerah. Cahaya yang masuk lewat pintu yang terbuka lebar tak sepenuhnya bisa menerangi seluruh isi ruangan. Disana hanya terlihat bayangan hitam dari beberapa perabotan yang tak terlihat jelas. Petir di luar menambah keseraman ruangan ini, cahaya seperti enggan untuk menyinari ruangan ini.

“Berhentilah membaca dan dengarkan aku.”

Seseorang disana tampak mundur beberapa area ke belakang menimbulkan bunyi decitan keras dari ranjang. Mady tahu apa yang harus ia lakukan, ia segera mengendalikan situasi. “Hei, Lusy. Tenanglah ini aku.”

“Aku tak percaya, kalau kau Mady, bukankah kau di ruang kesehatan dan tidak seharusnya disini dan tanganmu terluka, kan? Lalu pisau itu, aku sama sekali tak percaya.”

“Percayalah Lusy, aku Mady. Ini hanya pisau biasa, untuk mengupas apel ini.” Tangan Mady mengacung-acungkan apel yang dibawanya dengan tangan kiri. Tubuhnya masih terlihat seperti siluet karena membelakangi cahaya.

Guntur menyambar dibarengi cahaya kilat yang ikut menyeruak masuk ke kamar Lusy, membuat siluet itu seketika jelas dan berwarna sangat terang. “Mady?”

“Ya, Lusy, itu aku.”

Lusy yang masih berselimut gelap mengangguk tak yakin.

“Lusy, kenapa ruangan ini begitu gelap?” tanya Mady sembari menggelengkan kepala.

Lusy bangkit, lalu menunjuk ke arah sebuah meja belajar duduk. Ia menunjuk saklar lampu. “Disana, nyalakanlah. Sebenarnya aku suka gelap di hujan lebat seperti ini. Membaca buku ini tak perlu banyak cahaya, penglihatanku masih sangat bagus, Mady.”

Klik. Lampu dinyalakan. Ruangan tampak sama saja di mata Mady, tidak terang, meskipun lampu neon besar tersulut di langit-langit. Arsitektur ruangan yang beratap tinggi membuat cahaya itu tak berdampak langsung dengan pencahayaan ruangan. “Astaga, seterang ini? Kau bisa hidup dengan cahaya hanya seterang ini?”

“Ya, ini terang bukan, Mady. Inilah rumah kita, Santa Mondega,” tanggapnya, ketus. Nada suaranya mengejek.

Mady mengangguk mencoba mengerti. “Ya, aku tahu, Lusy. Kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi finansial panti asuhan ini?” Wajah Mady berubah murung sekelibat.

Tangan Lusy menarik tubuh Mady yang bungkuk ke arah ranjang. “ Sudahlah, aku tak mempersalahkannya. Itu juga tak menjadi masalah buatku. Cobalah kesini, lihatlah apa yang diberikan Suster Kepala, padaku.”

Lusy meraih bukunya dari atas ranjang, menunjukkan ke arah Mady, bangga. Mady tampak biasa saja dengan buku itu sekarang, tapi lidahnya kelu tak bisa mengatakan apapun selain kata-kata yang terpotong karena terbata.

“Maaf Mady, mengapa kau begitu takut dengan buku ini? Buku ini tak semenyeramkan yang orang-orang bilang. Hanya ada tulisan tangan Clara yang indah, bahkan aku sendiri menilai tulisannya sangat indah.”

Mady terduduk di ranjang, seluruh tubuhnya kaku bahkan, ia hampir saja menjatuhkan pisau yang digenggamnya. Untunya, ia masih punya setumpuk kesadaran untuk tidak membiarkan benda itu jatuh. “Ma... u a-a-apel?” ucapnya, masih terbata.

Lusy tak terusik, ia masih sibuk membuka-buka diary itu. “Tidak usah,” jawabnya singkat. “Aku masih inging membacanya, Mady. Kalau kau mau, kau bisa menghabiskannya sendiri, lagipula kau membutuhkan banyak vitamin untuk menyembuhkan lukamu.”

“Oh soal luka, coba lihatlah. Ini sudah sembuh total,” ungkap Mady. Dengan bangga ia mengangkat tangannya yang terluka dan kini sembuh. Hanya kerut-kerut kecil yang nampak dari tatapan mata Lusy. Mata Lusy sama kagetnya seperti mata Mady ketika pertama kali melihat luka itu sembuh begitu cepat.

“Hebat, kemampuan regenerasi tubuhmu luar biasa. Seperti Wolverine kau tahu.”

“Ya, aku tahu. Tapi aneh, aku takut ini efek residu dari suatu penyakit. Penyakit berbahaya mungkin.”

Dengan cepat telunjuk Lusy berpindah dari atas buku ke ujung bibir Mady, menyuruhnya diam. “Stt, apa-apaan yang kau bilang, kau tidak sakit. Lihatlah tubuhmu sehat seperti ini.”

Mady mengangguk, tangannya mengalun bersama pisau yang dipegangnya. Apelnya terbelah dua. “Yakin kau tidak mau ini?” Mady melempar apel bagian satunya kepada Lusy yang bersandar di sandaran ranjang. “Dan, maukah kau membacakan apa isi diary itu kepadaku?”

“Baiklah.” Ia mengangguk riang. “Dua. Kutemukan banyak orang disini, tapi tak seorang pun mengerti, begitu yang tertera tebal dan berhuruf kapital di judulnya.”

Mady menggunggam, mulutnya terisi penuh oleh lumatan apel yang dikunyahnya. Lalu menelannya. “Lanjutkan.”

“Hari kedua di Santa Mondega. Aku Clara Harrington menjadi yang terbaru tinggal disini. Aku merasa asing dengan mereka—maksudku dengan banyak teman dan suster disini. Mereka berbeda dengan orang-orang di tempat tinggalku. Mereka semua bermuka pucat, dengan air muka yang datar. Tak bersahabat.”

Lusy mengambil jeda sebentar, menarik nafas dalam.

“Di, ruang makan pagi itu. Aku diperkenankan untuk memperkenalkan diri. Tak ada yang spesial, seperti seharusnya aku memperkenalkan diriku lalu mereka semua bertepuk tangan. Untuk apa, pikirku. Untuk apa bertepuk tangan tapi toh wajah mereka tetap ketus dan tak bersahabat denganku. Tapi disela-sela kebosanan melihat satu persatu muka mereka semua, ekor mataku menangkap rona wajah yang lain: bersahabat dan cerah terbias dari setiap sudut mukanya. Suster Amy, suster yang baru saja masuk bekerja disini. Suster muda—“

“Tunggu sebentar, Suster Amy? Mungkinkah, Suster Kepala? Yang kutahu, nama asli Suster Kepala adalah Amy Wood,” potong Mady dengan mengayun-ayunkan pisaunya keatas dan kebawah dengan  ceroboh.

“Setelah pesta makan usai, mereka semua berhamburan pergi dari meja makan. Ada satu dari mereka yang memainkan boneka dan menatapku sinis. Lalu lelaki genit itu, usianya kira-kira sama denganku, ia mengerucutkan bibirnya seperti ingin menciumku. Menjijikkan. Mereka semua pergi begitu saja, tanpa satu orang pun mau menyapaku. Lalu, tertinggal dua disana... Jessica, gadis tomboy yang terlihat cuek tetapi setelah kutahu, ia orang yang begitu baik dan hangat. Dan satu lagi, Suster Amy, seperti yang kubilang tadi. Ia baik, seperti dugaanku. Mereka keluarga baruku, maksudku benar-benar keluargaku terlepas dari yang lain disini, yang ketus dan genit itu, atau yang tak perduli disudut-sudut sana. Tak apa, setidaknya, ada Jessica dan Suster Amy sebagai pengganti Mama dan Papa.”

DAR!

Petir menyambar untuk yang ketiga kali dalam semenit terakhir. Memaksa mereka berdua sama-sama mengambil nafas dalam, tidak siap dengan frekuensi suara petir yang memekikkan kedua gendang telinga mereka.

“Tetapi, aku masih saja rindu dengan orang tuaku di surga. Aku sangat rindu, oleh karena itu mengapa aku membawa lukisan terakhirku kesini. Gadis dalam Cermin yang diapresiasi sekelumit oleh Papa untuk yang terakhir kali. Lukisan itu tak kusentuh sedikit pun sejak aku datang kesini. Hanya tergeletak di samping pintu dengan sutra hitam dan tali yang mengikatnya agar tertutup. Aku berjanji akan membukanya, ketika nanti aku rindu akan mereka berdua, maksudku terlampau rindu yang membuat air mataku sudah tak kuat untuk terbendung di kelopaknya. Untuk yang tersayang Jessica, Suster Amy, Mama dan Papa, terima kasih, untuk segalanya.”

Lusy mengambil nafas dalam untuk yang ketiga kali. Kali ini benar-benar dalam karena lega sudah membaca satu lembar naskah diary dengan hanya tiga kali mengambil nafas.

“Tunggu sebentar, Lusy. Gadis dalam cermin, lukisan macam apa itu?”

Lusy mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala. “Aku tak mengerti, Clara belum menjelaskan secara detail bagaimana rupa dan bentuk lukisan itu sejauh ini.”

“Oh.” Mady masih terus mengunyah apelnya dengan rakus. Bunyi kraus-nya membuat telinga Lusy panas.
“Bisakah kau mengecilkan sedikit volume kunyahanmu, Mady?” tanyanya geram.

Stay Calm, teman. Bukankah kau tahu sifatku, kenapa kau sedikit lebih sensitif akhir-akhir ini?” tanyanya diikuti tawaan yang terbahak keras, memecah lagi hening yang basah karena hujan lebar di luar.

Posisi duduk Mady yang menatap langsung ke arah jendela membuatnya dapat melihat indah bulir-bulir hujan bermain dengan kusen-kusen jendela yang basah. Tapi tidak untuk kali, kesialan masih hadir memutari tubuh Mady. Matanya menangkap sosok gadis berdiri diatas jendela, dibalik gorden kusam kamar Lusy. Bayangan itu tak menapak tanah karena kamar ini tak berdiri di lantai dasar. Beberapa detik ia lalui dengan terus menatap bayangan dengan boneka ditangannya tanpa satu kedipan pun.

“Ada apa?” tanya Lusy kuatir melihat wajah pucat Mady seperti menangkap sesuatu di belakang tubuhnya.

DAR!

Kilat yang menyilaukan membuat terang yang berlebihan di tempat itu. Bayangan itu hilang bersamaan dengan ruangan yang seketika itu juga berangsur remang.

Kepala Mady menggeleng, tapi ketakutan tak bisa tersembunyi secara sempurna dari muka pucatnya. “Tak ada, lupakan dan pergi tidur. Aku harus kembali ke ruang kesehatan, sepertinya kepala pusing lagi.”
Mady berbohong. Dan, Lusy tahu itu.

8 komentar:

  1. Hoaaaaa bingung mau bilang apa, gw kagum banget ama cerita ini bang, semakin banyak misteri, karakter, dan pilihan uraiannya bener-bener bikin suasana seolah-olah di sana itu ada.. gw bener-bener ngerasain ketakutan Mady, bayangan siluet itu, bikin merinding, ckckck...

    lanjutin ya... udah ngga bisa ngomong apa lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalo kau bisa ngerasainnya bang :)

      Hapus
  2. sereeem.. lupa nih malah baca cerita ini malem2 lagi. hhoho

    BalasHapus
  3. Konflik yang ada dicerita ini beragam banget bang, hebat! Uhm, regerasi itu maksudmu regenerasi? :p Uhm, yaudah deh disini gak mau banyak komen, langsung ke bagian selanjutnya aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. emmm, kalo gitu langsung meluncur buat ralat abang~

      Hapus
  4. Anjir, itu bayangan di kaca siapa! kampret bkin gw merinding aja ceritanya kyak di film2..

    BalasHapus

Silakan tulis komentar, saran, dan kritik di kolom bawah ini: